
Degupan jantung Alea berdetak cepat, namun dia mencoba untuk tenang dan tidak tergesa-gesa yang membuat orang akan mencurigainya.
Alea yang memakai masker dan juga topi begitu saja keluar dengan mudah, seperti yang Bryan katakana kalau para penjaga yang bisa berjaga di ruangannya pun sudah Bryan bereskan sehingga dia bisa pergi membawanya.
‘Kemana perginya para penjaga itu?’
Ada rasa heran dan banyak sekali yang dia ingin bertanya pada Bryan. Kenapa mendadak para penjaganya tidak ada dimana-mana?
Benar-benar di bereskan seperti apa yang dikatakan oleh Bryan.
Sebelum pergi dari ruangan kamar inapnya, Alea sempat menulis surat untuk Leo dan juga Massimo dan menuliskan semua kondisinya di secarik kertas tersebut agar dua pria itu tidak akan mencarinya, sekalipun mustahil.
“Hah—akhirnya kita bisa keluar juga, Alea.” Bryan berseru senang. Kini dia dan Alea berada di parkiran rumah sakit.
Keduanya bernafas lega sekalipun tidak dipungkiri kalau degupan jantung Alea masih berdetak cepat. Dia takut Evans akan menangkapnya.
Bryan membuka pintu mobil jeep hitam dan meminta Alea untuk masuk kedalam.
Sejenak, Alea mengernyit bingung dengan mobil yang berada di depan mata dan juga kedatangan Bryan yang seolah sudah direncanakan oleh pria itu.
“Kamu dapat mobil dari mana, Bry?”
Bryan yang berjalan memutar mobil pun tak menjawab, pria itu hanya berikan senyuman yang entah apa maksudnya.
“Sebaiknya kita pergi dari sini, takutnya anak buah Evans mengetahui kalau kamu tidak ada di ruangannya,” kata Bryan seraya menghidupkan mesin mobilnya.
“Apa semua ini sudah kamu rencanakan dari awal?” tanya Alea menoleh ke samping dimana pria itu sudah melajukan mobilnya untuk keluar dari pekarangan rumah sakit.
“Hm,” jawab Bryan singkat.
“Sejak kapan?”
“Tentunya sudah lama ini aku merencanakan dengan baik dan matang, termasuk surat-surat untukmu.”
Bryan berikan senyuman manis ketika menoleh sejenak pada Alea.
Wanita itu masih nampak bingung sekalipun ya, tidak di ragukan kadang wanita itu cerdas.
“Apa murutmu selama ini aku diam saja, Al?” Bryan menggeleng pelan.
“Tentu tidak. Aku sudah ribuan kali berpikir kalau hari ini sudah saatnya aku terlepas dari segala yang berurusan dengan Evans Colliettie.
“Apa kamu tahu, diamnya aku beberapa hari ini karena aku sibuk mengurus semua rencana ini dengan hati-hati agar aku bisa hidup bebas di luaran sana bersama denganmu?”
Alea menatap dengan tatapan terkejut, bola mata indah itu pun melebar.
Bryan tertawa pelan seraya mengusap rambut Alea penuh cinta.
“Jangan menunjukkan wajahmu yang terlihat terkejut. Aku ingin hidup bahagia denganmu, aku ingin kita bisa keluar dari jeratan Evans Colliettie.
“Melarikan diri bersamamu adalah suatu impianku, Alea. Aku sudah tidak tahan ingin bersama mu tanpa penganggun dan ancaman kematian,” ungkap Bryan panjang lebar seolah pria itu tengah mencurahkan isi hatinya yang dalam dan juga impiannya bersama dengan Alea.
Hidup bahagia.
“Apa kamu mengajak kedua orang tuamu juga untuk pergi?”
Bryan menggeleng pelan sementara Alea kembali menatap Bryan dengan ekspresi bingung sekaligus heran.
“Tentu tidak.”
“Kenapa kamu tidak mengajak mereka untuk pergi bersama dengan kita, Bry?
“Apa kamu tidak tahu kalau kedua orang tuamu bisa saja kedua orang tuamu dibunuh oleh Evans karena putranya melarikan diri denganku!”
“Sudahlah, Alea. Kamu nggak usah memikirkan orang lain. Pikirkanlah hidup kita sendiri,” kata Bryan, enteng.
Meski begitu, Alea tidak setuju dengan apa yang baru saja dia dengar dari pria itu. bingung itu sudah jelas, karena Alea merasa Bryan aneh.
Bryan melirik sejenak. “Aku tidak membutuhkan mereka, Alea. Aku sudah berpikir jauh sebelum mengajakmu pergi.
“Aku tidak peduli sama sekali pada kedua orang tua itu. dia bukan orang tuaku!” tegas Bryan.
“Selama ini aku diam, tetapi aku memikirkan banyak cara selama ini.
