Mafia And Me

Mafia And Me
Kekejaman Evans!



“Katakan kenapa cctv itu bisa rusak?”


 “Mungkin ada seseorang yang sudah memasukan sesuatu pada minuman saya hingga saya tertidur dan saat saya bangun cctv sudah rusak.”


Evans mengalihkan tatapannya pada Bryan, ketika kedua matanya turun kebawah dan melihat dua orang itu saling berpegangan erat, rahang Evans mengetat.


 “Siapa yang memberikanmu minuman?” tanya Evans.


Pandangan Evans menghunus pada pria yang kini sama menatapnya.


“Saya mengambilnya sendiri dari dapur, Tuan.”


“Begitu?”


“Kenapa anda menatapku seperti itu? Apa anda kini menuduh aku juga?” tanya Bryan pada Evans.


“Bukannya itu yang pernah kamu lakukan, hmm? Kau pun pernah melakukannya bukan?”


Bryan menghela napas berat, lalu berdiri di depan Evans.


“Apa kau menuduhku juga yang memberikan pria itu obat tidur? Ck! Sama sekali tidak ada kerjaan!”


“Kau sudah terbukti pandai bersilat lidah, Bryan!” decak Evans dengan santai.


Bryan duduk dengan santai seraya menggenggam tangan Alea lalu mengusap punggung tangan Alea. Melihat hal itu, membuat Evans menajamkan matanya.


“Kalau anda tidak percaya anda boleh bertanya pada Joe, dimana aku berada sebelum wanita jallangmu itu mati mengenaskan.”


Pandangan Evans masih sama. “Seperti yang sudah-sudah. Aku menyiapkan hidangan yang spesial hingga tengah malam untuk sarapan besok.


“Sejak tadi aku membantu Joe di dapur menyiapkan semua kedatangan tuan Leo dan tuan Gabriel yang akan datang berkunjung.


“Saya sibuk di dapur, mana mungkin saya memberikan pria itu obat tidur!”


Alea mengernyit mendengar dua nama asing tersebut, sebelum ini Alea hanya tahu pria bernama Masimo.


 Lalu siapa lagi yang akan datang besok ke mansion ini?


Alea menatap Evans penuh tanya, tetapi pria itu terdiam cukup lama.


“Jika kau meragukan ucapanku, tanyakan saja sendiri pada Joe yang masih berada di dapur.”


“Kunjungan apa, Bry?” tanya Alea, penasaran.


Evans menatap Alea, “Itu bukan urusanmu Alea!” desis Evans.


Wajahnya menampakan kalau pria itu marah. Evans tidak suka dengan sikap Alea yang selalu ingin tahu.


Evans menarik rambut pria muda itu hingga ke belakang, kepalanya mendongak.


“Kau harus bertanggung jawab atas semua kerteledoranmu ini!” desisnya.


“Am-puni sa-ya tu-an.”


“Cih…Pengampunan bahkan aku begitu bosan mendengarnya!”


Evans menarik sudut bibirnya ke samping. Kedua tangannya terkepal kaut lalu melayangkan kepalan itu ke wajah pria itu hingga pria itu tersungkur ke lantai.


Darah kembali merembes, pria itu terkapar dan tidak punya tenaga lagi untuk melawan iblis seperti Evans Colliettie.


Evans berdiri dari duduknya setelah menghempaskan tubuh Bobby yang tidak berdaya di lantai dingin. Evans menendang punggung pria itu tanpa belas kasih.


Alea tidak bisa lagi melihat kekerasaan yang dilakukan Evans pada pria muda itu.


Dia menangis dengan pikirannya yang bingung akan berbuat apa untuk menolong pria itu. sungguh, iblis pria itu.


 Evans Colliettie tidak punya hati. Pria itu masih terus menyiksa Bobby seperti suatu kesenangan sendiri menyiksa orang yang sudah tidak berdaya di depan banyak orang hingga pria muda itu menatapnya penuh permohonan.


Alea menggigit bibir bawahnya, diam.


“Dasar brengsek kau tidak ada gunanya!” ucap Evans sebelum mengangkat kakinya yang mana pria itu berniat untuk menendang kepala pria muda tersebut


“No…. Evans….” Teriak Alea keras.


Wanita itu dengan cepat melepaskan genggaman tangan Bryan dan berlari menahan kaki Evans agar tidak melukai pria yang sangat menyedihkan penuh darah.


“Aku mohon, jangan lakukan lagi. Dia sudah tidak berdaya Tuan. Mungkin saja yang dikatakannya itu benar.


 “Mungkin dia tidak tahu apa-apa, Tuan. Tolong jangan memukulnya lagi,” mohon Alea.


Bola mata Evans menajam ketika wanita bodoh itu kembali menahannya. Bobby terbatuk darah.


“Aku mohon, Tuan…”


 jika dia tidak tahu apa-apa seperti apa yang dia katakan kepadamu. Jangan memukulnya kembali.”


