Mafia And Me

Mafia And Me
Meet The Devil



00.55, Darmaga Tibury, Inggris.


 


Gelap,


 


Aku tak tau saat ini aku berada di mana,


 


Aku tersesat dan terjebak di kegelapan malam,


 


Apa mungkin. Ini hari kematianku.


 


Kalimat itu semua yang kini terus terulang di kepala Ale, berlari dengan kencang tampa di rasa, kakinya terus berlari ketika otaknya memerintaknya untuk berlari tampa merasa lelah, yang ia harapkan sebuah pentunjuk arah yang membawanya keluar dari jalan yang saat ini sedang menghindari kejaran kelima pria bertubuh besar di belakangnya.


 


Langkah kakinya yang cepat membuat Ale menoleh sedikit ke belakang hanya untuk memastikan kelima pria bertubuh besar itu masih jauh darinya.


 


Nafasnya yang terasa berat dengan gerakan dadanya yang naik turun. Lelah dan pikiran yang berkercamuk di kepalanya jika dirinya tertangkap dan di bunuh di tempat yang gelap sepi seperti tak berpenghuni.


 


Ale merutuki kebodohanya yang selalu mempunyai sifat penasaran akan urusan orang lain, membuat dirinya dikejar kembali oleh orang lain yang ia yakini jika orang-orang itu adalah anak buah dari pria berhoddie hitam.


 


Seharusnya dari peristiwa kejaran orang-orang Gina, Ale sudah bisa menemukan jalan keluar dari tempat ini dan menemukan orang yang bisa menolong dirinya bukan kembali dikejar dari orang yang mana seharunya ia tak ikut campur dan tak melihat apa yang seharusnya Ale tak lihat.


 


Sejenak berhenti dengan nafas yang tersenggal-senggal, melirik ke belakang kelima pria di belakangnya masih mengejar dirinya walau terlihat jauh.


 


'Aku harus bersembunyi, aku harus bersembunyi,' lirih Ale kembali berlari dengan tak kuat kakinya terasa lemah namun ia harus terus belari dari kejaran mereka.


 


Ia melihat celah di balik container di sepanjang jalanya mencoba berbelok dan masuk kedalam celah yang terbuka tersebut menutupnya dengan pelan.


 


“Ya Tuhan tolonglah selamatkan aku. Aku mohon. Aku ingin pulang dari kota ini, aku ingin kembali bersama ayah dan saudara-saudaraku,” lirih Ale berdoa dalam hatinya memejamkam kedua bola matanya penuh keyakinan.


 


Belum selesai dirinya berdoa ia harus kembali dikejutkan dengan gerombolan pria itu yang kini berada tak jauh darinya. Terdengar suara pria tadi sedang membicarakan dirinya, merutuki akan kehilangan jejaknya. Ia mengigit bibir bawahnya dengan menutup mulutnya rapat-rapat agar tak bersuara.


 


"Sial! Kita kehilangan jejak wanita itu. Ke mana perginya?” gerutu salah satu pria menghantamkan tanganya keras ke arah container di dekatnya membuat Ale yang di dalamnya pun bergetar ketakutan akan pukulan yang menggema di dalam containernya.


 


"Ya Tuhan lindunglah aku ya Tuhan. Aku tidak bisa melawan kelima pria itu sendiri dengan badan mereka yang besar,” ucapnya ketakutan.


 


Selama beberapa saat merasa aman dan Ia tak mendengar suara gerombolan para pria itu lagi. Ale keluar dari persembunyianya yang ia rasa cukup aman dan ini kesempatannya untuk kabur dari tempat persembunyianya.


 


Seperti yang di ingat sejak tadi ia berjalan jauh dan tersesat di jalan yang selalu sama ini kemungkin di depan sana ada belokan yang akan membuat dirinya lolos dari gerombolang pria itu.


 


Ale menoleh ke belakang memastikan tidak ada yang mengikutinya kembali dengan harapan penuh ia tak akan kembali di kejar namun ketika ia kembali menghadap kedepan, kakinya langsung berhenti sebelum menabrak seseorang pria yang menghadang jalannya dengan wajahnya yang tertutup kerudung hoddie yang tak terlihat raut wajahnya di balik kegelapan.


 


Deru nafasnya naik turun, Ale berdiri di depannya dengan di dera ketakutan yang amat nyata mentap pria di depanya yang hanya terdiam tidak melakukan apapun tetapi kenapa Ale seperti tidak bisa bergerak. Padahal kesempatan satu-satunya hanyalah berbalik lalu berlari sekencang mungkin menjauh dari pria itu.


 


Tetapi Ale seakaan membeku di tempatnya memandangi pria di depanya yang merupakan pimpinan orang-orang yang tadi mengejarnya itu. Ya, Ale melihat pria itu membunuh banyak orang di dalam gedung tua di dalam sana tampa sisa dan ampun.


 


Pria berhoddie itu bergerak maju dan kini mereka berdiri berhadapan. Ale menahan napasnya penuh sesak seolah ia terkejut, dirinya sedekat ini berhadapan dengan pimpinan orang-orang itu.


