Mafia And Me

Mafia And Me
Rencanaku!



“Apa kamu berpikir begitu?”


Bryan tertawa sarkas. “CK! Kamu salah besar, Alea!”


"Dia—”


Bryan tidak melanjutkan perkataannya, pria itu justru menatap Alea lekat membuat wanita di depannya ikut bingung.


Sebelum berbicara panjang lebar pada Alea, dia menarik napas sejenak.


 “Apa kamu ingin tahu acara pesta Tuan Leo malam itu—”


Alea mengangkat wajahnya, memandangi Bryan. “Aku menyuruh orang untuk menyelinap masuk ke dalam pesta itu.”


Senyuman Bryan terlihat menakutkan, Alea hanya diam dan cukup mendengarkan lebih dulu. Dia pun sama penasaran akan kelanjutan semua yang tidak diketahuinya.


“Aku meminta orang untuk memberikan racun dosis keci—”


Ada seulas senyuman penuh kepuasaan yang tercetak jelas di wajah Bryan.


“Sekalipun kecil, namun tidak akan sampai membunuh. Tapi, sialnya Massimo datang dan mengacaukan rencakanaku!”


“Bodohnya lagi, Leo bersekongkol dengan Lucas untuk membuatkan pesta perayaan pabrik tua itu.


 “Di situlah aku kembali menyusun rencana. Meski aku harus berdarah-darah melepaskanmu dari dua pria tua yang sama-sama menaruh benci pada Evans.


“Bukannya pria itu pun sama menjadikan kamu tawanan di sana untuk membalas dendamnya?”


“Kau…” Alea geram.


“Ssstt….” Bryan menjambak rambut Alea. “Dan aku kembali menaruh racun itu—”


“Hasilnya—”


Jantung Alea ikut berdetak cepat. “Sangat mengejutkan bukan. Benar-benar di luar dugaanku.


“Apa kamu tidak melihat bagaimana seorang The Black Rose begitu terlihat syok dan juga ketakutan. Pria yang selama ini mati-matian menghindari mu, tanpa pikir panjang pria itu langsung menghampiri mu lebih dulu!”


Bryan menghembuskan nafas pelan seraya mengingatnya.


“Seandainya saja pria itu tidak melihat anak buahku lari, mungkin dia sendiri yang akan membawamu ke rumah sakit.”


Dugaan Alea memang tidak pernah salah, dia melihat Evans meloncat dan lebih dulu berlari hingga menopang tubuhnya.


“Apa kamu tidak penasaran kenapa pria itu menghilang di malam itu?”


Alea bungkam seraya memutar kejadian acara syukuran di pabrik tua itu. “Evans memburu anak buahku.


“Dia seperti serigala yang murka melihat sang kekasih terluka. Ketika dia mendapatkannya dan memaksanya untuk mengakui. Evans dengan sadis membunuhnya ketika tidak mendapatkan informasi!”


Bryan menarik sudut bibirnya. “Evans murka karena seseorang dicintainya terluka.”


“Jadi kamu ada di acara itu?”


“Ya. Apa kamu tidak mengenalku? Sekalipun aku menyamar menjadi pelayan di sana. Bahkan kamu tidak mengenaliku ketika aku sendirilah yang menawarkan minuman penuh racun itu.”


Mulut Alea menganga, sama sekali dia tidak memperhatikan adanya Bryan di san.


 ‘Jadi pria itu yang memberikan aku racun?’ batin Alea.


“Seharusnya kamu itu sadar dan tahu. Kenapa Evans mengurungmu di ruangan itu.” Wajah Bryan mendekat, lalu berbisik di telinga Alea.


“Karena dia sudah mencium sesuatu hal yang buruk padamu. Insting Evans begitu kuat dan bodohnya lagi saudaranya sendirilah yang melemparkanmu padaku seolah sudah takdirnya rencanaku harus berhasil.


"Dan kamu lihat sendiri kan, kalau rencanaku berhasil?” ucap Bryan bangga.


Ya, membawa Alea sampai ketempat ini tentunya adalah rencananya.


Alea memejamkan kedua matanya, rasa sakit di kepalanya lah yang tidak bisa ditahan. Dalam diamnya seraya meringis kesakitan yang melanda, Alea memikirkan semua yang dikatakan Bryan perihal Evans.


‘Apa benar Evans sampai berbuat seperti itu untuk melindungiku? Rasanya itu omong kosong,’ batinnya.


“Apa kamu tidak penasaran, Alea? Kenapa aku begitu dendam pada Evans Colliettie, hmm?”


