Mafia And Me

Mafia And Me
JALAN HIDUP BARU MEMBERIKAN KEBAHAGIAN



ERDO POV


Setiap manusia akan merasakan kebahagiaan dan kesedihan, kemarahan dan kebaikan, kenyamanan dan ketegangan, dan pertemuan dengan perpisahan. Suratan hidup sudah di siapkan, masa depan telah di rencanakan, masa lalu sudah di kubur sedalam mungkin. Hidup memang sekali untuk menikmati dunia, dan mati sekali untuk merasakan kedamaian kelak bersama Tuhan. Ajal hidup seseorang tidak ada yang tau kapan itu terjadi. Seringkali setiap orang stres dan tertekan ketika apa yang sudah di rencanakan hasil nya tidak sesuai dengan yang di harapkan.Well... pada akhirnya kita hanya bisa berusaha semaksimal mungkin hasil akhir bukan kita yang tentukan. Hati terasa remuk, langit seakan runtuh, kapal berlabu terkoyak badai kehidupan, angin hempaskan segala harapan, tinggalkan angan angan ke hampaan. Sering berfikir bahwa itu tidak terjadi, semua sudah di perhitungkan, usaha sudah di kerahkan sekuat tenaga melangkah menuju harapan.Namun kenyataan hempaskan mimpi di tengah jalan. Apa dayalah hanya manusia biasa tak memiiki kuasa dalam menentukan, ingin rasanya semua berjalan normal sesuai harapan mengapai tujuan. Namun tenyata kenyatan tak sejalan dengan pemikiran, takdir tak sejalan dengan kemauan, apa daya hanya bisa pasrah dalam doa. Mungkin ini pesan Tuhan agar mengajarkan setiap orang untuk tetap kuat dan teguh walau badai silih berganti. Roda kehidupan terus berputar, entah sampai kapan ini semua berakhir umur bertambah mengikuti zaman Bumi semakin renta, menua secara perlahan-lahan. Ujian di berikan Tuhan bukan karena ia jahat, tapi ingin hambanya naik kelas dan terjun kedalam kehidupan baru. Begitulah keadaan yang ku alami, aku akan fokus ke tujuan dan mengesampingkan keadaan buruk yang terjadi, aku yakin pasti jalan kehidupan yang baru sudah tersedia untuk ku melangkah melalui nya.❤️


AUTHOR POV


" Hey... anak Ayah sudah bangun ya...." Erdo menggendong seorang anak laki laki yang kini sudah berusia lima tahun.


Waktu memang begitu cepat berlalu, sungguh tak terasa roda waktu begitu cepat berputar membawa jalan hidup yang redup dan terang. Tidak ada kata mengeluh dalam setiap usaha dan tekad, jika di sertai doa dan ketekunan maka semuanya akan terlaksana dengan baik. Dengan penuh perjuangan dan kesabaran, seorang Ayah yang satu ini mampu membesarkan seorang putra yang sehat sampai sebesar ini, dia adalah Erdo! Ayah sekaligus Ibu yang berusaha membesarkan putra nya. EDER, bayi yang waktu itu masih sangat kecil dan mungil kini sudah tumbuh dengan sempurna dan sudah berumur lima tahun.


" Ayah... Eder mau di buatin nasi goreng buatan Ayah..." Ucap Eder pada sang Ayah. Erdo pun tersenyum lepas dan mendudukkan putra semata wayangnya itu di kursi meja makan.


" Eder tunggu disini ya! biar Ayah buatkan nasi goreng kesukaan putra Ayah." Pesan Erdo dengan penuh kasih sayang.


Eder tersenyum bahagia sekali, ia terlihat sangat bahagia jika terus bersama Ayah nya itu.


