Mafia And Me

Mafia And Me
Love Is Bullshit



Beberapa kali peluru itu di tembakan keatap-atap langit rumahnya hingga tidak tersisa dengan suara erangan yang terdangar bergema di ruang tersebut.


 


 


Evans dengan wajah merah padam dan kedua matanya yang masih membulat penuh amarah itu menghempaskan kekasalanya dengan membuang semua peluru yang berada di tanganya.


 


Bayang wanita itu selalu di samping ayahnya membuat dia tidak bisa membunuh ayah kandungnya sendiri, Evans masih bisa berpikir saat ini walau dendam kepada ayahnya sudah berada di ubun-ubunya hingga rasanya ingin membunuh pria yang sudah membesarkanya itu.


 


 


Alberto menatap manik mata Evans dengan penuh amarahnya kepadanya.


 


 


"Bunuhlah ayahmu ini agar kamu puas, anakku," ucap Alberto kembali.


 


Dada bidang Evans bergerak cepat dengan napas yang tersenggal-senggal dan segala amarah ia keluarkan kepada pria yang sudah membunuh ibunya. Menatap tajam Alberto dengan helaan napasnya.


 


 


“Aku tidak ingin berurusan kembali denganmu, meski sekali pun kau ayahku! Tetapi bagiku kau sudah mati!”


 


 


Alberto paham dan mengerti akan anaknya yang begitu sangat membencinya. Ia hanya tersenyum lembut menatap Evans di depan sana dengan wajah Evan yang masih diselimuti amarah. Alberto tidak ingin membahasnya kembali.


 


 


“Di mana wanita itu,” tanya Evans membuang senjatanya.


 


 


“Wanita mana? Kaki tanganmu itu?”


 


 


Evans mendengus menatap Alberto bengis, “Wanita yang bersamaku sebelum aku tidak sadarkan diri oleh orang-orangmu!"


 


 


“Apa kau mengkhawatirkanya?” tanya Alberto.


 


 


“Tidak! Aku hanya sudah berjanji kepadanya,” gumamnya, tenang.


 


 


“Janji atau hutang nyawa?” tanya Alberto yang menyulutkan emosi Evans.


 


 


“Bukanya sekalipun wanita itu mati kau tidak akan peduli kepadanya? Bahkan kau tidak menyesal akan semuanya perbuatanmu itu.


 


 


"Aku tahu wanita itu sudah menolongmu dari kematian. Dia masih punya keluarga Evans, kenapa kau menyekapnya di mansion itu hanya sebuah kalung?”


 


 


“Jawablah Alberto. Aku tidak butuh nasehat darimu itu!” decak Evans.


 


 


Alberto menghela napas dalam kembali menatap anaknya di depan sana. “Wanita itu masih belum sadarkan diri. Kau sudah puas?”


 


 


“Di mana dia sekarang?”


 


 


“Apa itu penting untukmu? Siapa wanita itu sebenarnya? Jika dia bukan siapa-siapamu aku akan membebaskannya dari The Black Rose si penguasa!"


 


 


 


Evans maju berhadapan kembali dengan Alberto, pria tua itu sama dengan dirinya yang sama-sama keras.


 


 


“Dia orangku. Aku yang berhak pada wanita itu dan akulah yang berhak membebaskan tidaknya dan semua itu bukan urusanmu!”


 


 


Evans pergi dari kamar itu meninggalkan ayahnya yang selalu menyulut emosi. Keduanya memang tidak pernah bertemu dan baru kali ini mereka bertemu dengan Evans yang tidak ingin sama sekali bertemu dengan ayah kandungnya sendiri.


 


 


Evans melangkan menuju pintu, namun langkahnya terhenti ketika Alberto berkata kembali kepadanya,


 


 


“Sejak aku meninggalkan rumah itu aku berpikir untuk merubah semuanya, mencoba merubah perlahan-lahan menjadi orang baik dan menjauhi dunia gelap.


 


 


"Aku ingin kau tinggalkan dunia hitammu, dan kembalilah pada dunia normal seperti apa yang aku jalani saat ini setelah kematian ibumu.


 


 


"Aku pun sama menjalani kehidupan normal. Aku ingin kau sama sepertiku Evans. Kau pun bisa anakku, kembali kepada kehidupan normal dan menikah dengan wanita yang kau cintai. Umurmu sudah tidak muda lagi Evans, apa kau akan tetap seperti ini? Menjadi mafia hingga kau mati?


