Mafia And Me

Mafia And Me
Terdampar di The Black Rose Kingdom



Esok paginya.


“Siapa Tuan Leo dan juga Tuan Gabriel?”


Alea penasaran dengan dua nama itu. Rasa ingin tahunya begitu tinggi ketika dua nama asing lagi selama dia berada di mansion Evans.


Alea dan Bryan mendorong troli tersebut, troli berisi hidangan sarapan spesial untuk tamu Evans Colliettie.


Semenjak menjadi pelayan pribadi Evans Colliettie, Alea tidak pernah melihat sanak saudara yang mengunjungi pria dingin itu, seakan-akan di dunia ini dia hanya sendirian.


“Mungkin kamu berpikir kalau tuan itu sudah tidak memiliki keluarga lain selain Tuan Alberto.”


Alea berikan anggukan pelan. “Kamu salah Alea. Tuan masih mempunyai beberapa saudara di luaran sana, hanya saja pria kejam itu tidak peduli dengan mereka.


"Bahkan aku dengar tidak ada yang berani datang kemari selain kedua orang itu, Tuan Leo dan juga Tuan Gabriel.”


“Tuan Evans lebih memilih menjauh dari mereka agar tidak merepotkan dengan keluarga lainya.


“Sikap mereka yang sok friendly pada tuan tidak jauh hanya untuk meminta pertolongan atau sedang menginginkan sesuatu. Jarang ada yang datang secara sukarela mengunjunginya layaknya saudara jauh.”


Alea manggut-manggut seraya mendengarkan cerita Bryan.


“Tuan Leo dan juga ayahnya selalu rutin berkunjung untuk melihat keponakannya itu.


"Bisa dihitung mereka setahun dua kali datang ke sini, kamu tahu istri dari Tuan Gabriel adalah adik kandung dari ibunya tuan. Nyonya Julieta.”


Alea semakin penasaran, dengan keluarga Evans yang lainnya. “Lalu kenapa dia tidak ikut berkunjung?”


Ketika hampir sampai pintu ruangan makan di mansion pribadi Evans Bryan menoleh sejenak.


“Tuan Evans melarangnya untuk datang kemari entah apa alasan yang pastinya, aku tidak tahu.”


Alea terdiam dengan pikiranya.


“Apa kau mengenal dengan pria yang bernama Massimo?” tanya Alea ketika Bryan membuka pintu besar tersebut.


Namun, pertanyaan itu tidak dengar oleh Bryan. Lebih tepatnya lagi, Bryan belum menjawabnya karena dia harus masuk ke dalam dan untuk menyiapkan sarapan pagi.


Alea kembali pada pikiranya sendiri, kenapa Evans tidak memperbolehkan saudara kandung ibunya sendiri untuk datang berkunjung untuk menemuinya?


Apa rasa bencinya Evans yang sudah mendarah daging hingga membuat pria itu tidak mau melihat seseorang yang masih memiliki ikatan darah dengan nya.


“Sepertinya ada sesuatu yang Evans pendam akan adik dari ibunya, nyonya Julieta,” batin Alea.


“Kamu pasti akan senang bisa bertemu dengan Tuan Leo dan juga Tuan Gabriel, mereka berbeda,” ucap Bryan sebelum mendorong troli nya masuk ke dalam ruangan makan.


Alea kembali diam dan berjalan mengikuti Bryan dari belakang, sampai kini keduanya tiba di ruangan makan di mana ada tiga orang pria yang kini terdengar tengah mengobrol.


“Selamat pagi Tuan Gabriel dan juga Tuan Leo.


"Selamat datang di Napoli mansion Tuan Evans, saya harap perjalanan anda dari Jerman ke Napoli menyenangkan,” sapa Bryan seraya sedikit membungkukkan tubuhnya dan juga menundukan kepala dan diikuti oleh Alea di sampingnya.


“Ah, selamat pagi juga Bryan dan nona cantik. Terima kasih untuk perhatiannya. Apa kau sudah menyiapkan sarapan spesial untuk kami?” tanya Leo. Bryan mengangguk dengan senyuman.


Bryan berjalan menghampiri meja makan lalu meletakan sarapan special untuk ketiga pria di depanya seementara Alea yang membantu untuk menyiapkan untuk Evans dan juga Tuan Leo.


 “Selamat menikmati sarapan pagi anda, Tuan,” ucap Alea dengan senyuman hangat.


 “Terima kasih, nona cantik,” jawab Leo dengan suara seraknya.


Meski begitu namun terdengar seksi, pria tampan itu terlihat begitu ramah membuat Alea membalas senyuman manis dari sosok pria tampan dengan kulit putih gadingnya.


