Mafia And Me

Mafia And Me
Perasaan Apa Ini?



Romeo mengindap-indap untuk turun ke ruang bawah tanah dengan kedua tanganya penuh membawa beberapa botol minuman.


Setidaknya hanya ini yang Romeo bisa berikan kepada Alea dan juga Bryan.


Alea berteriak melihat kedatangan Romeo di depan sana, meminta pertolongan kepada Romeo untuk mengeluarkan dirinya dari kandang ular pyton.


“Paman…tolong aku…aku takut paman…uwek…uwekk!!!” pinta Alea merasa mual.


Alea tidak tahan akan ular di dekatnya yang mana ular-ular itu mendekatnya.


Tubuhnya bereaksi, tidak bisa menahan rasa mual itu yang akhirnya Alea memuntahkan cairan bening, hanya air saja yang Alea keluarkan karena sepagi ini Alea belum makan apa-apa.


Romeo menghampiri Alea, mengusap lembut rambut panjangnya agar bisa menangkan Alea yang ketakutan.


“Kau harus bersikap tenang Alea dan jangan panik mereka tidak akan memakanmu mereka jinak Alea." Romeo menengkan.


"Aku takut paman...tolong aku!"


"Maafkan aku Alea. Aku tidak bisa menolongmu, dengarkan aku Ale.


"Kau simpan botol minuman ini dengan baik karena Tuan tidak mengizinkan kami memberi kalian makan,” ucap Romeo memberikan masing-masing dua buah botol air minuman kepada Bryan dan Alea.


"Alea kau paham kan? Maafkan aku Alea, sungguh aku tidak bisa menolongmu,aku pergi Alea."


Setalah Romeo mengucap kata maaf, pria paru baya itu meninggalkan keduanya karena tidak ada yang di perbolehkan untuk berada di ruang bawah tanah.


"Benar Alea, apa yang dibilang Romoe, kamu harus tenang," ucap Bryan di depan sana.


Namun Alea tak menjawab perkataan Bryan.


"Alea apa kau masih bisa mendengarku?" tanya Bryan dengan nada keras.


"Iyah Bryan!" suara Alea terdengar lemah namun air matanya masih mengalir di pipinya.


Alea menutup bibirnya rapat-rapat mencoba tak menangis. Tetapi ia selalu gagal, akan ketakutan yang sejadi-jadinya melihat ular-ular itu yang kini berada di kakinya.


Merasa sesuatu yang berdenyut nyeri, dengan perlahan Alea meraba perutnya dan mendapati cairan merah yang keluar dari bajunya, darah segar mulai membasahi pakaianya.


Alea menekan dalam agar bau darah ini tak menyebar dan ketakutanya akan semakin melanda.


Semalaman Bryan memanggil Alea, berteriak kencang memanggil wanita malang itu yang sama sekali tidak menyahut panggilanya.


Bryan di depannya pun hanya bisa melihat punggung Alea yang duduk menyandarkan tubuhnya di dekat kaca.


Entah Aleapingsan atau apa di depan sana, Bryan tidak tahu. Ia cemas, bahkan Bryan terlihat panik setengah mati akan Alea yang tidak ada pergerakan sama sekali.


“Ale…please Ale jawab Aku Ale?” teriak Bryan kembali di depan sel depannya.


Berta menangis di pelukan Antony, bahkan wanita kejam itu kini bisa menangis dan bukan menangisi anaknya yang berada di dalam sel itu.


Tetapi Berta menangisi Alea di dalam sana yang di kurung bersama dengan keempat ular kesayangan Tuan Evans.


“Kenapa bukan Bryan saja yang di kurung di kandang ular itu!” gumam Berta, kepada ketiga pria di depan sana yang duduk setelah menyelesaikan tugasnya.


Antony menghela, secemaskan inikah istrinya kepada wanita malang itu?


Padahal tidak ada ikatan darah di antara mereka, tetapi kenapa Berta secemas ini dan sangat mengkhawatirkan akan anak yang jelas-jelas bukan darah dagingnya.


“Sepertinya Tuan sengaja mengurung Alea di dalam kandang itu, karena bodohnya Aku mengatakan jika Alea pobia dengan ular.