" Baik Ayah! Eder mau baca buku dulu." Kata Eder penuh bahagia, ia membaca buku yang selalu Erdo sediakan di atas meja jika Eder menunggu jadi bisa membaca buku dulu. Eder memang sudah bisa membaca semenjak ia masuk TK. Karena hal itu lah yang membuat Erdo terus bersyukur bisa memiliki Eder di dalam hidup nya, ia selalu mengingat pengorbanan Ria dalam memberikan seorang putra untuk nya, oleh sebab itu Erdo tidak pernah lepas dari bahagia nya. Semua kenangan pahit yang harus ia alami lima tahun yang silam sudah ia buang dan kubur dalam dalam. Erdo bahkan sudah sangat jarang terlihat bersedih, ia juga sering berkunjung ke makam Ria dan membawa Eder juga.


" Yuhu..... nasi goreng kesukaan putra Ayah sudah selesai......" Erdo meletakkan seiring nasi goreng tepat di depan Eder.


" Makasih Ayah...." Sambut Eder penuh senyum kesenangan.


" Iya... kamu habiskan makan nya, setelah ini kita ke rumah Uncle dan Bibi." Kata Erdo yang bermaksud ke rumah Evans.


" Ke rumah Bibi? berarti ketemu sama Tuan Edward kan, Ayah?" Mata Eder terlihat berbinar bahagia. Eder memang sudah di ajarkan oleh Erdo bahwa Edward adalah Tuan nya yang harus Eder hormati.


" Iya.. makanya, kamu cepat cepat habiskan makan nya! biar kamu bisa ketemu Bibi, Uncle, Tuan Edward, dan juga Nona Elena."


" Beres Ayah....." Eder mengancungkan jari jempol nya pada Erdo dan langsung melahap habis nasi goreng kesukaan nya.


******


Kediaman keluarga Kecil Evans


" Ting nong... " Bel rumah berbunyi, Bi Tere langsung mengambil ahli membukakan pintu rumah.


" Tuan Erdo... eh.. ada Eder juga! silahkan masuk..." Ucap Bi Tere mempersilahkan.


" Makasih Bi..." Erdo berjalan masuk dan juga disusul oleh Eder.


" Selamat pagi Tuan...Nona...." Kata Erdo setelah ia memasuki ruang tamu. Terlihat jelas keluarga Scirth itu berkumpul dan sudah menjadi empat orang.


" Paman....." Elena berlari memeluk Erdo dengan bahagia. Elena memang sangat dekat dengan Erdo, ia bahagia sekali jika Erdo datang ke rumah.


Elena adalah Putri dari Evans dan Anyer, ketika Edward berusia empat tahun lebih, lahir lah Elena dan melengkapi keluarga itu. Nama Elena adalah nama yang Feny pesankan pada Evans dan juga Anyer sebelum Feny pergi untuk selamanya. Pada saat itu Edward masih berusia satu tahun, dan saat itu lah amanah nama itu Feny pesan kan pada mereka berdua. Karena Feny yakin bahwa Evans dan Anyer akan memiliki seorang putri, kelak jika Edward besar nanti, dan ternyata nyata lah apa harapan Nenek Feny, Elena telah lahir di dalam kehidupan rumah tangga Evans dan Anyer. Kini Usia Elena masih satu tahun lebih, tetapi karena kepintaran nya ia sudah bisa berbicara dengan baik meski kadang masih belepotan jika berbicara, ia juga sudah lihai dalam hal berjalan. Tapi terkadang terjatuh karena heboh nya untuk terus niat berlatih berlari.


" Ele... jangan berlari begitu sayang... nanti kamu jatuh loh..." Nasihat Anyer pada sang putri.


" Iya Mommy... Ele cuma babagia cama paman..." Balas Elena dan kembali lagi duduk di pangkuan Evans. Tadi itu Elena memang sedang duduk di pangkuan sang Daddy, tapi setelah melihat kedatangan Erdo sehingga ia langsung cush... melompat begitu saja.


" Do.. Eder... kalian duduk lah." Ucap Evans mempersilahkan mereka.


" Tuan Edward...." Eder tersenyum bahagia pada Edward ketika melihat Edward yang baru keluar dari kamar nya.


