Mafia And Me

Mafia And Me
Berbagi Mimpi Buruk!



“Siapa dia?”


“Mmmpphh…”


Alea terkesiap ketika seseorang membekap mulutnya dari belakang.


Orang itu menyeret paksa tubuhnya untuk menjauhi pigura yang sudah terbuka hingga menunjukkan wujud wanita cantik di dalam figura tersebut.


Seseorang itu menyeret Alea sampai ke ruangan bawah tanah kapel.


Orang itu tidak peduli akan tubuh Alea yang meronta dan juga cakaran yang terdapat pada lengannya. Dia masih sanggup menahan luka gores yang tak seberapa.


Alea memberontak, dia menyikut perut orang tersebut, tetapi itu rasanya percuma. Tenaganya tidak cukup kuat untuk lepas dari cengkeraman orang tersebut, belum lagi nyeri di perutnya yang masih berdenyut dan kini semakin kuat.


Alea berusaha mengurai bekapan di mulutnya agar dia bisa bernafas. Tetapi, sayangnya bekapan tangan kekar itu malah semakin kencang.


Orang itu dengan tega menyeretnya sepanjang koridor menuju sebuah kamar di mana kedua mata Alea menangkap tempat yang terlihat asing.


Alea belum pernah ke tempat ini dan juga kamar—


“Kamar siapa ini?” batin Alea.


“Argh,” rintih Alea, tubuhnya terhempas di atas tempat tidur bersprei hitam.


Saat dia berbalik, Alea terkejut melihat tatapan nyalang seseorang itu di mana orang yang tak lain Evans membuka kemejanya.


“Please… maafkan aku. Aku mohon, Evans… maafkan aku,” ucap Alea.


“Aku mohon, aku tidak sengaja melihatnya. Sumpah, aku tidak sengaja,” kata Alea lagi.


Evans tersenyum sinis dengan tatapan menghunus.


 “Tidak sengaja, hmm?” Evans mencibir.


“Maksudmu kau tidak sengaja mengikutiku diam-diam sampai ke sini?” tanyanya seraya melepaskan ikat pinggangnya lalu membuka kaitan celana panjang yang dikenakan.


Evans memakai set pakaian formal bukan pakaian tidur yang sudah Alea siapkan tadi.


“Sepertinya kita bisa berbagi mimpi buruk di sini, Alea.”


Alea menggeleng, tidak. Dia bergerak ke belakang seraya memegang perutnya yang sakit.


“Tidak Evans. Aku mohon maafkan aku.”


“Terlambat,” jawab Evans seraya mendekati tempat tidur dimana Alea berada.


“Apa yang mau kamu lakukan, Evans?”


Tubuh Alea bergetar hebat, dia ketakutan. Perlahan dia menuruni ranjang tersebut dan menjauh dari Evans.


Tapi, sayang. Evans lebih cepat mencengkram tangannya lebih dulu dan kembali menghempaskan tubuh kecil itu di atas tempat tidur.


Evans menghimpit tubuh Alea dan mengunci kedua tangan wanita bodoh yang selalu ikut campur.


Alea menangis keras, wajah Evans begitu dekat dengan aroma alkohol yang menyengat tercium olehnya. Manik mata indah itu begitu terlihat menakutkan yang bisa Alea tangkap.


“Aku mohon jangan Evans.”


“Ck! Terlambat Alea!”


Wajah Evans lebih maju hingga kedua mata mereka saling beradu.


 “Aku akan memberikanmu mimpi buruk, yang tidak akan kau lupakan seumur hidupmu, Alea,” bisik Evans.


“Tidak Evans, aku mohon.”


Alea menjerit keras, Evans merobek pakaian tidurnya hingga menyisakan bra hitam miliknya.


“Aku mohon maafkan aku, Evans. Please… ampuni aku…”


Evans tidak mendengarkan itu, pria itu seolah menulikan telinganya dan sibuk bermain di leher jenjang Alea.


Evans tersenyum miring, menangkup kepalanya dengan kuat. “Sudah terlambat, sayang. Aku akan menjadikanmu wanita jallangku dan kau akan menggantikan Carla setelah aku berbagi mimpi burukku ini.”


