
“Apa kau memikirkan, Tuanmu?”
Alea mendengus jengah seraya pandangi Mika.
“Sekalipun tuanmu begitu tampan, tidak sedikit pun aku memikirkan pria itu!”
Mika tersenyum miring pandangi Alea dengan kedua tangan bersedekap.
“Hah, kalau begitu kau pasti berpikir akan kabur dari sini bukan?” tanya Mika lagi.
Mika terlihat penasaran dengan apa yang dipikirkan Alea. Si pelaku menarik nafas pelan.
“Aku bosan mendengarkannya Mika.”
Mika mendengus menatap tak percaya, tapi Alea masih bersikap biasa pada Mika.
“Orang-orangmu begitu banyak di sini. Aku di jaga ketat bak tahanan, sekalipun aku pandai pun aku tidak mau mencari masalah lagi dengan tuanmu.
“Napoli adalah negara kekuasaan sekalipun aku melarikan diri tuanmu akan semakin mudah menangkap dan membunuhku.”
“Good. Akhirnya kau sadar sekalipun aku tidak percaya akan apa yang ada di otakmu itu.”
Alea menghela nafas panjang. “Terserah kamu, Mika. Aku pun tidak butuh kepercayaan dari orang!”
“Oh. Ya, bolehkah aku bertanya padamu?”
Masih ada hal yang mengganjal pada hati wanita dingin itu selama ini.
Dia hanya ingin mengetahui kegusaran yang selama ini terus mencuat.
“Tentang apa?”
“Kau tentunya.”
Alea mengernyit kening dalam pandangi Mika. “Katakanlah.”
“Kau bisa bela diri? Sejak kapan?”
Alea bangun dari duduknya. “Kalau kamu pandai bela diri kamu tentunya bisa melarikan diri dari penjara tuanmu bukan?
“Dan kau sama sekali tidak menggunakan kemampuan berkelahi mu untuk melawan wanita jallang yang sudah menganiaya kamu sekalipun kini orangnya mati!”
“Kamu butuh jawaban semuanya itu?”
“Tentu. Kau sungguh aneh Alea dan entah apa rencanamu itu sebenarnya.”
Alea tertawa pelan pandangi Mika. “Pertama aku lelah harus berkelahi dengan anak buahmu yang tubuhnya lima kali lipat lebih besar dari tubuhku.
“Melawan anak buahmu akan sia-sia sekalipun aku bisa bela diri tapi aku tidak sekuat kamu.”
Mika masih dengan posisinya yang sama.
“Mengenal Carla.”
Alea menjenda kalimatnya sejenak lalu menarik napas panjang.
“Aku tidak bisa membela diri sekalipun aku di aniaya oleh Carla, posisinya keadaanku baru pulih dan tenagaku tidak sekuat wanita jallang yang tengah dikuasai emosi.”
“Ck! Alasan tak masuk akal,” gerutu Mika sekali lagi tidak percaya.
“Sudahlah, aku tidak butuh kepercayaanmu. Apa ada hal lain yang ingin kamu tanyakan padaku?
“Aku mau ke pantry membuat susu hangat. Apa kamu mau aku buatkan sekalian?” tanya Alea seraya menawarkan minuman pada wanita di depannya itu.
“Kopi saja.”
“Ah, baiklah. Tunggulah sebentar aku akan membuatkannya.”
Alea berlalu pergi meninggalkan mejanya dan menuju pantry yang berada di ujung ruangan langkah Alea cepat dan melewati ruangan seseorang lagi.
“Kau bodoh! Wanita itu sudah mendapatkan data penggelapan uang yang sudah kita lakukan!”
“Astaga. Kau masih membahas itu?”
“Ya. Aku takut tuan membunuhku.”
“Ck!” ucap sip ria berdecak. “Sekalipun wanita itu sudah mendapatkan semua data penggelapan dana, dia tidak akan bisa mengungkapkan siapa yang sudah memakainya.
“Kau diam saja dan jangan terlalu khawatir.”
Pria berjas kuning pun mengepalkan kedua tangannya. “Dan aku minta jangan pernah datang ke ruanganku lagi dan membahas masalah ini di sini.
“Aku tidak mau ada orang yang menguping dan melaporkannya. Bersikap santailah agar kita tidak dicurigai oleh anak buah Evans di sini!” kata si pria satu lagi dengan santainya.
“Bagaimana dengan Lucas?” tanya si pria berjas kuning.
Saudaranya itu nampak begitu tenang dengan duduk santai, tetapi tidak dengan dirinya yang terus tidak tenang.
“Kali ini dia pasti akan mengatakan pada tuan!”
“Ck! itu tidak akan. Sebaiknya pergilah dari ruanganku. Aku akan bekerja,” usir saudaranya.
Alea merekam semua pembicaraan dua pria kembar itu setelah cukup mendapatkan bukti lagi.
Dengan perlahan Alea meninggalkan ruangan tersebut dengan cukup hati-hati.
Namun, bayangan Alea lah yang diketahui oleh salah satu dari dua pria di dalam ruangan tersebut sehingga membuat salah satunya bangun dari duduknya setelah berkali-kali mengumpat dan memeriksa tidak ada satu orang pun
“Sial! Sudah aku katakan padamu. Jangan pernah berbicara hal seperti ini lagi.
“Apa kau tidak tahu bila mulutmu itulah yang membahayakan nyawa kita hah?”
Di samping sana, Alea membuat air panas untuk menyeduh kopi yang sudah disiapkan dan tidak lupa dengan susu hangat yang baru saja dia panaskan.
“Ag—g—a—g—ah.”
Alea menolehkan wajahnya bersamaan kedua tangannya melepaskan cekikan dari belakang lehernya yang keras.
“Kau menguping pembicaraan kami kan?”
Alea menggeleng. “Ck! jangan bohongi aku jallang! Aku tahu selama ini kau diam-diam mendengarkan pembicaraanku.”
“A-aku,” ucap Alea terbata-bata diiringi kesulitan bernapas. Pria berkepala botak itu mencekiknya dengan keras.
“Aku peringatkan kau untuk tidak ikut campur kalau kau masih ingin hidup!”
Alea mengangguk pelan. “Dan jangan pernah kau adukan semua apa yang kau dengar. Paham!”
Alea mengangguk cepat. Pria senja itu pun melepaskan cekalannya bersamaan mendorong tubuh kurus itu hingga terhempas menghantam koper di mana dua cangkir susu dan kopi panas pun menyiram lengannya bersamaan tubuhnya terjatuh ke lantai.
Jarak pantry yang cukup jauh membuat siapapun tidak mendengarkan kekacauan di dalam pantry kecil tersebut.
“Huuhh… meski begitu aku akan memberitahukan pada tuanmu. Biar pria itulah yang mengeksekusi mati para tikus seperti kalian semua,” batin Alea.
Ya, cukup dalam hati saja. Dia tidak mau pria itu kembali dan benar-benar membunuhnya.
“Astaga. Lama sekali cuma hanya membuat dua gelas minuman?” omel Mika.
Alea mendengus pelan. “Sabarlah, tadi ada karyawan yang menemuiku dan meminta tolong sebentar. Jadi aku baru membuatkannya,” ucap Alea bohong.
“Ini kopimu…” Alea memberikan segelas kopi tersebut. Mika bukannya menerima kopi buatannya.
Tetapi wanita itu menyipitkan kedua matanya pandangi Alea lekat. Mika melihat lengan Alea yang terlihat memerah dengan baju yang basah.
“Apa kau lama karena menaruh racun di dalamnya?”