
Angin sejuk menerpa pori pori kulit seorang wanita, desiran pantai yang begitu indah menyejukkan hati dan memberi ketenangan.
Wanita itu duduk dengan tenang nya dalam keadaan yang sangat bahagia, senyum nya tak pernah ia lepaskan begitu saja. Ia terlihat tanpa beban sedikit pun, seakan pasrah akan hari yang akan menjemput.
Wanita itu adalah Feny, Nenek dari Evans Scirth. Wajahnya selalu bersinar tampak bahwa ia benar benar di penuhi kebahagian.
" Semuanya telah aku dapatkan, segala Kebahagiaan telah kurasakan. Kedua Cucu ku sudah memilih jalan hidup masing masing, aku masih diberikan kesempatan untuk melihat Cicit ku meski hanya dalam keadaan yang masih sangat mungil. Aku sudah pasrah akan ajal yang akan menjemput, takdir yang akan berkata untuk segera membawa ku ke alam lain. Semuanya akan baik baik saja jika nanti aku akan pergi untuk selamanya, tidak ada lagi yang perlu ku khawatir kan." Ucap Feny dengan sangat tulus, semuanya telah ia pasrahkan tanpa ada hambatan lagi sedikit pun.
Satu jam sudah ia menikmati keindahan dan ketenangan di dekat pantai itu, ia ingin segera pulang ke rumah.
" Iras, bawa aku pulang,"pinta Feny pada Iras yang sedari tadi setia menemani Feny.
" Baik Mam." Iras memanggilkan supir pribadi Feny agar segera menggendong Feny ke dalam mobil.
*****.
Kediaman Keluarga Scirth di Korea.
" Iras, apa kamu bisa memasakkan sop buntut kesukaan ku?" Tanya Feny yang kini tengah duduk di kursi rodanya, tetapi masih di ruangan tengah.
" Bisa Mam, Mama tunggu disini ya dengan Pram,"balas Iras dengan lembut, Feny mengangguk kemudian Iras pun melangkah pergi menuju dapur.
" Pram, jika nanti aku sudah pergi kalian jangan pernah lupakan Kediaman keluarga Scirth ini. Mama tidak meminta kalian untuk tinggal selamanya disini, tapi sesekali kalian datang berkunjung kesini meski nanti tidak akan ada penghuninya lagi kecuali para asisten yang akan membersihkan Mansion ini." Ucap Feny pada Pram, Pram mengerti maksud ucapan Feny.
" Iya Mam, kami akan sering berkunjung kesini apalagi kami juga sudah tua dan akan lebih sering menghabiskan waktu di amsa tua." Balas Pram dengan lirih, ia menjadi merasa sedih jadinya tanpa sebuah alasan.
" Baiklah, jangan pernah sakiti hatinya Iras lagi kelak aku pergi nanti. Sebab dialah teman hidupmu sampai ajal menjemput, biarlah hanya kematian yang memisahkan kalian. Jangan pernah melukai sedikit pun perasaan nya, sebab seorang pria tanpa seorang wanita tidak akan ada jadinya dan akan terasa hampa seluruh kehidupan nya." Jelas Feny, mendengar perkataan Feny membuat hati Pram tersentuh sekali. Ia tak sadar bahwa semudah itu air matanya jatuh setelah sekian lama.
" Iya Mam, aku akan melewati segalanya bersama dengan Iras," ujar Pram dengan lirih.
Tidak lama kemudian muncul lah Iras membawa semangkuk sup buntut kesukaan Feny.
" Ini Mam," ucap Iras sembari meletakkan di atas meja.
" Makasih Iras." Sahut Feny.
" Aku akan menyuapi Mama,"ungkap Iras dan di balas anggukan oleh Feny. Dengan cekatan Iras pun memasukan sedikit demi sedikit Sop buntut tersebut kemulut Feny.
Selang beberapa menit kemudian Feny meminta untuk di bawa ke dalam kamarnya, Iras dan Pram pun melakukan apa yang di minta oleh Feny.
Siang hari sekitar pukul 13.05 Iras hendak memberi makan siang kepada Feny, tetapi Pram juga ingin ikut jadi Iras mengiyakan saja.
" Mam, ayo kita makan." Ucap Iras dengan lembut, tetapi tidak ada sahutan dari Feny.
" Mam..." Pram jadi khawatir ia pun menepuk pelan pipi Feny, tetapi tetap tak ada jawaban dari Feny bahkan Feny tak bergerak sedikit pun.
" Mam...." Iras sudah terlihat lemas seketika.
Dengan gemetaran, Pram pun meletakkan jarinya di hidung Feny dan.... tiada lah sudah. Feny sudah tak bernafas lagi, Pram tak tahan lagi untuk membendung air matanya seketika itu juga....
" Hikss...hiks... Mam...." Teriak Pram dengan histeris, ia tak menyangka bahwa percakapan nya tadi pagi dengan Feny adalah percakapan terakhir diantara mereka.
" Hiks... Mama..." Iras juga menangis tersedu sedu, untungnya asisten di rumah langsung bertindak dan langsung menelpon semua anggota keluarga bahwa Feny sudah tiada lagi.
****
Di Pemakaman
" Mam...." Iras terus menangis tersedu sedu di depan makam Feny.
" Nenek...." Evans hanya bisa pasrah dan terima kenyataan, meski tak dapat di pungkiri ia sangat terpukul sekali atas semuanya ini. Tetapi ia tak mau terlihat lemah di depan Anyer yang juga terlihat sangat terpukul sekali.
" Nenek... tenanglah di alam sana," ucap Anyer kini telah menggedong Edward berumur satu tahun.
" Nenek... terimakasih buat segalanya, hingga kini Endra telah memutuskan akan melanjutkan pernikahan kami sampai selamanya. Semuanya karena ide Nenek yang mampu mempersatukan kami." Endra juga berada disana.
" Selamat jalan Nek..." Ucap Key dengan penuh air mata.
" Tenanglah lah di alam sana Nek, Nenek pasti sudah bahagia sekarang," ujar Evans berusaha untuk kuat.
Setelah semuanya memberi ucapan selamat jalan kemudian mereka pun langsung melangkah pergi meninggalkan makam Feny.
*****
OK, AUTHOR DAH KASIH BONUS CHAPTER NYA YAH:) OH IYA, BUAT kalian yang baca kisah Key dan Endra " 35 DAYS FOR LOVE" author GK ceritain ya disana ttg kematian Nenek Feny. Jadi kalian bacanya disini aja ya ok:) PAYYYY...... pay...... READERS sayang ku:)
Tetap dukung author ya, oh iya beberapa hari lagi author bakal kasih pengumuman terbaru mengenai season duanya nanti untuk keputusan author nanti. Selagi menunggu pengumuman selanjutnya kalian baca donk kisah key dan Endra ok:) udah mau tamat loh:) hanya nunggu musim keduanya aja. Setelah kisah mereka tamat, maka author bakal lanjut season dua untuk kisah anak² mereka semua:) BYEEE.........
SALAM ^^