
Seseorang yang di seberang sana tentu sudah mengetahuinya, bahkan pria itu sangat santai hanya mendengar dan masih duduk di sofanya dengan Abraham menyesap secangkir tea herbal.
“Obat tidurnya sudah tidak beraksi lagi? Atau kau tidak memberikanya kembali? Karena sungguh sangat merepotkan dan juga memusingkan jika pria seperti The Black Rose itu sudah kembali sadar!” decaknya dengan tersenyum mengejek.
“Oh astaga,” lirih Abraham menatap lelah pria di depan sana yang sama-sama begitu keras.
“Kau benar-benar ingin The Black Rose mati akan setiap harinya aku berikan obat tidur hah?? Apa kau pun sama sedang mengejar kepala The Black Rose agar mendapatkan hadian puluhan millyar itu hah?”
“Cih! Aku sudah kaya buat apa uang millyaran dollar itu,” decaknya kesal membuang muka dengan menarik sudut bibirnya ke samping.
“Maka Hadapilah The Black Rose sendiri. Aku sudah lelah dengan semuanya, The Black Rose dan juga kau. Sama-sama merepotkan diriku,” gerutunya.
Pria itu terkekeh menatap Abaraham dengan sesekali melepar senyuman mengejek.
"Baiklah aku akan menghadapinya.
Tidak lama pria itu bangkit berdiri menghampiri keributan di samping ruanganya dengan ditemani beberapa pengawalnya.
“Damn, Ryander!!!” umpatnya dengan sorotan wajah merah padam seperti kobran api.
Evans yang awalnya meremehkan pria bernama Ryander, ternyata pria itu berhasil membuatnya terlihat mengenaskan. Setelah usaha yang di lakukan untuk menghabisi dua bersaudara kembar itu yang berniat melenyapakanya dan mengambil kalung miliknya.
Tidak seharusnya Ryander datang dan mengacaukanya banyak hal. Evans lebih baik menerima berkali-kali tembakan pada tubuhnya dari pada harus berhutang nyawa pada seseorang.
Evans menudukan kepalanya dan diam dengan kedua tangan di depanya menatap sesaat. Setelah dirinya merasa tenang, ditegakan kembali punggungnya dan memperhatikan pantuan wajahnya yang memar dari kaca yang retak, dan berguman,
“Sudah saatnya untuk melepaskan wanita bodoh itu!”
“Benar sudah saatnya kau melepaskan wanita itu,” sela nya yang begitu saja datang ke ruangan itu yang tidak sengaja mendengar ucapan Evans. Pria itu tahu siapa yang di maksud oleh The Black Rose.
Evans menatap pria bertubuh atletis di belakang sana dari pantulan kaca yang retak. Sesorang pria meski umurnya sudah tidak muda lagi, tetapi pria itu sama seperti dirinya.
Seolah terlihat dari pantulan itu akan wajah dan juga kesamaan dirinya dengan pria di belakang sana. Belum merasa begitu tenang dengan masalah hutang budi Evans pada wanita bodoh itu.
Kini Evans di datangkan kembali oleh sosok luka lama, yang begitu sangat menyiksanya kehidupanya selama ini. Pria itulah yang menyiksa hatinya seumur hidupnya, akan sebuah luka yang tidak akan pernah bisa begitu saja sembuh.
“Kau tidak usah ikut campur akan urusanku!” decaknya, dengan Evans yang membalikan badanya untuk berhadapan langsung dengan pria tersebut.
“Sekian lama kita tidak berjumpa apa ini yang kau katakan kepadaku?!”
“Aku tidak membutukanmu, apa lagi pertolonganmu!” jawab Evan sombongan.
Pria itu menyungingkan bibirnya.
“Ya, aku tahu. Kau tidak akan pernah membutuhkanku dan juga pertolonganku. Karena kau seorang The Black Rose yang terkenal di dunia hitam, eksistensimu sebagai penguasa pun aku sungguh memujimu, Evans Colliettie.
"Tetapi aku tetap seorang pria yang selalu berada di balik punggungmu, melindungimu dari musuh-musuhmu itu. Karena kau satu-satunya keturunan Colliettie. Meski kau suka tidak suka mau tidak mau. Aku akan selalu mengawasimu. Meski kau sudah tidak membutuhkanku dan juga melupakanku yang masih hidup ini!'
“Aku tidak membutuhkan semua itu! Aku pun tidak membutuhkan pembunuh seperti kau!”
Pria itu maju menghampiri Evans dengan perlahan rasanya pria itu ingin sekali memeluk pria di depanya dengan wajah memerah seperti kobaran api, sorotan mata yang tajam seolah membunuh.