“Diam-diam tanpa sepengetahuan iblis itu, aku berteman dengan seseorang yang bisa membantuku untuk pergi dari mansion itu dan kali ini semua ini baru terselesaikan, Alea.”
Bryan kembali menoleh menatap Alea sejenak.
“Karena kita pantas hidup bebas dan hidup bahagia di luaran sana, Alea.
“Tidak selalu sesak menghirup nafas dengan penuh tekanan dan ancaman yang selalu keluar dari mulutnya.”
“Kematian dan kematian, aku muak dengan semuanya.”
Yang bisa wanita itu lakukan hanya diam, duduk dengan senyaman mungkin dan tentunya penuh waspada.
Diliriknya ke samping jendela kaca mobil. Pemandangan jalanan kota Napoli dan bebasnya hidupnya yang dulu membuat dirinya ingin pergi dari cengkeraman Evans sekalipun hatinya tidak terkira bagaimana rasa takut, cemas bercampur menjadi satu. Aksinya kali ini, tidak mungkin di biarkan begitu saja lepas.
Bryan meraih sebelah tangan Alea. “Aku berjanji akan membawamu jauh dari Evans Colliettie dan kita akan hidup bahagia tanpa adanya ancaman lagi, Alea. Apa kamu percaya padaku?” tanya Bryan kembali.
Alea hanya diam, dia berikan senyuman tipis pada Bryan. Janji pria itu dan juga harapan baru dari semua yang sudah terucap di bibir pria itu, sejujurnya tidak membuat Alea senang. Yang ada perasanya tidak tenang dan berselimut ketakutan yang akan terjadi kedepannya.
Alea memalingkan wajahnya kembali ke samping memandangi lampu-lampu kota yang perlahan menyala terang dengan keindahan kota Napoli di bawah langit yang sempurna menggelap.
Keinginan Alea memang ingin hidup bebas untuk selamanya seperti kehidupannya dulu.
Tetapi bukan melarikan diri seperti ini dari Evans Colliettie, Alea hanya melainikan pria itulah yang memberikan izin secara langsung untuk pergi dan bebas dari the kingdom of The Black Rose sekalipun itu terdengar mustahil.
‘Entah kemana dia akan membawaku pergi.’ Alea memandangi mobil yang ditumpanginya perlahan menjauh dari padatnya kota Napoli. Kini mobil yang melaju kencang itu berada di pinggiran kota yang mulai jauh dari keramaian.
‘Entah kemana tujuan, mu Bry. Jujur, aku tidak tenang. Rasa takutku begitu besar dari pada rasa bahagia akan kebebasanku yang sudah lama sirna,’ batinnya.
Wusssss…
Beberapa mobil SUV hitam melaju begitu cepat dari arah samping membuat Alea kaget. Apa lagi, mobil itu bersisian dengan posisi mobilnya yang kini berada di tengah-tengah dua mobil hitam pekat.
“Bry…” Alea, panik. Bahkan dia menoleh ke samping untuk melihat siapa yang tengah mengikutinya.
Ketika Alea memalingkan wajahnya ke samping kanan, bola mata Alea melebar. Dia terkejut ketika kedua netranya menangkap sosok Evans Colliettie yang berada di dalam mobil SUV hitam. Mobil yang detak dengan mobilnya.
“Don’t panic, Alea,” jawab Bryan, santai.
Alea mengumpat keras dalam hati, bagaimana dia tidak panik ketika Evans sudah berada dekat dan mengetahui dirinya akan melarikan diri.
“Itu, Evans—”
Wajah Alea menjadi takut dan tidak karuan. “Yeah. I know, Alea.”
“Ck! Cepat sekali gerakan iblis itu,” decak Bryan, menatap mengejek ketika menoleh ke samping.
Citttt!!!
Cit...
Bryan reflex menekan rem, hingga terdengar suara ban berdecit dengan tubuh keduanya tersentak ke depan. Dari kejauhan pun, mobil Evan sama membanting stir dan berbalik ke arah dimana mobil Bryan berada.
Napas Alea terlihat memburu, kedua tangannya pun bersiap berpegangan pada hand grip mobil.
Kini, terlihat jelas. Sekalipun jarak mobil keduanya cukup jauh dan di mana kedua mobil itu saling berhadapan dalam posisi sama-sama diam tanpa ada pergerakan.
Alea merapal doa pada Tuhan, semoga ini bukan hari kematiannya. Wanita malang itu dirundung ketakutan yang amat nyata.
Alea mencoba menoleh ke samping memandangi Bryan. Pria itu pun sama diam, sekalipun Alea tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran pria itu.
Mulut Alea mengangga dengan bola mata yang lembar. Evans keluar dengan membawa senjata api, tepat kedua tangannya itu terlihat membidik lurus ke depan di mana dimana mobil mereka berada.
“Bry….”
Nafas Alea memburu. “Evans akan membunuh kita.”