 


Pria itu mengangkat sedikit kepalanya membuka kerudung hoddienya dari kegelapan dengan kedua mata itu bertemu dan bersitatap kembali.


 


Ale tersentak di depanya melihat dari dekat akan sosok malaikat tampa sayap yang turun dari langit karena ketampananya, bola matanya yang indah berwarna abu-abu keemasan, tatapan teduhnya mampu menyihir wanita yang berada di dekatnya.


 


Tetapi semua itu ternyata tipuan semata seketika Ale merasakan gerakan cepat pria di depanya mengulurkan tanganya yang berbalut sarung tangan hitamnya itu mencengkram lehernya kuat mengabaikan kenyataan kalau dirinya seorang wanita.


 


“Please…le-pas-kan.” Ale menahan lengan kuat pria itu dengan kedua tanganya sendiri mencoba berbicara pada pria berhoddie.


 


“A-aku tida-k melihat apa-pun.” Cengkramanya menguat Ale berdesis merasakan sakit teramat di lehernya.


 


Kenapa ia harus bertemu dengan devil yang menyerupai malaikat, seperti apa yang akhir-akhir ini ia temui. Wajah tampannya menutupi semua kebusukanya seperti apa yang Mike Shander lakukan meski iblis yang membuat ia jatuh cinta itu tak pernah menyakiti fisikinya, namun hatinya masih sakit.


 


“Ya aku percaya.” Pria itu menjawab perkataanya, walau sedikit aneh terdengar di telinga Ale.


 


“Tetapi aku harus terlebih dulu mencongkel kedua bola mata indah ini, agar aku bisa percaya.”


 


“To-long le-paskan a-ku.” Ale semakin tidak bisa bernapas dengan benar akan cengkramanya.


 


“A-ku ti-dak akan meng-atakan-nya pada siapa-pun.” Pria itu menarik sedikit sudut bibirnya ke samping menatap lekat pada wanita di depanya.


 


“Aku sering mendengar kalimat itu dari orang-orang yang bertemu denganku sebelumnya.” Ale memejamkan matanya saat lehernya semakin di cengkram.


 


“Sayang sekali wanita secantik dirimu berada di tempat dan waktu yang salah siapa yang harus disalahkan hmm?” Ale kembali membuka mata.


 


“Please…Am-puni a-ku.”


 


“Pengampunan?” Pria itu mendengus malas bosan mendengarkan kata-kata seperti itu yang selalu ia dengar.


 


“Bosan aku mendengarkan perkataan yang selalu sama memohon ampun tampa sadar ada konsekuensi di setiap tindakan dan aku sama sekali tidak menyukai orang-orang yang terlalu ingin tahu sepertimu.” Tambahnya penuh penekanan.


 


“Ap-a yang bi-sa aku laku-kan agar men-dapat-kan peng-ampunanmu?”


 


“Apa yang bisa kau tawarkan hmm?” pria itu bertanya kembali.


 


“Jangan kau katakan tubuhmu karena aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuhmu ini, cih,” ucapnya membuang sedikit ludah ke bawah.


 


“A-ku tidak su-di,” desis Ale semakin merasakan sesak. Pria berhoddie itu tertawa kecil menatap keberanian wanita yang ia cengkram di depanya.


 


“Sepertinya malam ini bukan malam keberuntungmu karena kau bertemu denganku.”


 


Ale membenamkan kukuknya di lengan pria berhoddie itu dengan rasa takutnya yang menjalar. “Siapa namamu?” Ale diam. Namun cengkramanya menguat, Ale merasa sudah pasrah jika dirinya akan mati hari ini.


 


“Siapa namamu?”


 


 


“Hai Alea,” sapanya dengan senyum devilnya.


 


“Se-benar-nya ap-a yang kau ingin-kan se-lain hal-it-u.”


 


“Kematianmu.”


 


Ale tersenyum manis di hadapan pria itu memejamkan kedua bola matanya akan kematian yang hampir mendekat. Seolah dirinya menyerah akan semua ini dan terbebas dari rasa kesakitan yang ia rasakaan. Pria di depanya pun mambalas senyuman manisnya menatapnya dengan tajam seolah ia puas jika wanita ini mati di tanganya, namun....


 


Sorotan lampu di ujung sana membuat padangan silau menyinari keduanya dengan sedikit pria itu menutupi cahaya terang yang menyorot wajahnya dengan sebelah lenganya, tampa melepaskan cengkramnya. Ale yang memejamkan matanya pun membuka kedua matanya perlahan akan cahaya yang tembus dan mendengar suara mobil yang menggelegar di depanya.


 


Brummm…brumm…brumm!!!


 


Mobil itu melaju mendekati keduanya dengan suara mesin mobilnya yang menggelegar menuju mereka dan…


 


Bruggkk!!!


 


Mobil itu menabark kedua orang di depanya terlempar bersamaan dan terjatuh ke asapal dingin dengan rasa nyeri yang tida terlekakkan.