Rambut pirangnya yang terlihat bercahaya, menyempurnakan wajah tampannya yang terlihat tegas dan angkuh. Tetapi seketika pria tampan itu tersenyum hangat rasanya langsung terbayar jika pria itu ramah.


 “Kami sudah tidak sabar untuk mencicipinya,” ujar Leo.


“Silahkah Tuan. Saya harap sarapan yang saya buat tidak mengecewakan Tuan Gerbil dan juga Tuan Leo,” ucap Bryan berdiri tegak di samping troli setelah memberikan ketiga pria itu sarapan paginya.


Leo dan juga ayahnya mengambil sendok dan mencicipi sarapan paginya.


“Hmm…Ini benar-benar special Bryan, sangat Lezat. Saya suka,” ucap Tuan Gabriel memuji hidangan yang dimasak oleh Bryan.


Alea menoleh sekilas pada Evans yang duduk dan terdiam di tempatnya dengan pandangan Evans yang menatap lurus padanya.


Namun Alea buru-buru mengalihkan pandangannya ketika sang empu yang sejak tadi dilihat pun menatapnya lekat.


Kini pandangan Alea berganti pada wajah rupawan Tuan Leo mengabaikan tatapan Evans padanya.


“Kamu memang Chef berdedikasi Bryan,” puji Tuan Gabril yang kini buka suara.


Sosok pria paruh baya yang terlihat berasal dari keluarga kaya raya dan terpandang begitu terlihat ramah dan sopan tidak memandang mana pelayan dan mana Tuannya.


“Nona cantik. Bisakah kau membuatkan kopi untukku?


“Tentu saja Tuan, saya bisa.”


Alea mengangguk mengalihkan tatapannya pada Tuan Gabriel


“Bagaimana dengan anda. Tuan Gabriel? Apa anda ingin dibuatkan kopi juga?"


“Tolong buatkan untukku juga sama seperti putraku.” Alea mengangguk.


Gabriel memandangi penjuru ruangan yang tidak pernah berbeda dari tahun ke tahun.


Semua tetap sama dengan interior semua yang berada di sana namun keningnya berkerut setelah mengetahui ada sesuatu yang beda.


“Selama bertahun-tahun aku kemari. Bertalah yang selalu melayani kami ketika kami berkunjung kemari. Tetapi, kali ini aku begitu terkejut akan sambutanmu yang sangat berbeda ini.”


Lalu tatapan pria senja itu berarah pada Evans. “Apa ada sesuatu yang terjadi keponakanku, Evans?”


“Ini bukan perubahan yang penting,” ujar Evans terlihat acuh.


“Kau tahu sendiri wanita itu sudah tua.”


“Tua? Ya, Kau mungkin benar wanita itu memang sudah tua tetapi dia masih sanggup melakukan banyak hal sepertiku,” jawab Gabriel.


“Tidak usah membebani pikiranmu dengan hal yang tidak penting ini,” decak Evans.


Alea mengernyit melihat Evans yang tidak punya sopan santun berbicara pada orang yang lebih tua.


 “Oh, Ya. Siapa namamu nona cantik?” tanya Leo terlihat tertarik.


“Alea.”


“Nama yang cantik, seperti orangnya. Dari mana asalmu?”


 “Indonesia.”


“Wowww,” ucap Leo menatap Evans.


Tidak hanya Leo yang terkejut, tetapi Evans pun sama. Dia terkejut ketika mengetahui kalau Alea berasal dari Indonesia bukan Singapura yang selama ini dia tahu.


Leo semakin tertarik melihat wanita cantik dengan mata sapphire yang berkilat di depannya itu.


Rasa ingin tahu Leo lebih banyak lagi akan siapa sebenarnya wanita cantik bermata indah tersebut yang berasal dari Indonesia.


Ciri khas mata wanita asia, coklat dan hitam bukan? Lalu ini…


“Indonesia? Kamu terlalu jauh dari rumah cantik.” Kini Leo memandangi Alea dan juga Evans bergantian.


“Ya, saya lahir di Indonesia.”


Leo tersenyum misterius mentap Evans penuh tanya, akan wanita yang dibawa saudaranya dari jauh.


“Aku akan sangat senang bila mendengarkan ceritamu nona cantik ini.


"Kenapa sampai bisa terdampar di The Black Rose kingdom ini? Menjadi seorang pelayan pria berhati dingin dan tak punya belas kasih yang ditakuti seantero Italia?!”


Alea diam tidak menjawab, tetapi Evanslah menatap Leo tak kalah tajam karena saudaranya itu terlalu ikut campur dalam masalahnya.


“Kau bisa mengarang cerita dengan versimu sendiri, Leo!”