"Mungkin saja Tuan sengaja melakukan itu!” ungkap Romeo dengan wajah pilu.


“Romeo berikanlah makanan ini kepada mereka!” pinta Berta.


“Aku tidak bisa ke sana Berta, karena saat ini ruangan bawah tanah dijaga oleh pengawal Tuan. Aku tidak diperbolehkan masuk ke sana, walau sekedar memberikan makana kepada ular-ular itu."


Berta lemas mendengarkan ucapan Romeo.


“Sampai kapan Tuan akan mengurung wanita itu di dalam kandang anak-anak Tuan?


"Alea pobia ular, mungkin di bawah sana wantia itu sudah pingsan, atau mati mendadak karena ketakut!”


Brugg!!!


Suara gebrakan meja yang terdengar menggema membuat Mika di depanya pun ikut terkejut.


“Kau jangan ikut campur urusanku, Mika! Kau cukup diam dan jalankan perintahku!” gumam Evans pergi dari ruangan kerjanya.


***


Sudah dua malam Alea dan Byan dikurung di ruang bawah tanah, tampa minum dan makan.


Entah bagaiman keadaan Alea dan Bryan saat ini, mereka pun tak tahu.


Berta mengkhawatirkan anak dan wanita malang itu, walau Berta yakin jika Bryan pasti bisa bertahan di bawah sana.


Tetapi apa wanita malang itu bisa? Dikurung bersama dengan ular kesayangan Tuannya itu walau ular-ular itu jinak.


Jika wanita malang itu tidak pobia dengan ular, pasti Berta tidak akan secemas ini, bahkan dirinya kurang tidur hanya memikirkan Alea di bawah sana.


“Sudahlah Berta kau jangan bersedih seperti itu! Kita berdoa saja untuk mereka berdua di bawah sana?” pinta Antony mengusap punggung istrinya.


“Apa Tuhan akan mendengarkan doaku? Wanita jahat sepertiku Antony?” lirik Berta mengusap air matanya.


Antony memeluk istrinya dekat, membawa tubuh wanita yang sudah terlihat tua dan beruban ke dalam pelukanya.


“Setidaknya kau mencobanya Berta. Agar Tuhan melihat ketulusan kau berdoa!”


***


Ia ingin memastikan jika kedua orang di bawah sel nya itu mau mengakui kesalahnya, karena merusak mawar hitamnya.


Matikah atau masih hidup? Evans penasaran.


Dari kejauhan Evans menuruni anak tangga bersama dengan para pengawalnya, ia melihat Bryan yang tampak biasa-biasa saja, walau wajahnya terlihat kucel.


Lalu arah Evans kini menghampiri wanita bodoh yang ia kurung bersama dengan anak-anaknya, yang terlihat duduk membelakanginya.


Terlihat kedua kakinya yang di lurus, terlihat ada Anabell yang berada di atas kakinya. Rambutnya yang acak-acakan wanita itu terlihat diam dan tidak mendengar kedatanganya.


"Apa kamu sudah cukup senang bermain dengan anak-anak kesayanganku hmm?" tanyan Evans di depan sana.


Alea di depan sana pun tidak menjawab, bahkan Evans pun tidak mendengar reaksi wanita bodoh itu sama sekali, dan tidak ada pergerakan di depan sana.


“Tuan sudah dua malam ini Alea tak menjawab panggilanku Tuan, tolonglah dia,” pinta Bryan yang berdiri di tiang besi.


Evans mengintruksikan pengawalnya untuk membuka kandang anak-anaknya.


Dan tidak lama pintu itu pun terbuka, Ia masuk ke dalam sana dan melihat keadaan Alea yang mengenaskan wajahnya sanga pucat.


Tubuhnya pun dingin dan wanita bodoh itu terlihat tidak sadarkan diri. Evans memegang erat nadinya.


Alea masih hidup dengan nadinya yang terasa lemah, itu pun setelah Evans mengulangi menekannya kembali.


Diliriknya tangan kirinya yang sejak tadi Evans lihat, tangan itu berada di perutnya dengan bercak merah.


Dibukanya oleh Evans untuk mengurangi rasa penasaranya dan benar Evans menemukan bekas darah yang mengering di pergelangan tanganya.


