
“Sini biar aku bantu, kamu pasti kerepotan Joe.”
Alea membantu mengangkat loyang dimana Joe baru saja memanggang daging sapi yang menggiurkan sampai membuat Alea menelan salivanya dalam-dalam.
“Aku akan pisahkan beberapa potong untuk makan malam buatmu,” bisik Joe yang diiringi senyuman.
“Terima kasih banyak, pastinya lezat sekali,” ucap Alea menatap olahan steak yang dibuat Joe.
“Tentunya.”
Alea menoleh ke samping kanan dan kiri, Joe sendirian di dapur yang luas ini yang hanya dibantu oleh dua orang pelayan.
“Bryan kemana? Kok dia aneh nggak pernah ada di dapur untuk membantumu masak sih, Joe? Aku lihat, akhir-akhir ini kamu masak sendiri.”
Ya, itu betul, Joe selalu kerepotan memasak untuk semua orang di dalam mansion ini.
“Entah, Alea. Aku juga tidak tahu dia kemana. Akhir-akhir ini aku kerepotan dan beruntung aku sudah merekrut satu orang pelayan yang sama jago masak untuk khusus memasak untuk para pengawal dan anak buah Mika.”
Alea manggut-manggut dan berucap syukur kalau Joe sudah mendapatkan cadangan chef pengganti Bryan.
“Sikap Bryan akhir-akhir ini aneh, Al.”
“Ya, dia pun kini menjauh dariku, Joe.” Joe menarik nafas pelan.
"Apa kalian lagi marahan?" tanya Joe penasaran.
Bisa jadi bukan sikap Bryan yang mendadak aneh karena sedang marahan dengan Alea, sehingga Bryan tidak mau membantunya?
"Marahan?" Alea mengulang kata itu. Bagi Alea perkataan itu tentunya membuat otaknya di peras untuk berpikir.
Dia dan Bryan tidak marahan sama sekali, tapi ketika Alea bertemu Bryan langsung mengomel dan marah-marah tidak jelas.
Setiap di tanyakan apa kesalahannya pria itu tidak menjawab dan memilih pergi. Bukannya itu aneh?
"Aku sama dia tidak marahan sama sekali. Aku sudah katakan padamu kalau aku dan Bryan tidak ada hubungan apapun."
"Kita baik-baik saja dan entah aku juga tidak tahu kenapa dia jadi seperti itu. Bertemu ku saja dia sudah mengomel padahal aku hanya tanya aku salah apa. Eh, dia pergi begitu saja tanpa menjawab," ungkap Alea.
"Ya, sudah kalau begitu. Tidak usah di pusingkan dengan sikap Bryan."
“Apa mau aku buatkan susu hangat seperti biasa untukmu, Al?” tawar Joe pada Alea, yang sama anehnya seperti Bryan.
Baik Bryan dan Alea sama-sama kini dua orang itu lebih banyak diam.
“Tidak, terima kasih, Joe. Aku tadi sebelum pulang sudah minum susu juga.”
Alea dengan cepat membantu Joe. “Sini aku bantu memasak. Apa yang belum?”
Alea menatap cara pria paruh baya itu memasak dengan cekatan.
“Tidak usah. Kamu duduk saja karena makan malam tuan hampir selesai juga. Sebaiknya kamu makan saja lebih dulu.”
“Nanti saja setelah tuan makan malam.”
Joe meletakan daging kualitas premium yang lezat request Evans di troli.
“Baiklah, aku tunggu. Kita makan malam bersama, apa kamu suka ayam pedas?”
“Suka.”
“Baiklah, aku akan membuatkannya ayam pedas dan juga satu piring daging lezat itu untukmu.
“Kamu harus makan banyak karena aku yakin timbanganmu pasti turun karena kelelahan.”
“Oke, Joe. Aku akan segera kembali setelah tuan selesai makan.”
Joe berikan anggukan setuju. Alea pun mengayunkan langkahnya menuju kulkas besar dan meneguk minuman dingin langsung dari botolnya.
