
“Ini barang yang kamu inginkan!”
Lucas memberikan voice recorder pada Alea yang entah akan di pakai apa.
Wanita itu berseru senang mendapatkan benda satu itu. Alea membuka di dalam mobil di mana Lucas mengantarkannya pulang ke mansion Evans Colliettie.
“Terima kasih, berfungsi juga,” ujar Alea menatap Lucas yang terlihat mendesah.
“Jagalah dengan baik jangan sampai Mika mengetahuinya kalau sampai dia tahu kamu punya barang itu, tamatlah riwayatku!” decak Lucas.
Alea menatap Lucas dengan tawa. “Nggak mungkin riwayatmu tamat, Lucas.
“Percaya deh sama aku. Kalau kamu nggak diikat di ranjang, pastinya panttatmulah di pecut oleh dia, hahahah….”
“Sialan, lo!” decak Lucas kesal.
Alea turun dari dalam mobil Lucas dan masuk ke dalam mansion utama Evans.
Ketika baru saja masuk, Alea sudah disambut oleh wanita dingin di depannya.
Tak ada senyuman cantik yang melengkung di wajah Mikaela. Wajah cantiknya itu terasa dingin dan juga datar.
“Mika kembali ke setingan pabrik lagi, rasanya sedih kalau Mika sudah bersikap professional kayak gini,” batin Alea.
“Hai, Mika,” sapa Alea ketika keduanya berpapasan.
Alea berhenti. “Apa tuan sudah kembali?”
Mika ikut berhenti di depan sana, wanita itu pun berbalik badan.
“Belum. Siapkan saja kebutuhan tuan agar kau lekas istirahat.”
Alea manggut-manggut paham. “Tuan berpesan kalau kau lekas masuk kamar dan jangan berkeliaran di mana pun.
“Pukul sembilan malam semua orang sudah masuk ke dalam masing-masing dan tidak ada kegiatan lainnya, apa kamu paham?”
Alea mengernyit bingung, sekalipun dia menatap Mika. Tetapi, mendengarkan perkataan tadi membuat Alea aneh.
Alea mengangguk pelan, tanda paham dengan apa yang dikatakan Mika tadi.
Alea pun berjalan masuk lebih dalam lagi dan menuju ke dalam kamarnya.
Dia tersenyum ceria karena sekarang ini waktu istirahatnya lebih lama dari biasanya.
Tak mau membuang waktu yang sangat berharga ini, Alea pun berjalan cepat dan ke dalam kamarnya sebelum dia pergi ke kamar Evans untuk menyiapkan kebutuhan pria itu.
“Ambilkan aku wine, Alea…”
Alea terkejut dengan suara itu, baru saja dia menyiapkan air hangat seperti bisa untuk Evans mandi, namun pria itu sudah ada di dalam kamarnya.
“Baik, Tuan.”
Alea bergegas keluar dari dalam ruangan Evans untuk mengambil wine.
“Kau sudah paham bukan apa yang sudah Mika sampaikan padamu?”
Alea meletakan botol wine tersebut di samping bathtub tersebut dan tak lupa dia berikan anggukan paham.
“Pergilah dari kamarku,” perintah Evans dengan sorot mata yang tajam.
Tatapan itu tak seperti biasanya, namun Alea cukup paham sekalipun hatinya semakin penasaran.
‘Sudahlah tidak usah kamu ambil pusing Alea. Lekaslah pergi dan istirahat,’ gumamnya dalam hati.
“Saya permisi, Tuan.”
Alea keluar dan masuk ke dalam kamarnya yang tak jauh dari ruang pribadi Evans. Alea memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap rebahan di atas kasur kecilnya.
Entahlah, kenapa perasaan jadi tidak tenang. Dia sudah berguling ke sana kemari di atas ranjangnya, tetapi ini masih pukul sembilan malam.
Alea bangun dari posisinya dan membawa buku jurnalnya dan duduk di samping jendela kaca.
Dia menggambar di bawah langit gelap, Alea mencoba menggambar sesuatu di dalam sana seakan membunuh waktu agar dirinya lekas terlelap.
Hasilnya nihil, sudah tiga lembar dia menggambar di kertas kanvas tersebut namun sama sekali tidak membuatnya mengantuk.
