Mafia And Me

Mafia And Me
Broken Black Rose



Happy Reading :)


“Ale?” panggil Bryan pelan di depan pintu ruanganya.


Alea mendengar suara itu dan sedikit ia berdeham agar Bryana di luar sana mengetahui jika ia akan segera keluar.


Alea mengindap-indap keluar ruanganya bersama dengan Bryan yang sudah menunggunya di depan pintunya. Berjalan perlahan-lahan dengan keduanya bertingkah seperti pencuri di mansion megah milik Mafia terkejam seantero Italy.


Seperti mempunyai stock nyawa seperti kucing, Alea bersikeras nekat untuk ke tebing itu dan tidak memikirkan konsekuensi melanggar peraturan yang sudah ditegakan oleh Evans Colliettie.


Kini keduanya sampai di tebing tersebut. Sebuah tebing yang sering Tuannya membuang mayat di sana.


Bryan berdiri di samping pintu besi, untuk mengawasi sekitarnya dan sedangkan Alea sudah berdiri di depan tebing yang mana mayat Gina berada di bawah sana.


Dengan setangkai bunga mawar hitam yang Alae genggam. Alea menatap gelapnya malam dengan angin kencang yang menerjang tubuh kecilnya berada di dekat sana.


Seandainya waktu bisa di putar kembali, Alea memohon tidak ingin Gina datang ke mansion itu untuk memaksa membawanya dari neraka. Karena devil seperti Evans tidak akan melepaskan dirinya begitu saja.


Apa lagi Gina datang seorang diri seperti mengantar nyawanya sendiri dengan kebodohanya menjemput paksa di dalam neraka, yang akhirnya Gina mati sia-sia karena sudah berurusan dengan mafia seperti Evans Colliettie.


‘Sendainya waktu aku bisa mencegahmu Gina, kau tidak akan mati sia-sia seperti ini! Karena devil seperti Evans Colliettie,


"tidak akan melepaskanku semudah itu dan devil itu tidak akan pernah menghentikan apa keinginanya dan kemauanmu yang bersitekad untuk mengambilku dari tangan Evans yang mana kau akan menjualku kembali kepada sesorang yang sama kejamnya! Kenapa kau begitu tega padaku?”


'Sebenarnya apa salahku padamu Gina? Sehingga kau amat sangat membenciku Gina?’


Alea menghela napas dalam, mengingat semua tentang Gina sungguh sesak di dadanya, akan kelakuanya, akan tingkah Gina dan Mike yang amat menjijikan di mata Alea.


“Aku memaafkan semua kesalahanmu Gina!”


Kedua matanya yang basah mengingat semua kenangan akan Gina, dirinya dan Mike. Alea merasa kembali mengingat akan penghinatan Mike kapadanya, berselingkuh dengan Gina. Dan anak itu? Alea tidak tahu anak siapa.


“Aku meminta maaf Gina. Maafkanku jika selama ini Mike tidak pernah melakukanmu dengan baik. Maafkan Aku dan juga Mike!


"Aku tidak menaruh dendam sedikitpun kepadamu walau kau sudah menjualku dan membuatku terpenjara di dalam neraka ini. Aku memaafkanmu Gina.”


Alea menyusut air matanya dengan ibu jarinya dan Bryan di sana sudah sangat cemas karena Alea begitu lama di depan sana.


“Ale?”


Bryan di belakang sana mengumpat kesal. Karena sudah hampir sejam wanita itu berdiri di depan tebing yang gelap yang hanya diterangi oleh cahaya yang terlihat remang-remang.


Bryan terlihat takut, dan frustrasi akan wanita malang itu, yang entah sedang apa berdiri di depan sana. Ini pertama kali Bryan melakukan kesalahan dengan melanggar peraturan Evans Colliettie.


“Ale…lekaslah! Karena Tuan Evans sebentar lagi akan pulang. Tuan tidak pernah terlambat untuk pulang ke rumahnya," ucap Bryan pelan mengingatkan Alea di depan sana masih betah berdiri di kegelapan.


Ale bergeming mengabaikan Bryan yang sudah mengamatinya untuk segera pergi dari tebing itu.


‘Sebenanrya apa yang sedang Ale lakukan di depan sana? apa ia tidak takut jatuh?’ batin Bryan.


“Ale??” panggil Bryan kembali.


Karena peringatan pertama kepada Ale tidak di dengar oleh wanita itu.


“Iyah Bryan sebantar!” jawab Alea.


“Beristirahatlah dengan tenang di sana Gina,” ucap Alea melemparkan setengaki bunga mawar hitam ke dalam tebing yang terlihat gelap itu.


“Ale?”


“Iyah Bryan. Ayo kita kembali!”


***


Berta, Alea dan Antony di sibukan dengan aktifvitas ke di pagi hari, menyiapakan sarapan pagi yang setiap harinya selalu menjadi kegiatan utama.


Joe terihat kewalahan membuatkan sarapan yang biasa di santap untuk Tuannya, wanita jalangnya dan juga para pengawal.


Tangan keriput itu yang sudah terbiasa menyiapakan sarapan untuk Tuannya pun sudah hampir selesai.


Kesibukan di dapur itu yang hening kini di buka dengan obrolan prihal wanita dingin yang sudah beberapa hari ini tidak pernah nampak di dapur, atau menginjakkan kakinya ke dapur.


Tepatnya setelah peristiwa kegaduhan di ruang utama yang menjadikan Alea korban di sana, semenjak peristiwa itu Mikaela sudah tidak pernah menginjakan kakinya ke dapur.


Bahkan mengambil makan pun wanita dingin itu tidak melakukanya.