“Ini punya siapa Joe?”
Alea menunjukkan botol berwarna biru di mana pria itu menoleh untuk melihat apa yang ditanyakan.
“Nggak aku pikir isi botol ini air putih. Tapi, kenapa jadi orange jus?”
“Mungkin punya Berta atau Bryan kali, Al. Emangnya nggak ada tulisanya?”
Alea menggeleng. “Tidak ada, Joe.”
Botol berwarna biru yang Alea pegang tidak ada note apapun.
“Tapi ini seger banget orang jusnya,” kata Alea diiringi senyuman lebar.
“Apa kamu suka?”
Alea berikan anggukan pelan. “Ya. Ini sangat segar,” jawab Alea seraya menyimpan botol tersebut kembali di kulkas.
“Apa aku boleh meminta tolong?”
Alea mengambil kertas kecil dan menuliskan beberapa kata lalu menempelkannya. “Katakanlah.
“Tolong sampaikan pada pemiliknya. Maafkan aku tidak sopan minum orange jus segar ini. Nanti aku akan menggantikannya dengan yang baru.”
“Sudahlah, tidak apa. Biar aku yang akan memeras jeruk untuk menggantikannya dan juga menggantikannya dengan yang baru.”
Alea mendekati Joe lalu memeluk pria paruh baya itu.
“Ah—kamu sangat pengertian sekali, Joe. Terima kasih banyak, kamu memang ter the best.
“Aku akan mengantarkan makan malam tuan dulu takut dia marah,” ujar Alea seraya melepaskan pelukannya.
Wanita berseragam pelayan serba hitam pun kembali memeriksa semua makan malam pesanan Evans yang cukup lumayan banyak itu.
“Aku tunggu kamu, Al.”
Alea berikan anggukan lalu menjulurkan tangannya membentuk kode ‘Oke’
Wanita itu menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan, ada rasa lega kali ini dia bisa menyingkirkan pikiran yang mustahil di dalam otaknya.
Diamnya Alea sejak sejak kemarin malam karena sesuatu hal yang mengusik pikirannya.
“Selamat malam Tuan.” Alea masuk ke dalam ruangan Evans dengan senyuman lebar yang tercetak.
“Saya mengantarkan makan malam untuk anda,” ucap Alea lagi.
Sayangnya, sambutan Alea tidak dijawab oleh sang empunya. Pria itu masih sibuk dengan layar laptopnya.
Sudah terbiasa dicuekin, Alea lebih memilih lekas menata semua makan malam pria dingin itu di meja bundar karena dia sudah ada janji untuk makan malam bersama dengan Joe di dapur nanti.
Daging lezat yang sama persis dihidangkan untuk Evans, sama dengan makan malamnya yang Joe sisakan sedikit untuknya.
Melihat makanan itu membuat Alea menelan salivanya dalam-dalam.
“Aku harus cepat membuat pria itu menghabiskan makan malamnya, aku nggak sabar ingin merasakan lezatnya daging kualitas terbaik itu,” batinnya.
“Tuan makan malamnya sudah siap,” kata Alea seraya menghadap.
“Hm.” Pria itu hanya menjawab dengan deheman singkat.
Tapi bagi Alea hal itu tidak aneh karena Evans kadang suka irit bicara padanya, sudah terbiasa dengan sikap Evans yang dingin dan kandang lisan nya begitu tajam Alea lebih tidak memusingkan perkataan Evans.
Alea masih setia berdiri di depan meja kerja Evans, namun mendadak tubuhnya terasa panas.
Dia menatap sejenak pada Ac yang menggantung di dinding tembok. Anehnya suhu ruangan kerja Evans mendadak sangat panas.
‘Apa Evans nggak kepanasan? Ac nya nggak dinyalain?’ batin Alea, gelisah.
Alea mengipaskan sebelah tangannya agar dia mendapatkan udara. Keningnya kini mulai berkeringat.
Alea membuang nafas berat agar dia bisa mengontrol tubuhnya yang mendadak aneh.
“Kau masih di situ, hah?”