
“Masalahnya di sini, diantara kalian. Siaplah yang sudah membunuh Carla?”
“Bagaimana Tuan bisa menuduh kami yang membunuh Carla?
"Sekalipun wanita itu sangat menyebalkan dan kami memang membencinya, tetapi kami tidak mungkin membunuh dia!”
“Sekalipun terbunuhnya Carla menguntungkan kalian di sini?”
“Ya. Tapi kami tidak mungkin membunuhnya, Tuan!” hardik Juliana.
“Seharusnya Tuan bertanya pada wanita itu,” tunjuk Ariana pada Alea.
“Pelayan itulah yang menemukan lebih dulu mayat Carla.
"Jelas bukan kalau motif pembunuhan ini karena balas dendam atas sikap Carla selama ini?” lanjut Ariana seraya menunjuk pada Alea lagi.
Alea hanya diam, dengan tangan yang terkepal. Dua wanita itu terus menyudutkannya yang membunuh Carla.
Alea menundukan kembali pandangannya tanpa malas menjawab, sekalipun dia menjawab tentunya pembelaan dirinya tidak akan didengar.
“Jadi kau yang membunuh Carla di sini, Alea?”
Evans bertanya pada wanita yang sejak tadi hanya diam.
Alea mengangkat wajahnya dan pandangi punggung pria itu, ingin sekali dia membantah tuduhan Juliana dan Ariana.
Tetapi, kenapa bibirnya begitu malas untuk membela diri.
“Ck! Tidak mungkin Alea membunuh Carla.”
Bryan angkat bicara, dia mendekat dan memberikan tea hangat untuk Alea.
Pembelaan Bryan membuat semua orang otomatis tertuju pada pria itu.
“Bagaimana anda bisa begitu yakin kalau Alea yang membunuh Carla, bahkan membunuh seekor lalat pun wanita itu tidak tega!”
Bryan mengusap telapak tangan Alea yang begitu dingin, pria itu berikan senyum semangat agar wanita malang itu tidak tegang dituduh sana sini.
“Kamu pasti ketakutanku.”
Alea diam seraya menatap Bryan dengan mata basah.
“Dimanalah aku membuatkanmu teh hijau, ini membantu agar pikiran dan tubuhmu rileks.”
“Minumlah,” ucap Bryan lagi.
Pandangan Alea turun dan menatap secangkir gelas yang diberikan Bryan.
“Terima kasih, Bry.”
Bryan berikan senyuman manisnya seraya menghapus air mata Alea yang berjatuhan.
“Aku percaya sama kamu, kalau kamu tidak akan membunuh Carla.”
Alea mengangguk pelan, kemudian dia menghisap pelan teh hijau yang masih panas.
“Apa perasaanmu sudah lebih baik, hmm?” tanya Bryan seraya mengusap puncak kepala Alea.
“Terima kasih, Bry,” jawab Alea yang diiringi senyuman lembut.
Sesaat, Alea menoleh ke samping di mana. Tak sengaja kedua matanya menangkap Evans yang kini tengah menatapnya tajam.
Alea bungkam dan kembali mengalihkan pandangannya.
Tatapan yang menghunus itu seolah ingin mencongkel dua bola matanya, entah apa maksudnya. Alea hanya bisa diam dan tidak ingin melihat Evans lagi.
“Kamu sudah buta, Bryan. Apa-apa pasti kamu membela wanita itu. Sudah jelas kalau wanita itu yang sudah membunuh Carla.”
“Apa kamu ada bukti menuduh Alea yang membunuh Carla, hmm?” balas Bryan yang diiringi tatapan tajam pada Ariana.
“Ck! Kau sok melindungi wanita yang teraniaya di sini. Wajah polosnya itu bukalah malaikat tetapi iblis.
"Dia memasang wajah sedih karena dia ingin dibela dan di percaya sama semua orang. Jangan tertipu oleh wajahnya yang polos, karena dia pandai melabui orang-orang di sini.
"Dia bisa menusukmu suatu waktu dari belakang seperti apa yang sudah dia lakukan pada Carla,” ungkap Juliana panjang lebar.
Wanita itu begitu frontal mengutarakan kebenciannya.
“Aku membunuhnya. Tolong jangan menuduh aku terus!” Alea membantah semua perkataan Ariana dan Juliana. Dia sudah tidak tahan lagi.
“Sekalipun dia membenciku dan melalukakku semena-mena. Tetapi, aku tidak mungkin membunuh orang,” kata Alea mencoba membela diri.
