
“Kamu benar-benar penasaran sekali dengan pelayan ini Ruby, sampai kamu memintanya jadi model.”
Seperti biasa, Ruby tidak membalas perkataan wanita itu dan hanya berikan senyuman miring sementara Alea masih menatapnya dengan ekspresi bingung.
“Astaga, seharusnya kamu itu tidak melihat ku seperti itu Alea. Bukannya kamu mengenalku juga?”
Alea memang mengenalnya, tetapi yang dia anehkan sejak kapan wanita itu dekat seperti ini?
“Sudahla Alea, lihatlah ke sini,” pinta Ruby.
Alea mengangguk dan kembali menatap lurus ke depan.
“Ah, aku belum mengucapkan sesuatu padamu Alea.” Alea pun kembali menoleh.
“Selamat kamu sudah jadi model dia.”
Alea mendengus pelan dan kembali menatap ke depan. “Apa sudah selesai?”
“Baru 50% bersabarlah.”
Alea ingin sekali keluar dari kamar ini, tetapi Alea teringat kalau dia harus mencari tahu siapa pembunuh Carla juga bukan?
Mumpung dia berada di kamar wanita peliharaan Evans, apa tidak sekalian dia mencari athu.
“Aku melihat kalian berdua terlihat akrab?” Alea menoleh ke samping di mana wanita itu tenggelam dengan buku bacaanya semenatra Ruby sudah jangan di tanya lagi.
“Dari keempat wanita sainganku di sini, aku lebih nyaman bicara dengan dia dibandingkan dengan dua wanita lainya. Mereka lebih suka menggunakan mulutnya untuk menghina dan memaki orang,” jawab Ruby.
“Oh iya Alea. Bolehkah aku bertanya padamu?”
“Silahkan.”
Wanita itu merubah duduknya sejenak. “Aku penasaran dengan hubunganmu dengan Bryan. Apa kalian pacaran?”
“Hah?” seru Alea dengan ekspresi terkejut.
“Bukan hah, tapi jawablah.”
Alea menggeleng pelan sementara Ruby mendengus pelan. “Tidak. Aku nggak ada hubungan sama dia.”
“Masa sih? Aku lihat Bryan begitu perhatian sekali padamu sampai kita semua sempat berpikir kalau kalian pacaran,” jawab Ruby.
“Di saat orang lain berlomba untuk menarik perhatian tuan. Eh, kamu malah melihat chef kita,” sahut wanita yang mengenakan jubah tidur. Dia, Kelly.
“Aku dan Bryan memang dekat. Tapi kedekatan kita hanya sebatas teman saja tidak lebih dari itu.
“Aku tidak berani menjalin hubungan dengan orang lain di mansion ini.”
“Oh begitu. Aku pikir kalian ada hubungan karena yang aku lihat Bryan sepertinya mencintaimu, Alea.
“Bila kamu tidak punya rasa yang sama yang ditunjukkan Bryan. Jangan berikan harapan semu.”
Ruby berikan anggukan pelan. “Aku lihat akhir-akhir ini pria itu begitu semangat jauh dari biasanya dan itu aku bisa melihat ketika pria itu bertemu dengan kamu,” ucap Ruby.
Alea terdiams ejenak seraya memalingkan pandangannya ke arah berbeda dari kedua wanita itu yang masih menatapnya lekat seolah kedua wanita itu adalah teman lama nya yang tengah menasehatinya.
“Aku merasa tidak pernah memberikan harapan pada Bryan.
“Tetapi, entah bila nanti aku ingin mengajaknya ke acara pesta pertunangan Tuan Leo. Apa Bryan akan mempunyai pikiran yang lain?”
“Apaah?” seru Ruby bersamaan Kelly dengan ekspresi terkejut.
“Kamu diundang oleh Tuan Leo? Sepupu tuaa?” seru Ruby dengan mata terbelalak.
Wanita itu tidak menyangka kalau pelayan itu begitu selangkah lebih maju dari pada keempat wanita di dalam sangkar emas ini.
Alea berikan anggukan pelan. Meski respon nya begitu cepat sudah pasti mereka akan semakin penasaran.
“Ya lord.”
“Aku pun tidak menyangka kalau aku akan mendapatkan undangan secara langsung oleh Tuan Leo dan ceritanya aku ingin mengajak Bryan kesini untuk menemaniku.”
Ruby dan Kelly saling pandang. “Kamu akan mengajak Bryan?” tanya Kelly menatap Alea lekat.
Ada sorot mata yang tidak enak ketika wanita itu menatapnya begitu tajam. Tetapi Alea sama sekali tidak paham itu.
“Lalu, apa tuan akan mengizinkanmu untuk datang?”
Alea mendesah pelan. “Tuan….”
“Ya, tentu kamu tidak mudah bukan keluar dari sini begitu saja tanpa seizinnya?
