Mafia And Me

Mafia And Me
Umpan!



“Apa kau keberatan Alea?”


“Hmm? Tidak, Tuan,” jawab Alea cepat karena itu adalah jawaban ingin didengar oleh Evans.


“Kau ajarkan dia semuanya akan apa yang sudah kau kacaukan di sini Lucas pada wanita itu!”


Lucas mengangguk paham sementara Alea yang berdiri pun sama pahamnya sekalipun dia tidak yakin bisa melakukan hal yang diinginkan Evans.


Kedua mata Evans menatap lekat pada wanita bodoh tersebut.


“Jika kau menemukan orang yang sudah berhianat disini kau katakan padaku langsung, aku akan menembak mati. Termasuk—”


Kedua mata Evans berikut juga dagunya menunjuk pada pria yang berdiri tegak di hadapan itu.


“Dia,” tunjuk Evans pada Lucas.


“Baiklah, Tuan. Saya paham dan saya permisi untuk bekerja lagi,” ucap Lucas seraya membawa Alea keluar dari dalam ruangan Evans.


Dia harus bekerja keras untuk membuktikan hal yang tidak mudah itu dan selain itu pun Lucas harus mengajarkan pada wanita yang berjalan di sampingnya yang berkaitan dengan pekerjaanya.


 “Aku akan ajarkan aku semua. Tapi, by the way. Siapa namamu, kita belum berkenalan bukan?”


“Alea,” jawab Alea cepat. Dia pun sama tidak mau membuang waktu yang berharga ini.


Alea sudah tidak ingin melihat pertumpahan darah lagi.


“Nama yang cantik, sama seperti orangnya.” Lucas menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Aku Lucas.”


“Aku sudah tahu,” jawab Alea cepat.


Lucas mengernyit kening, bingung yang diiringi menatap Alea. “Bukannya tadi tuan memanggilmu dengan panggilan Lucas berarti itu namamu bukan?”


“Ah, iya. Kenapa aku jadi terkejut begini kamu tahu namaku. Eh, jangan terkejut ya dengan sikap tuan Evans yang selalu gak bak singa kelaparan. Dia orangnya seperti itu,” kata Lucas dengan kekehan.


Alea menanggapinya dengan senyuman, karena galak itu bukan ada lagi di dalam pria itu. Tetapi, lebih tepatnya lagi Evans itu menakutkan.


Di dalam ruangan kecil tak seluas ruangan kerjanya yang berada di mansion. Evans nampak berdiri di jendela kaca besarnya memandangi pemandangan alam dengan tangan yang berada di saku celananya.


“Kau awasi gerak gerik Lucas yang kini sudah menjelma jadi pria bodoh. Aku mengenal dia, aku tahu pria itu tidak seperti ini menjalankan pabrikku.”


Mika yang berdiri tak jauh pun, diam sebelum dia menjawab.


“Aku yakin ada orang yang sedang mencam Lucas. Kau awasi Alea di sini, aku tidak ingin mendengarkan wanita bodoh itu melarikan diri. Suruh anak buahmu untuk mengawasi pria tua yang berpakain sama itu!”


 “Anda sudah tahu siapa orang yang dibalik semua ini yang ingin sudah membangkrutkan pabrik anda?”


Evans menarik napas sejenak lalu membalikan badan menatap anak buah kesayangannya. “Ya. Aku tahu.”


“Jadi anda membawa Alea ke pabrik ini hanya untuk menjebak tikus itu keluar sendiri dari pabrik anda?”


Evans diam, dari sorot matanya yang tajam bukannya kaki tangannya itu harusnya diam tidak ikut campur dengan masalahnya ini?


“Tugasmu disini hanya untuk mengawasi orang yang sudah aku minta, Mika. Bukan banyak bertanya apa lagi mengintrogasiku!”


“Baik, Tuan. Saya undur diri,” ucap Mika berlalu pergi.


Meski kegusarannya semakin bertambah, tetapi Mika tidak ingin Evans semakin memakinya karena dia sudah tahu karakter pria itu.


“Kau dipanggil tuan, Alea.”


“Hmm?” jawab Alea dengan berdehem seraya menatap Mika yang berdiri di meja kerjanya.


Alea membuat gestur melihat jam sejenak di mana jam sudah menunjukan pukul dua belas lewat.


“Anda memanggil saya, Tuan.”


“Selama namamu masih Alea Anjanie atau kau akan merubah namamu?”


Alea menghela nafas pelan.


“Pergilah dengan Mika, sudah saatnya makan siang. Aku tidak mau kau tidak bisa konsentrasi mengerjakan tugas ini untuk membuat pabrikku kembali bangkit!


"Kau butuh tenaga pula untuk mengetahui siapa yang sudah berhinata di sini padaku!”


Alea mendengus pelan, rasanya bibir ini gatal ingin mengatakan sesuatu, tapi. Cukup Alea tahan.


“Aku tidak akan mencemaskanmu karena sedikitnya kamu bisa bela diri bukan?”


Evans tersenyum miring. “Good. Kau cepat paham dengan maksud ku, Alea.”


Evans menatap wanita bodoh pemberani itu.


