Mafia And Me

Mafia And Me
Kesakitan!



“Apa orang itu salah satu orang yang sudah menerorku?” batin Alea.


Alea menyipitkan kedua mata, ketika bertemu jalan yang berbelok belok tetapi dia tetap waspada seraya menahan rasa sakit yang mulai menyebar.


Mendadak langkahnya berhenti ketika dia melihat sisi kanan dan kirinya dimana sepanjang jalan itu dihiasi tanaman hias yang terlihat rimbun.


Alea sudah jauh dari bangunan utama mansion tersebut dan entah akan kemana orang itu pergi.


Bola mata Alea membulat lebar, otaknya masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depannya.


Ini tempat yang paling indah yang pernah dia lihat selama ini, tatanan taman berbagai warna bunga terlihat begitu menyakitkan matanya.


Alea melihat semua jenis mawar beraneka warna dan tidak luput sosok mawar kesayangan pun tumbuh di sana.


“Ini seperti kapel.” Alea menatap sejenak tebing yang curam di mana deburan ombak terdengar memecahkan keheningan malam begitu jelas.


Alea tidak tahu kalau Evans mempunya tempat seindah ini yang jauh dari mansion utamanya dan pavilion lainya.


Alea melirik di mana jubah hitam itu masuk. Wanita itu tersadar dengan tujuannya yang mengikuti orang tersebut.


Dia pun, lekas mengikuti menuruni anak tangga yang cukup curam.


Alea berjalan hati-hati, bila sedikit saja dia terpeleset atau terjatuh maka sudah dipastikan akan beda alam.


“Tempat apa ini?” batin Alea, ketika dia sudah tiba di sebuah bangunan.


Alea masuk dengan perlahan dan tak henti kedua matanya membulat ketika melihat dimana kini dia berada.


Prank!


Suara pecahan itu membuat Alea tersadar dari lamunannya, dia bergerak cepat dan hati-hati melangkah agar orang itu tidak tahu dengan keberadaanya.


“Aku datang…”


Alea mengerjapkan mata, seraya berhenti di bagian terujung ruangan.


Dia berdiri membeku di balik rak usang itu di mana di tempat Alea berdiri tidak jauh dari sosok orang yang berdiri menatap sebuah figura besar.


“Sayang sekali, aku tidak bisa melihat siapa yang ditatap orang itu,” gumam Alea dalam hati.


Rasa penasarannya semakin mencuat akan siapa sosok yang di dalam figura yang di tutupi oleh kain hitam di depannya.


“Apa kau belum puas menyiksaku seperti ini hah?! Padahal kau sudah mati!”


Orang itu berdiri dengan tubuh yang sempoyongan dengan botol wine yang dia pegang.


“Evans,” batin Alea seraya menutup mulutnya.


Botol wine yang dibawakan dan juga kepalan tangan itu Alea tahu bahkan suaranya pun sudah tidak asing lagi baginya.


Berbicara sendiri?


“Apa sebenarnya yang dia sembunyikan?” batin Alea bertanya.


“Jika kau sudah pergi. Tinggalkan saja aku di sini!”


Prank!


Evans melemparkan botol wine yang dipegang ke arah pigura tersebut.


“Jangan pernah kau menggangguku lagi. Sama sekali aku tidak peduli dengan semua rasa penyesalanmu. AKU TIDAK PEDULI!” teriak Evans.


“AKU TIDAK PEDULI SEKALIPUN KAU MENANGIS DI DEPANKU. AKU TIDAK PEDULI!”


“AKU TIDAK PEDULI LAGI DENGANMU SEKALIPUN KAU PERNAH ADA DI DALAM HIDUPKU!” teriak Evans keras.


Pria itu tersenyum miring dengan mata menyorot ke depan, sekalipun kain itu tertutup. Tetapi dia tahu bagaimana wajah di dalamnya.


“Aku—”


Evans menarik napas sejenak. “Aku berkunjung kesini karena hanya ingin menyapamu. Kalau ini adalah hari kematianmu.


“Aku harap sampai di sini dan jangan pernah kau ganggu pikiranku, lagi. Camkan itu!” serunya lagi.


Entah apa yang terjadi, namun ini lebih menakutkan bagi Alea. Jantung berdetak sangat cepat. Sungguh ini gila kenapa dia berada di sini dan mengikuti pria itu.


Entah apa tawa keras Evans di depan pigura itu. namun, yang bisa Alea rasakan. KESAKITAN.


Teriakan keras itu seolah perasaan yang selama ini disembunyikan jauh-jauh dari kesedihan yang pria itu alami.


Tubuh Alea bergetar hebat, dia mematung di sana tak sanggup lagi mendengarkan perkataan itu yang terdengar menyakitkan sekalipun dia sendiri tidak tahu cerita dibalik pigura yang selalu Evans tatap itu.


Pria itu berbalik pergi meninggalkan tempat tersebut, Alea masih berdiri di sana sampai suara langkah kaki itu sudah menjauh dan tidak terdengar lagi.


Alea penasaran akan siapa di balik kain hitam tersebut. Dia berjalan mendekat hingga dia berada di samping sofa uang yang tadi Evans duduki.


Pandangan Alea turun kebawah dimana kedua matanya menangkap pecahan botol yang berserahkan di mana-mana.


 Tidak hanya itu, begitu banyaknya kado yang rusak dan masih utuh. Beberapa buket bunga mawar yang mati dan mengering pun terlihat di sana.


“Sebenarnya siapa yang kau maki di depanmu ini, Evans?” gumam Alea pelan.


Sebelah tangannya terulur untuk membuka kain hitam tersebut, setelah apa yang dia lihat. Bola mata Alea membulat lebar ketika melihat sosok wanita cantik yang tengah tersenyum membawa buket berwarna merah.


“Siapa dia?”


“Mmmpphh…”