
“Apa tuan yang membawaku kemari?”
Alea hanya penasaran dan tidak bermaksud lain, dia hanya ingin tahu akan suara yang dia dengar sebelum dia jatuh pingsan.
“Ya. Tuan membawamu ke kamar ini.”
Ruby menatap dengan helaan napas. “Apa ada hal lagi yang ingin kamu tanyakan?”
Alea diam seraya berpikir entah apa yang masih mengganjal di hatinya.
“Aku beritahu kamu, Alea. Tuan membawamu ke kamar ini dan tuan pun yang mengobati semua lukamu hingga tuan sendiri yang memberikan suntikan padamu sampai kamu tertidur lama. Bukannya hal ini aneh, Alea?” tanya Ruby dengan tangan yang bersedekap.
Pelayan itu hanya membulatkan mata dengan bibir yang menganga. Sedangakan Ruby diambang pintu itu hanya bisa bersemoga apa yang dikatakan barusan itu membuat Alea semakin paham.
“Apa kamu ingin tahu Alea. Seumur aku tinggal di sini. Aku belum pernah melihat tuan masuk ke dalam ruangan ini, mendekat pun tidak pernah.
"Tetapi, dia mendadak muncul di saat yang tidak tepat. Di mana tuan melihat kamu dianiaya oleh Carla.”
Tubuh Alea semakin menegang, nafasnya pun mendadak memburu dengan mata menatap Ruby dengan pandangan kosong.
“Itulah yang ingin aku sampaikan Alea. Itulah perbedaan kita dan kamu. Entah bagaimana kamu berhasil merebut perhatian tuan, perhatian yang sama sekali tidak bisa kita dapatkan.”
Alea menggeleng pelan. “Tidak, Ruby. Aku tidak mungkin bisa merebut perhatian tuan.”
“Dia hanya kasihan padaku, karena sebelumnya tuan menolongku dan juga mengobatiku. Apa kamu tahu, Ruby. Tuan ingin aku mati perlahan-lahan di sini.”
Ruby tertawa pelan. “Kamu memang bodoh, Alea. Kamu tidak peka.”
Alea segera meminum obatnya. “Lalu, apa yang terjadi dengan Carla?”
“Dia mendapatkan hukuman. Tuan tidak suka peliharaanya bertingkah bar bar apalagi sampai mencelakakan orang lain. Tuan mengingatkan kami, kalau tugas kami itu di sini hanya melayani saja, tidak lebih dari itu.”
“Kalau begitu kamu salah beranggapan padaku, Ruby. Aku sama sekali tidak bisa mencuri perhatiannya.”
Ruby tersenyum miring. “Kita tidak pernah tahu apa yang diinginkan tuan sebenarnya Alea.”
Sepertinya menyadarkan Alea itu tidak mudah. Ruby hanya diam dan malas untuk membahas hal ini lagi. Dia cemburu karena wanita itulah yang sepertinya akan meluluhkan hati Evans Colliettie.
“Hukuman apa yang diterima Carla, Ruby?” tanya Alea seraya mengalihkan pembicaraan.
Ruby, paham. “Aku dengar-dengar, dia dimasukkan ke dalam sel bawah tanah dan dikurung bersama dengan anak-anak tuan.”
“Apah?”
Di sinilah Alea berada, wanita bodoh itu berdiri di kegelapan dengan kedua mata menatap penuh pada pintu besar mansion pribadi Evans Colliettie. Sejenak, Alea terdiam dengan pandangan yang teralihkan pada pintu besar itu.
Sudah lima belas menit wanita itu berdiri tanpa ada pergerakan sama sekali.
“Kamu tidak boleh ada di sini, Alea,” ucap Mika menyentakan wanita bodoh itu dari lamunannya.
Alea sontak terkejut dengan tangan memegang dadanya. Dia berikan senyuman pada Mika setelah berbalik badan.
“Kamu mengejutkanku, Mika,” ucap Alea pada Mika. Tetapi, wanita itu benci dengan basa basi wanita bodoh di depannya itu.
“Aku ingin bertemu dengan tuan, bolehkah Mika? Hanya sebentar saja.”
Mika dengan helaan nafas panjang menatap penuh pada Alea, entah ada apa lagi yang sebenarnya ingin wanita itu sampaikan pada tuannya.
“Tidak bisa, Alea. Kembalilah ke kamarmu. Tuan sedang istirahat. Kalau kamu ingin bertemu sebaiknya besok saja atau kamu sampaikan saja padaku, aku akan menyampaikannya langsung pada tuan,” kata Mika.
Bibir Alea memberengut, kesal. Mikanya kini beda tidak seperti dulu lagi. Ah, Alea rindu dengan senyuman wanita cantik itu.
