Mafia And Me

Mafia And Me
Ungkapan Hati Alea!



“Kamu seperti bayi tampan yang tak berdosa. Wajahmu yang rupawan ini lebih damai dan enak dipandang bila kamu terlelap.”


‘Apa selama ini aku tidak pernah enak dipandang Lea?’ jawab Evans dalam hati.


Alea menghela nafas pelan. “Ketika kamu bangun semuanya lenyap dan terlihat menakutkan sekalipun wajahmu ini bak devil yang menyerupai angel,” kata Alea pelan.


‘Benarkah begitu, Lea?’ tanya Evans cukup dalam hati.


Alea dengan berani mengusap bibir Evans, bibir yang semalam melumattnya dengan lembut.


‘Astaga kenapa otakku sepagi ini mendadak kotor?’ batinnya.


‘Ini gara-gara obat sialan itu, aku jadi seperti ini?’ kata Alea lagi dalam hati.


“Apa bibir ini dulu pernah menciumku juga?


"Di bawah patung wanita bersayap di taman mawar hitam mu, Ev? Sungguh, bayangan itu masih terekam jelas seolah aku bermimpi?”


‘Ya, Lea.’


Alea menarik napas pelan lalu merubah posisinya dan terlentang. Wanita itu menatap langit-langit kamar Evans.


“Apa setelah ini kamu akan menjadikan aku wanita jalangmu?


"Pengganti Carla yang mati mengenaskan?” tanya Alea seraya kembali menatap Evans.


‘Tentu tidak Alea.’


Ingin hati dia mengatakan secara langsung, tetapi bila dia mengatakan apa Alea akan percaya?


Justru wanita itu akan syok kalau tahu dia pura-pura tidur dan mendengarkan semua pembicaraanya ini.


Alea menggeser tubuhnya dan kembali berhadapan dengan Evans. Sialnya gerakan Alea yang tidak mau diam ini membuat sesuatu dibawah sana ikut terbangun.


“Ev. Bolehkan aku meminta padamu? Jangan jadikan aku peliharaanmu seperti mereka?


"Cukup jadi pelayanmu saja aku sudah merasa lega. Aku tidak mau bentuk semua perlakuanmu yang kasar dan juga brutal.


"Aku tidak mau nasibku sama seperti para peliharaanmu. Aku lebih baik mati daripada hidup pun hanya penuh kekejaman kamu, Ev,” kata Alea pelan.


“Tentu, tidak. Lea. Tidak mungkin aku melakukan hal itu padamu,’ jawab Evans dalam hati lagi.


Sumpahnya, Evans ingin membuka mata dan menjelaskan pada Alea. Tapi, dia tidak bisa dan memilih diam seperti ini.


Alea dengan perlan mengangkat tangan Evans agar lepas dari perutnya. Dia memunggungi Evans dan menangis perlahan. Alea rasa setelah ini pria itu akan melakukan hal yang sama padanya seperti wanita peliharaanya.


Alea lebih memilih mati, hidup pun sudah tidak sanggup lagi. Berada di dalam neraka ini pun Alea sudah berat rasanya. Menjadi pelayan Evans itu tidaklah mudah apalagi menjadi wanita jallangnya.


‘Sebenarnya minuman itu untuk siapa? Dan kenapa ada obat sialan itu sampai bodohnya aku malah meminumnya?’ gumam Alea dalam hati.


Setetes demi setetes air mata berjatuhan, mungkin ketika pria itu terbangun nasibnya kali ini akan berubah.


Isak tangis Alea di sampingnya terdengar jelas ditelinga pria itu. Evans bisa menebak kalau wanita bodoh tengah memikirkan nasibnya.


“Sebaiknya aku kembali ke kamarku,” gumam Alea pelan.


Perlahan Alea mulai beranjak dan turun dari atas tempat tidur. Sialnya, lengan itu menariknya dan membawa tubuhnya ke dalam dekapannya kembali.


Alea menangis, dia tahu pria itu pastinya berpikir kalau semalam bercintta dengan salah satu jallang kesayangannya.


 “Aku bukan Ruby, Ev,” kata Alea, sangat pelan di sela dia menangis dalam hati.


Alea tidak mau disamakan dengan para peliharaanya. Dia masih punya harga diri sekalipun dia hanya seorang pelayan pribadi.


Tetapi, Alea pun tidak mau menjadi Nyonya Colliettie seperti yang dituduhkan oleh peliharaan Evans.


Yang, Alea inginkan hanya hidup tenang dan damai.


“Tidak ada terbesit pun dalam otakku ingin menjadi pemenang di sini, tidak Ev. Aku tidak ingin menjadi Nyonya Colliettie yang dituduhkan oleh peliharaanmu.


"Aku tidak mau menjadi salah satu peliharaanmu yang tersayang seperti kamu memperlakukan salah satu wanitamu yang diperlakukan berbeda,” kata Alea pelan,


Bibirnya bergetar mengungkapkan hal itu, entah apa semalam terjadi antara dia dan Evans.


Tapi, Alea hanya cukup tau dan diam tidak ingin membahasnya lagi akan kejadian bodohnya semalam yang melemparkan sendiri tubuhnya pada Evans.


“Aku bukan Ruby, Ev,” ulang Alea.


“Aku bukan dia yang selalu kamu spesialkan. Aku hanya seorang pelayan pribadimu yang bodoh yang hanya ingin hidup damai dan tenang,” kata Alea pelan.


Deg!


Kata yang diucapkan begitu pelan, namun mampu membuat ujung hatinya tercubit pelan. Sakit rasanya.


Alea memutuskan untuk terpejam setelah lelah dia menangis dengan senyap. Dia tidak bisa keluar dari dekapan Evans yang begitu erat.


Ya, dia akan menunggu pria itu sampai benar-benar terlelap lalu terbangun dan melupakan kejadian bodohnya ini, Bila perlu dia ingin menghilang untuk selamanya dan tidak ingin bertemu dengan Evans lagi.


 ‘Kamu salah Lea. Kamu berbeda dengan yang lain sekalipun itu Ruby,’ batin Evans seraya mengecup punggung Alea dan kembali keduanya benar-benar memejamkan matanya dan terlelap.