
Sore hari nya, Erdo dan Ria kembali pulang ke apartement.
" Huf.... hari ini cukup menyenangkan ya Er... " Ungkap Ria yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Lumayan...." Erdo mengangguk.
" Mana tadi kue yang aku beli untuk Nenek?"
" Dah aku bawa nih..." Erdo menunjukkan plastik yang di tenteng oleh tangan nya.
" Hehhe.... thank you Er..." Ria menujukkan senyum termanis nya.
" Hmm... ayo masuk!"
" Jelas donk," mereka berdua pun masuk ke dalam apartement.
" Hallo.... kok sepi amat?" Mata Ria menyapu bersih isi apartement, namun tidak ada sosok seseorang pun.
" Er... kenapa sepi gini?" Heran Ria.
" Entah!kita kan sama sama keluar."
" Nenek...." Ria tetap tidak menemukan sosok yang ia cari.
" Er... kok Nenek nngak ada? asisten juga nngak ada yang nongol." Ria sudah tampak cemas sekarang.
" Stss... jangan pikiran yang aneh aneh Ri! coba kamu cek ke kamar Nenek dulu, siapa tau Nenek lagi tidur." Tukas Erdo agar Ria tidak berfikiran yang macam macam.
" Em... ok....!" Ria menarik nafas nya dengan dalam dan menyakinkan diri agar tidak berfikir yang aneh aneh.
Ia pun menaiki tangga, dan langsung membuka pintu kamar Luna.
" Nenek......" Alhasil tidak ada sosok Luna di dalam kamar.
" Nenek...." Ria mencoba masuk ke dalam kamar Luna dan mengecek kamar mandi siapa tahu ada di dalam.
" Nekk... Nenek..." Ria mengetuk pintu kamar mandi.
" Nenek.... kok nngak da sahutan." Gumam Ria.
" Ceklek...." Ria membuka pintu kamar mandi namun tidak ada sosok Nenek Luna di dalam.
" Nenek...." Ria sudah sangat khawatir sekarang.
" Nenek... Nenek... kemana?" Ria sudah sangat cemas sekarang, otak nya sudah tak dapat lagi bekerja dengan baik.
" Ri...." Saat bersamaan Erdo pun masuk ke dalam kamar Luna.
" Er.... Nenek nngak ada Er... Nenek nngak ada...." Ria langsung memeluk Erdo.
' Kalau Nenek Luna tidak ada di kamar, lantas kemana gerangan pergi? tidak mungkin Nenek Luna pergi tanpa memberitahu kami.' Batin Erdo.
" Nenek.... Nenek Er..." Ria sudah tak berdaya lagi, pikiran nya sudah melayang layang entah kemana mana.
" Sstss.. jangan langsung memikirkan hal aneh ok!" Tukas Erdo langsung.
" Drt....drt..." Ponsel Erdo bergetar.
" Sebentar ya, aku angkat telfon dulu." Erdo melepaskan pelukan Ria darinya dan mengangkat sambungan telfon.
" Halo..."
" Halo Tuan.... sekarang kami ada di Rs. Mawar. Tuan! Nenek Luna tiba tiba pingsan sewaktu hendak melangkah masuk ke dalam kamar." Asisten Erdo menjelaskan.
" Ok! kami akan segera kesana."
" Tut..."
" Siapa?" Ria sudah harap harap cemas.
" Kita harus segera ke Rs. Mawar."
" Ha?? berarti Nenek...." Sekujur tubuh Ria bergetir dengan hebat.
" Ri... lihat aku! percaya saja,semuanya akan baik baik saja ok!" Erdo menopang tubuh Ria.
" Er... tapi aku..."
" Stss... jika kamu sudah berfikiran aneh seperti ini, lalu bagaimana dengan kenyataan nya nanti?"
" Kita harus segera ke RS. ok!"
Ria hanya mengangguk mengerti.
****
Rs. Mawar.
" Bi... bagaimana keadaan Nenek saya?" Tanya Ria dengan menghampiri kedua asisten.
" Tadi itu, Nenek Nyonya hendak melangkah masuk ke dalam kamar nya, namun tiba tiba kami melihat bahwa ia pingsan di depan pintu kamar. Dengan segera kami pun langsung membawa Nenek Nyonya ke Rs. Kami bahkan hampir lupa untuk mengabari Tuan dan Nyonya, kami minta maaf karena baru memberi kabar." Jelas asisten nya.
" Tidak Bi! bukan salah Bibi..." Ria terduduk lemas di kursi ruang tunggu.
"Apa dokter sudah keluar?" Tanya Erdo pada asisten nya.
" Belum Tuan!"
" Kalian kembali lah ke apartement." Ucap Erdo.
" Baik Tuan, kami permisi." Kedua asisten nya melangkah pergi.
Beberapa menit kemudian seorang Dokter keluar dari dalam ruang rawat.
" Keluarga Luna?"Tanya Dokter itu.
" Iya Dok! bagaimana keadaan Nenek saya?" Ria langsung berdiri menghampiri Dokter.