“Sepertinya aku harus membuat sesuatu di dapur. Aku lapar,” ucapnya pada diri sendiri dan bangun dari duduknya.
Alea keluar dari dalam kamar, dia pun menuju dapur untuk membuat kue brownis lagi, seperti alasan kemarin malam ketika Bryan terus membujuknya untuk tetap tidur di kamarnya.
Mendadak, ingatan itu berputar lagi. Alea menghapus bibirnya dengan kasar ketika mengingat Bryan menciumnya.
Kata-kata itu membuat Alea rasanya ingin muntah, sungguh dia tidak nyaman kali ini sekaligus jijik akan kebodohannya yang begitu saja mau diperlakukan seperti itu.
Alea hanya mau berciuman dengan orang yang dia cintai saja, selebihnya dia tidak mau. Tetapi….
“Astagaaaa…. Ini otak kenapa jadi kayak gini, sih,” keluh Alea seraya menjambak rambutnya pelan.
“Sepertinya aku harus membuat brownies yang banyak untuk mengusir semua bayangan menjijikan itu.”
Alea membawa bahan-bahan kue di dapurnya, dia pun langsung mencampurkan lalu memixer semua bahan yang sudah ada di dalam tempat kaca tersebut.
Mengingat kue brownies, Alea jadi teringat permintaan Leo. Pria itu minta dibungkuskan brownies buatan untuk dijadikan oleh-oleh untuk ibunya.
“Undangan itu.” Alea terdiam sejenak.
Pikiran Alea akan undangan pesta pertunangan di Roma pun tersingkir dengan keras ketika memorinya teringat akan perkataan pria itu yang kini membuatnya semakin bingung.
‘Aku tidak seneng ini ketika sekian tahun mengunjungi saudaraku, Alea. Dan semua ini karena mu. Aku melihat perubahan pada diri saudaraku, sekalipun samar aku yakin ada sesuatu yang diperlihatkannya.
‘Sesuatu kepemilikan yang mutlak. Bila kamu tidak menyadarinya akan sikapnya. Aku akan membantumu untuk menyadarkannya.’ Kata Leo sebelum pria itu pergi dari mansion Evans.
“Kenapa semua orang beranggapan seperti itu? seolah dugaan semua wanita penghuni pavilion tengah itu dibenarkan.”
Empat loyang kue pun selesai, Alea meletakkannya dengan susah payah sekalipun hanya menyimpannya di atas meja.
Perutnya kembali kambuh, dia harus kembali meminum obat Pereda nyeri itu yang terlupa dia minum sejak makan siang.
“Aku harus ke kamar untuk meminum obat itu, kalau tidak aku tidak akan bisa—”
Alea keluar dengan berjalan terseok-seok. Di tengah malam yang begitu gelap dan sunyi mendadak malam ini tak seperti biasanya.
Susana mansion mendadak menakutkan, bahkan dia tidak melihat ada penjaga yang berlalu lalang di setiap koridor.
“Aneh, kemana orang-orang kenapa ini sangat sepi sekali,” gumam Alea dalam hati.
Alea memegang dadanya, dia terkejut akan sesuatu yang baru saja dia lihat.
Sekilas bayangan berjubah hitam membuat Alea terhenti dengan sebelah tangan memegangi perutnya yang sakit.
“Apa itu hantu?”
Alea mencoba membayangkan sejenak akan apa yang tadi dia lihat.
“Sepertinya bukan.”
Alea berjalan pada ujung tembok, dia menangkap sosok punggung lebar dengan jubah hitam berjalan sempoyongan.
“Mau kemana orang itu?” batin Alea.
Dia mengikuti pria tersebut hingga Alea tidak tahu kemana orang itu akan pergi.
Orang itu membawa Alea ke belakang mansion yang belum pernah Alea jelajahi, wanita bodoh itu terus mengikuti hingga dirinya terlupa dengan tujuan awal yang akan mengambil obat penahan sakit.
Kedua kakinya terus mengikuti seseorang yang entah siapa itu, menurut Alea orang itu sangat mencurigakan.
“Apa orang itu salah satu orang yang sudah menerorku?”