Mafia And Me

Mafia And Me
What's Wrong With Alea?



Benar saja perkataan dari sang devil. Tegas dan tidak bisa di bantah! Alea kembali  masuk ke sel penjara bawah tanah setelah tiga hari.


 


Setelah tiga hari untuk kesembuhannya itu, Alea kini kembali mendekam bersama dengan Bryan di dalam sel tahanan The Black Rose Kingdom, karena kasus perusakan mawar hitam milik Evans masih belum berhasil ditemukan siapa pelakunya.


 


Dan saat ini pelakunnya masih sama Alea.


 


Namun kali ini, Alea mengusap dada karena ia bersyukur kali ini tidak kembali di kurung bersama keempat ular kesayangannya lagi. Melaninkan kini Alea di kurung bersama dengan Bryan dalam satu sel tahanan yang sama.


 


Alea sejak kembali masuk ke dalam sel tersebut, selalu mengumpat kekesal pada Evans akan kekejaman itu. Bahkan diamnnya Alea selama tiga hari di dalam kamarnya, pasti wanita itu berpikir keras kenapa Evans Colliettie begitu kejam. Apa pria jelaman iblis itu tidak mempunyai kelemahan?


Tapi apa bisa ia melawan seorang Evans Colliettie?


 


“Kau baik-baik saja kan Alea?” tanya Bryan duduk saling berjauhan.


 


“Aku baik-baik saja, Bryan!”


 


“Bryan…” sapa Ale dengan pandangan kosong.


 


Pikiran Alea kali ini banyak diisi akan kekesalan kepada sang devil itu. Tidak salahnya mencoba, lirih Alea.


 


“Hmmm?”


 


Alea menghela sebelum bertanya. “Apa Tuan Evans benar-benar tidak mempunyai sesuatu yang menjadi kelemahanya?” tanya Alea menatap Bryan di depan sana.


 


“Haah?!”


 


Bryan mengerutkan dahinya tidak mengerti.


 


Alea mendengus, mungkin Bryan di depan sana masih bingung dan tidak mengerti akan pertanyaanya.


 


Alea pun mengulangnya kembali. “Apa Tuanmu benar-benar tidak bisa dilawan?”


 


Bryan terkejut di samping sana, karena kini pendengarannya masih dalam keadaan baik-baik saja.


 


‘Melawan? Benarkah Ale? What’s wrong with Ale?’ lirih Bryan dengan tatapan terkejut melihat raut wajah Alea yang tampak serius.


“Kau akan melawan Tuan Evans?”


 


Lagi-lagi Bryan masih belum percaya dengan perkataan Alea. Namun wajah Alea tampak serius itu membuat Bryan terlihat yakin.


 


Dada Alea rasanya menggebu-gebu, panas ingin sekali mengungkapkan semuanya.


 


“Rasanya ingin sekali Bryan. Ia benar-benar tidak mempunyai perasaan, kejam. Wajahnya yang rupawan menyerupai angel pun namun hatinya bagaikan iblis. Tidak ada pengampunan, dan sangat mematikan!”


 


“What’s wrong with you,  Alea? Apa Berta salah memberikanmu obat di sana? Kenapa kau jadi seperti ini Alea?” tanya Bryan dengan mengusap wajahnya gusar.


Bryan kehilangan sosok Alea yang pendiam, kalem dan penurut. Tetapi ini? Dari sorotan mata Alea yang tajam itu Bryan melihat sisi lain dari Alea.


 


“Aku ingin melawan iblis itu Bryan! Aku ingin mengetahui apakah Tuanmu itu mempunyai kelemahan agar aku bisa melawan Tuanmu dengan kelemahannya itu?” tegas Alea.


 


“Kau sudah lelah atau bagaimana Alea?” tanya Bryan berkali-kali untuk memastikan jika pikiran Bryan salah.


 


‘Apa kejadian kemarin membuat wanita malang itu agak sedikit geser otaknya?’ lirih Bryan dengan tatapan membingungkan.