“Kenapa kau melakukan hal bodoh itu, hanya sebuah kalung yang tidak berharaga sama sekali? Mempertaruhkan nyawamu sendiri dan orang lain?
"Aku pikir The Black Rose penguasa dunia gelap itu bisa berpikir dengan cerdas dan membuang semua kenangan yang tersisa yang begitu menyakitkan?!"
“Kaulah luka itu, Alberto!!! Kaulah luka lama yang masih membekas di hatiku sehingga membuatku seperti ini! Kau tahu betapa aku ingin sekali membunuhmu hmm?” Evans menarik kerah kemeja Alberto.
“Maka bunuhlah aku, agar kau bisa membalas dendamu. Karena aku yang sudah membunuh ibumu, agar luka lama di dalam hatimu itu bisa sembuh,” pinta Alberto yang tidak lain, ayah kandung dari Evans Colliettie.
Evans menghempaskan tubuh Alberto hingga kedua pengawal yang berada di belakang sana menopangnya dan tidak terjatuh ke bawah.
“Ck…aku tidak sudi memiliki ayah sepertimu. Kau pembunuh ibuku dan kau pantas mati Alberto!”
Alberto tersenyum sinis menatap anaknya yang begitu sama persis dengannya, sama sekali tidak ada hal yang berubah dari dirinya pada diri Evans sama-sama kejam.
Alberto melemparkan senjata ke arah Evans yang terhempas kelantai tapat di bawah kakinya. “Ambilah dan bunuhlah ayahmu ini,” gumam Alberto dengan merentangkan kedua tanganya.
“Kau tahu—bagaiman menyesalnya ayahmu ini setelah membunuh ibumu yang sudah berhianat kepadaku hingga menoreh luka dalam dengan kehadiran seorang anak lain? Bahkan kau sendiri pun sangat membencinya? Meski caraku salah!”
Evans mengambil senjata melihat amunisi di dalamnya yang terisi penuh peluru. “Kau tak pantas membunuhnya Alberto!"
“Aku tahu Evans, dan aku salah di sini!” sela Alberto.
“Dan kau pun seharusnya tidak membunuh Philps dan adik tirimu itu!”
Dor!!!
Satu peluru terlepas dari senjata yang Evans pegang menerpa dinding tembok. “Dan anak haram itu sampai detik ini masih hidup, Alberto. Dan aku masih mencarinya dan akan membunuh anak haram itu,” decak Evans penuh amarah.
Alberto tahu itu meski pria itu tidak selalu berada di dekatnya.
Alberto menghampiri lebih dekat anak kesayanganya, demi Evans Alberto rela pergi dari kediamanya yang begitu banyak menyimpan kenangan bersama dengan Julieta mendiang istrinya.
Tanpa rasa takut akan Evans yang sedang memegang senjata yang bisa suatu waktu anak itu nekat menembaknya pula, namun Alberto tahu Evans tidak akan mungkin menembaknya.
“Ayah minta maaf. Ayah salah kau benar ayah seharusnya tidak membunuh ibumu, jika kau akan membunuhku. Maka bunuhlah aku Evans agar semuanya impas untukmu.
"Ayahmu ini sudah cukup puas melihat dunia yang indah meski ayahmu ini hidup di dunia yang gelap penuh kesedihan dan tersiksa ini. Ayah ingin kau yang membunuhku agar semua luka lamamu terobati akan matinya Alberto Colliettie dan aku bisa menyusul ibumu di sana dan bertemu langsung untuk meminta maaf.”
Evans manarik kuncian hingga terdengar bunyi clik, dan menghunuskan senjata itu tepat di depan Alberto yang tersenyum lembut kepadanya.
Dor!!!
Dor!!
Dor!!!
Beberapa kali peluru itu di tembakan keatap-atap langit rumahnya hingga tidak tersisa dengan suara erangan yang terdangar bergema di ruang tersebut.
Evans dengan wajah merah padam dan kedua matanya yang masih membulat penuh amarah itu menghempaskan kekasalanya dengan membuang semua peluru yang berada di tanganya.
Bayang wanita itu selalu di samping ayahnya membuat dia tidak bisa membunuh ayah kandungnya sendiri, Evans masih bisa berpikir saat ini walau dendam kepada ayahnya sudah berada di ubun-ubunya hingga rasanya ingin membunuh pria yang sudah membesarkanya itu.
Alberto menatap manik mata Evans dengan penuh amarahnya kepadanya.
"Bunuhlah ayahmu ini agar kamu puas, anakku," ucap Alberto kembali.
Bersambung...