
“Mau apa kamu?”
Alea terkekeh pandangi Mika yang mengemudikan kendaraannya. Mika sudah mulai protes ternyata.
“Aku merasa seperti di pemakaman.”
Alea pandangi sekitar mobil dimana Mika yang mengendarai seorang diri dan di dalam mobil hanya mereka berdua.
Biasanya pergi kemana-mana dengan pengawalan ketat, tetapi kini mereka hanya berdua.
“Aku sedikit merubah susana, Mika.”
Kening Mika berkerut sementara Alea menekan tombol play. Wanita bodoh itu bertanya. Ini sangat berisik bagi Mika yang terbiasa kemana-mana dengan suasana yang seperti Alea katakana, pemakaman.
Sepi dan sangat sepi, tidak dengan kali ini dia harus mendengarkan ocehan dari wanita bodoh yang membuat telinganya rasanya tuli.
“Ayolah Mia, bernyanyilah denganku. Jangan diam seperti batu. Lama-lama kamu sudah kaya patung liberty tahu nggak,” ujar Alea menyindir Mika yang selalu diam sama seperti tuannya.
Sebelah tangan Alea terkepal seolah sebagai mic, wanita itu mulai bernyanyi.
“You might think I'm crazy, the way I've been cravin (Mungkin kamu berpikir aku gila seperti yang aku alami.
“If I put it quite plainly Just get me them babies (Jika saya mengatakannya dengan sangat jelas, beri saya mereka bayi)
Satu tangannya mencolek pinggang Mika untuk bernyanyi bersama lagu dari Ariana Grande 34+35 yang diiringi gerakan centil ala Alea yang seirama dengan lagunya.
Awalnya Mika terdiam meski Alea yakin kalau wanita itu pun ikut bernyanyi sekalipun dalam hati. Namun, lama kelamaan Mika ikut bernyanyi dengan gerakan yang sama centilnya.
Alea awalnya tersentak kaget ketika melihat pemandangan hal itu, sama sekali tidak ada di dalam pikirannya kalau wanita kuat itu akhirnya mengeluarkan suara emasnya dan juga gerakan centil sepertinya.
Kedua wanita itu bernyanyi berdua dengan beberapa lagu milik Ariana Grande yang lainnya yang diiringi tawa lepas Mika dan juga Alea.
Alea menatap Mika dengan senyuman.
“Sekalipun kamu menyeramkan seperti tuanmu dan juga kuat seperti tuanmu. Tapi kamu adalah wanita, Mika. Kau punya sisi wanita lembut dan juga ceria yang tidak pernah kamu tunjukan pada siapapun ini.
"Aku tahu kamu pun merindukan kehidupan yang normal dan tidak selalu terjebak di dalam gelapnya kehidupan yang kamu jalani,” ucap Alea, cukup di dalam hati.
Dia tidak mau membuat wanita itu kembali menarik senyuman cantiknya.
Jujur, Alea lebih suka melihat wanita itu tersenyum seperti sekarang ini.
‘Rasa ini…’
Mika pandangi Alea yang masih menyanyi dengan gaya centilnya. ‘Entah apa. Tapi, kapan aku terakhir bisa merasakan lepas seperti ini? Bernyanyi dengan teman wanita lain?’ batin Mika bertanya pada dirinya sendiri.
Sejenak, dia memutar ke belakang. Setiap momen manis dia pernah merasakan sebelum dia mengeraskan hati.
“Sepertinya lagu yang pertama kamu nyanyikan seolah keinginan yang terpendam.” Mika mulai memberikan komentar pada Alea.
Wanita itu berhenti bernyanyi. “34 35 itu artinya apa kamu menginginkan dihamili oleh tuanmu, Alea?”
Alea tergelak tawa. “Astaga, aku bukan Carla, Juliana, Kelly, Ariana dan juga Ruby yang menginginkan dihamili agar mendapatkan gelar Nyonya Colliettie di mansion, Mika. Tidak sama sekali.”
“Tapi, kamu sangat menjiwai lagu itu.”
“Itu hanya lagu. Sama sekali aku tidak pernah tertarik pada tuanmu,” jawab Alea diiringi senyuman tipis.
Sudah Alea usir perasaan suka pada pria, setelah cintanya dikhianati. Sekalipun masih ada pria itu dia, tetapi untuk jatuh cinta masih mustahil baginya.