Bryan bertanya lagi, wanita itu biasanya lebih penasaran. Tetapi, kini Alea banyak diam.


“Aku sudah tidak peduli lagi dengan semua itu, Bryan!” jawab Alea cepat.


“Lepaskan aku, Bryan. Aku tidak tahu menahu dengan dendam kalian berdua dan aku pun tidak ada hubungan dengan kalian semua.”


“Sssttt…. Kamu harus ada di sini, karena itulah rencanaku menyeka mu di Gudang tua ini karena kau hanya ingin selembar kertas secara sah di mata hukum.”


Kening Alea mengernyit. “Aku ingin surat pembebasanku yang diakui secara langsung oleh Evans Colliettie sebelum aku membunuhnya.


“Tanpa itu aku tidak akan pernah diterima lagi di dunia hitam dimana aku dilahirkan! Evans harus datang membawa surat kebebasanku dan ditukar olehmu!” ungkap Bryan.


Itulah rencana dan juga tujuan Bryan membawa Alea sampai sejauh ini.


“Ck! kamu begitu bodoh, Bryan! Hanya selembar surat tak berharga kamu mengorbankan nyawamu sendiri.


“Bila kamu sudah bisa keluar dari mansion Evans, seharusnya kamu bisa pergi dan hidup bebas di luaran sana bukan malah menginginkan sesuatu hal tak masuk akal!


“Otakmu itu di mana, hah?” decak Alea keras.


Bisa-bisanya pria itu sebodoh itu, menjadikan dia sebagai umpan hanya untuk selembar kertas untuk diakui di dunia hitam lagi.


“Terus apa kamu pikir Evans Colliettie akan datang kemari untuk memenuhi keinginanmu, hah?”


“Kamu salah orang Bryan!” seru Alea kesal.


“Benarkan begitu, hm? Barangkali saja dia akan datang ke sini. Aku sudah mengirimkan beberapa foto mesra kita ketika berada di Dagona.


“Melihat wajahmu yang terlihat bahagia bersamaku membuatku yakin kalau hati pria yang sedingin es itu akan begitu saja mau mengakui perasaannya pada seorang wanita.”


“Ck!” decak Alea.


“Aku sangat yakin Alea, pria itu pasti marah melihat foto kita. Makanya dia mengirim Mika untuk memastikan hingga wanita itu datang ke Dagona bukan?”


Bryan terlihat puasa selangkah lagi rencananya akan berhasil.


“Jika Evans tidak akan datang melihatmu bahagia bersamaku, mungkin saja dia akan datang melihatmu menderita seperti ini, hm?”


“Aku yakin Evans sudah melihat bagaimana wajahmu yang menyedihkan ini!”


“Dia tidak akan datang Bryan. Kamu begitu sangat percaya diri. Sampai mati pun pria itu tidak akan datang kesini,” tegas Alea. Dia sudah tahu tabiat seorang Evans Colliettie.


Bryan tersenyum menakutkan, membuat Alea memundurkan punggungnya.


“Bila dia tidak akan datang sendiri ke sini maka aku sendiri yang akan mengantarkan mayat mu tepat di depan mansion. Biar pria itu menyesali seumur hidup nya kehilangan kamu!”


Alea menghela napas panjang seraya memejamkan kedua matanya. Dalam diam, Alea berpikir apa yang mendasari pria itu begitu yakin kalau Evans akan datang ke sini untuk menyelamatkannya?


Tidak ada bukan?


Dia hanya seorang pelayan sama seperti Bryan dan kenapa selalu pilihannya adalah kematian?


Tapi, entah kenapa Alea lebih memilih lebih baik Evans yang membunuhnya bukan Bryan ataupun orang lain.


“Anggap saja. Satu nyawa seseorang yang aku cintai. Nyawa malaikatnya di gantikan dengan nyawa malaikatku yang mati dibunuh Evans, bila dia tidak datang dan aku tidak mendapatkan semua yang aku mau!”


Alea pandangi Bryan dengan tatapan terkejut sementara pria itu menautkan kedua alisnya.


“Apa maksudmu?”


“Apa kamu tidak tahu? Atau pura-pura bodoh, Alea?” seru Bryan.


Alea menggeleng tidak tahu dengan apa yang pria itu katakana. Sungguh banyak sekali keterkejutan yang tidak Alea ketahui.


“Apa kamu tidak berpikir kenapa Evans membunuh Juliana?”


“Juliana?” ulang Alea. Dia sama sekali tidak berpikir jauh kesana.


