
Sebelumnya…
Pria bermata sipit itu mengenakan coat abu-abunya menuruni anak tangga sebuah private jat miliknya, bersama dengan seseorang pria tampan berwajah bule yang sama mengenakan coat dan berbeda warna.
Kedatangannya ke Italia tentu untuk mencari seseorang yang sangat berarti untuknya hingga beberapa hari ini, pria bermata sipit itu sudah beberapa hari di London hanya untuk mencari wanita ia sayangi.
Pria bermata sipit yang tidak lain Jeon Park kini nginjakan kakinya turun dari mobil yang membawanya ke salah satu rumah besar, mansion yang bergaya Mediterania yang cukup luas dan klasik.
“Silahkan Tuan,” ucap salah satu penjaga di pintu utama.
Pria bule itu menganggukan kepalanya dan menggedikan dagunya ke samping untuk mengintruksikan Jeon menuju seseorang yang bisa membantunya menemukan wanita yang ia sayangi, Alea. Tujuan Jeon datang ke Roma-Italia yang bertujuan untuk meminta tolong kepada saudara dari pria bule yang tidak lain Christian.
“Dia berada di halaman belakang sedang bersama dengan para binatang kesayanganya,” guman Christian yang berjalan di sampingnya.
Apa semua mafia-mafia seperti ini tanyanya?
Rumah yang begitu luas dengan penjagaan ketat dan juga hoby dengan binatang buas yang saat ini Jeon lihat di depan matanya.
Seseorang yang tidak begitu tua dan kelihatan dari wajahnya pria itu berusia kepala empat tengah bermain dengan harimau peliharaanya.
“Haii Chris—“ sapa pria di depanya yang sudah mendengar kabar jika saudara jauhnya akan berkunjung dan meminta bantuan kepadanya.
Walau pria yang sedang memeluk binatang kesayangan itu belum tahu akan apa masalah yang sedang diterpanya.
“Sudah lama kau baru main kemari saudaraku,” ucapnya hangat dan mempersilahkan saudara dan temanya itu duduk di kursi tamanya.
“Kau sudah tua rupanya namun kau masih saja bermain dengan binatang buas. Seharusnya kau mengusap perut istrimu yang tengah hamil, Marco,” decak Christian.
Marco tersenyum simpul menatap Chris dan juga temanya itu. “Aku masih muda Chris dan umurku baru empat puluh tahun, ingat itu! Silahkan di minum.”
“Ya…ya…ya aku mengalah. Aku datang ke sini meminta bantuanmu, Marco. Walau sebenarnya teman baikkulah yang sebenarnya membutuhkan akan bantuanmu,” jelas Chris pada saudarnya yang tengah menyesap coffe dengan menatap Jeon di depanya.
“Saya minta bantuan anda Tuan,” ucap Jeon yang menatap Marco di depan sana meletakan cangkir itu dengan telunjuk yang bergerak di depanya.
“Kau jangan panggil aku Tuan, panggil saja saya Marco seperti Chris.”
Marco memajukan tubuhnya dekat Jeon dan berbisik, “Aku masih muda, akan memiliki anak kedua, dan umurku juga tidak terlalu tua, right?” ucapnya menyunggingkan bibirnya.
Jeon tersenyum dan mengangguk.
“Dia masih ingin muda, walau tidak sadar diri,” sindri Chris yang mendapat lirikan tajam.
“Kenapa kau jauh-jauh kemari hanya untuk bertemu denganku dan meminta bantuan apa?” tanya Marco.
Jeon menghela sesaat menatap wajah Marco yang terlihat seperti mafia sungguhan. Eh dia memang benar mafia, meski wajah Italinya masih kental di wajah pria bertubuh kekar dengan tato di tanganya.
“Sudah beberapa bulan ini adikku menghilang dan aku mendapatkan kabar jika adikku saat ini berada di tangan mafia bernama Santhos Brigton namun menurut orangku Santhos berada di Italia.”
“Santhos?” guman Marco dengan mengeryitkan keningnya.
“Santhos Brigton mafia Inggris itu?”
Jeon dan Chris mengangguk.
“Setahuku pria tua Bangka bedebah itu sudah mati beberapa bulan lalu.”