 


“Aku ingin melawan devil itu Bryan! Aku akan buktikan jika aku bukan wanita lemah!” decak Alea.


 


Bryan membentulkan posisinya tegak lurus berhadapan dengan Alea.


 


“Kau sungguh akan melawannya Alea? Bagaiman jika Tuan marah dan kau akan dimasukan kembali ke kandang anak-anak Tuan itu hah?”


 


Bryan meremas rambutnya kasar melihat tingkah Alea yang tidak biasanya, kali ini wanita malang itu terlihat sangat bersemangat untuk melawan Evans, dan tidak memikirkan kemarin saja wanita itu hampir mati akan pobianya.


 


“Aku akan melawan ketakutanku pada ular Bryan! Bukannya kau sudah lama di sini pasti kau tahu sesuatu tentang Evans?!”


 


“Kau akan mati perlahan-lahan Alea!” Bryan mengingatkan.


 


“Jika seperti itu takdirku, aku siap Bryan!”


 


Bryan di depan sana tampak geram dengan tingkah Alea. hingga pria itu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sebenarnya ada apa dengan Alea.


 


“Aku tidak tahu kelemahan Tuan itu apa? Berta saja yang mengabdi sudah lama pun tidak tahu menahu, karena sifanya seperti itu semenjak ibunya meninggal dan Tuan mengetahui jika ibunya mempunya anak selain dia!”


 


“Apa ibunya berselingkuh?”


 


“Entahlah Alea, karena waktu itu aku masih kecil, dan tidak mengerti akan kejadian itu. Sebaiknya kau seperti biasa menurut dengar apa kata Tuan dan tidak membuat masalah kembali Alea.”


 


Alea diam tidak menanggapi perkataan Bryan, di lubuk hatinya paling dalam Alea akan melawan Evans semampu dirinya.


 


**


 


Dua minggu sudah Bryan berada di dalam sel bawah tanah dan Alea sudah Sembilan hari berada di sel bawah tanah dengan bertahan hidup hanya makanan roti dan air untuk mengganjal perut mereka, itu pun Romeo diam-diam mengantarkan untuk mereka berdua.


 


Berta mengindap-indap menuruni anak tangga untuk melihat anaknya dan wanita malang itu, berbekal makanan.


 


Berta ingin kedua orang itu bertahan hidup sampai Tuannya mempunyai kemurahan hati untuk melepaskan kedua orang itu. Walau terdengar mustahil akan Tuannya, tetapi Berta yakin jika Alea bukan pelakunya.


 


 


Berta membuka bekal makanan itu kepada kedua orang yang berada di dalam sana.


 


Bryan segera mengambil dan memakan bekal yang Berta bawakan untuknya, ia sangat kelaparan tidak memakan nasi dan lauk pauk yang lezat. Dengan lahap Bryan memakanya.


 


Tetapi Alea tidak. Wanita itu mendekat kepada Berta yang sudah ia anggap sebagai ibunya.


 


"Apa ibu tidak dimarahin Mika? Memberikan makan kepada kita?” tanya Alea pada Berta dengan mengusap tangan keriput itu.


 


“Tidak Alea! Ibu memohon pada wanita dingin itu untuk meminta izin memberikan makanan kepada kalian, walau Mika memberikan sekali saja itu sudah sangat senang untuk ibu.


 


"Makanlah yang banyak dan jangan lupa obatmu diminum agar lukanya kering.”


 


Senyum lembut itu terukir di wajah cantik Berta meskipun sudah terlihat menua, Berta masih cantik.


 


“Terima kasih Ibu. Tapi Alea mohon pada Ibu, jangan kasih kita makan lagi. Alea takut ibu kena hukuman dari Tuan karena memberikan kami makanan, kami di sini baik-baik saja bu,” ujar Alea tidak ingin ada korban lagi akan dirinya yang terpenjara di neraka Evans Colliettie.


 


“Tidak apa-apa nak, makanlah!” pinta Berta mengusap rambut panjang Alea dengan senyuman lembut Berta membuat Alea di depan sana mengangguk patuh.


