
“Tolong kau kirim pesan kepada Jessie dan juga Tiara jika aku baik-baik saja bersama denganmu saat ini. Pasti mereka tengah mencemaskanku Ry," pinta Alea yang dianggukan Ryander dengan sebelah tanganya mengambil ponsel di saku celananya dan segera mengirim pesan seperti yang Alea katakan kepadanya.
Alea masih menatap penasaran dengan pria di depan sana yang masih asik bercumbu hingga wajah pria itu begitu membuatnya penasaran.
“Aku sudah mengabari Tiara, Alea sebaiknya kita pergi,” ajak Ryander namun Alea mengcekal lengan Ryander penuh rasa ingin tahunya.
"Tunggu Ry. Apa semua ini rencanamu?”
Ryander terdiam sesaat kemudian menggelengkan kepala. “Itu tidak penting, ayo kita pergi dari sini Alea,” ajak Ryander memegang tangan Alea dan menuju arah pintu.
Alea bergegas pergi bersama dengan Ryander, Namun ia menoleh ke samping dan terkejut akan seseorang yang di sampingnya. Pria yang tengah asik bersama dengan wanita itu pun akhirnya menampakan dirinya.
Dengan wajah bingung Alea menatap kedua pria itu.
“Kaliaaan?” tanya Alea bergantian memandangi pria di samping kirinya yang membawanya barusan yang sedang menegak vodkanya disertai senyuman miring menatap Alea di depanya tengah terbingung.
“Kembar??”
Kedua pria itu tersenyum menatap Alea yang masih terlihat tidak percaya. Keduanya begitu sangat mirip dan sulit dibedakan dari segi wajahnya.
Kedua pria kembar dengan sama-sama mengenakan pakain formal dengan kemeja berwarna putih walau Alea bisa membedakan dari salah satu pria yang tadi membawanya yang masih mengenakan coat hitamnya.
“Kau pasti bingungkan? Namun kau pasti bisa menebak yang mana Erick Bruno dari tingkah lakunya?”
Pria di sampingnya tertawa mengisyaratkan jawabanya, menarik tengkuk wanita berambut panjang yang tidak sekalipun menolehkan kepalanya ke belakang dan menciumnya penuh nafsu disertai remasan pantat di tangan kirinya.
Alea tidak tahu apakah Evans mengetahui hal ini atau tidak, pria pecinta wanita yang mengambil kalungnya itu ternyata kembar dan keduanya memang mirip namun auranya berbeda?
Pria yang membawanya tadi terlihat dingin, tidak nampak tertarik dengan wanita berbanding terbalik dengan saudaranya yang benar dikatakan pecinta wanita.
“Urusan kita sudah selesai di sini, Erwin. Kalian yang memiliki kepentingan dengan The Black Rose. Biarkan kamu pergi sekarang!"
Erwin?
“Kalian tidak akan ke mana-mana!” ucapnya seraya menujuk Alea dengan senjatanya di tangan kananya.
“Terutama wanita yang dikirim Evans untuk menggoda Erick.”
“Jadi dia umpan cantik yang dikirim The Black Rose untukku?”
Ercik yang sebenarnya memperhatikan penampilannya lekat di sela bersama dengan wanitanya. Tatapan nakal seperti menelanjangi membuat Alea tidak nyaman.
“The Black Rose jelas tahu tipeku dalam mencari wanita yang liar, cantik dan sexy seperti dia. Apa aku boleh mencicipi tubuhnya sedikit?”
Ryander menariknya mundur, maju menghalangi pandangan dan berdesis marah, “Kau akan berhadapan denganku!!”
Erick melirik dan kembali sibuk dengan wanitanya. “Apa hubunganmu dengan The Black Rose?” tanya Erwin dengan tatapan introgasinya.
Alea mengerutkan keningnya tak mengerti, hubungan dia dengan The Black Rose memang bukan siapa-siapa ia hanya dikirim sebagi umpan cantiknya untuk mengambil kalung yang menggantung di leher pria yang tak lain Erwin.
“Bukan siapa-siapa. Hanya seorang yang dibawa paksa untuk menjadi pelayan di mansionnya.”
Pria itu menaikkan alis, nampak tidak puas dengan jawabannya, “Hanya itu?”
“Apa yang kau harapkan dari jawabanku?” desis Alea.
“Karena aku memang bukan siapa-siapanya!! Erwin tersenyum miring, duduk tegak dan tanpa menduga mengulurkan tangan yang disambut tatapan bingung Alea.
“Kemarilah.”
Ryander mencekal tangan Alea dan maju ke depan. “Apa maksudmu?”
“Pinjamkan wanita ini padaku sebentar.”
