Mafia And Me

Mafia And Me
Memakamkan Dengan Layak!



“Ya Tuhan, akhirnya kamu sadarkan diri Alea…”


Berta berseru lega seraya menatap pilu pada wanita malang yang sudah lima hari tak sadarkan diri.


“Berta…” ucap Alea, lemah.


“Ya, ini aku. Alea…”


Berta membantu Alea untuk bangun dan menyandarkan punggung wanita malang itu di headboard.


Alea menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan. “Aku sangat mencemaskanmu, Alea. Kamu sudah membuat banyak orang takut.”


“Bahkan dokter pun bingung mau mendiagnosa kamu sakit apa. Kami sampai mengira kamu meninggal Alea karena kamu tidak kunjung sadarkan diri.”


Alea meneguk segelas air putih yang diberikan oleh Berta. “Berapa lama aku tidak sadarkan diri?”


“Lima hari.”


Alea menarik nafas pelan seraya mengernyit. “Sebenarnya kamu sakit apa?”


“Entahlah Berta aku pun tidak tahu dengan penyakitku yang aneh ini. Dokter selalu mengatakan ini langkah karena respon tubuhku yang buruk.


"Setiap aku meminum wine tubuhku sakit semua dan terasa terbakar. Nyeri itu selalu hilang timbul di tiap waktunya.


"Bila aku tidak segera meminum obat itu, aku tidak akan bangun dengan cepat. Kejadian ini sudah dua kali terjadi beberapa tahun lalu.”


Berta menarik nafas pelan. “Maka menjauhlah dari minuman itu, Alea.”


Alea mengangguk pelan, selama ini dia sudah menjauh dari minuman yang seperti itu. Tetapi…


Iblis itulah yang memintanya dimana Evans mencurigainya menaruh racun.


“Kalau boleh tahu, siapa yang membawaku kemari ini?”


Seingatnya, dia berada di kapel bawah tanah dan tidak mungkin bukan kalau ada orang yang menemukannya.


“Tuan lah yang membawamu ke kamar,” jawab Berta seraya menggenggam tangan Alea.


Wanita senja itu mulai bercerita. Lima hari yang lalu, Berta melihat Evans kembali dari belakang mansion dan menuju ruangan kerjanya. Dia sengaja mengintip Evans di sana.


Evans duduk di kursi kebesarannya dengan menenggak minuman keras, sorot matanya tertuju pada layar besar di hadapannya.


Awalnya Berta tidak curiga apapun karena malam yang sudah biasa itu dia tahu dengan kebiasaan tuannya itu.


Tiga jam Evans terus memandangi layar tersebut, akhirnya lama bergelut dengan dirinya sendiri.


Pria itu pun pada akhirnya kembali turun ke kamar tersebut dan menemui Alea.


Wanita itu masih dengan keadaan polos dan posisi yang sama tidak ada pergerakan sama sekali sewaktu dia tinggalkan.


Cemas dengan keadaan Alea, Evans akhirnya memanggil Berta. Wanita senja itu terkejut ketika Alea memakai jubah tuannya.


Setelah Berta membuka jubah tersebut, wanita senja itu menangis saat melihat tubuh wanita malang itu polos tanpa satu kain pun yang menutupinya ketika Berta akan menggantikan pakaiannya.


“Kamu hampir meninggal, Alea.”


Alea terdiam sejenak seraya pandangi Berta.


“Nafasmu hampir tak terasa lagi. Dokter sampai mengatakan kamu tidak punya harapan hidup karena sama sekali tubuhmu tidak merespon obat apapun setelah dua hari kamu masih dengan keadaan yang sama.”


Alea kembali menenggak air putih di gelasnya. “Dokter sudah mengatakan kamu meninggal.


“Tapi, tuan masih yakin kalau kamu masih hidup. Jantung kamu masih berdetak.”


“Apa kamu ingin tahu, Alea?”


Alea menaikan pandangannya. “Antony dan Romeo sudah bersiap akan membawa jenazah.


“Tuan Massimo dan Lucas sudah memerintahkannya untuk menguburmu dengan layak. Tapi, lagi lagi…”


“Tuan tidak setuju. Dia ingin tahu selama seminggu apa kamu akan bangun dan dugaannya benar bukan kamu akan terbangun.”


Berta memberikan nampan berisi makanan untuk Alea.


“Makanlah yang banyak dan istirahatlah. Wajahmu masih pucat dan kamu harus sembuh.”


“Terima kasih, Berta.”


Berta berjalan menuju mansion utama dimana dia harus memberitahukan pada Evans kalau Alea kini sudah sadarkan diri.