“Jangan Evans, please maafkanlah aku.”


Alea terbelalak saat Evans mencium bibirnya dengan brutal, tangan yang lain mencoba melepas paksa baju tidurnya sementara kakinya mengapit kaki Alea agar tidak memberontak.


Evans mencekal kedua tangannya di atas kepala. Dia menurunkan bibirnya sampai di dua buah melon Alea. Wanita itu menjerit keras bahkan menangis histeris pun Evans tidak mendengarkan.


Pria itu lebih memilih mengabaikan dan mengikuti naluri kelelakian.


“Tolong!” teriak Alea membuat Evans menggeram marah.


Dia menatap Alea dengan kembali membungkam dengan ciuman hingga bibir bawahnya terluka dan berdarah.


 Evans menurunkan lagi ciuman nya ke belakang telinga Alea yang terisak begitu hebat.


“Tolong…”


Evans menarik paksa bra nya hingga memperlihatkan dua buah melon nan kenyal itu saling beradu.


Pria itu menyesap aroma tubuh Alea yang wangi lalu menenggelamkan wajahnya di dua buah melon tersebut tanpa mendengarkan pekikan keras di telinganya akan tangisan Alea.


Evans tidak peduli dengan teriakan Alea meminta pertolongan. Kamar ini begitu jauh dari mansion utama dan orang-orang tidak akan ada yang mendengarkannya.


Dihisapnya kuat satu pucuk yang menantang itu dan tak lupa jejak kepemilikan di bagian dadanya.


“Tidak akan ada yang mendengarkan kamu berteriak, jallang! Ruangan ini jauh dari mana-mana,” bisik Evans dengan seringaian devil.


Evans kembali menghirup aroma tubuh Alea yang memabukan pria itu tak peduli suara tangis Alea yang kini serak dan tubuhnya lemas seakan wanita itu sudah pasrah.


Melihat itu Evans melonggarkan cengkeramannya, satu sisinya melepaskan satu kain yang masih menempel sang adik yang sudah terbangun dengan gagahnya.


Evans menuntun adik kecilnya itu untuk memasuki lembahnya ketika Evans sudah berhasil melemparkan segitiga yang menutupi bagian bawah Alea.


Satu tangan Alea memegang perutnya, di mana Evans tidak peduli sama sekali. Pria itu terus menekan adik kecilnya untuk masuk, meski umpatan beberapa kali terdengar di telinga Alea.


“Puaskanlah nafsumu, Evans. Kau berhasil membagi kesaktianmu.”


Evans mengangkat pandangannya, dia melihat wanita itu meringis yang entah apa maksudnya itu.


Alea tersenyum parau. “Kau berhasil berbagi mimpi burukmu dan ini—”


Alea mengernyit dalam, seraya mengusap perutnya. “Aku tidak akan pernah melupakan hal ini—”


Alea bernafas cepat dan memburu, Evans pun seketika mengeluarkan adik kecilnya.


“Ev—”


“Alea…”


Alea meringis kesakitan di depannya, Evans tidak tahu ada apa dengan wanita bodoh itu yang terlihat kesakitan.


“Sial!” umpat Evans bertubi-tubi dan turun dari atas tempat tidur. Pria itu berdiri memandangi Alea dengan amarah yang terpangpang di wajahnya.


Kedua tangannya terkepal erat tanpa memutuskan tatapan pada Alea.


Wanita bodoh itu hanya bisa menangis, kedua tangannya begitu sulit digerakan meski hanya ingin menutupi tubuhnya yang polos dengan kain di sampingnya.


Pria itu begitu menakutkan, benar-benar seperti iblis. Yang bisa Alea lakukan hanya menangis ketika suara pukulan kuat itu terdengar begitu keras hingga Alea bisa melihat tonjolan urat dan darah yang mulai merembes di tangan pria itu.


Alea sama sekali tidak bisa bergerak, tubuhnya mendadak kaku.


Dia sudah tidak kuat lagi dengan rasa sakit yang sudah menjalar kesuluruh tubuhnya yang diiringi rasa terbakar di sekujur tubuhnya.


“Ev… to—long.”


Sudikah pria itu menolongnya dan membawakan obatnya?