
Sepuluh hari kemudian…
Tidak hanya Kelly yang terkejut dengan keadaan wanita itu.
Tapi juga dengan Alea sendiri yang entah kenapa dia masih hidup dan bernafas sampai detik ini sekalipun penderitaannya tak kunjung ada habisnya.
Wanita itu—
Benar-benar menyiksanya habis-habisan, bahkan seluruh anggota tubuhnya semuanya sakit yang tidak bisa Alea ungkapkan dengan kata-kata.
Dia hanya pasrah karena dia yakin tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Ya, tidak ada. Mungkin dia harus pasrah menunggu kematiannya di tempat ini.
“Astaga.”
Seseorang itu nampak terkejut, bahkan kedua matanya mendelik dengan ekspresi tidak percaya.
“Kau terlihat mengenaskan sekali.”
Mendengarkan suara yang familiar, sontak Alea mengangkat kepalanya dengan susah payah.
Begitu banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya, namun lagi lagi Alea hanya bisa diam memandangi pria yang kini duduk di sofa panjang tidak jauh di mana dia berada.
Orang itu duduk santai dengan ekspresi bahagia sembari menyesap wine yang langsung dari botolnya.
Anehnya, pria itu sama sekali tidak menatap seolah sama sekali tidak mengenalnya.
Kemana tatapan hangat dan juga janji manis yang dulu dia berikan?
Itu sama sekali tidak ada.
“Kamu.”
Alea berlinang air mata. Alea berusaha untuk berbicara meski tenggorokannya terasa begitu sakit.
“Aku tidak menyangka kalau kamu pria brengsek!”
“Ternyata kau pria brengsek!!!” makinya.
“Sstt….”
Pria itu menatap wanita malang itu dengan tatapan senang. “Don’t cry, Alea,” katanya diiringi tawa.
“Bukannya kamu menganggapku sebagai penyelamatmu? pelindungimu sebelumnya, hmm?”
“Aku tidak percaya kamu tega melakukan ini padaku, Bry?”
Bryan tertawa sarkas. “Kamu begitu pintar bersandiwara selama ini,” sambungnya.
Alea mengernyit, kepalanya berdenyut nyeri.
“Dibandingkan Evans yang asli pria itu kejam dan tidak punya belas kasih. Tapi, ternyata kamu lah paling brengsek dari pada dia, Bry!”
Bryan tertawa lebih keras lagi seolah puas menertawakan kebodohan wanita di depannya.
Pria itu kembali menenggak winenya diiringi menatap Alea dengan tatapan games.
“Uh! That's right, Alea dan kamu—” Pria itu menunjuk.
“Begitu bodoh!”
Bryan berdiri seraya memegang botol wine dengan hela nafas panjang.
“Aku sengaja melakukannya untuk rencanaku. Pria iblis itu sudah mencurigaiku!”
Bryan menggeleng. Dia meralat perkataan.
“Eh, tidak. Bukan begitu maksudku. Evans sudah lama ini memang selalu mencurigaiku.
“Pria iblis itu mencari cara untuk membongkar kebusukan ku seperti yang dia lakukan. Sama-sama punya motif denganmu!”
Alea menajamkan matanya dengan nafas yang memburu.
“Seharusnya kamu tidak percaya pada kamu berdua dengan mudah yang sama-sama punya tujuan.
“Dan seharusnya kamu berpikir lebih jeli dan cerdik lagi kalau hubungan aku dan Evans sejak dulu memang tidak baik-baik dan itu di saat aku masih berusia lima tahun!”
Bryan membuang nafas pelan. “Apa kamu tahu kalau aku sangat membenci pria itu hingga sampai ke urat nadiku, hmm?
“Semenjak kejadian kedua orang tuaku di bunuh oleh Alberto Colliettie. Nasibku buruk!
“Aku di haruskan berada di bawah kekuasaan pria kejam itu dan harus patuh padanya.”
“Jadi kamu bukan anak Berta dan Antony, Bry?” sela Bryan.
“Kalau dua orang itu sama sekali bukan keluargaku?
“Apa kamu melihat aku dan mereka seperti sebuah keluarga?”
“Ck!” Bryan meludah.
“Bahkan dua orang itu menganggapku seperti anaknya sendiri sekalipun aku tidak menganggapnya.”