 


 


"Apa kau tak ingin membahagiakan ayahmu yang sudah tua ini dengan otakmu yang cerdas, meskipun aku tahu kau sama sekali tidak mengencewakanku selama ini, karena semua yang aku miliki selalu berhasil di tanganmu. Perusahan? Bisnismu? Aku tahu semuanya.


 


 


 


 


Evans bergeming di depan sana, mengabaikan semua kata-kata yang lebih jelasnya nasehat untuknya.


 


 


“Persetan dengan semua itu. LOVE IS BULLSHIT,” ucap Evans di depan sana yang terdengar oleh Alberto di belakang sana.


 


 


Langkahnya kembali untuk pergi meninggalkan ruangan itu namun lagi-lagi terhenti.


 


 


“Kau hanya belum tersadar nak. Jika kau berpikir seperti itu. Suatu hari nanti kau pasti akan mengakui di mana dunia ini bukan ada kegelapan seperti yang kau jalani saat ini.


 


 


"Namun di dunia ini ada ada sebuah magic yang namanya cinta, itulah hari di mana akhirnya kau mengalami jatuh yang begitu sempurna, menyadari hingga menyerahkan dirimu akan namanya CINTA. Pasti tida pernah kau bayangkan sebelumnya," ungkap Alberto kembali.


 


 


“Semua itu hanya omong kosong,” decak Evans kembali berlalu pergi meninggalkan Alberto.


 


 


Alberto tersenyum simpul di depan sana yang mana ia menyadari gerak gerik anaknya. “Kau hanya belum mengakuinya saja, karna kau sama sepertiku di masa lalu.”


 


 


Evans berlalu pergi meninggakan Alberto di ruang itu menuruni anak tangga menuju pintu keluar. Namun di luaran sana para anak buah Alberto menghadangnya untuk tidak keluar dari mansion.


 


 


Evans jelas marah dan menghajar beberapa anak buah Alberto yang sudah menghalangi jalanya meski dirinya masih dalam keadan luka sekali pun.


 


 


Tetapi Evans tetap berkelahi di depan sana hingga seseorang pria paru baya yang baru datang bersama dengan wanita menghentikan perkelahian.


 


 


Jelas Evans selalu bisa melumpuhkan orang-orang yang menghalanginya dilihat beberapa orang yang sudah terjatuh dengan memegang tubuhnya kesakitan.


 


 


“Berhenti Evans!”


 


 


“Kau tidak bisa berkeliaran di luar sana, yang mana masih banyak polisi yang sedang mencarimu atas kekacauan yang kau buat. Meski sebagian kami bisa mengatasinya namun kematian Erwin Bruno polisi masih menduga semua perbuatanmu!” jelasnya.


 


 


Evans diam menatap wanita di depannya yang tidak lain Mika, yang mengangguk pelan.


 


 


 


“Aku tidak peduli!”


 


 


“Kau mencari wanita itu bukan?”


 


 


“Aku tidak peduli dengan wanita itu!” decak Evans.


 


“Aku hanya akan pergi kesesuatu tempat! Karena aku tidak ingin lama-lama berada di sini."


 


Evan pergi dengan begitu saja meninggalkan mansion itu dengan Mika yang di belakang sana mengikuti Tuannya.


 


Pria paru baya yang tak lain Abraham kaki tangan Alberto tersenyum masam dan mengetahui sikap anak tuanya itu.


 


Abraham menaiki anak tangga setelah Melihat kepergian Evans dan juga Mika di ruangan tengah itu dan menghampiri pria tua yang sejak tadi sudah berada di lantai satu menyaksikan anaknya yang berkelahi dengan anak buahnya dengan tersenyum simpul di atas sana.


 


 


“Sepertinya wanita itu terlihat special di mata anakmu The Black Rose,” ungkap Abraham di depan Alberto.


 


 


“Aku tahu itu, meski pria kejam itu belum menyadarinya.”


 


 


“Bukannya dia sama denganmu?” tanya Abraham kepada Alberto yang di jawab dengan senyuman simpul.


 


 


 


“Suruh orang mengikuti Evans ke mana dia pergi jangan terlalu mencolok karena anakku tidak bisa diremehkan begitu saja dan kabarkan kepadaku apa yang dia lakukan,” pintanya yang dianggukan oleh Abraham.


 


 


Bersambung...