“Arghhh.”


Evans menghempaskan pria itu begitu saja ke lantai. Menendang kembali wajah Bobby hingga pria itu tidak sadarkan diri.


Seraya menahan tangis dengan bibir yang dia bekap kencang. Alea pandangi Evans dengan lekat, pria itu terlihat dikuasai amarah.


Bila pria itu bersalah, tolong jangan menyiksanya hingga mengenaskan seperti ini.


“Kenapa kau membelanya, hmm?” Manik mata hijau keemasan itu pun menajam ketika kedua mata mereka bertemu.


Alea menelan salivanya dengan susah payah.


 “Bila dia bersalah, tolong jangan menyiksanya hingga mengenaskan seperti ini, Tuan. Belum tentu dia bersalah bukan?


“Anda juga tidak punya bukti kalau dia merusak cctvnya bukan?” kata Alea dengan bibir bergetar.


“Begitukah?”


Evans menarik wajah wanita itu hingga mendekat.


“Sekalipun aku membunuhnya, itu bukan urusanmu Alea.


“Jangan sok belaga jadi pahlawan kesiangan sementara nyawamu sendiri pun saat ini sama tercanam bukan?


“Kau di sini tertuduh membunuh Carla dengan motif yang kuat!” tegas Evans dengan gigi bergemeretak.


“Aku tidak melakukan apapun. Aku tidak sekejam itu, Tu-an.”


Evans tersenyum miring. “Baiklah.”


Evans menghempaskan tubuh kurus Alea sampai wanita itu terjengkang.


“Lalu apa yang kamu lakukan tengah malam di kamar Carla, hmm?


“Aku yakin sekali kalau kau tidak akan berkunjung ke kamar wanita jallangku hanya untuk mengucapkan selamat malam bukan?”


Alea tersentak. Dia lupa dengan tujuannya mendatangi Carla.


“Ah, aku terlupa.”


“Aku datang ke kamar Carla karena aku hanya ingin bertanya pada Carla, apa dia yang sudah mengerjaiku meneror dengan ayam mati di ranjang hingga kamarku mengenaskan.”


Satu alis Evans terangkat. “Aku hanya ingin memastikan apa itu ulahnya karena yang terakhir kalinya aku membangunkan dia di ruangan bermain, dia mengancam akan membunuhku!”


Dan yang terbunuh wanita itu sendiri.


“Sebelum mengetuk pintu. Kondisi pintu itu pun tidak tertutup rapat hingga aku membuka dan menemukan Carla dengan keadaan yang menakutkan!”


“Begitukah? Sungguh karangan yang menarik.”


“Aku tidak mengarang, Tuan.”


Evans menarik nafas pelan. “Kalau begitu tunjukan padaku, bagaimana Carla mengerjaimu dan membuat kamarmu mengenaskan?”


Evans mengaitkan tali jubah tidurnya dan berlalu pergi yang diikuti Mika.


“Ayo aku bantu kamu berdiri,” ucap Bryan seraya berjongkok.


Bryan membantu Alea sekaligus menemani wanita itu keluar di bawah tatapan tajam para wanita jallang tuannya.


“Dasar pembunuh!!”


Bryan mengusap punggung Alea dan berbisik di telinganya.


“Sudah jangan dengarkan mereka, Alea. Kalau kamu benar tidak bersalah kamu tidak perlu takut,” ujar Bryan menangkan Alea.


Bryan dan Alea berjalan di belakang di mana Evan dan Mika menuju kamar Alea.


Ketika Evans membuka pintu kamar Alea, pria itu tertawa sarkas membuat kening Alea berkerut melihat penampakan iblis tersebut.


“Apa ini yang kau katakan kalau kamarmu mengenaskan dan juga diteror hah?” seru Evans.


Alea berjalan mendekat lalu melihat penampakan kamarnya.


“Bagian mana yang kata kamu mengenaskan, hmm?”


Mulut Alea menganga ketika mendapati kamarnya dalam keadaan bersih seperti semula. Tidak seperti apa yang tadi dia lihat.


“Ya Tuhan… ini semua….”


Bola mata Alea masih membulat dengan tubuh yang tersentak kaget.


“Tadi kamarku….”


“Apa ada orang yang membersihkan semua ini?” tanya Alea dalam hati.


Evans berjalan mendekati Alea dengan seringaian.


“Kau hanya menunggu waktu, Alea. Kalau kaulah yang sudah membunuh wanita jallangku!”


Alea tersentak, Evans kini pun ikut menuduhnya membunuh Carla.


 Wanita malang itu hanya pandangi kepergian Evans dari dalam kamarnya, setelah benar-benar pergi. Alea kembali pandangi penjuru kamarnya.


Dia masih belum percaya dengan semua yang dia lihat ini.


“Sebenarnya siapa yang sudah mempermainkanku?”