 


“Berta!”


 


Panggil Bryan yang sejak tadi sibuk makan tampa mengucapkan terima kasih kepada wanita yang sudah memberikan Bryan kali ini makanan lezat penuh damba itu.


 


Alea menendang kaki Bryan di depan sana dengan seringai devil.


 


‘Alamak kenapa wanita yang tadinya kalem, lembut, dan pendiam ini menjadi begitu menakutkan seperti Tuannya.


 


'Tuhan tolong kembalikan Alea Anjanie wanita cantik yang lembut dan kalem itu, tidak seperti iblis kembaran Evans Colliettie,” batin Bryan penuh harapan agar Alea kembali seperti dulu.


 


“Apa?” ucap Bryan pelan dengan wajah yang sudah tenggelam, takut.


 


“Kau panggil apa barusana hah?” tanya Alea.


 


“Astaga Alea. Kau benar-benar menakutkan Alea?!” Bryan takut dan mengangguk.


 


“Baiklah Ibu!” lirih Bryan ciut pada Alea kali ini yang terlihat galak.


 


“Ibu…apa kau salah memberikan obat kepada wanita malang itu?”


 


Berta yang tertawa kecil melihat keduanya yang sudah seperti kucing dan tikus itu berhenti tertawa.


 


“Kenapa?”


 


“Hari-hari ini Alea sangat menakutkan ibu, apa ibu tidak melihat sorotan mata Ale yang tajam itu menatapku?


 


"Aku jadi takut satu sel bersama dengan dia bu. Alea seperti jelmaan malaikat putih dengan sayap besarnya. Tetapi…”


Bryan berhenti ketika sorotan mata elang itu ingin sekali memangsanya.


 


"Apah?” tanya keduanya.


 


“Alea seperti jelmaan iblis bu. Bryan takut!” gumam Bryan memegang tangan Berta.


 


Ungkapan Bryan yang mengadu pada Berta pun hanya di tanggapi dengan tawa, karena sikapnya seperti anak kecil tidak sesuai dengan badan kekarnya dan tubuh atletisnya yang terdapat pada Bryan.


 


“Kau badan besar berotot tidak malu mengadu seperti anak kecil kepadaku?”


 


Bryan menggeleng kepala pelan. Ia tidak malu akan kelakuanya saat ini.


 


“Kau ini badanmu saja gede, tetapi nyalimu ciut Bryan?” desah Alea.


 


“Aku bukan tipe pria seperti Tuanmu Alea. Aku pria yang tidak suka kekerasaan dan aku punya hati yang lembut pada wanita!” tegas Bryan.


 


“Hahh sama saja!” decak Alea di depan sana.


 


Bryan termasuk anak bandel dan sering membantah ucapan kedua orang tuanya. Tetapi Bryan takut akan peraturan yang sudah ditegakan oleh sang empu pemilik mansion ini.


 


Terlahir di mansion ini dengan kejamnya keluarga Tuannya namun tidak membuat Berta mendidik anak satu-satunya itu dengan kekejam seperti Tuan Evans yang sudah di latih oleh Tuan Alberto semenjak kecil.


 


Bryan tumbuh menjadi pria normal penurut dan tidak seperti Tuan Evans yang tumbuh dengan sisi kekejaman kedua orang tuannya, meski usia mereka bepaut beberapa tahun.


 


Dan membuat Bryan tumbuh dengan sisi baik, pria itu tidak bisa berkelahi dan tidak bisa memegang senjata dengan benar, namun pria itu tumbuh seperti pria normal lainya di luaran sana.


 


Bryan tipe pria penyanyang meski sikapnya selalu tidak sopan kepadanya.


 


Berta menghela napas, bibirnya yang masih mengulum senyum itu pun hanya bisa melengkung ketika selalu melihat wanita malang itu yang dibenarkan oleh Berta, Alea terlihat berbeda.


 


‘What’s wrong with you, Ale?’ lirih Berta dengan tatapan sendunya menatap wajah cantik wanita malang itu.


 


Bersambung...