“Tidak!!” desisnya.
“Pergilah saat ada kesempatan, Alea.” Ryander menatap wajah Alea penuh.
“Kita pergi bersama Ryander.”
Alea menggenggam tangan Ryander erat, ia sudah tidak ingin berpisah dari Ryander yang berusaha akan menolongnya dan membawanya untuk kembali pulang. Alea takut berada di negara orang yang jelas belum pernah ia singgahi.
“Jika keadaan mendesak kau lebih baik pergi tanpaku Alea.”
“Sudahkah kalian berdiskusi berdua hah? Maka pinjamkan wanita itu padaku sekarang!” pinta Erwin tegas.
“Kau tidak akan melukainya?”
“Tidak!”
“Kau tidak berbohongkan?”
Alea maju mendekat dengan tatapan menyelidik Ryander menahan lenganya agar diam di tempat dan menggelengkan kepala.
“Kau tidak bisa mempercayai seorang pembunuh,” tegas Ryander.
Seharusnya sejak awal Ryander tidak mempercayai pembunuh bayaran seperti mereka yang mana kedua pria itu pasti tidak akan mudah melepaskanya.
“Aku akan memberikan kesempatan untuk kalian,” ucap Erwin.
“Atau kau mau pergi bersamaku setelah semua ini selelsai, cantik?”
Erick ikut-ikutan, disertai kerlingan nakal. Alea menatapnya tajam yang dibalas dengan kedipan genit lalau menatap Erwin dan Ryander bergantian. Bingung.
Alea menghampri dan duduk di sebelah Erwin dengan tangan Erwin yang sudah menyambut kedatangan wanita cantik yang dijadikan umpan untuknya.
Erwin meminta Alea untuk duduk dipangkuanya dan ia pun mengikutinya dan duduk di pangkuan Erwin dengan tubuh Erwin yang mendekat dan mencium aroma tubuhnya.
Alea terbelalak di depan sana begitu juga Ryander di belakang sana.
“Kau…lepaskan dia kau tidak bisa meminta hal yang itu kepadaku Erwin karena dia teman baikku dan aku tidak ingin teman baikku berada bersama dengan pria pembunuh sepertimu,” tegas Ryander yang tidak setuju akan permintaan Erwin.
“Aku akan mencarikan wanita yang lebih cantik dan juga sexy lebih dari Alea, turunlah Alea dan kembalilah kemari,” pinta Ryander.
Alea turun dari pangkuannya namun Erwin menahan tubuhnya.
“Aku hanya menginginkan dia Ryander tidak dengan wanita lain, dia begitu berbeda dengan wanita cantik di luar sana,” ucap Erwin mencium pipi Alea.
Alea tersenyum dan turun dari pangkuan Erwin dengan perlahan dan tidak membuat kedua pria di sana bersitegang. Alea berdiri menatap Ryander yang masih menatap tajam Erwin.
“Sejak kapan kau menyukai wanita adikku?” gumam Erick menatap Erwin dengan senyuman mengejek.
Braakkk!!
Alea terkesiap saat pintu menjeblak terbuka, bersamaan dengan lengannya yang ditarik seseorang hingga dia berputar dan jatuh dalam pelukan Erwin yang memeluk pinggangnya dengan erat.
Semenatar Ryander bersembunyi sebelum siaga dengan tembakannya dan berdiri di belakang sofa hitam.
Alea menutup mulutnya rapat-rapat ketika dua anak buah Erwin didorong masuk ke dalam dan tergeletak di lantai dengan kepala tertembus timah panas. Menyusul satu lagi yang terjatuh di atasnya juga dalam keadaan yang sama. Mati bersimbah darah.
Akhirnya Evans Colliettie masuk sendirian ke dalam ruang itu, menaikkan sebelah alisnya saat akhirnya melihat Alea berada di dalam pelukan Erwin. Tatapanya tidak bisa diartikan dan setelah beberapa saat menatapnya lekat. Evans mendengus mengalikan tatapannya pada Erwin.
Alea mencoba menarik tubuhnya munduru namun Erwin malah duduk hingga membuatnya terjatuh di atas pangkuanya dengan kedua lengan yang mengurung pinggangnya agar tidak bisa ke mana-mana.
“Selamat datang punguasa Itali,” sapa Erick di sampingnya.
“Akhirnya kita bertemu di sini dan bertegur sapa.”
Erick berlaga seperti saudara jauh memberikan penyambutan hangat dan ramah kepada The Black Rose, walau devil itu terlihat tenang di depan sana dengan tangan kirinya memegang senjatanya.
Evans tersenyum miring, mengibaskan coat panjangnya ke belakang dan berjalan agak mendekat.