Jeon dan Chris terkejut dengan kedua pria itu langsung duduk dengan posisi tegak.
“Apaahh??”
“Aku dengar seperti itu. Santhos Brigton mati karena di bunuh oleh The Black Rose,” ucap Marco yang sudah tahu kabar-kabar orang seperti Santhos Brigton di dunia hitam.
“Siapa The Black Rose?” tanya Chris penasaran.
“Dia Mafia Italia, tepatnya Napoli. Namun kekusaanya kini sudah seantero Italia dia menguasainya, tepatnya Negara ini dia berkuasa.”
Chris terbelalak mendengarkanya, dirinya tidak tahu akan dunia hitam karena sama sekali dirinya bukan seorang mafia yang tahu akan segala dunia gelap di depanya.
“Aku pikir kaulah penguasa Italia ini, karena aku tidak begitu tahu menahu akan dunia hitam seorang mafia.”
Marco berdecak. “Memangnya mafia di Italia itu hanya aku saja hah? Masih banyak mafia-mafia betebaran di Italia ini dan yang lebih kejam termasuk The Black Rose yang sudah paling terkenal di sini.
"Jika adikmu benar-benar berada di tanganya, aku tidak bisa menolongmu,” ucap Marco seraya melipatkan lenganya di dada.
“Kenapa kau tidak bisa?!” decak Chris.
“Dia sangat berbahaya Chris, dan aku pun di sini tidak mau mengusik harimau yang sedang tidur. Dia bisa memangsaku dan menghabisi seluruh keluargaku, bahkan ke akar-akarnya termasuk kau.
"Pria itu pasti akan menghabisi dengan mudah. The Black Rose tidak pernah setengah-setengah menghabisi musuh-musuhnya!"
“Astaga begitu kejamkah yang namanya The Black Rose? Aku pikir Mafia-mafia kejam hanya berada di film-film ternyata..."
“Di dunia nyata mafia begitu kejam Chris. Bahkan The Black Rose di usia masih kecil sudah membunuh dua orang sekaligus, kira-kira seusia Marcus, The Black Rose sudah membunuh orang,” tunjuk Marco pada anak sulungnya yang berada bersama dengan istrinya.
Jeon dan juga Chris tercengang mendengarkanya. “Astaga begitu menakutkan.”
“Maka dari itu mafia-mafia di sini tidak ingin berurusan dengan The Black Rose meski banyak yang ingin menentangnya, musuh bertebaran di mana-mana walau mereka tahu tidak mudah menantang The Black Rose yang akhirnya mati mengenaskan.” Marco menghela napas panjang.
“Bahkan kabarnya, kepala seorang The Black Rose dihadiahi sangat mahal, bahkan puluhan millyar dollar jika mendapatkanya,” ungkapnya yang membuat kedua orang di depan sana melongo.
“Sekejam itukah The Black Rose, hingga banyak yang ingin membunuhnya?”
“Dia bukan lawan yang biasa,” sela Marco kembali.
“Jika tidak mati namun bisa jadi adikmu menjadi wanita jalangnya The Black Rose, yang aku dengar bahkan The Black Rose mempunyai beberapa wanita jalang di mansionya, mungkin bisa menjadi koleksinya!"
“Astagaa!!!” decak Chris yang lagi-lagi menggelengkan kepalanya tidak percaya.
“Bagaiman jika itu semua benar Jeon? Dan adikmu?”
Jeon tentu tidak ingin keduanya terjadi pada Alea di sana. Meski dirinya masih benar ragu jika Alea berada di tangan devil seperti The Black Rose.
“Aku akan menyuruh orang untuk menyelidiknya dan mungkin saja adikmu tidak berada di tangan The Black Rose.”
Marco menujuk seseorang kepercayaanya di depan sana mengintrusikan kepada orang kepercayaanya itu untuk mencari kabar akan wanita yang bernama Alea.
***
Dua hari sudah Jeon dan Chris berada di Roma-Italia, mencari keberadaan Alea yang kemungkinan Marco berada di tangan The Black Rose.
Meski dirinya begitu malas mencari masalah dengan The Black Rose yang sudah jelas devil itu dan ancamanya membuat Marco pun takut akan keselamatan keluarganya.
