
“Hai, masuklah Alea….”
Ruby memanggil Alea untuk masuk saat wanita cantik berambut pirang itu mendengarkan ketukan pintu.
“Ada apa kamu memanggilku dan ingin bertemu denganku?” tanya Alea.
Sekian lama, lebih tepatnya lagi kejadian dirinya dianiaya oleh Carla, wanita cantik itu bungkam dan malam ini Ruby memanggilnya dan ingin bertemu dengannya.
Itu suatu hal yang aneh bukan?
Wanita ber dress panjang itu pun menepuk sofa kosongnya.
“Duduklah Alea.”
Alea menatap bingung, apa dia harus mengikuti keinginan wanita itu?
Ruby bangun dari duduknya dan menghampiri Alea, ditariknya lengan pelayan itu lalu menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
Ruby membawa Alea ke sofa panjang di mana ada sebuah jendela besar yang memperlihatkan tebing curam.
“Sebenarnya ada apa kamu memanggilku?”
Ruby tersenyum lebar dan duduk di tempat di mana tadi dia duduk setelah Alea datang.
“Aku hanya ingin melukismu.”
Alea mendelik menatap Ruby bingung. Jadi dia dipanggil kesini hanya ingin untuk di lukis?
“Apa kamu keberatan?” tanya Ruby.
Alea diam. “Kalau kamu keberatan aku tidak akan memaksamu,” kata Ruby menurunkan kembali kuas yang di pegangnya.
Alea pandangi sejenak Ruby yang nampak bersemangat ingin melukisnya.
“Lakukanlah,” ucap Alea dengan satu tarikan nafas.
Ruby tersenyum lebar. Wanita itu pun bersemangat untuk melukis pelayan tersebut.
Alea pandangi sudut ruangan kamar wanita kesayangan Evans Colliettie.
Ya, yang Alea dengar seperti itu, Evans memanggil salah satu wanita jallang nya dengan panggilan sayang.
Alea cemburu?
Tentu jawabanya tidak. Sama sekali tidak cemburu karena tidak ada sedikit hatipun pada pria menakutkan itu. Hati Alea saat ini bukan masih tetap…
Sepi, setelah Mike Shander membuatnya menjadi seperti ini.
‘Ternyata Ruby punya bakat selain menjadi wanita jallang Evans Colliettie.
‘Dari sudut ruangan ke sudut lainya semua kamar dipenuhi oleh banyaknya lukisan. Itu di lukis oleh Ruby bukan?’ batin Alea.
Bola mata Alea menajam ketika dia tersadar kalau dari banyaknya lukisan di dinding kamarnya itu memperlihatkan melihat siluet sosok pria membawa setangkai bunga di tangannya.
‘Itu Evans Colliettie?’ batin Alea.
Satu persatu Alea tatap dengan lekat dan semua lukisan yang ada di sana semua Evans Colliettie yang bisa Alea tangkap.
‘Ya, lukisan yang dibuat Ruby itu Evans Colliettie. Wanita itu mencintai Evans,’ batin Alea.
Alea menarik napas pelan lalu memalingkan wajahnya untuk menatap wanita cantik tersebut.
Alea bergumam di dalam hati menilai Ruby yang begitu menggilai Evans Colliettie hingga wanita itu mau menjadi wanita jallang asa tetap bersama dengan Evans. Alea jadi tahu selain wanita itu menghangatkan ranjang tuannya, dia pun punya bakat terpedam.
“Apa kamu tidak ada model selain aku?”
Ruby tersenyum setelah menoleh. “Kenapa harus aku yang jadi model kamu lukis?”
Ruby membuang napas pelan. “Tidak ada alasan, aku hanya ingin saja melukismu.”
Wanita cantik itu bangun dari duduknya.
“Tolong, ambilah posisi senyaman mungkin karena aku ingin hasil yang memuaskan.”
Alea menghela nafas panjang, mengikuti instruksi wanita itu. Dia duduk dengan nyaman dan pandangi langit malam.
Ruby menunjuk dirinya. “Ambilah posisi senyaman mungkin ketika aku akan melukismu.”
“Astaga, jangan seperti aku. Aku tidak mau melukismu dari samping.
“Aku ingin melukismu dari depan karena ku ingin melihat emosi yang ada di matamu melalui lukisan yang akan aku buat ini.”
“Ya ampun kamu begitu ribet sekali.”
