
♡Malam Hari♡
Saat ini Matahari telah berganti menjadi Bulan yang kini bekerja menyinari bumi.
Malam yang sangat dingin terbuai dengan angin yang berhembus masuk melalui celah jendela kamar Erdo dan Ria saat ini.
Mereka tidak tinggal lagi di apartement, sebulan setelah Luna pergi, Erdo langsung membelikan sebuah rumah yang cukup besar untuk membangun rumah tangga mereka di lembaran yang baru. Alasan nya bukan karena Ria yang minta, hanya saja Erdo tidak tega jika harus melihat Ria yang selalu terdiam karena selalu teringat akan Luna. Hingga insiatif Erdo pun muncul.
Malam ini Ria tengah santai menyisir rambut nya. Ia membubui wajah nya dengan krim wajah yang biasa ia gunakan setiap malam.
" Er..." Ria naik ke atas ranjang mereka, tampak Erdo sedang focus ke laptop nya.
" Yes.." Sejenak perhatian Erdo terahlikan kini memandang kepada Ria.
" Jika nanti tiba waktu nya untuk aku melahirkan, aku harap kamu..."
" Minum dulu susu bumil nya." Sela Erdo dengan cepat seraya memberikan segelas susu bumil kepada Ria.
Ria mengangguk lalu langsung meneguk dengan segera. "Makasih Er..." Ucap Ria sambil tersenyum tulus.
" Kamu tidak merasakan kram atau rasa sakit lagi kan?" Erdo meraba perut Ria.
" Em... ya! tidak seperti di awal lagi."
" Kamu jangan terlalu banyak berfikir ya." Pesan Erdo perhatian.
" Itu pasti.".
" Ya, sudah ayo kita tidur." Ujar Erdo sembari menutup laptop.
" Er..." Ria menggelengkan kepala nya.
" Aku belum selesai tadi mengucapkan kalimat ku."
" Kita lebih baik langsung tidur. Tidak baik untuk bumil begadang malam malam." Seru Erdo.
" Er... apa kamu tidak bisa mendengarkan kata kata ku walau hanya berlangsung lima menit saja?"
Erdo menarik nafas nya dengan berat. " Katakan!" Imbuhnya.
" Er... dengar kan aku! jika nanti tiba saat nya aku melahirkan bayi kita, aku harap kamu bisa menerima kenyataan yang nantinya akan terjadi. Kamu harus berjanji padaku mulai hari ini juga, bahwa kamu akan berjanji akan membesarkan dan merawat anak kita dengan seluruh kasih sayang yang melimpah sebagimana kamu melimpahkan kasih sayang kepada ku. Jadilah nanti seorang Ayah yang handal dalam segala hal. Berjanji lah padaku Er..." Ucap Ria dengan lirih, mata nya sudah berkaca kaca bahkan sudah mengeluarkan air mata.
" Ri... ku mohon jangan pernah berbicara seperti itu lagi, kamu harus yakin bahwa kamu pasti bisa melewati semua ini. Percayalah bahwa Tuhan tidak memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umat nya. Percayalah!" Balas Erdo dan langsung memeluk Ria dengan erat.
" Aku tau akan hal itu Er... namun ini sudah menjadi pilihan ku. Aku memilih untuk mempertahankan kehamilan ku, karena aku tau ini adalah janin pertama yang telah di karuniakan Tuhan bagiku. Aku tidak akan menyia-nyiakan pemberian Tuhan, meskipun aku juga harus mempertimbangkan semua nya. Namun itu lah takdir ku, tidak ada yang bisa mengganggu gugat takdir seseorang, tanpa terkecuali yaitu Tuhan." Seru Ria dengan getir.
" Ri...." Erdo tak kuasa lagi menahan air mata nya.
" Er... kamu adalah pria terbaik yang pernah aku temui dalam hidup ku. Kamu benar benar melimpahkan segala cinta dan kasih sayang mu bagiku, jadi aku tidak ingin membuat mu kecewa. Aku tau bahwa keinginan setiap orang dalam pernikahan adalah seorang anak. Maka aku akan penuhi itu, tidak peduli aku yang harus mengalah untuk takdir mana yang terbaik itu yang telah ku pilih. Menunggu kelahiran bayi kita butuh waktu enam bulan lagi, aku akan memuaskan bagaimana sesungguhnya kehidupan dalam dunia ini. Aku akan terus bersukacita dan terus bersyukur meski aku tahu bahwa itu hanya ucapan dalam mulut saja, namun aku akan berusaha untuk tetap kuat dan tegar." Seru Ria lalu melepaskan pelukan mereka.
"........" Erdo hanya diam tidak menyahut lagi, namun air matanya yang telah menetes adalah ungkapan isi hatinya saat ini.
" Ayo tidur..." Ria masuk ke dalam selimut dan mulai menutup matanya agar segera masuk ke alam mimpi yang indah.
' Aku tidak tau apa jadinya hidupku tanpa mu jika hal itu terjadi Ri.' Batin Erdo.
****
Like komen dan vote
SALAM ^^