Entah ada angin apa, Evans menggendong Alea yang tidak sadarkan diri dengan tergesa-gesa menaiki anak tangga.


Evans berlarian menuju ruangan perawatan dengan manik mata tajamnya melihat sebuah batu yang terdapat darah di dekat ular kesayanganya.


Evans berlari dengan berpikir akan wanita bodoh itu yang kemungkin bunuh diri.


‘Ahh tidak mungkin wanita itu bunuh diri. Pasti ini kesalahan anak buahku.


'Mungkin melemparkan wanita bodoh ini dengan keras sehingga perutnya terbentur membuat luka di perutnya terluka.'


Mika yang sama berlari mengejar Tuanya pun merasa aneh kepada Tuannya saat ini.


Wajah kejam itu berubah sendu ketika melihat keadaan wanita yang selalu dianggapnya bodoh.


“Perasaan apa ini?” lirih Mika di dalam hati.


Iia pun menatap Tuannya yang meletakan tubuh kurus wanita bodoh itu dengan perlahan. Wajah tampan yang kejam itu kini berubah seketika dengan kecemasan terhadap wanita bodoh itu.


“Apa Tuan sudah jatuh cinta?” batin Mika bertanya-tanya heran.


Dokter memeriksa keadaan wanita itu, memberikan infusan dan obat-obatan untuk masuk ke dalam tubuh wanita yang terbujur lemah tidak sadarkan diri.


"Luka jahitanya terlepas, dan dia banyak kehilangan darah, kita membutuhkan darah saat ini,” ucap dokter menjelaskan pada Mika.


Mika terdiam melihat wajah Alea yang terlihat pucat.


Seharusnya ia menemuinya saat wanita bodoh itu berada di kandang anak-anaknya Tuan.


Tetapi apa daya Mika pecundang yang takut akan kemarahan Tuannya, karena wanita sedingin es itu perlahan mencair akan kedatangan wanita bodoh seperti Alea.


Semua orang dikumpulkan untuk mencari golong darah yang cocok dengan darah milik Alea.


Semenjak Tuannya mengantarkan ke ruangan perawatan, pria jelmaan devil itu, lalu pergi dari ruangan itu dan mungkin kembali ke ruangan kerjanya atau ke ruang pribadinya.


Mika panik dan sangat cemas karena ia tidak berhasil mendapatkan darah yang cocok dengan wanita bodoh itu.


Berta yang mengikuti donor darah pun tidak bisa mendonorkan karena tidak cocok.


Hingga wanita dingin seperti Mika yang orang katakan tidak mempunya hati. Tetapi wanita itu memberanikan diri untuk mendonorkan darahnya untuk menolong wanita bodoh itu dan lagi lagi tidak cocok.


“Apa yang mau kau sampaikan kepadaku?” tanya Evans dengan jemarinya yang mengetuk meja kerjanya.


“Kita butuh darah untuk menolong wanita bodoh itu!”


Mika menghela bertatapan dengan wajah Evans yang sudah datar kembali. Seperti tidak tersentuh akan keadaan Alea saat ini.


“Ada beberapa orang yang cocok dengan darah Alea. Tetapi mereka tidak bisa mendonorkan karena keadaan orang itu sedang terpengaruh alcohol, dan wanita itu akan mati jika tidak ditolong!” ujar Mika.


Evans terdiam dengan pikiranya. Bahkan raut wajahnya kini terlihat menakutkan lebih dari biasanya, membuat Mika heran akan sikap Tuannya saat ini.


“Biarkan dia menjemput ajalnya sendiri!”


Evans menjawab santai tidak ada ekspresi di wajahnya.


Mika mendongkak sebelum pergi dari hadapan Tuan dengan sedikit terkejut akan prilaku Tuannya yang terlihat tidak penduli seperti itu.


Lalu kenapa tadi Tuannya menolong wanita bodoh itu?


Heran!


“Astaga aku tidak percaya semua ini,” gumam Mika mendengus nafas kasar di belakang pintu ruang kerjanya.


“Maafkan aku yang tidak bisa menolongmu Alea."


Bersambung...