Mafia And Me

Mafia And Me
Kalung Yang Tidak Berharga!



“Kami sudah menemukan dia Tuan,” ucap seseorang di depan sana mengabarkan melalui sambungan telpone.


 


“Good. Bawa dia seperti yang aku katakan kepadamu!” jawab seseorang di seberang sana dengan tersenyum miring penuh kemenangan.


 


Apa pria itu sama berniat jahat kepada Evans menginginkan kepala seorang The Black Rose yang dihadiahi milyaran dollar?


 


Begitu banyak orang-orang jahat di luaran sana, seseorang yang kejam bisa dikatakan sebagai mafia yang selalu tahu akan eksistensi The Black Rose di dunia hitam yang tidak bisa diremehkan?


 


Pria itu jelas lebih tahu membawa seorang The Black Rose tentu bukan hal yang mudah jika dalam keadaan pria kejam itu dalam keadan sehat dan sadar.


 


Begitu banyak reskio karena pria yang sudah seperti devil itu selalu mudah dan berhasil lolos dari kejaran orang bahkan maut yang mengancamnya sekalipun.


 


The Black Rose, Evans Colliettie selalu bisa selamat dari musuh-musuhnya yang mengejarnya dan meinginkan kematianya?


 


“Apa yang membuat The Black Rose datang ke Madrid dan membuat kekacauan di sini?”


 


Pria itu duduk di kursi kerajaanya menatap dua orang yang berdiri tegap di depannya.


 


 


“Hanya mengambil sebuah kalung yang hilang,” jawab seseorang di depan sana.


 


 


Brugg!!!


 


Suara pukulan keras tangannya menerpa meja kerjanya dengan kedua orang di depanya terkejut. “Hanya sebuah kalung?”


 


Seseorang di depan sana pun hanya bisa menunuduk setelah mengangguk akan jawabanya.


 


 


“Cih! Kalung yang begitu tidak berharga namun pria bodoh itu mengambilnya?! Sengan bertaruh nyawa dan melibatkan banyak orang di dalam sana?” decaknya dengan gelengan kepala, masih tidak percaya.


 


 


“Siapa wanita yang bersamanya? Menolong The Black Rose!” tanyanya kembali, meski dirinya selalu memantau keadaan The Black Rose dari jauh. Tetapi dirinya sama sekali tidak tahu akan ada seorang wanita bersamanya.


 


 


“Hanya seorang wanita yang di bawa paksa untuk di jadikan pelayan di mansionya karena sudah menghilangkan kalung tersebut."


 


 


“Dasar The Black Rose bodoh! Menggunakan wanita lemah itu sebagai jebakan? Hanya untuk sebuah kalung yang tidak berharga itu yang dia tukar dengan nyawanya sendiri?!"


 


“Wanita itu terlihat sama sekali tidak biasa membunuh lalat sekalipun untuk di jadikan umpan kepada pembunuh bayaran yang banyak mengincar The Black Rose, hingga kabar terdengar begitu heboh di luaran sana, saling menginginkan dan juga mengincarnya?” decaknya, marah.


 


“Tidak! Sayalah yang menjadi umpan atas rencananya dan wanita itu hanya—“


 


“Hanya apa? Bukanya sama saja?“ selanya.


 


Seseorang di depan sana yang tidak lain adalah seorang wanita hanya bisa menundukkan kepalanya kembali.


 


“Bagaimana dengan keadaan wanita itu saat ini?”


 


“Dokter sedang melakukan tindakan oprasi karena wanita itu mengalami cidera kepala dan juga peluru yang bersarang di perutnya akibat tembakan,” jawab Pria paru baya yang bernama Abaraham.


 


 


Pria itu sudah cukup mendapatkan jawaban meski dirinya tidak menanyakan akan keadaan The Black Rose sekali pun. Pria itu mengibaskan tanganya ke udara seraya meminta kedua orang itu untuk lekas keluar dari ruanganya, meninggalkanya seorang diri di dalam ruangan kerjanya dengan isi kepalanya yang banyak berpikir akan The Black Rose.


 


Namun pria itu mengingat dan memanggil salah satu anak buahnya. “Abraham?”


 


Abraham menoleh dan membalikan kembali tubuhnya menghampiri pria di depannya memanggil namanya dengan seorang wanita itu yang sudah meninggalkan ruangannya.


 


“Kau berikan obat tidur kepada The Black Rose, agar devil itu tidak bangun dengan cepat yang nantinya akan merepotkanku,” pintanya.


 


“Dan awasi selalu gerak gerik wanita itu!"


 


“Baik Tuan,” ucapnya berlalu pergi setelah mendukan tubuhnya seraya memberi hormat kepada pria itu.


 


Seseorang mengirimkan sebuah foto yang mana foto keadaan The Black Rose saat ini. Dengan menghela napas panjang pria itu sudah mengetahui meski tidak mendapatkan foto ini sekalipun.


