Mafia And Me

Mafia And Me
Mendadak Amnesia!



“Ehmm…”


Alea menggeliatkan tubuhnya perlahan dan merubah posisinya ke samping.


Pinggang Alea sakit seolah ada sesuatu yang menimpah pinggangnya.


Mulut Alea menguap lebar begitu dan kembali wanita itu merentangkan kedua tangannya ke atas.


Namun, gerakan tangan yang terulur ke atas pun mendapat respon sang otak yang memberikan isyarat kalau ada sesuatu berada di pinggangnya, ikut bergerak seolah sejak tadi tidak berpindah.


Alea mengedipkan kedua matanya secara cepat, lalu menoleh sebentar ke belakang.


Bola matanya langsung membulat lebar, ketika dia melihat seseorang tidur—memeluknya.


“Siapa orang itu?” batin Alea.


Perlahan Alea membuka kedua matanya sedikit. Hal yang pertama kedua matanya tangkap adalah sebuah bayangan seseorang.


Awalnya, Alea tidak memusingkan dan kembali memejamkan lagi kedua matanya seraya satu tangannya menarik selimut.


Namun, entah kenapa bayangan seseorang itu justru membuat Alea tidak tenang. Jantungnya pun mendadak berdetak cepat bersamaan otaknya yang memberikan respon.


“Evan—” gumam Alea dalam hati.


Butuh waktu untuk Alea berpikir mengingat kejadian apa yang membuat dia ada di tempat tidur yang sama dengan sang devil.


Namun, sayang otaknya tak memberikan sinyal-sinyal atas kejadian semalam yang berakhir di ranjang sang devil yang menakutkan itu.


Perlahan Alea pun membuka kedua matanya lebar-lebar dan meredam degupan jantung yang berdetak cepat.


Penasaran dengan apa yang baru dilihat, perlahan Alea merubah posisi tanpa membuat pria itu terbangun.


Celaka kalau sampai benar itu Evans, pria itu terbangun lalu mengamuk karena wanita bodoh seperti dia satu ranjang dengannya.


Tersentak, wanita bodoh itu langsung merentangkan tubuhnya. Alea terkejut akan seseorang di sampingnya.


Sosok pria bertelanjjang dada yang tengah tidur di sampingnya.


“Evans,” batin Alea yang diiringi satu tarikan nafas panjang.


Alea mencoba menoleh kembali ke samping untuk memastikan kalau apa yang dilihat itu adalah salah.


Tetapi, ketika kembali menoleh dengan gerakan yang amat pelan, Alea kembali tersentak kaget.


“Dia benar-benar Evans Colliettie?”


Alea menjadi panik, namun panik yang sewajarnya dan tidak seheboh biasanya.


Alea takut sang devil itu terbangun dan langsung membunuhnya karena dia sudah berani tidur satu ranjang dan di dalam kamarnya—


“Kenapa Evans ada di kamarku?” batin Alea.


Dia pandangi langit-langit kamarnya untuk memastikan ini siapa yang salah. Tetapi, ini terlihat aneh.


“Ini bukan kamarku.”


Sekali, lagi dia mengenderakan pandangannya untuk mencari tahu kalau apa yang dia lihat itu salah.


“Aku ada di dalam kamarku bukan?” batin Alea kembali bertanya.


Sayangnya, tidak. Dia berada di dalam kamar Evans dan kini wanita itu mencoba mengelak.


Lagi, wanita itu merintih sakit bekas pukulannya sendiri. “Ini tidak mimpi.”


Masih tidak percaya, Alea pun mencubit pelan tangannya, dia berharap kalau semua ini adalah mimpi.


Dan sialnya, dia kembali merasakan sakit dan itu artinya Alea tidak mimpi dan benar-benar ada bersama—satu ranjang dengan, Evans Colliettie.


“Sebenarnya apa yang terjadi?” batin Alea kembali bertanya. Dia masih belum ingat kenapa dia sampai berakhir di sini bersama Evans.


Alea mendadak amnesia, padahal semalam dia begitu buas menerjang bibir seksi yang sejak tadi di tatapannya.


Alea merubah posisinya senyaman mungkin hingga kedua matanya bisa melihat wajah tampan itu dengan sangat dekat. Sesaat, dia termangu memandangi wajah damai Evans.


“Hhh,” lirih Alea.


Dia terkejut ketika pria itu menarik tubuhnya lebih dekat lalu melingkarkan lengan kekarnya di perutnya dengan posesif.


Teringat sesuatu hal yang tidak beres, dia pun menyibakan pelan selimut yang dikenakan.


Nafasnya sejenak lega, dia melihat tubuhnya mengenakan pakaian—


“Kemana baju pelayanku?”


Bukan baju pelayan hitam dan rok hitam yang seperti biasanya dia pakai, tetapi Alea memakai kemeja putih yang kebesaran milik pria itu.


Dengan pelan namun pasti ingatan semalam pun bermunculan.


“Semalam aku dan dia—”


Mata Alea terpejam ingatan Evans membawanya ke dalam kamar dan mereka berciumaan membuat Alea menelan salivanya dalam-dalam.


“Sudah jelas kalau aku akan berakhir seperti ini karena minum orange jus yang dicampur obat perangsangg,” kata Alea pelan.


Wajah wanita bodoh itu nampak begitu sedih, itu yang Evans lihat ketika dia membuka matanya pelan.


Sebenarnya, Evans sudah menyadari kalau Alea sudah terbangun ketika dia merasakan tubuh Alea terus bergerak.


Yang bisa Evans lakukan hanya berpura-pura terlelap agar Alea tidak syok dan tidak takut ketika ada berada satu ranjang dengannya.


Evans Menarik tubuh wanita bodoh itu yang kurus agar lebih dekat lagi dan membawa Alea kedalam pelukannya.


Sumur hidupnya, Evans baru merasakan kalau dia baru pertama kali bisa tidur senyenyak ini dan juga senyaman ini bila Alea tidak terus bergerak hingga membuatnya terbangun.


“Apa dia pikir, aku ini bantal gulingnya?” batinnya.


Pria itu memeluknya dengan erat sampai tubuhnya benar-benar menempel dan kepalanya berada di lengan kekar Evans menjadi bantalnya.


Alea menatap Evans, lalu tersenyum lebar ketika melihat lebih dekat lagi hingga Alea sendiri merasakan hembusan nafas hangat pria itu di wajahnya.


Evans terlihat tidur dengan tenang. “Apa kamu tahu, Ev?”


Alea mengeluarkan satu tangannya yang berada di bidang dada Evans.


Perlahan dia mengusap lembut pipi Evans.


“Kamu lebih enak dilihat ketika terlelap seperti ini.”


“Kamu seperti bayi tampan yang tak berdosa. Wajahmu yang rupawan ini lebih damai dan enak dipandang bila kamu terlelap.”