“Aku tidak tahu tuan akan memberikan izin atau tidak.
Tapi terakhir aku lihat dia terlihat kesal dengan tingkah sepupunya karena mengundangku.”
Alea pandangi Ruby lalu bergantian menatap Kelly. “Apa ada hal yang salah padaku?”
Ruby dan Kelly berikan anggukan pelan.
“Sepertinya begitu.”
“Aku tidak yakin kalau tuan mau datang ke pesta bersama dengan seorang pelayan seperti kamu Alea.
“Jujur, aku akui kalau kamu selangkah lebih terdepan dari pada kita. Apalagi kamu sudah membuat saudaranya terkesan ketika melihatmu pertama kalinya.”
Alea menunjukkan wajah datarnya. “Apa Bryan akan setuju ikut denganmu?”
“Ah, aku tidak tahu akan hal itu. Aku belum bicara dengan Bryan. Tapi sih, dilihat dari tadi sore ketika aku diberikan gaun oleh Tuan Leo.
“Bryan ikut tersenyum senang sepertinya dia sudah tahu kalau aku akan mengajaknya. Berdansa bersama di pesta nanti.”
“Ya lord. Tuan Leo pun memberikan kamu gaun Alea?” seru Kelly terkejut.
Alea berikan anggukan pelan yang diiringi senyuman tipis. “Kamu sangat beruntung Alea sekalipun kamu hanya seorang pelayan mansion,” sindir Kelly.
Merasa semua ini tidak penting dia dengarkan, Kelly merubah posisinya dan duduk dengan santai.
“Kamu pelayan yang beruntung Alea, bisa mendapatkan semua ini.” Ruby pun menambahkannya.
“Sudahlah kita lanjutkan lagi,” ujarnya seraya kembali pada canvanya.
“Tapi, menurutku ya, Alea. Coba saja bicara pada Bryan tentang pesta itu agar kamu bisa tahu bagaimana perasaanmu padanya. Cinta atau tidak.
“Siapa yang tahu kalau kalian menyadari perasaang kalian masing-masing setelah kalian berdansa berdua dan berciuman misalnya?”
‘Astaga, saran macam apa itu?’ batin Alea.
Alea kembali duduk seperti semula dengan pikiran yang penuh. Dia teringat sesuatu yang kini mengusik pikirannya.
Tatapan mata itu terlihat menusuk di mana Ruby melukis Evans Colliettie.
“Tetaplah seperti itu, Alea. Lukisanku hampir saja sempurna. Aku tidak menyangka kalau seorang Bryan mampu mempengaruhimu,” kata Ruby.
Alea mengerjapkan kedua matanya lambat. Sama sekali tidak ada Bryan yang tengah dipikirkannya ini, tidak sama sekali.
Alea hanya teringat ketika malam diatas ranjang kapel waktu itu, merasakan itu dadanya seketika sesak.
Efek berbagi mimpi buruk yang Evans berikan padanya tidak bisa hilang begitu saja.
Dia bisa melihat betapa pria itu terlihat kesakitan selama hidupnya hingga pria itu melampiaskan padanya.
“Ruby…”
“Ya…”
“Apa mungkin semua kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini di mansion ini adalah perbuatanmu?”
Ruby langsung memalingkan tubuhnya dan berhadapan dengan Alea sekalipun jarak keduanya cukup jauh.
Wanita itu menatap Alea tidak percaya kenapa wanita itu bisa beranggapan seperti itu padanya.
“Kamu menuduhku dengan kekacauan akhir-akhir ini?”
“Tidak sama sekali. Aku hanya berpikir saja ketika melihat semua lukisanmu ini. Itulah kenapa aku bisa bertanya seperti itu padamu begitu saja.
“Mungkin kehadiranku ini membuat kalian begitu terancam di mana kalian tengah berlomba merebut hati pria dingin itu dan juga gelar Nyonya Colliettie?”
Ruby tertawa sesaat. Dia pun kembali duduk dengan anggun di single sofa dengan sebelah kakinya di silang.
Wanita bergaun tidur sultra itu menatap Alea tajam.
“Aku sudah cukup lama bertahan di sangkar emas miliknya ini, lalu untuk apa aku harus melakukan permainan itu dan mengotori tanganku sendiri di mana aku tahu konsekuensi dari perbuatan yang yang tidak di sukai oleh tuan. MATI!”
Alea diam menatap Ruby. “Aku tidak sebodoh itu Alea untuk melawan sesuatu yang tidak akan pernah aku menangkan sekalipun benar kalau kita bersaing.”
“Apa kamu ingin tahu Alea kenapa alasanya?”
“Apa?”
Hari ini dua bab dulu ya, dari tadi nggak mood buat revisi bab karena datanya ilang mati lampu nggak ke save semua. Aku hutang satu bab ya, besok aku bayar. Terima kasih.