“Kamu sudah bangun, pagi sekali?”


Berta pandangi Alea yang baru saja bangun.


“Apa aku mengganggu tidurmu?” Berta meletakan sarapan pagi sebelum dia mengurus wanita jallang tuannya.


“Tidak. Aku memang ingin bangun dan akum au bekerja seperti biasanya.”


“Tapi Tuan memberitahukan untuk kamu istirahat lebih dulu dua hari kedepan Alea.”


Alea berikan anggukan pelan. “Ya sudah kalau begitu cucilah muka, sarapan lalu kembali istirahat. Jangan lupa obatnya diminum yah.”


“Terima kasih Berta.”


Berta berikan senyuman pada Alea. “Sama-sama.”


Setelah Berta pergi meninggalkan kamarnya, Alea masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.


Dia tersentak kaget dengan bagian dadanya yang terlihat banyak jejak kepemilikan.


“Kenapa ini seperti baru? Bukannya kejadian itu sudah enam hari yang lalu?” tanya Alea dalam hati seraya melihat jejak merah di bagian dadanya.


Wanita itu mengusap bagian dadanya, seketika air matanya jatuh begitu saja ketika mengingat malam itu yang sangat menakukan. Evans melecehkannya.


“Aku akan bertanya nanti pada Berta, apa selama aku tidak sadar Evans berada di kamarku?”


Alea dengan wajah yang pucat turun dan mencari Berta, namun pagi ini Alea pun sudah siap dengan pakaian formal dan bersiap bekerja. Dia tidak manja apa lagi mengingat dia adalah pelayan pribadi Evans.


“Alea… bukannya aku memintamu untuk istirahat, kenapa kamu sudah siap?”


Alea menarik lengan Berta dan mengajaknya ke tempat sepi agar tidak ada yang mendengarkan pembicaraan.


“Ada apa Alea?”


“Berta tolong katakan padaku. Apa lima hari aku tidak sadarkan diri, apa tuan datang ke kamarku?” tanya Alea.


“Ya. Tuan ke kamarmu dan memeriksa keadaanmu.”


Alea menghembuskan napas berat. Pria itu bukan hanya memeriksa keadaanmu, tetapi pria itu kembali menebalkan jejak menjijikan di tubuhnya ini.


“Astaga… Alea… kamu masih hidup?”


Lucas berseru, pria itu terkejut dengan adanya Alea yang duduk di kursi meja kerjanya.


“Kamu seperti melihat hantu saja, Luc!”


Lucas menarik kursi lalu duduk di samping Alea. “Kamu sudah kayak orang mati dan hampir saja kamu akan dimakamkan.”


Alea sudah tahu bagian cerita itu. “Adanya kamu duduk di sini secara mendadak pastinya aku kaget lah.”


Alea berikan senyuman tipis. “Kamu masih sakit Alea, wajahmu saja masih pucat? Kenapa kamu nggak istirahat di mansion tuan saja?”


Tentunya Alea tidak mau. Dia belum siap bertemu dengan Evans sepagi ini makanya dia nekad meminta pengawal biasa untuk mengantarkannya ke pabrik.


Jujurnya, Alea masih takut bertemu dengan Evans. Kejadian malam itu di kapel bawah tanah membuat dia tidak ingin bertemu dengan Evans lebih dulu.


“Aku sudah baikan, Luc. Tenang saja.”


“Ya sudah kalau begitu kalau kamu ada apa-apa hubungi aku langsung,” pinta Lucas yang langsung di anggukan Alea.


Alea langsung mengerjakan pekerjaanya kembali, dia memeriksa dokumen yang waktu itu dia minta pada bagian keuangan. Beberapa dokumen tebal itu ada beberapa keganjilan.


“Ini orang bener-benar tidak sayang nyawa. Apa dia tidak tahu konsekuensi berkhianat pada Evans Colliettie?


“Menggelapkan dana perusahaan hingga laporan keuangan memprihatikan begitu,” kata Alea pelan, namun terdengar oleh seseorang yang berdiri di depannya.


“Mungkin mereka sudah bosan hidup. Tidak hanya menggelapkan dana, tetapi juga membuat kacau para konsumen, mungkin tujuannya memang ingin pabrik ini bangkrut,” ujar seseorang itu seraya duduk di kursi kecil menghadap Alea.


“Anda…”


“Ya. Saya,” jawab si pria seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alea.


“Maaf, aku belum memperkenalkan diri waktu itu. Mumpung belum basi mengingat ini pertemuan kita yang ketiga kalinya. Tidak salahnya bukan kalau aku memperkenalkan diri?”