" Begini Tuan, Nona... mungkin ini akan sangat berat untuk kalian terima bahkan saya sendiri pun sangat berat untuk menyampaikan hal ini.Tapi kalian memang harus mendengarkan dan harus menerima kenyataan ini." Dokter itu terlihat getir sekali.
" Apa maksud anda Dok?" Ria sudah berderai air mata.
" Begini Tuan... Nona... sebelum nya saya ikut berdukacita atas kemalangan yang telah menimpa kalian, tapi sebelum Tuan dan Nona melihat jenazah Nenek anda, saya ingin memberitahukan sebuah hal."
" Hikss... Dok... cepat jelaskan. " Sekujur tubuh Ria bergetar ia tak kuasa lagi untuk kuat.
" Jadi sebenarnya kepergian Nenek anda sudah di ketahui oleh almarhumah sebelum ia pergi untuk selama nya. Almarhum menderita penyakit kanker jantung, menurut pemeriksaan saya sebelum almarhum pergi. Almarhum sudah pernah memeriksa keadaan nya, dan ia juga sudah tau bahwa umur nya memang tidak lama lagi. Dan seperti nya almarhum sudah pasrah akan ajal yang menjemput nya. Apakah Tuan dan Nona tidak seorang pun yang mengetahui hal ini?"
" Tidak Dok!" Balas Erdo.
" NENEK...!!!! Hiks.... Hiks... Hiks..." Ria menangis histeris saat melihat jenazah Nenek Luna sudah di keluarkan dari ruang pemeriksaan.
" NENEK.....!!!!!" Ria berteriak histeris sehingga suster pun berhenti mendorong jenazah.
" Ri... kuat kan hatimu! mungkin ini memang sudah takdir dari semua nya Ri." Erdo kembali menguatkan Ria.
" Hiks...hiks... Nek... mengapa secepat ini Nenek meninggalkan Ria? kenapa Nek? Nenek bahkan tidak mengatakan penyakit yang Nenek derita hiks...hiks... Cucu macam apaan Ria ini Nek? Nenek anggap apa Ria ini Nek? hiks...hiks..." Ria terus menangis tersedu sedu.
" Kenapa Nenek pergi begitu cepat Nek? hikss...hiks... bahkan Nenek menunggu sampai Ria dan Er punya anak hiks...hiks... kenapa Nenek setega ini pada Ria? kenapa nasib Ria harus semalang ini Nek? hiks...hiks... hanya Nenek seorang yang Ria punya selain Er.. tapi Nenek begitu cepat pergi hiks... hiks..."Ria sudah tak kuat lagi untuk menopang tubuh nya sekujur tubuh nya lemas seketika. Rasanya ia benar benar drop sekali.
' Tuan.. Nenek Luna telah pergi, saya harap Tuan dan Nona Anyer dapat menghadiri pemakaman sore ini juga.' Erdo mengirim pesan kepada Evans.
****
" Hiks... hiks.. Nenek..." Ria menangis di pemakaman Nenek Luna sekarang.
" Ria..." Anyer baru datang beserta Evans.
" Anyer..." Ria membalikkan tubuh nya menghadap kepada Anyer.
" Nyer...." dan langsubglangsung berlari memeluk Anyer.
" Ri... kamu yang sabar ya, kamu adalah sahabat terkuatku. Kamu jangan lemah begini ok, kamu itu orang yang tangguh Ri." Ucap Anyer seraya mengelus punggung Ria.
" Hiks... Hiks.. Nyer... aku bahkan tidak menyangka bahwa Nenek bisa secepat itu pergi. Hiks.. hiks... bahkan penyakit nya pun aku tidak mengetahui itu Nyer hiks... hiks..."
" Stss... kamu harus kuat ok!"
" Makasih Nyer... hiks... hiks.." Ria melepaskan pelukan mereka.
" Mommy dan Daddy dan Nenek Feny tadi tidak sempat datang, karena Nenek Feny tidak bisa keluar lagi di hari sudah redup seperti ini." Jelas Anyer.
" Iya nngak papa Nyer, asal kamu bisa datang."
" Terimakasih Nona, Tuan sudah menyempatkan diri untuk datang kemari." Ucap Erdo.
" Iya sekretaris Do." Balas Anyer.
" Turut berdukacita ya Do.." Evans menepuk nepuk pundak Erdo.
" Iya Tuan muda."
" Niye.. ini sudah hampir magrib, tidak pantas untuk bumil berkeliaran. Kita harus segera kembali sayang." Ucap Evans.
" Ri, sekretaris Erdo, sebaiknya kita langsung kembali saja." Ucap Anyer.
" Iya Nona! ayo Ri.." Erdo menopang Ria agar kuat untuk berjalan.
" Nenek... tenang lah di alam sana." Ucap Ria sebelum ia pergi meninggalkan pemakaman.
" Ayo..." Mereka ber empat pun pergi meninggalkan makam Nenek Luna dengan ikhlas.
***
LIKE KOMEN DAN VOTE
SALAM ^^
*****
Like komen dan vote
SALAM ^^