
“Aku pikir selama kamu menjadi pelayan pribadi tuan, kamu merangkap menjadi peliharaan di sana. Tuan jarang sekali minta dimanjakan oleh peliharaanya setelah kamu jadi pelayan pribadinya.”
“Ayo ngaku, apa syarat permintaan tuan sudah kamu berikan?”
“Yang mana?”
“Penghangatnya, seperti kelima wanita peliharaanya?” tanya Mika, penasaran.
Wanita itu bukannya langsung menjawab, tetapi malah bangun dari duduknya setelah membayar makan siangnya. Padahal, dia penasaran dengan hal itu.
“Kenapa kamu tidak menjawabnya, Alea.”
“Sudahlah itu tidak penting, Mika. Ayo, kita pulang ke pabrik. Aku belum izin pada Lucas takut dia mencariku,” kata Alea memberikan alasan.
“Dia tidak akan mencarimu karena dia sudah tahu kau pergi denganku.”
Alea meraih tangan Mika, lalu menggenggamnya. “Sudahlah. Aku lagi nggak mau membahas masalah itu.”
“Apa kamu tahu Alea.”
Mika menoleh dan pandangi Alea.
“Selama aku bersama dengan tuan, bertahun-tahun bahkan selama tujuh belas tahun ini. Aku baru pertama kali melihat tuan mendadak jinak dan baik hanya pada seorang pelayan pribadi seperti mu.
"Dia memberikan kartu hitamnya yang tidak pernah ada satupun wanita yang mendapatkannya. Dia tidak pernah memberikan permintaan pada wanita mana pun sekalipun itu adalah wanita yang dia simpan di mansion.
"Bukannya sikap tuan anehkan, Alea?”
Alea dia dengan pikirannya. “Sudahlah sebaiknya kita cepat pulang. Aku banyak pekerjaan, Mika. Aku tidak mau tuanmu marah karena aku terlalu banyak memakai waktu yang amat berharga ini,” ajaknya.
Mika menarik napas lalu berikan anggukan pelan. Dia pun meletakkan semua belanjaan ke dalam mobil belakang. Baru saja keduanya membuka pintu mobil depan masing-masing.
Sang raider dikejutkan dengan seseorang yang menodongkan pisau ke arah Mika dan meminta dua wanita itu untuk menyerahkan barang berharganya.
“Astaga, kalian mau merampokku, hah?” pekik Mika dengan tatapan murka pada beberapa orang yang kini mengeliling mobilnya.
Mika dan Alea di kepung oleh beberapa perampok. Alea tertawa pelan sementara Mika geleng-geleng kepala tidak percaya kalau dirinya bakal dirampok seperti ini.
“Turuti saja apa yang aku katakan tadi, serahkan barang berharga kalian jika kalian ingin selamat,” gertak perampok.
“Dasar brengsek kalian. Beraninya kalian merampokku, hah?”
Alea terkekeh, sepertinya komplotan perampok itu salah orang. “Turunkan pisau kalian dan berkelahilah dengan ku satu persatu,” seru Mika.
“Kamu akan melayani mereka, Mika?”
“Apa kamu akan biarkan mereka merampok kita, hah?” tanya Mika di samping sana.
“Apa ini bukan hinaan padaku? Setelah sekian tahun aku mengabdi pada seorang mafia dan kali ini seorang raider di begal oleh komplotan perampok amatiran seperti mereka?” seru Mika lagi.
Alea berikan tawa. “Ck! Ini sungguh memalukan, Alea,” decak Mika kesal.
Wanita itu hanya bisa menertawakannya.
Tapi, di depan sana Alea mengangguk membenarkan perkataan Mika. Mana mungkin bukan seorang raider The Black Rose di begal oleh beberapa perampok yang terlihat amatiran itu. Ini benar-benar gila. Para perampok itu benar-benar mencari mati.
Mika murka, dia pun langsung maju ke depan dan berkelahi dengan lima orang pria tepat di depan Alea.
Wanita itu hanya diam dan menonton aksi seorang rider yang akan membasmi para perampok tersebut. “Apa kamu butuh bantuan, Mika?” seru Alea bertanya.