 


“Eerghh,” rintih Ale merasakan tubuhnya sakit semua dengan tanganya memegang leher yang nyeri.


 


“Ale,” panggilnya yang mana Ale merasa kenal dengan suaranya.


 


Pria itu berlari secepat mungkin menghampiri Ale di depanya. “Kau baik-baik saja?”


 


“Ryander?” jawabnya pelan.


 


“Kita pergi dari sini,” ucap Ryander menggendong Ale agar lekas menggapai mobilnya.


 


Ryander membawa Ale masuk ke dalam mobilnya dan ia pun bergegas ke kursi kemudi, agar ia dan Ale segera pergi dari tempat ini sedangkan Ale di sampingnya masih memegang lehernya menatap pria berhoddie yang berdiri seraya ia memakaikan kembali kerudung hoddienya.


 


Ryander duduk di kemudinya dengan mesin yang menyala menghadap ke pria berhoddie hitam itu hanya diam di tempat dengan tatapan tajam ke arahnya dengan mengacungkan senjatanya.


 


Dor...dor...dor...


 


Prankkk!


 


“Shit!” Ryander mengumpat melihat kaca spion disisi mobilnya pecah dan ada lubang di kaca depan mobilnya yang entah di mana perluru yang lain meninggalkan bekas.


 


Ryander bating setir menginjak pedal gas dan mobilnya melesat pergi dari sana dengan cepat.


 


Bunyi tembakan masih terdengar keras, anak buah pria itu menembaki mobil yang ia naiki. Ale menunduk meski tatapanya terkunci pada pria berhoddie melalui kaca spion di sampingnya.


 


Pria jelmaan malaikat dengan peringai serperti iblis itu masih berdiri di tempat yang sama. Ale masih tidak bisa mengalihkan tatapanya saat mobil Ryander berbelok menuju arah jalan raya dengan satu tembakan di bidiknya tepat.


 


Dor!!!


 


Prank!


 


“Shit!!” umpat Ryander. Kaca spion yang tersisa satu itu pecah berkeping-keing menghilangkan sosoknya membuat Ale terkesiap luar biasa takut dengan tangan menutup mulut.


 


“Sialan!!” desis Ryander melanjutkan kembali mobilnya menuju tujuannya, apartemen Tiara. Kali ini Ryander menghela napas lega bisa terlolos dari pria di depan sana yang ia kenal.


 


“Kau tidak apa-apa kan Ale?” Ryander melirik Ale yang masih terdiam di sampinganya dengan tubuhnya yang bergetar.


 


“Aku baik-baik saja,” ucapnya terdengar pelan dan bergetar.


 


“Kita sudah jauh dari darmaga itu setidaknya kita kali ini aman, untuk sementara entah esok lusa kita akan seperti apa…” ucap Ryander terhenti ia bisa membayangkan bagaiman ia akan menjalani harinya esok yang jelas pria itu tak akan melepaskan dirinya dan juga Ale.


 


“Maksudmu? Dan kenapa pria itu tidak mati saat kau menabraknya tadi?” tanya Ale penasaran.


 


“Pria itu tidak mudah mati walau hanya di tabrak saja meskipun kita berhasil melakukanya. Aku yakin hidup kita tidak aman,” decaknya.


 


“Siapa pria itu? auranya membuatku takut.”


 


“Siapapun yang berhadapan denganya seharusnya ketakutan. Untung saja aku datang tepat waktu untuk menyelamatkanmu,” desah Ryander.


 


“Kalau tidak, aku tidak tahu lagi kau akan seperti apa atau kau hanya tinggal nama.”


 


“Siapa dia, Ryander?”


 


Raynder meneoleh sekilas, menghembuskan napas beratnya.


 


”Evans Collettie, dan kau sudah berhadapan langsung dengan pimpinan Mafia penguasa Italia, yang mana tak akan melepaskanmu begitu saja, sampai keinginan tercapai. Sebenarnya kau ada urusan apa dengan pria iblis itu?” tanya Ryander sedikit heran, karena Ryander tahu dan sedang mencari Ale dari penculikan William kekasih cadangan Gina dan kenpa Ale ada di tangan Evans Colliettie.


 


Ale terdiam di kursinya, kembali membayangkan wajah pria itu.


 


“Kau beruntung masih hidup, Ale karena Evans belum membunuhmu, tapi pasti pria itu tidak tinggal diam.”


 


“Evans Colliettie?” ujarnya heran akan namanya, pria itu seorang mafia.


 


“Seharusnya kau mendengarkan apa yang dikatakan Jessie kepadamu. Kau tak harus pergi ke London sendirian menyusul kekasihmu yang berengsek itu. Jessie sudah mengetahui kebusukan Mike Shander meski dirinya tak pernah melukaimu, tetapi…”


 


Ryander menghela napasnya sejenak menoleh ke samping yang mana Ale masih menunggu ia melanjutkannya kembali ceritanya.


 


“Tetapi apa?”


 


Bersambung...