
Matahari siang ini tidak terlalu terik, hanya saja cahaya cukup hangat. Terlihat Ria sedang santai santai saja menikmati cemilan sambil menoton.
Namun berbeda hal nya dengan Anyer yang kini tampak risau sekali, awal nya ia baru turun dari atas dan kini menghampiri Ria.
" Ria..." Panggil Anyer dengan suara nya terdengar lirih.
" Nyer.... kamu kenapa? kenapa keringatan begini?" Tanya Ria dengan khawatir sehingga perhatian nya pun terahlikan kepada Anyer.
" Aku merasakan sakit sekali di perut ku Ri.." Balas Anyer yang kini terus menyentuh perut nya yang terus terasa sakit.
" Auh......" Rintih Anyer yang semakin kesakitan.
" Berarti kamu mau lahiran Nyer." Ucap Ria gelagapan.
" Bagaimana mungkin? jelas hitungan nya masih kurang tiga hari lagi." Jelas Anyer tak percaya.
" Itu tidak menjamin Nyer, kita harus segera ke Rs." Ucap Ria.
" Bi...." Teriak Ria yang suka khwatir sekali.
" Iya Nyonya." Bi Tara dan bi Tere datang.
" Segera telfon kan Tuan Evans agar segera ke Rs. Keluarga Scrith. Karena Anyer akan segera lahiran." Ucap Ria dengan terburu buru.
" Ayo Nyer, kita ke Rs." Ria dan Bi Tara memapah Anyer keluar sedangkan Bi Tere menelfon Evans.
" Ayo Pak, jalan." Titah Ria setelah masuk ke dalam mobil.
" Baik Nona." Dengan cepat pak Ren pun langsung melajukan mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
" Kamu tahan dulu ya Nyer, kita akan segera sampai." Ucap Ria dengan cemas.
" A.... sakit Ri, sakit..." Rintih Anyer dengan mata berkaca kaca.
" Sabar Nyer, kita akan segera sampai ke Rs."
****
♡ RS ♡
" Dok, saya bisa masuk kan?" Tanya Ria pada Dokter karena kini Anyer telah masuk ke dalam ruangan untuk ibu hamil.
" Mbak tenang saja ya, kami periksa dulu." Ucao Dokter lalu melangkah meninggalkan Ria.
Ria pun berdiam diri dengan cemas menanti di kursi.
' Kenapa Tuan Evans dan Er.. belum datang juga?' Batin Ria.
Selang beberapa menit kemudian Dokter keluar dari ruangan Anyer.
" Gimana Dok?" Tanya Ria semakin cemas.
" Nyonya Anyer baik baik saja, itu biasa untuk pembukaan ke tiga. Jadi lebih baik agar jalan jalan dulu agar kontraksi sang bayi lebih cepat untuk mencari jalan nya." Jelas sang Dokter.
" Berarti saya bisa kan Dok bawa Anyer jalan jalan dulu di sekitar sini?"Tanya Ria.
" Iya, itu akan lebih baik."
" Baiklah," Ria pun melangkah masuk ke dalam ruangan Anyer lalu membawa nya keluar.
" Kita berjalan jalan dulu ya Nyer agar kontraksi sang bayi lebih cepat ok." Ucap Ria seraya memapah Anyer untuk berjalan jalan kecil.
" Iya Ri, makasih ya dah ada kamu yang bantuin aku."
" Itu patut untuk sesama sahabat Nyer."
" Hu um..."
"Kenapa Hubby tak kunjung datang juga?" Anyer mencari cari sosok sang suami, namun tidak ada yang ia cari.
" Em.. mungkin sebentar....."
" Niye...." Muncul nya sosok sang suami dari depan sana.
" Hubby....." Anyer semakin bahagia dan semangat nya bertambah.
" Kamu masih merasakan kesakitan?" Suara Evans terdengar ngos-ngosan tampak Evans khawatir sekali.
" Yes Hubby, masih buka tiga."