“Aku tidak yakin kamu bisa membantuku, Alea. Sudahlah, tidak usah repot-repot membuang tenaga. Duduk manislah dan lihatlah pertunjukan singkat ini. Aku akan menghabisi mereka semua. Cuman delapan orang saja itu mudah bagiku,” ucap Mika dengan kesombongannya di tengah perkelahian.
Alea berikan ibu jarinya dan duduk seraya menonton pertunjukan Mika dengan sesekali wajahnya selalu berseru ketika melihat lima orang itu tumbang dalam beberapa menit saja.
“Aku seperti melihat proses syuting film action Mika, kamu sungguh hebat,” teriak Alea memberikan semangat empat lima.
Mika menoleh, lalu berikan senyuman tipis. “Sepertinya kamu kelelahan, Mika. Apa boleh aku membantumu?” tanya Alea lagi. Seperti yang dilihat, Mika seperti kerepotan.
“Aku belum menyerah Alea. Mereka itu kecil untukku,” jawab Mika seraya menjentikan ujung jari kelingkingnya.
Alea menarik nafas pelan. “Okelah kalau begitu. Aku akan menonton saja,” jawab Alea, lagi.
Mika yang tengah focus dengan para perampok itu menjawab kembali. “Kamu cukup diam Alea, dan see…mereka kalahkan?” ucap Mika menyombongkan dirinya melihat kelima perampok itu terjatuh ke lantai dengan mengerang kesakitan.
Alea mengacungkan kedua jempolnya untuk Mika yang memang hebat, pantas bukan Evans begitu mempercayakan segala sesuatunya pada wanita cantik itu.
Mika mengatur nafasnya sesaat. “Kamu memang raider, Mika. Pantas bukan bila tuan memujimu,” serunya.
Mika menghampiri Alea dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Dia menatap para perampok di depan nya yang masih di lantai dan ada beberapa orang yang pergi melarikan diri.
“Sudah selesai proses syuting film actionnya. Ayo, kita kembali pulang,” ajak Mika seraya berjalan memutari mobilnya.
“Tunggu!!” pekik seseorang di depan mereka.
Alea dan Mika pun langsung menoleh dan pandangi beberapa perampok yang kini datang menghampirinya bersama dengan teman-temannya.
“Astaga banyak sekali, Mika.”
Mika mendengus jengah, sepertinya di sini dia dipermainkan oleh perampok amitran. Para perampok itu berkisar dua sampai tiga puluh orang yang kini berjalan dan mengepungnya.
“Sial! Apa perlu aku membidik mereka dengan senjataku agar kalian semua mati?” gerutu Mika.
“Mereka saja tidak membawa senjata, Mika. Masa iya kamu mau menembaknya tanpa memberikan pelajaran pada perampok amatiran itu.”
“Astaga, Mika. Mereka tambah banyak,” kata Alea pandangi beberapa orang di belakangnya yang kini kembali berjalan mendekat dan mengepungnya.
“Sepertinya mereka mengujimu, Mika.”
Mika berikan anggukan pelan seraya berpikir dengan komplotan perampok yang baru saja dia lihat di depannya ini.
“Apa kamu mau membantuku, Alea? Sepertinya aku tidak sanggup menumbang mereka semua dengan tangan kosong.”
“Baiklah.”
Mika dan Alea pun akhirnya berkelahi dengan perampok yang saling berdatangan menyerang dua wanita cantik tersebut. Mika dan Alea di keroyok, tetapi kedua wanita itu pantang menyerah terus menghajar mereka.
Mika melirik dimana Alea berada, sejenak Mika tercengang ketika melihat Alea dengan lincahnya menghajar para perampok tersebut dan juga terlihat bersemangat.
‘Sejak kapan Alea bisa bela diri?’ batin Mika.
Bila wanita itu bisa bela diri, kenapa selama ini wanita itu tidak pernah melawan para pengawal atau anak buahnya ketika mereka berada di Madrid?