 “Apa dia—”


“Ya. Kamu sudah sadar kali ini, hmm? Dia lah kekasihku.


“Malaikatku yang selama ini menjadi tawanan Evans di mansionnya, dijadikan satu dengan peliharaan yang lainya.


“Kamu tidak pernah tahu bukan betapa marahnya aku melihat malaikatku menjadi wanita jallang?”


“Bukanya dia juga wanita jallangnya, Evans?”


“Bukan!” seru Bryan, marah.


Tidak ada yang boleh menghina Juliana.


“Dia datang ke mansion itu hanya untuk melihatku sekalipun kami tidak bisa saling bertegur sapa.


“Juliana tahu apa yang aku rencanakan. Dia tahu kalau berusaha keluar dari sini dan mencari kebebasan. Dialah wanita yang selama ini menemaniku dari jauh.


“Namun, kekasihku terlalu cemburu ketika aku mendekatimu dan dia tidak sabar menunggu semua rencanaku berhasil sampai Evans mencurigainya dan melenyapkan agar membuka topengku selama ini."


Alea terdiam, dia kembali mengingat kejadian itu dan juga tentang Juliana. Dia kira kira awalnya semua yang dilakukan Juliana karena dia tidak suka melihatnya dekat dengan Evans.


Tapi ternyata salah. Juliana tidak suka kalau Bryan dekat dengannya.


Tatapan kebencian Juliana begitu saja muncul ketika wanita itu berada di pinggir tebing. Alea membulatkan kedua matanya ketika teringat perkataan Juliana.


 “Itu karena aku membencimu, Alea. Aku muak denganmu, aku marah padamu.


“Aku sengaja melakukan hal ini agar kau takut dan menjauh darinya. Tetapi apa yang kamu perbuat. Kamu masih bersama dengannya.”


“Seharusnya kau tidak menggoda dia, Alea! Dia milikku!”


“Aku tidak akan tinggal diam orang yang aku cintai direbut oleh orang lain! Dia milikku!”


‘Jadi semua kata-kata itu bukan ditujukan untuk Evans? Tapi Bryan?’ batin Alea.


Alea menarik nafas sejenak.


“Bila benar dia adalah malaikatmu. Kenapa kamu memberikan Evans membunuhnya, Bryan?”


Bryan memalingkan wajahnya, di tegaknya wine sampai habis lalu melemparkannya dengan kuat hingga terdengar suara pecah di lantai. Bryan terlihat penuh penyesalan dan penderitaan mengingat akan hal itu.


“Dasar brengsek kau Evans!!!” teriak Bryan, penuh amarah/


Alea tidak bisa berkata apa-apa lagi. namun, ingatan nya masih kuat di mana mereka bergelantungan di pinggir tebing itu.


Juliana sama sekali tidak melihat pada Evans, melainkan wanita itu menatap pad Bryan yang berusaha menarik tangannya.


Senyuman cantik itu masih teringat di benak Alea untuk yang terakhir kalinya untuk pria yang dicintainya hingga pada akhirnya Juliana terjatuh ke dalam lautan gelap bersamaan dengan perjuangan mereka yang terasa sia-sia.


Sesalnya, Alea tidak pernah berpikir sampai sejauh itu akan kematian Juliana.


“Kamu—”


Tiba-tba Bryan mencengkram dagu Alea dengan kuat, hingga wanita itu mengaduh kesakitan.


Tatapan kebencian lah yang kini bisa dia lihat dari wajah Bryan.


“Aku tidak mau tahu kamu harus membantuku untuk mendapatkan kebebasan itu atau perjuanganku dengan Juliana akan sia-sia.


“Aku tidak mau kematian kekasihku yang aku sesali itu tidak akan membuahkan hasil!”


“Ta-tapi, Br—”


“Kalau sampai tidak membuahkan hasil, maka aku akan membunuh kalian berdua dengan keji!””


Manik manta Bryan semakin menajam, itu sebagai bentuk keseriusan dengan ucapannya.


“Atau aku akan membuat kalian berdua menderita seumur hidup!”


Dihempaskan tubuh Alea begitu saja. Air matanya kembali membasahi wajahnya.


Dia tidak menyangka kalau kedatanganya membuat kekacauan banyak terjadi dan bermunculan.


Lebih lagi, Alea terlalu bodoh untuk percaya kalau pria yang dia percaya ternyata lebih brengsek.


Alea menangis seorang diri dengan tubuh yang terikat, dia hanya bisa meratapi nasibnya membusuk dan mati di tempat ini.