“Semoga saja, adikmu tidak berada di tangan The Black Rose,” gumam Isabel istri Marco memberikan secangkir coffe untuk ketiga pria yang berada di halaman bekang.
“Aku harap begitu bel, terima kasih coffenya,” ucap Jeon.
Seseorang pria berpakain serba hitam datang di depan pintu, Marco yang mengetahuinya pun langsung menghampirinya.
“Apa ada sesuatu masalah dengan Marco?” tanya Chris kepada Isabel di sampingnya yang ketiga orang di sana menatap raut wajah Marco yang berbeda.
“Lekas selidiki dan temukan dia!” hanya itu yang mereka dengar dari pembicaran Marco dan anak buah kepercayaanya.
“Apa ada kabar baru?” tanya Jeon menatap raut wajah Marco.
“The Black Rose saat ini berada di Spanyol tepatnya Madrid dia membawa seorang wanita, yang tidak jelas siapa wanita itu dan kemungkian saja wanita itu Raider,” tutur Marco duduk di kursi bersama dengan istri dan juga dua pria itu.
“Madrid? Mau apa?” tanya Jeon semakin penasaran.
Marco menggedikan bahunya, tidak tahu. Siapa yang tahu akan urusan The Black Rose mau apa-apa di sana.
“Siapa Raider?”
“Raider seorang wanita cantik kaki tangan The Black Rose yang sama kejamnya,” jawab Marco.
“Astagaa…”
Keempatnya terdiam sesaat dengan isi kepala yang berlainan pendapat. “Jika kau mendapat The Black Rose mati kau mau apakan?”
Marco menghela lirih. “Tentu aku akan menukarkan kepalanya dengan hadiah itu!”
“Pada siapa kau akan menukarkan kepala The Black Rose!”
“Seseorang yang jelas aku tahu siapa orangnya,” jawabnya tersenyum misterius.
Dan kemudiaaan…
Evans berdiri dengan susah payah menghampiri wanita bodoh itu yang masih berada di dalam mobil miliknya membantu wanita itu untuk keluar dalam mobilnya dengan tenaga yang tersisa. Menggoyang-goyangkan tubuh kecil itu yang sudah tidak sadarkan diri.
“Aleaaaaa…”
Evans mengeryit sakit merasakan denyutan keras di kepalanya, memegangi kepalanya oleh tanganya sebelahnya dengan satunya lagi melihat jejak darah di tanganya.
“Ohh sial. Apa bajingan itu menembaknya?” desah Evans.
Tiga mobil hitam pekat tiba di lokasi kejadian, di mana Evans di tengah duduk bertahan hingga anak buahnya datang untuk membawanya.
Bertahan dengan tubuh Alea yang berada di pangkuanya dengan menahan begitu hebatnya sakit menerpa kepalanya membuat ia tidak bisa menatap dengan jelas siapa pria-pria berpakian serba hitam dengan seorang wanita di sampingnya.
Dug!!
Salah satu pria tersebut memukul punggung Evans hingga devil seperti Evans bisa mudah ia bawa meski kondisinya saat ini sedang lemah dan mengambil untung dari kejadian ini.
“Kami sudah menemukan dia Tuan,” ucap seseorang di depan sana mengabarkan melalui sambungan telpone.
“Good. Bawa dia seperti yang aku katakan kepadamu!” jawab seseorang di seberang sana dengan tersenyum miring penuh kemenangan.
Apa pria itu sama berniat jahat kepada Evans menginginkan kepala seorang The Black Rose yang dihadiahi milyaran dollar?
Begitu banyak orang-orang jahat di luaran sana, seseorang yang kejam bisa dikatakan sebagai mafia yang selalu tahu akan eksistensi The Black Rose di dunia hitam yang tidak bisa diremehkan?
Bersambung....
Kira-kira bagaimana keadaan Alea?
Siapa orang yang membawa The Black Rose dan apakah seseorang itu akan membawa kepala The Black Rose untuk di tukar dengan milyaran dolar?
Penasaran gak?
Ikuti JulienGreen yah, kasih komen, like hehehe....
Terima kasih banyak, salam manis dari JulienGreen.