Seseorang di seberang sana yang tengah menikmati makan siang bersama dengan dua pria pun mendelik ketika salah satu anak buahnya menghampirinya dan memberikan informasi.
Mika yang tengah di begal pun terdengar sampai ke telinga Evans. “Mau kemana, Van. Kita belum selesai makan siang,” ucap Lucas pandangi temannya yang mendadak menyeramkan.
Sorot mata Evans tajam, rahang kokohnya mengetat dengan tangan terkepal. Tentunya, satu pria yang duduk di samping Lucas pun menatap penuh tanya pada pria tersebut.
“Di mana posisinya?” tanya Evans pada anak buahnya.
“Tidak jauh dimana Tuan berada.”
Penasaran dengan apa yang terjadi, dua pria itu pun memutuskan untuk mengikuti kemana perginya langkah pria tersebut hingga ketiganya masuk ke dalam mobil dan meminta anak buahnya untuk mengantarkan ke posisi di mana dua wanita itu berada.
“Sebenarnya ada apa sih, Van. Kenapa kamu begitu panik?”
Ekspresi marah itu jelas membuat dua pria itu tak henti menatap Evans yang tidak biasanya seperti ini.
Beberapa menit kemudian, mobil yang membawa Evans dan juga kedua pria itu pun sampai di sebuah parkiran bawah tangan di mana Mika di kabarkan di serang oleh beberapa perampok.
“Mika,” gumam pria yang duduk di samping Evans.
Dia—Massimo Graham Colliettie.
“Kamu mencemaskan Mika yang di keroyok, Van?” tanya Massimo lagi. Tentunya dia heran.
Evans tidak biasanya seperti ini sekalipun dia tahu kalau Mika selama ini adalah kaki tangan Evans sekaligus orang kepercayaan Evans.
Wanita cantik itu sudah diketahui oleh keluarga besarnya orang yang selama ini sangat dekat dengan Evans. Wanita yang tengah berkelahi menghabisi para perampok remahan yang jumlahnya begitu banyak.
Massimo percaya kalau Mika tentunya akan menghilangkan berapapun orang karena wanita itu mahir bela diri.
“Astaga, Van. Aku tanya itu bukannya dijawab malah diam saja!” seru Massimo.
Evans menoleh pada Massimo yang cukup bawel menurutnya, kedua matanya menghubus pada saudaranya yang terlalu banyak ingin tahu.
Sudah tahu bukan kalau dia tidak sudah dengan orang yang banyak bicara?
‘Ini benar-benar aneh. Kenapa seorang The Black Rose begitu khawatir pada kaki tangannya? Apa mereka selama ini berhubungan?’ batin Massimo.
Tak lama, mobil tersebut pun berhenti. Lucas orang yang pertama turun dari dalam mobil. Ketika melihat sekeliling area parkir kedua matanya terbelalak ketika melihat dua wanita yang berada di sana. Dua wanita yang menumbangkan dua hingga puluh orang pria.
Evans turun dari dalam mobil, hanya turun tidak menghampiri dua wanita yang tengah mengatur nafas. Pandangan Evans tertuju pada seseorang di belakang Mika, sosok wanita bertubuh kurus yang duduk di atas tubuh seorang perampok berbadan besar.
Massimo mengamati kemana pandangan Evans, kedua netranya menangkap Mika.
‘Eh. Tunggu, sepertinya bukan Mika yang Evans lihat.’
Ya, tentu bukan Mika namun sosok wanita yang berada di belakang Mika lebih tepatnya.
‘Ada apa dengan saudaraku? Apa pria berhati dingin itu kini merasakan jatuh cinta pada wanita yang entah siapa itu.’
Massimo pandangi wanita tersebut, namun seketika dia merasa pernah melihat wanita yang masih di tatap Evans. ‘Sialnya di mana aku pernah melihat wanita itu.’
“Kalian menghajar mereka semua?” tanya Lucas dengan ekspresi tidak percaya.
Tetapi, langsung dianggukan oleh Mika.
“Dengan tangan kosong?” tanya Lucas kembali.