 


 


Fisik dan mental seorang The Black Rose seperti apa. Jelas dirinya lebih tahu akan fisik dan mental seorang The Black Rose seperti apa, meski dia tahu luka yang di dapatkan The Black Rose lebih parah dari pada wanita itu.


 


Jelas sekali terlihat dari foto akan banyak luka-luka di sekujur tubuhnya dengan luka tembakan di lenganya yang terbilang ringan.


 


 


 


 


Dia tahu jika The Black Rose tersadar akan menyusahkan dirinya, meski banyak orang yang menginginkan seorang The Black Rose mati, bahkan kabar heboh yang ia terima membuatnya murka.


 


Pria itu berjanji akan mencari orang yang sudah membuat pengumuman akan hadiah millyaran dollar itu akan sebuah kepala The Black Rose.


 


“Aku tahu, luka di dalam hatimulah yang lebih sakit jika nanti kau bertemu dengan luka yang sesungguhnya,” gumamnya.


 


***


 


Evans membuka matanya sesekali mengerjapkan bola matanya akan di mana keberadaanya saat ini. Sebuah langit-langit yang tidak asing lagi olehnya dengan bergegas ia bangkit dari ranjang empuk yang sudah membaringkan tubuhnya terlalu lama.


 


 


Evans bangkit dan berdiri, berjalan menuju sebuah balkon yang berada tepat di samping ranjangnya dengan perlahan mendekati meski tahu saat ini dirinya tengah berada di mana.


 


 


Luka-luka ringan di sekujur tubuhnya dengan luka tembak yang berada di lenganya tidak membuat dirinya lemah. Meski saat ini dia sudah tahu di mana keberadaanya namun diabaikan begitu saja sejenak dirinya mulai teringat akan sesuatu hal yang sudah mengusik pikiranya.


 


 


Sesuatu yang tidak pernah dan belum pernah terjadi selama hidupnya.


 


“Aku tidak percaya saat ini, sungguh aku tidak percaya,” decaknya dengan tersenyum mengejek seolah masih tidak terima akan dirinya seorang The Black Rose seakan pupus akan sesuatu yang sudah menerpanya.


 


“Aku tidak bisa percaya jika akhirnya aku berhutang nyawa kepada seorang wanita bodoh dan lemah itu,” ucapnya kembali setelah dirinya masuk kembali ke dalam sebuah ruangan yang besar.


 


 


Menghadap kesebuah cermin dengan memperlihatkan pantulan dirinya dengan kedua tangan yang mengepal erat, menonjolkan otot-ototnya yang nampak di sepanjang lengangnya.


 


Tatapanya yang tajam seakan menembus tebalnya dinding cermin dan membakar bayangannya sendiri di depan cermin. Tidak peduli dengan perban yang melingkar di lengan juga kepalanya. Banyak bekas luka tembak dan senjata tajam yang menghiasi tubuh kekarnya yang berotot, namun kali ini...


 


 


Evan tidak bisa menahan sengatan dalam dirinya.


 


 


“Argghhhh!!!” teriaknya melayangkan kepalan tanganya ke sebuah cermin di depanya hingga retak, meninggalkan jejak darah akan tajamnya kaca yang menembus buku tangannya yang memar hingga mengalir turun dan menetes di lantai.


 


 


The Black Rose tidak seharunya memiliki hutang budi pada seseorang, dan itu sama sekali tidak ada dalam kehidupanya selama ini dan kali ini, dirinya begitu murka karena di selamatkan oleh wanita bodoh, seperti Alea.


 


 


“Damn, Ryander!!”


 


 


Seseorang yang di sebelah sana tentu sudah mengetahuinya, bahkan pria itu sangat santai hanya mendengar dan masih duduk di sofanya dengan Abraham yang sama-sama mengesap secangkir tea herbal.


 


 


“Obat tidurnya sudah tidak beraksi lagi? Atau kau tidak memberikanya kembali? Karena sungguh sangat merepotkan dan juga memusingkan jika pria seperti The Black Rose itu sudah kembali sadar!” decaknya dengan tersenyum mengejek.


 


“Oh astaga,” lirih Abraham menatap lelah pria di depan sana yang sama-sama begitu keras.


 


 


“Apa kau benar-benar ingin The Black Rose mati akan setiap harinya akan aku berikan obat tidur hah?? Apa kau pun sama sedang mengejar kepala The Black Rose agar mendapatkan hadian puluhan millyar itu hah?”


 


 


“Cih! Aku sudah kaya buat apa uang millyaran dollar itu!” decaknya kesal membuang muka dengan menarik sudut bibirnya ke samping.


 


 


“Maka Hadapilah The Black Rose sendiri. Aku sudah lelah dengan semuanya, The Black Rose dan juga kau. Sama-sama merepotkan diriku,” gerutunya.


 


 


Pria itu terkekeh menatap Abaraham dengan sesekali melepar senyuman mengejek.


 


"Aku akan menghadapinya," gumanya.


 


 


Bersambung...


 


Ayo siapa pria itu, ada yang bisa menabak gak? hehe...