“Apa kalian berdua bisa hentikan?” Kelly yang jengah pun angkat bicara.
“Apa kalian punya bukti dan begitu yakin kalau Alea yang sudah membunuh Carla sekalipun dia yang pertama kali menemukan mayat wanita sombong itu.”
Kelly bukan membela Alea, dia hanya berpikir saja kalau mungkin saja wanita itu bunuh diri atau apakah, bisa jadi bukan.
“Hey, kamu. Kenapa kini kamu bela dia, hah?”
Juliana tak terima kalau temannya itu kini berpihak pada Alea.
“Apa kaulah yang yang membunuh Carla?”
Bola mata Kelly membulat lebar. “Aku?” tunjuk Kelly pada hidungnya sendiri.
“Ck! Kalau aku mau sudah lebih dulu aku membunuhnya tidak usah hari ini juga.”
“Mungkin saja kau butuh kambing hitam, Kell,” desis Ariana yang diangguakan Juliana.
Situasi kembali memanas di ruangan tersebut, para wanita jallang itu saling menuding satu sama lain dan ada juga yang membela Alea.
Sang empu hanya diam memandangi para wanita jallangnya yang saling menyalahkan disini, masing-masing mereka memberikan alibi akan kematian Carla.
“Rupanya tidak ada yang mengaku juga ya,” decak Evans membuat semua wanita jallang yang berdebat itu langsung bungkam.
“Kita akan mengetahui sebentar lagi setelah Mika selesai memeriksa cctv untuk mencari pelaku yang sebenarnya.
"Tunggulah, siapapun pelaku yang sudah mengotori mansionku dengan tindakan memalukan ini. Aku akan menghukumnya dengan berat!” kata Evans seraya penuh penekanan.
Semua orang yang berada di dalam sana langsung bungkam. Tidak lama sosok yang ditunggu pun datang. Mika membawa seseorang dengan menyeret paksa orang tersebut.
Seorang pria muda berprofesi penjaga langsung dibawa ke hadapan Evans untuk menghadapnya langsung.
“Aku tidak melakukan apa-apa. Tolong percaya lah,” katanya seraya menundukan kepala.
Mika yang masih menggenggam pakain pengawal muda tersebut, dan menarik rambutnya si pria agar menatap Evans.
“Semua cctv rusak Tuan. Saya tidak bisa melacak terakhir kali kejadian. Bobby yang bertanggung jawab atas shift malam pun mengakui tidak tahu kenapa bisa seperti itu!"
“Apahh?”
“Rusak?!” seru Evans pandangi dua orang yang menghadap.
“Apa kau yang sengaja merusaknya, hmm?”
“Tidak Tuan.”
Pria muda itu terlihat bergetar, ketakutan.
“Saya tidak melakukanya. Saya juga tidak tahu kenapa bisa—“
Bug!
Alea terbelalak seraya menutup rapat mulutnya. Mika mendorong pria muda itu hingga terhempas tepat di depan kaki Evans. Pria itu bersimpuh di depan Evans untuk meminta belas kasih.
“Jadi, cctv itu rusak sendiri begitu, maksudmu?”
Bug!
Evans menghantam tumitnya tepat mengenai punggung pria itu, hingga pria itu kembali tersungkur di lantai. Darah keluar dari mulut dan juga hidung si pria muda tersebut.
Tidak cukup, Evans pun kembali menginjak kepala pria muda itu dengan kuat untuk dijadikan pijakan kakinya.
“Siapa yang merusak cctvnya hah?”
“Sa-ya ti-dak tahu Tuan,” ucapnya terbata.
Evans menginjak kepalanya lebih kencang lagi hingga pria itu merintih kesakitan. Pria itu sudah tidak berdaya lagi
Alea tidak bisa, dia tidak bisa melihat kekejaman Evans. Hati ingin menolong pria muda itu, tetapi lagi lagi Berta berikan gelengan pelan padanya agar tidak ikut campur.
Yang bisa Alea lakukan, dia hanya mengepalkan kedua tangannya dan memalingkan wajahnya tidak ingin melihat kekejaman Evans di depan matanya.
Alea tersentak kaget, lalu pandangannya ke samping. Bryan menggenggam erat tangan Alea yang terkepal yang diiringi senyuman hangat.
“Diamlah dan jangan ikut campur,” kata Bryan pelan.
Alea mengangguk pelan, melihat sikap baik Bryan. Alea merasa aman sekalipun hatinya ragu pada pria yang duduk di sampingnya itu.
“Katakan kenapa cctv itu bisa rusak?”