Mika berikan anggukan kembali, sementara Evans berjalan menghampiri kedua wanita itu. Lebih tepatnya pada Alea.
Satu hal yang membuat ketiga orang di sana langsung membeku. Ketika mereka untuk pertama kalinya mendengarkan pertanyaan yang sungguh sangat langka.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Evans, tak teralihkan pandangannya pada Alea yang masih mengatur nafas.
“Tunggu, kamu?”
Mika berikan kode pada dua pria itu untuk diam, sekalipun dirinya sama merasa tidak percaya pada apa yang baru saja dia dengar.
"Lihatlah Tuan, kita menghabisi mereka semua dengan tangan kosong,” jawab Mika seraya mengalihkan kebingungan akan sikap Evans.
“Ya, aku lihat itu. Kau tidak apa-apa?” tanya Evans sekali lagi.
“Saya baik-baik saja, Tuan.”
Itu Mika yang menjawab bukan Alea. Wanita itu bangun dari duduknya di atas perut perampok tersebut.
‘Siapa wanita itu. Astaga. Aku merasa pernah melihat wanita yang dikhawatirkan oleh Evans,’ batin Masimo.
Evans menarik napas sejenak. “Kau pulang bersama dengan Massimo dan Lucas ke pabrik langsung,” kata Evans pada Mika yang dianggukan oleh semua orang di sana.
“Oke. Aku juga bawa mobil sendiri, sebaiknya Mika dan Luca saja.” Massimo mendekat.
“Tapi, kau utang penjelasaan padaku Evans Colliettie,” kata Masimo seraya menepuk pundak saudaranya.
Pria itu pun berlalu pergi meninggalkan semua orang di sana.
Semua kembali ke mobil termasuk Alea pun kembali ke mobil bersama dengan Mika.
Rahang Evans mengetat, ketika melihat seseorang yang bukan mendengarkan perintahku. Orang itu bukannya masuk ke dalam mobil di depannya dimana terlihat beberapa barang belanjaan melainkan hendak masuk ke mobil di mana tadi dia datang.
"Apa kau tidak dengar hah?"
Ketiga orang di belakang pun langsung menoleh akan suara Evans yang menggema itu dengan ketiganya menatap punggung Evans.
Mika menatap Alea menggerakan dagunya. Mungkin yang dimaksud Evans adalah Alea.
Kedua wanita itu saling pandang bak keduanya berkomunikasi lewat mata. Kesal karena tak paham dengan maksud Evans, Mika pun mendorong wanita bodoh itu untuk berada di dalam mobil satunya.
Alea mendengus kesal menatap Mika dan pergi ke mobil satunya. Dia pun duduk di kursi depan seperti biasa dengan bola mata yang terkejut melihat Evans yang mengeliling mobil tersebut dan duduk di kursi pengemudi.
Sejenak hening…
Keduanya masih berada di dalam mobil. “
“Kau yakin tidak apa-apa Alea?” tanya Evans.
Pria itu menoleh ke samping di mana Alea berada. Bola mata hijau keemasan itu menatap sendu dan ini sungguh membuat Alea bingung.
Evans tidak pernah seperti ini sebelumnya. Tak ingin iblis itu murka, dia pun tersenyum manis lalu berikan angukan pelan. “Aku baik-baik saja, Tuan.”
Evans terlalu tahu dengan wanita bodoh di sampingnya itu, diamnya Alea saja sudah membuat dia curiga akan apa yang tengah di sembunyikan. Gerak gerik Alea membuat Evans yakin kalau wanita itu terluka.
Peduli?
Entah. Evans pun tidak tahu kenapa dia mendadak seperti ini.
“Buka bajumu,” pinta Evans.
“Hah?” jawab Alea dengan mata terbelalak.
“Untuk apa, Tuan?”
Evans mencondongkan tubuhnya, sementara Alea di depannya mundur hingga punggungnya mendesak pada pintu mobil.
“Kau buka atau aku yang akan membuka baju dengan paksa, hm?”
Yuk kasih thor like dan hadiah sekebon biar thor update banyak, hehehe terima kasih.