
Sepulang dari pantai bersama dengan Massimo, wanita itu kini banyak diam hingga Alea menghampiri dapur di mana masih ada Berta, Antony, Joe dan Romoe pun wanita itu tidak banyak bicara.
Obrolan keempat orang yang duduk sembari menyesap kopi hangat dan beberapa cemilan pun hanya lewat pada telinganya. Wanita itu hanya diam seraya menyesap susu hangatnya sebelum dia kembali ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
“Apa kamu ada masalah, hmm?” tanya Berta.
Wanita paruh baya itu melihat keanehan pada wanita malang itu, sejak semalam Alea pulang dari pesta Tuan Leo tidak sedikit pun wanita itu bercerita bagaimana pesta sepupu Evans di Roma.
Seharusnya Alea senang setelah kembali dari pesta itu dengan wajah yang ceria menceritakan semuanya ketika di Roma. Itu tidak terdengar satu kata pun.
Dan sepagi ini pun yang Berta lihat, Alea masih tetap sama. Wajah yang ditekut dengan bibir yang seulas tersenyum itu pun bila di sapa.
“Aku baik-baik saja, Berta. Jangan cemaskan aku.”
Alea menyusun buah-buahan di dalam troli untuk sarapan Evans nanti.
“Duduklah dan sarapan lebih dulu sebelum kamu menyalani tuan.”
Wanita paruh baya itu membawa Alea untuk duduk di kursi, dengan sigapnya Berta meletakan susu hangat kesukaan Alea begitu juga roti yang baru saja di keluarkan dari loyang.
“Semalam kamu banyak diam. Ada apa? Ceritalah kalau kamu ada masalah, Alea.”
Alea berikan tawa pelan seraya mengusap punggung tangan Berta yang berada dia tas meja.
“Aku baik-baik saja, Berta.”
“Kamu tidak melakukan kesalahan kan di pesta Tuan Leo?”
Alea menggeleng pelan, sekalipun kejadian kecil di mana dia hampir saja jatuh kalau Evans tidak cepat menolongnya. “Tidak sama sekali.”
“Lalu kenapa kamu pulang dengan wajah yang cemberut seperti ini hm?”
Berta merapihkan anak rambut Alea yang menutupi wajah cantik wanita malang itu.
Alea menarik napas pelan. “Mungkin aku mau datang bulan jadi bawaanya nggak mood terus.
“Takut meledak-ledak jadi aku putuskan untuk diam,” dusta Alea.
Jangankan, Berta. Alea sendiri pun tidak tahu kenapa pada dirinya sendiri.
“Entahlah aku cuman nggak mood saja. Bukan lagi memikirkan orang,” batin Alea seraya mengunyah roti tersebut dengan cepat.
“Aku berangkat dulu. Aku takut tuan sudah bangun dan marah karena aku belum menyiapkan air hangat untuk mandi.”
Berta berikan anggukan pelan ketika Alea begitu saja bangun dan lekas pergi dengan cepat keluar dari dapur.
“Alea akhir-akhir aneh,” ujar Antony.
“Tapi yang lebih anehnya lagi itu dia,” tunjuk Joe pada Bryan yang baru saja masuk ke dalam dapur.
Kedua orang itu hanya bisa menghela napas berat melihat kedatangan Bryan dengan ekspresi yang terlihat marah.
Alea lekas masuk ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk pria itu mandi.
“Ya Tuhan,” seru Alea terkesiap kaget.
Kedua tangannya begitu saja reflex memegang dadanya saking terkejutnya Evans berada di belakangnya.
Alea pandangi pria dingin itu. Evans masih sama dengan wajah yang sama seperti kemarin dia lihat. Ketika bertemu dan berpapasan pun pria itu acuh membuat Alea merasa lega.
“Mungkin sebaiknya memang seperti ini. Bobby dan Bryan baik-baik saja, tetapi Lucas?” batin Alea.
Takutnya, pria itu murka atas kejadian semalam dan menumpahkan semua kekesalanya pada orang-orang di sekitar Alea.
Alea berseru lega ketika melihat Lucas dalam keadaan baik-baik saja seolah malam itu wajah Evans yang marah membuat pikiran Alea tidak tenang.
Masalah Evans yang kembali pada mode awal, Alea tidak jadi masalah.
Pria itu sudah pernah mengatakan kalau dia tidak boleh berlama-lama di dalam ruangan pribadinya, jadi setelah semua kebutuhan bayi besar itu sudah siap Alea dengan senang keluar dan menunggu Lucas menjemputnya.
“Cih, seneng banget yang sudah pesta,” kata Lucas seraya membuka pintu mobilnya untuk Alea masuk.
Alea kembali berikan senyuman terbaiknya, sama sekali tidak tidak merasa senang di dalam pesta malam itu yang ada ketegangan.
Dia senang karena orang-orang di sekitaranya dalam keadaan sehat-sehat walafiat.
“Tadi senyum-senyum sekarang tuh bibir nggak cerewet ngoceh terus, Al.”
“Emangnya aku secerewet itu yah ngoceh terus sama kamu?” balik Alea tanya.
Dan itu pertanyaan sekaligus perkataan Alea yang seperti untuk terakhirnya kalinya.
Alea kembali diam dan tidak seperti biasanya, Lucas bisa melihat ketika Alea begitu saja keluar dari dalam mobilnya dan masuk tanpa mau menunggunya.
Tidak ada wajah ceria dan juga ocehan Alea yang selalu membuat Lucas semangat bangkit.
“Sebenarnya itu wanita kenapa sih?”
“Apa Evans marah-marah sama dia karena pergi tanpa sepengetahuanya?”
Lucas membuang napas berat dan masuk ke dalam kantor dan kembali bekerja.
Pria itu dibuat bingung dengan kelakuan Alea, ketika di keluar dari dalam ruangan, Alea bungkam.
Bahkan makan siang pun sepi sudah kayak di pemakaman bahkan kini dia kembali mengantarkan Alea pulang menuju mansion Evans pun lagi lagi wanita itu bungkam.
Alea lebih senang menatap jendela dari pada memandanginya dengan ocehan dan cerita receh Alea.
“Kamu baik-baik saja kan, Alea?” tanya Lucas memecahkan keheningan sepanjang perjalanan pulang.
Alea berikan anggukan pelan tanpa repot menatap Lucas.
“Apa Evans memarahimu?”
“Nggak. Bahkan aku dan tuan tidak bertegur sapa dan tidak mendengarkan omelan dan dan amukan dia sepagi ini,” jawab Alea pelan.
“Kalau begitu, terus kamu kenapa hah?”
Alea menoleh ke samping dan merubah duduknya menjadi tegak lalu bersandar.
“Emangnya aku kenapa?”
“Kamu itu udah kayak manusia bodoh yang cuman duduk diem, kalau di tanya baru nyahut itu juga lama sekali jawabanya,” gerutu Lucas, sebel. Aleanya sudah nggak asik lagi.
“Aku baik-baik saja,” jawab Alea.
Seberannya Alea pun ingin bicara panjang lebar perihal masaah pekerjaan.
Alea kembali melihat laporan keuangan yang kembali di manipulative semua data di laporan dan dibest tidak sama apa lagi rekening perusahan tidak sesuai dengan jumlah ada di laporan tadi siang.
Alea berniat akan berbicara pada Evans agar pria itu cepat bertindak karena setelah makan siang tadi, Alea sudah merekap semua bukti semua data yang palsu.
“Ya sebaiknya aku harus mengakhiri permainan mereka,” batin Alea.