" Aku bantu kamu berjalan jalan." Kini Evans yang mengambil ahli memapah Anyer, sedangkan Ria melangkah mendekat pada Erdo.
" Ouh..."
Beberapa menit kemudian Abyer semakin merasakan kontraksi yang begitu hebat.
" A.... sakit Hubby... hiks... hiks.. sakit...." Rintih Anyer sampai sampai ia pun menjambak rambut Evans sekuat mungkin.
Menyaksikan hak itu, Erdo dan Ria pun jadi tersenyum lucu. Tidak asa seorang pun yang berani menyentuh kepada Evans apalagi sampai menjambak rambut nya. Tapi kini Anyer mematahkan isu itu, bahkan ia sudah hampir mencopot semua rambut Evans.
" Berarti kamu mau lahiran sayang...." Balas Evans semakin cemas.
" Nyer... itu ada air yang keluar, berarti kamu sudah pecah ketuban, ayo kamu harus menjalani untuk melahirkan." Jelas Ria karena melihat cairan yang keluar dan kini sudah melewati betis Anyer
" Dok......" Teriak Evans sekuat mungkin.
" Ayo Nyonya." Dokter dan kedua suster pun membawa Anyer masuk ke dalam ruangan persalinan.
" Tuan juga bisa ikut." Ucap Dokter.
" Ya." Evans pun ikut melangkah ke ruangan persalinan.
" Hubby... huff... huf..." Anyer sudah ngos-ngosan sekali.
" Nyonya, tarik nafas dalam dalam. Saya hitung dari satu sampai tiga, di hitungan ketiga Nyonya yang mengedan ok." Jelas Dokter itu.
" Ya."
" Satu... dua.. ti..."
" A............" Anyer mengedan sekuat mungkin.
" Sedikit lagi Nyonya..."
"Aaa..........." Anyer terus mengedan dan Evans menggenggam jemari Anyer dengan kuat.
" Ayo sayang, kamu pasti bisa." Ucap Evans memberi semangat.
" Ya...."
" Rambut nya sudah kelihatan Nyonya, ayo terus Nyonya."
" A............" Dan.....
" Owek... owek.... owek..." Suara bayi mereka pun kedengaran.
" Huf... huf..." Anyer menarik nafas nya dengan dalam.
" Selamat Tuan, Nyonya! bayi nya Laki laki." Dokter itu menyerahkan bayi itu kepada Anyer untuk di lihat dulu.
" Selamat datang anak Mommy..." Ucap Anyer sambil meneteskan air mata.
" Hubby.. lihatlah, bayi kita telah lahir. Ia mirip sekali dengan mu." Seru Anyer.
" Yes my Wife! anak Daddy WELCOME TO THE WORLD"
" Kami akan membersihkan tuan kecil,Tuan, Nyonya." Ucap Dokter itu seraya mengambil bayi kecil itu untuk di bersihkan.
" Kamu adalah wanita terhebat sayang." Ucap Evans seraya mengecup kening Anyer. Ia bahkan tak menyangka ternyata sebesar ini perjuangan seorang wanita demi memberi keturunan bagi suami.
" Itu lah perjuangan seorang wanita Hubby. Aku telah menjadi seorang Ibu." Ujar Anyer bahagia sekali.
" Aku telah menjadi seorang Ayah...." Balas Evans dengan lirih.
" Aku bahagia sekali Hubby...."
" Aku juga sayang..."
" Cup..." Dengan penuh kebahagiaan Evans mengecup kening Anyer.
' Terimakasih Tuhan, akhirnya hidupku menjadi sempurna. Aku telah menjadi seorang Ayah, kebahagian ku semakin bertambah.' Batin Evans.
' Akhirnya aku telah menjadi wanita yang sempurna. Perjuangan ku tidak sia sia selama ini aku telah menjadi seorang Ibu.' Batin Anyer
******
Like komen dan vote ku
SALAM ^^