“Siapa orang yang sudah membayar pembunuh bersaudara untuk menghabisiku?”
Alea mendongkak terkejut mendengar jika Evans sudah mengetahui akan kedua pria pembunuh bayaran itu mempunyai saudara kembar.
Haah Alea terlalu bodoh dan sempit pikiranya akan seorang The Black Rose yang justru lebih tahu akan penjahat-penjahat di sekitarnya karena nama The Black Rose dan ekstensinya sebagai penguasa Italia itu tidak biasa diragukan.
Kedua bersaudara itu tersenyum simpul dan mengejek The Black Rose. “Ah, kau penasaran rupannya,” decak Erick.
“Apa aku bisa menembaknya dan membunuhmu?”
“Lakukan selagi kalian memiliki kesempatan.”
Erick tertawa hambar. “Ahhh, The Black Rose yang amat sombong, kau benar-benar tidak takut mati,” decak Erwin. Tatapan Evans bergeser, menatap Alea lebih dulu sebelum balas menatap Erwin.
“Kau begitu pintar dan mengetahui seleraku The Black Rose, memberikan umpan yang cantik untukku. Kalau aku membiarkanmu memilih, mana yang mau kau selamatkan. Kalung ini atau wanita cantik ini?”
Alea terkejut dan terdiam mendengar perkataan dari Erwin untuk The Black Rose, sebuah pilihan yang mana Alea sudah mengetahui jawaban devil seperti Evans.
“Jelas itu bukan pilihan untukku. Karena tujuanku kemari hanya satu, mengambil kalung itu sekalipun harus membunuh kalian jadi terserah kalian mau apakan dia,” jawab Evans santai namun menyulut emosi seseorang di belakang sana.
“Aku yang akan membunuhmu kalau Alea celaka! desis Ryander di belakang.
Evan berdecak, mengangkat dagunnya menatap Ryander dengan tersenyum mengejek.
“Kau tahu? Kau sendirilah yang sudah menjerumuskan Alea dalam bahaya. Kau bisa langsung mendatangiku di Napoli dan menyerahkan kalung itu untuk ditukar dengannya tanpa harus melibatkan dua pembunuh bayaran ini. Kalau sudah seperti ini keadaanya kenapa kau malah menyalahkanku?”
“Brengsek!!!” desis Ryander, tidak ingin berdebat lagi karena memang benar apa yang dikatakan oleh Evans kepadanya.
Ryanderlah yang membawa Alea dalam bahaya saat ini dan tidak bisa mengambil pergi Alea dari tangan Erick dan Erwin.
“Ahhh begitukah? Jadi kau tidak mempersalakan jika wanita cantik ini mati di tanganku,” decak Erwin.
“Baiklah kalau begitu.”
Alea terbelalak saat Erwin mengeluarkan pisau lipat. Posisinya benar-benar tidak menguntungkan saat ini. Di satu sisi Alea tahu, tidak mungkin seorang devil sepertinya akan menyelamatkanya karena ia bukan siapa-siapanya dan tujuan Evans hanya mendapatkan kalungnya kembali.
“Erwin…” desis Ryander menghunuskan senjatanya.
“Lepaskan Alea!!!”
“Calm down and shut up dude,” sahut Erwin tersenyum miring.
Alea meringis saat merasakan ada benda yang menempel di belakang kepalanya. “Jika kau bergerak, wanita ini mati!!”
“Bukanya kau akan membawanya? Jadikanlah wanita itu istrimu dan jangan membunuhnya Erwin!” pinta Ryander yang ditatap Alea dengan tatapan tajam.
Ah sungguh sial! Lagi lagi hal seperti ini yang malas ia dengar.
Erwin menyeringai dan membuang muka setelah terdengar bunyi kucian senjata di sebelahnya dengan Erick yang mendekati dan menghunuskan senjatanya ke kepalanya membuatnya menatap Ryander meminta pertolongan dengan tubuh yang kaku, terlebih lagi saat Erwin membelai lehernya dengan pisau di tanganya.
“Sayang sekali jika begitu. Wanita cantik ini harus menjadi korban hanya untuk sebuah kalung."
Erwin sama sekali menghiraukan celotehan Ryander seolah mengejek pria itu dengan di sampingnya dan Erick tertawa yang lebih tahu tabiat Erwin.
Alea meraba pistol di pahanya dengan tangan bergetar. Bagaimana dia tidak ketakutan berada di posisi seperti ini dengan darah segar menetes.
“Keberadaanya sudah tidak di butuhkan lagi.”
Alea melirik Evans yang bergeming di tempatnya.
Bersambung...