Seharusnya Alea tidak terkejut seperti ini, Bryan memang pernah mengatakan waktu itu kalau mereka bukan orang tua nya tapi kenapa masih saja tidak peka dengan semua kalimat Bryan?
“Aku sudah cukup lama menunggu semua ini, Alea.
“Tuhan ternyata begitu sayang padaku memberikan jalan dengan kehadiran kamu di mansion.”
Pria itu menarik sudut bibirnya ke samping dengan tatapan kebencian.
“Kedatanganku dengan mudah untuk menghabisi penerus Colliettie bahkan sampai pada saudara tirinya yang dibuang begitu saja!”
“Kalau begitu. Lalu apa hubungannya denganku hmm? Dengan dendam kalian? Kenapa aku yang kena imbasnya di sini?”
“Apa kamu benar-benar bodoh, hmm? Tidak menyadarinya?”
Bryan menatap remeh, benar-benar wanita di depannya ini begitu bodoh. “Ya Tuhan. Apa kamu buta tidak bisa membedakannya?”
Apa Bryan berbicara tentang cinta?
“Kalau kamu menganggapnya demikian, kamu salah Bryan!”
“Ck! Salah! Tidak mungkin. Aku tahu betul siapa Evans Colliettie.
“Aku hidup dengan pria menyedihkan itu sejak aku berusia lima tahun hingga kami tumbuh dewasa bersama,” sela Bryan cepat.
Bryan tentunya tahu sifat dan karakter Evans dimana selama ini mereka tinggal satu mansion sekalipun berbeda ruangan.
“Aku tahu tabiat seorang Evans Colliettie. Kekejamanya bahkan sifatnya aku tahu.
“Selama ini aku mengamati itu semua bertujuan karena aku mencari celah dan juga kelemahannya.
“Apa kamu pun tidak tahu bagaimana aku harus bertahan hidup di bawah kerasnya pria itu yang penuh kesombongan.
“Bahkan aku harus rela mengorbankan banyak hal, Alea!”
Alea hanya diam seraya mengamati Bryan. “Bahkan aku nyaris putus asa saat itu. Kebebasanku selama ini di renggut.
“Hingga aku berpikir keras selama ini apa aku bisa mengambil kebebasanku darinya?”
Bryan menatapnya dalam diam. Pria itu berjalan mendekat dan duduk bersimpuh di depan Alea.
“Argghht…. Sakit Bryan!”
Dagu Alea di cengkram erat, pria itu mendekatkan wajahnya lalu berbisik.
“Sampai pada akhirnya, iblis itu membawamu pulang ke mansion.”
Bryan tersenyum miring tak lepas menatap manik mata indah Alea.
“Kamu salah, Bry. Sama sekali aku tidak ada kaitannya dengan Evans.
“Bahkan dia sudah berkali-kali berniat membunuhku dan ini hanya sebuat keberuntunganku sama masih hidup sampai detik ini.”
Alea menggeleng pelan. “Tidak ada cinta seperti yang kamu kira dan kamu duga, Bry. Tidak ada,” balas Alea.
Bagi Evans Colliettie tidak ada cinta di hidupnya, hatinya sudah lama mati terkubur bersama dengan kematian ibunya.
“Itulah kenapa aku mendekatimu—bersandiwara. Kedekatan kita semakin membuat pria itu percaya bukan dan dugaanku benar.”
“Sesuatu itu harus di pancing lebih dulu, Alea. Agar terlihat hasilnya sekalipun pria itu tidak menyadarinya.
“Aku mengerti betul, ap aarti cinta untuk seseorang pria. Aku pun merasakanya.
“Tapi, tidak dengan Evans Colliettie yang tidak tahu apa itu arti cintai dan juga perasaan terhadap wanita karena selama ini dia selalu menganggap kalau cinta itu hanya sebuat kelemahannya, maka dia tidak membutuhkannya.
“Selama hidupnya dia melupakan arti cintai lebih tepatnya lagi, Evans belum menemukan seseorang yang dicintainya.”
Alea mendengus pelan. “Nggak usah membual Bryan!
“Nyatanya Evans Colliettie mengejar kita—membunuh kita karena sudah berani membangkang perintahnya!”
Bryan menautkan kedua alisnya.
“Apa kamu berpikir begitu?”