“Kamu pun menyiwa juga lagu-lagu tadi.”
Mika terdiam sejenak, dia lupa kapan terakhir kali bersenandung riang seperti tadi. Rasanya Mika belum pernah melakukan hal seperti itu karena sebelum di kehidupan normal pun, dia sudah tidak punya waktu untuk melakukan aktivitas bersama dengan wanita, hidupnya bergelut di dunia hitam dan kejam.
Tidak ada senandung riang seperti tadi, yang ada hanya suara bising tembakan setiap harinya di dalam hidupnya, hingga pada akhirnya dia mengabdi menjadi pengikut setia Evans Colliettie.
“Alea bagaimana penampilanku?” tanya Mika mencoba salah satu baju untuk dia bekerja.
Sudah setengah jam lalu mereka sampai di salah satu outlet dan kedua wanita itu tengah menikmati waktu bersenang-senang yang singkat.
“Kenapa kau tidak membeli gaun yang sangat sexy seperti waktu di club dulu? Waktu itu lebih cocok untukmu dan kamu terlihat cantik,” jawab Alea mengingatkan Mika menggunakan gaun seksi untuk misinya.
Mika mendengus sebal melihat Alea yang kini menyindirinya. “Tidak mungkin aku bekerja menggunakan gaun seksi Alea. Tuan pasti akan langsung menembak mati jika aku berpakain seperti itu ketika bekerja.”
“Lalu ini bagaimana Alea?” tanya Mika, lagi Alea. Bila seperti ini mereka terlihat seperti dua orang sahabat yang tengah bershopping ria dan menghabiskan uang sang mafia tersebut.
“Bagus. Cocok untukmu, Mika.”
“Baiklah aku akan ambil yang ini. Lalu kau pilih yang mana?”
“Aku sudah mendapatkan apa yang sudah aku butuhkan, meski tidak bermerek dan brand ternama. Tapi tetap pantas dan menutupi tubuhku.”
Mika keluar dari ruang fitting room, wanita itu duduk di sebelah sofa dekat Alea.
Dia melirik sejenak beberapa paper bag yang dibeli Alea, sama sekali tidak ada merek ternama dengan harga fantastis.
Sejak mereka mengelilingi beberapa outlet Alea membeli pakaian dengan harga yang sangat murah jauh berbeda dengan wanita peliharaan tuannya yang selalu menginginkan barang mewah.
“Kenapa kau tidak membeli yang bermerk sekalian. Lagian uang Tuan tidak akan habis kamu membeli barang seharga milyaran sekalipun?!”
Alea tersenyum tipis. “Itu tidak penting bagiku, Mika. Barang mewah berharga miliaran untuk apa? Tidak ada gunanya juga, aku bukan kelima peliharan tuanmu yang selalu memakan brand ternama.
Mika mengangguk dan lekas pergi setelah Alea yang memaksa akan membayarnya dengan black card milik Evans. Kata Alea, tidak salahnya Evans membayar barang yang disukainya dengan yakinnya Evans tidak akan keberatan.
Mika menatap Alea dalam diam, wanita itu begitu malang harus hidup di penjara seperti mansion Evans.
“Apa sebelumnya kamu pernah melakukan hal seperti ini?”
“Tentu, meski nggak sering karena aku sibuk bekerja.”
Mika manggut-manggut. “Kamu bekerja di kantor juga?”
“Ya.”
“Bukannya kamu orang kepercayaan salah satu temanmu untuk memegang perusahaan.”
Alea menangguk benar. “Lalu kenapa belanjamu begitu terkesan irit dan juga tidak ada nilainya, uangmu pasti banyak dan kamu pasti sanggup bukan?”
Alea berikan senyuman lebar. “Lalu kenapa kamu tidak membelinya?”
Alea menghentikan langkahnya pandangi Mika. “Sekalipun uangku banyak, aku harus menabung Mika, aku tidak mau poya-poya karena aku pun harus menghidupi adik-adikku.”
“Adikmu? Bukannya masih ada orang tuamu yang pastinya akan menjamin anak-anaknya?” tanya Mika penasaran. Dia menyelidiki latar belakang Alea setengah.