“Please, Mika,” pinta Alea dengan mata sendunya.
Mika bersedekap menatap lelah pada Alea yang entah ada apa lagi kali ini ingin bertemu dengan tuannya.
“Sebenarnya kamu ingin mengatakan apa pada tuan, hmm? Sampai kamu begitu keras ingin bertemu sekarang juga. Apa kamu tidak tahu kalau ini sudah malam, hmm?”
“Ck! Sok tahu kamu!”
“Aku hanya ingin bicara perihal Carla. Tolong jangan kurung Carla dengan binatang kesayangan, Tuan. Tolong aku, aku ingin mengatakannya langsung,” mohon Alea.
Mika tidak habis pikir dengan jalan pikiran wanita bodoh itu.
Ya, Alea pantas dijuluki wanita bodoh karena dia selalu ikut campur dan sok solidaritas pada orang sekalipun wanita itu dilukai.
“Sudahlah, kembali ke kamarmu. Masalah, Carla—”
Mika sebenarnya lelah harus berbicara dengan Alea yang keras kepala. Tetapi, dia pun gemes sendiri.
“Dia pantas mendapatkan hukuman. Tolong kamu jangan besar kepala meminta pembebasan untuk Carla pada Tuan. Aku tahu apa yang ingin kamu katakan pada Tuan.”
“Tapi, tidak dikurung bersama binatang kesayangan tuan, Mika.”
“Itu bukan keputusanku. Tuan hanya tidak suka dengan kekacauan yang sudah Carla lakukan di mansionnya dan tolong jangan berbangga diri, tuan tidak sengaja melewati ruangan itu dan melihat kejadian itu.
"Apapun yang tuan lakukan menyelamatkanmu, karena dia hanya tidak ingin kamu mati dengan cepat di tangan Carla, paham!”
Mika mendengarkan pembicaraan Ruby dan Alea, dia takut wanita bodoh itu begitu berbangga diri karena dibela, dikabulkan permintaanya dan hingga Evans menyelamatkannya wanita bodoh itu.
“Tapi, Mika….”
Mika selangkah maju ke depan dan berdiri didepan pintu besar itu.
“Pergilah, ALea. Kalau tuan sampai melihatmu berkeliaran lagi, dia akan menghukummu. Paham?” tegas Mika pada Alea, semoga perkataan ini di pahami.
“Aku akan menyampaikan pada tuan kalau kamu ingin bicara.”
Alea menghembuskan napas pelan, sudahlah dia tidak akan bersikeras ingin bertemu dengan Evans mala mini, masih ada hari esok untuk bertemu dan berbicara pada Evans.
Alea berikan anggukan lalu berbalik badan menuju kamarnya, namun suara itu menghentikan langkahnya.
“Alea…”
“Ya.”
“Jangan menentang iblis sepertinya, Alea. Kau bisa mendapatkan masalah besar nantinya bila kamu terus memaksakan keberuntunganmu di sini.
"Lebih baik, kamu pikirkan dirimu sendiri daripada kamu terus mengurus dan mengasihani orang lain yang sudah menjahatimu.
"Semua orang belum tentu baik dan suka padamu, Alea. Jadi pandailah menilai orang,” ungkap Mika seraya menekan kalimatnya.
Jujur, Mika tidak ingin Alea kembali mendapatkan masalah. Dia tidak ingin Alea menderita akan sikapnya yang sok pahlawan menyelamatkan banyak orang yang salah sekalipun wanita itu menderita.
“Kuatkan hatimu Alea, jangan punya hati yang lemah karena orang lain senang dengan orang berhati lemah.
"Mereka senang memanfaatkanmu seperti apa yang kini sudah kamu dapatkan!” kata Mika. Ini berupa nasehat pada Alea, semoga wanita itu mengerti.
Alea menghembuskan napas pelan seiringi menatap Mika.
“Sekalipun aku menentang iblis kejam seperti tuanmu dan berada di dekatnya. Iblis yang tak punya belas kasih. Aku hanya mencoba menjadi orang yang punya perasan, Mika.”
Mika mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang mengetat. Alea benar membuatnya muak.
“Karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita dapatkan dari sebuah kebaikan kita di suatu hari nanti. Percayalah padaku, Mika.
"Setiap perbuatan baik kita pasti akan dibalas dengan kebaikan suatu hari nanti,” ucap Alea seraya berlalu pergi.
Namun, perkataan itu membuat ujung hati Mika tercubit.
“Apa kamu maksud bila perbuatan buruk kita dan kejahatan akan dibalas dengan hal yang serupa?”