" Eder..." Edward membalas senyuman Eder, meski tak dapat dipungkiri, senyum Edward sangat lah mahal sekali. Ia hanya akan tersenyum dengan orang orang di dekat nya saja.


" Tuan.. kita baca buku bersama yuk." Ajak Eder. Eder mengangguk setuju, tapi sebelum ia dan Eder mencari tempat untuk membaca buku, Edward terlebih menyapa Erdo.


" Paman... " Sapa Edward dengan sedikit senyum, dan hal itu sudah biasa bagi Erdo karena ia sudah paham betul bagaimana kepribadian Edward. Sangat tak jauh berbeda dari Daddy nya.


" Ya." Balas Edward kemudian berjalan menuju taman bermain yang sudah di renovasi khusus untuk tempat Edward,Eder dan juga Elena bersantai.


" Kak Ed.... Ele ikut.. " Pinta Elena dengan manjanya ia berlari mengikuti Edward dari belakang.


Evans, Anyer dan Erdo sudah biasa jika Elena berkata seperti itu, toh ujung ujung nya pasti Edward menolak.Jadi mereka bertiga hanya menyaksikan saja sambil tersenyum lucu jika memperhatikan tingkah anak anak kecil.


" Not! you are still smalls, it's better with Mom and Dad." Titah Edward, dan Elena sudah mengerti maksud ucapan Edward. Karena ucapan itu sudah sering Edward ucap kan padanya jika Elena merengek minta ikut bersama.


" Kak Ed jahat....." Elena jadi cemberut dan langsung berlari dan duduk di pangkuan Evans. Elena memang lebih manja pada Evans, sedangkan Edward lebih manja pada Anyer. Kedua kakak beradik itu memiliki kepribadian yang berbeda, sifat Edward dingin seperti Evans sedangkan Elena manja dan sabar seperti Anyer.


" Kenapa Putri Daddy? cemberut lagi?" Tanya Evans untuk menggara garai Putri cantik nya itu.


" Dad.. Kak Ed... jahat cama Ele.. adahal kan Ele mau lajar aca uku uga." Balas Elena yang masih belepotan dalam ucapan nya, dan Evans mengerti itu.


" Sudahlah, Ele juga bakal pintar. Kak Edward kan sudah besar, jadi tidak mau di ganggu."


" Hu...." Elena langsung berbalik dan memeluk tubuh sang Daddy.


" Kesayangannya Daddy..."


" Putri Mommy manja sekali ya." Sindir Anyer.


" Mommy cama aja cama Kak Ed." Elena memonyongkan bibirnya dan berbalik menatap sang Mommy.


" Heheh... kamu sama Daddy... Mommy sama Kak Ed..." Balas Anyer.


" Auk akk..." Elena tambah cemberut.


" Hehehe... kesal ya..." Goda Anyer lagi.


" Nona kecil imut sekali kalau cemberut." Erdo menimpali.


" Paman angan ikut an cama Mommy..." Elena semakin cemberut.


" Hahahah...." Mereka bertiga pun tertawa terbahak-bahak jika menyaksikan Elena cemberut sangatlah lucu. Terkecuali Elena yang semakin memoyongkan bibirnya.


" Hua...hu...hu..." Elena jadi menangis.


" Cup...cup... anak Mommy..." Goda Anyer lagi


" Hehehe....."


*******


Hallo READERS setia ku, pembaca cerita ini, Bab ini adalah akhir akhir menuju last EPS ;) jadi Author bakal focus dulu kedepannya untuk lanjutin kisah Key dan Juga Endra.


" 35 DAYS FOR LOVE"


Dan sambungan kisah ini akan author pikirkan lagi, nntah lanjut kisah anak anak mereka atau last Sampai disini aja🤗 jadi mohon terus yah dukungan nya.


Jangan lupa mampir loh di kisah Endra dan Key klik aja profil author hehe,:) bye...bye..


Like Komen dan Vote


SALAM ^^