“Dan jangan main-main denganku di sini Alea. Bila kau mencuri kesempatan untuk menghubungi semua temanmu apalagi melarikan diri—”


“Kau tanggung konsekuensi atas perbuatanmu. Ingat, kau sudah menukarkan tiket emas mu itu untuk orang-orang yang bodoh di luar sana. Maka mereka jaminanmu saat ini.”


Alea meremas erat kedua tangannya. “Aku akan membunuh mereka satu-satu termasuk satu temanmu yang berada di London! Apa perlu aku menghabisi keluargamu, hmm?”


“Sialan Evans!” umpat Alea dalam hati.


“Kau paham Alea Anjani?”


Alea diam dengan mata menatap marah pada Evans. “Semua alat komunikasi di sini sudah aku sadap semua, telepon sekalipun email. Aku akan tahu bila kamu menghubungi mereka!”


Evans melemparkan kartu hitamnya ke depan yang langsung ditangkap oleh Alea.


“Belilah pakaian yang pantas untuk bekerja dan apapun yang kau inginkan dengan kartu itu. Mulai hari ini dan tiga bulan ke depan ini adalah pekerjaanmu yang baru dan jangan lupa dengan tugasmu selama ini menjadi pelayanku.”


Bola mata Evans menatap Mika. “Apa bolehkan aku membeli di luar untuk bekerja?”


Selama ini dia membutuhkan barang yang tidak ada di dalam kopernya.


“Belilah sesukamu!”


Senyum Alea melengkung pandangi kartu hitam di tangannya.


“Berapapun?” tanya Alea.


Evans mendengus jengah bila sifat manja Alea muncul, wanita bodoh itu seperti biasanya bila sudah dikasih hati selalu melonjak. “Terserah, sekalipun kau menghabiskannya pun aku tidak peduli!”


Alea pandangi sejenak kartu hitam itu di mana nominalnya mungkin tidaklah sedikit. “Terima kasih. Aku akan menghabiskan uangmu ini mengingat aku akan hidup di dalam neraka sampai akhir hayatku!”


Evans berikan pelototan tajam pada Alea. “Antar dia berbelanja dan kau awasi wanita bodoh itu. Dia terlalu licik, Mika. Jangan sampai lengah.”


“Astaga. Saya sudah paham dengan semua ancamanmu tetapi bisakah anda tidak berlebihan padaku?”


“Pergilah!” ucap Evans tidak ingin mendengarkan apapun lagi.


Mika membawa Alea untuk keluar bukannya sebaiknya begitu?  Dia sebenarnya lelah bila mendengarkan Alea yang keras kepala dan selalu menantang Evans.


Alea tersenyum lebar diiringi menatap Mika, setelah keduanya berada di dalam mobil dan menuju salah satu tempat perbelanjaan di Napoli. “Hai jutek, this time to shopping,” seru Alea dengan wajah kegirangan.


Kapan lagi coba dikasih remisi yang sangat langka ini. Percaya tidak percaya tetapi Evans memang memberikan waktu untuk berbelanja. Alea dengan sok akrabnya merangkul Mika.


“Dih, ini wanita cantik jutek sekali sih, hm? Makin tua Mika kalau kamu ini dah kayak tuanmu.


"Senyumlah dan menikmati waktu beberapa menit kedepan untuk bersenang-senang. Kadang, sebagai wanita kita butuh refreshing agar otak bisa berpikir jernih tidak terus monton dengan pekerjaanmu itu.”


“Ck! Aku tidak butuh nasehatmu Alea.”


Alea mendelik menatap Mika.


“Aku tidak memberikanmu nasehat Mika.”


“Bisakah kamu diam, Alea?” seru Mika.


Di dalam mobil wanita itu masih saja tidak mau diam. Mulut Alea tidak mau diam dan terus berbicara panjang lebar membuatnya kesal. “Astaga, kamu jadi wanita bener-bener jutek.”


Alea menangkupkan wajah Mika yang tengah mengemudi.


“Tunjukan wajah cantikmu ini dan tariklah bibir ini untuk membentuk senyuman. Aku tidak mau shoping time denganmu yang sudah seperti bodyguard. Please, nikmatilah waktu ini untuk bersenang-senang. Oke.”


Alea pandangi wanita kembaran Evans itu hanya berikan senyuman tipis, tetapi bagi Alea itu cukup karena dia tahu Mika tidak pernah tersenyum kecuali…


Ketika mereka berada di dalam ruangan bermain, Alea pernah melihat wanita itu tertawa keras menertawakannya.


“Aku rindu senyum dan tawamu Mika, sekalipun kamu menjauh dariku saat ini,” batin Alea.


Wanita itu memandang pemandangan dari jendela kaca mobil, seulas senyum pun terbit ketika sinar matahari yang menerpa wajahnya.


‘Seandainya aku bebas, mungkin aku akan lebih bahagia lagi dari pada ini. Aku rindu dengan kehidupanku yang dulu, Tuhan.


'Apa aku akan terus berada di dalam cengkeraman seorang Evans Colliettie?’ batin Alea bertanya lagi.