“Mereka orang tua angkatku. Aku dari panti asuhan, aku tidak punya orang tua. Aku harus membantu ibu panti untuk membesarkan adik-adikku yang lain yang sama kurang beruntung di sana.”
Mika diam, sejenak dengan mata penuh menatap Alea. “Sayang uangnya bila harus membelikan benda selangit harganya.”
Alea dan Mika duduk di sebuah café untuk makan siang. “Maaf, aku tidak tahu kalau kamu dari panti asuhan.”
Alea tersenyum. “Tidak apa.”
Mika menatap Alea yang terlihat meringis. “Kamu baik-baik saja?”
“Hmm. Tentu aku baik-baik saja,” bohong Alea. Sejak tadi perutnya sangat sakit, dia lupa dengan obatnya yang tertinggal di meja kerjanya.
“Serius? Aku perhatikan sejak tadi kamu memegangi perut. Apa kamu kelaparan? Atau sedang hamil?” sindir Mika dengan kekehan.
Alea mencubit pelan lengan Mika. “Aw, sakit Alea,” ucap Mika seraya mengusap bekas cubitannya.
“Jaga kata-katamu itu Mika. Aku sedang tidak hamil,” decak Ale, kesal.
“Apa kau pikir aku saat ini terlihat seperti wanita jaljang Tuan, hah?” tanya Alea kesal, melihat Mika masih memperhatikan dirinya.
“Hahaha…terus kenapa sejak tadi megangin perut itu? Kamu sakit perut karena diet?” tanya Mika.
“Tidak! Hanya sakit saja, sepertinya maag ku kambuh," jawab Alea berbohong.
“Apa kau merasa mual muntah?”
Alea mengangguk memang, dia ingin muntah. “Aku tebak pasti kamu mual kayak gini karena kamu keseringan melihat ular, sampai perutmu sakit bukan?”
“Ular?” Alea bingung.
“Bukanya ular kesayangan tuan ada di dalam kandangnya? Aku sudah lama tidak melihat Anabel dan kawan-kawannya berkeliaran di mansion pribadi tuan.”
Namun, jawaban Alea membuat Mika menahan tawa. Selain bodoh inilah yang dimiliki Alea, polos dan tidak tahu kemana arah pembicaraan.
“Masa sih?! Apa kamu tidak pernah melihat di bednya, tuan,” tanya Mika makin geli melihat kebodohan Alea, masih saja wanita itu belum paham.
“Tidak! Aku tidak pernah melihat ular di bed nya, tuan.”
“Ahh—Apa jangan-jangan ularnya tuan sudah masuk ke dalam rumahmu jadi kamu merasa sakit. Pantas akhir-akhir ini rajan ular itu terlihat jinak ternyata dia sudah punya pawang.”
Alea mengulang kembali perkataan Mika dengan ekspresi yang bingung, Ular? Rumah? Perut? Raja Ular?
“Maksud Mika apa?” batin Alea seraya pandangi wanita itu yang semakin geli menertawakannya.
Mendadak, otaknya lambat berpikir hingga dia tidak menangkap dari pembicaraan Mika.
“Iyah kali,” jawab Alea seraya menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal itu.
“Ehh…Mika, maksudmu apa?”
Tersadar akan pembicaran Mika, Alea kembali mencubit pelan tangan Mika. Wanita itu benar-benar membuatnya seperti orang bodoh. Tetapi, dibalik itu wanita dingin itu tertawa hingga Alea melihat Mika sampai menangis menertawakan kebodohannya.
“Kamu sudah mengerti akan pertanyaanku hah? Kemana saja pikirmu itu?”
“Kau benar-benar menyebalkan Mika,” gerutu Alea memandangi wajah Mika yang basah karena tawa.
"Ya ampun Alea, kamu bikin perutku sakit atas kebodohanmu itu," ucap Mika ketawa kembali.
"Kamu pikir aku seperti Carla yang haus belaian tuanmu.” Alea memutar bola matanya, kesal.
“Aku pikir selama kamu menjadi pelayan pribadi tuan, kamu merangkap menjadi peliharaan di sana. Tuan jarang sekali minta dimanjakan oleh peliharaanya setelah kamu jadi pelayan pribadinya.”
“Ayo ngaku, apa syarat permintaan tuan sudah kamu berikan?”
“Yang mana?”