Ruby berikan senyuman. “Pikirkanlah seseorang yang kamu benci atau orang yang kamu cintai?”
Alea mendengus pelan. “Kamu banyak mau nya Ruby.”
“Ruby…”
“Ya, Alea….”
“Aku lihat dari semua lukisan yang kamu pajang di dinding dan di bawah sana.
“Kamu pantas menjadi pelukis terkenal bukan menjadi wanita jallang Evans Colliettie yang dikurung di sangkar emas.”
“Aku sama sekali tidak ingin jadi terkenal Alea. Aku lebih suka di sini sekalipun aku dikurung di sangkar emas mafia kejam,” kata Ruby diiringi senyuman manis.
“Apa kamu benar-benar jatuh cinta pada tuan?”
Wanita berambut pirang itu kembali berikan senyuman lebar.
“Apa tuan sudah kembali?”
Bukan menjawab pertanyaan Alea, tetapi dia mengalihkan pembicaraan yang menurut Ruby itu sangat privasi.
Alea tersenyum miring. “Jadi kamu menginterupsi ku hanya untuk mengintrogasiku, kemana tuan pergi dan kembali?”
Wanita itu kembali tidak menjawab, pandangan Ruby terfokus menatap Alea.
“Dia sudah pulang tadi malam setelah seminggu lebih ini dia pergi.”
“Kemana?”
“Tanyakan saja sendiri karena aku tidak tahu dia pergi kemana.
Ruby kembali melirik ke samping. “Bukanya kamu harus tahu ya, kemana tuanmu itu pergi?”
“Aku bukanlah Mika yang setia mengikuti tuanmu pergi kemana-mana.
“Apa perlu aku harus mengingatkan lagi padamu kalau posisiku disini hanya seorang pelayan, bukan istrinya!”
Ruby menghentikan gerak tangannya dengan mata pandangi Alea.
“Apa kamu kini berharap begitu?”
“Berharap apa?”
“Menjadi istri tuan? Evans Colliettie mafia yang ditakuti seantero Italia?”
Alea tertawa renyah mendengarkan perkataan Ruby, sementara wanita itu tersenyum kecup di mana Alea kembali menatapnya.
“Ck! berkhayal pun rasanya aku tidak sudi.”
Alea menjeda sejenak perkataan. “Aku tidak sekuat itu untuk berdiri di samping pria yang selalu berjalan dalam kegelapan.
“Sama sekali aku tidak pantas untuk mafia kejam itu. Kamu lah yang pantas bersanding dengan pria menakutkan itu karena selama ini kamu bisa bertahan dengan semua sikap dan dinginnya tuan.”
Ruby kembali melanjutkan kedua tangannya dan terfokus pada kertas canva di depannya.
“Aku tahu kamu mencintai pria itu. See—”
Alea menunjukan semua lukisan di mana pria itu Alea yakin Evans.
“Dari semua lukisan kamu di sini, 99% lukisan tuanmu bahkan kamu lebih suka berada di sampingnya sekalipun kamu menjadi pemuasnya saja.”
Ruby kembali tersenyum yang entah keberapa kalinya mala mini, tetapi perkataan Alea tidak dipungkiri kalau itu adalah benar.
Ruby mencintai Evans sang mafia kejam seantero Italia.
Ketukan pintu itu pun membuat Ruby dan Alea saling bersitatap. Alea takut kalau Mika atau siapapun melihatnya di sini.
“Tenanglah. Itu tidak mungkin orang lain,” kata Ruby menengkan Alea yang sudah berdiri dari duduknya.
“Siapa?”
“Ini aku Ruby,” jawab seseorang yang langsung membuat Ruby mengusap dada lega, tetapi tidak dengan Alea yang kenal dengan suara itu.
“Masuklah,” jawab Ruby.
Seseorang itu pun muncul di balik pintu dengan membawa beberapa buku.
Anehnya, seseorang yang tidak lain wanita itu sama sekali tidak terlihat terkejut ketika melihat adanya Alea di dalam kamar Ruby.
Wanita itu begitu saja duduk di single sofa dan tidak mempedulikan bagaimana ekspresi Alea yang terkejut ketika melihat wanita itu yang ternyata dekat dengan Ruby.
“Kamu?”
Wanita itu tersenyum lebar. “Ya. Aku, kenapa kamu seperti melihat hantu Alea?”
Yuk, bantu koment, Like dan hadiah sekebon buat thor. Terima kasih banyak sebelumnya.