“Apa Mika sedang ditugaskan oleh Tuan sehingga tidak ada di sini?” tanya Antony yang sudah beberapa hari ini tidak jumpa dengan wanita dingin seperti Mikaela.


“Tidak tahu! Wanita dingin itu ke mana, karena aku melihat di depan kamarnya sepi-sepi saja,” sahut Joe yang bersebelahan kamar dengan wanita dingin, Mikaeal.


“Mungkin saja Mikaela sedang ditugaskan oleh Tuan!” sela Berta berpikir positif, karena sudah terbiasa Mika selalu bersikap seperti itu.


Alea di samping hanya terdiam menyimak pembicaran mereka, ia sama dengan mereka yang heran akan Mika yang tidak pernah menampakan batang hidungnya di dapur ini.


Apa lagi biasanya Mika selalu datang ke ruanganya untuk memanggil para wanita jalang. Namun semenjak peristiwa itu, Tuannya juga tidak memanggil wanita jalangnya.


Sebenarnya ada halal apa hingga Evans tidak pernah memanggil wanita jalanganya?


Bukannya setiap harinya Tuannya selalu membutuhkan kehangatan dari para kelima peliharaanya itu?


“Sudahlah, bukanya wanita dingin itu sudah biasa,” gerutu Romeo yang terlihat santai dan tak memusingkan akan ada tidak adanya wanita kejam seperti Mika.


“Kalian dipanggil semua oleh Tuan,” sela Mika yang tiba-tiba datang lewat pintu samping.


Semua orang yang berada di sana pun terkejut melihat kehadiran Mika yang sudah seperti hantu, datang tiba-tiba dan mengkagetkan semua orang.


Namun Berta, Antony, Joe dan juga Alea melihat raut wajah Mika yang bengis dengan tatapan yang berbeda. Mungkin kali ini wanita dingin itu benar-benar sedang serius memanggil semua orang.


Mereka semua berkumpul di depan taman mawar yang terlarang untuk seseorang masuk ke dalam sana.


Pagar-pagar rumput yang menjulang tinggi yang selalu menutupi taman tersebut.


Kini berdiri beberapa pengawal di beberapa pagar rumput itu. Taman telarang yang entah apa dalamnya, tidak mengizinkan siapapun untuk menginjakan kakinya ke taman itu hanya saja para tukang kebun yang khusus untuk merawat tanaman kesayanganya dan dirinya.


“Tidak biasanya Tuan mengumpulan kita di taman?” tanya Romeo yang berjalan berdampingan dengan Joe.


“Entah aku pun tidak tahu ada kenapa!”


Para pelayan yang ada sekitar dua puluh lebih itu dan para wanita jalangnya pun ikut berkumpul di taman sana, berbaris rapih di hadapan Tuannya.


“Sebenarnya ada apa Tuan Evans mengumpulkan kita di sini?”


Ariana yang berjajar di samping Juliana pun terlihat heran. Karena baru pertama kali wanita jalang itu di keluarkan dari sangkar emasnya.


“Entahlah aku tidak tahu pastinya apa. Tetapi jika dilihat dari tatapan Tuan yang menakutkan itu, sepertinya telah terjadi sesuatu!” jawab Juliana melihat raut wajah Evans yang tidak biasa.


Evans memberikan kode pada para pengawalnya untuk membuka pagar rumput yang menjulang tinggi itu. Di bukanya perlahan-lahan hingga memperlihatkan sesuatu di depan sana yang hancur dan rusak parah.


Sontak semua orang yang berjajar rapih di depan sana pun tersentak luar biasa terkejut dengan kebanyakan wanita yang menutup bibirnya rapat-rapat.


Keterkejutan semua pelayan itu terlihat jelas oleh mata elang yang siap membunuh mangsanya, semua terlihat terkejut dengan salah satu wanita di belakang sana yang tertangkap ketakutan.


‘Apa dia pelakunya?’ lirih Evans.


“Apa ada orang yang akan mengakui perbuatan siapa?” tanya Evans duduk santai di kursi kayu memegang senjata apinya yang sedang ia lap dengan kain.


“Jika di antara kalian tidak ada yang mengakui perbuatan ini. Aku akan membunuh kalian satu persatu!” tegas Evans dengan tatapan menghunus semua para pelayan di depan sana yang ketakutan.


Semua orang di depan sana terlihat ricuh akan ancaman Evans yang tidak pernah main-main.


“Anda bisa mengechek cctv?” tanya Ariana yang berbaris paling depan, ia tidak mau di bunuh akan kesalahan orang bodoh yang sudah memancing kemarahan mafia kejam seperti Evans Colliettie.


"Cih! Jika aku sudah tahu siapa orang yang merusak mawar hitamku sudah dari tadi aku membunuhnya dan tidak perlu mengumpulkan kalian semua di sini!” pekik Evans mengusap senjata apinya dengan secarik kain.


“Sayangnya pelakunya itu mematikan cctv selama satu jam lamanya dan siapa yang sudah merusak mawar hitamku itu pantas mati!”


Evans mengacungkan senjata apinya ke arah semua orang di depan sana yang ketakutan.


Alea berdiri di baris kedua pun ikut tegang dengan meremas jamarinya di bawah sana.


"Pasti dia pelakunya?!” tunjuk Carla melihat ketakutan Alea yang luar biasa.


Sejak tadi Carla melihat tingkah Alea yang mencurigakan.


“Lihatlah ini Tuan!”


Carla menarik paksa Alea ke depan sana, yang mana Evans menatap tajam pada Alea yang terlihat ketakutan. Carla menujukan jari telunjuk Alea yang terdapat luka gores.


“Lihatlah Tuan luka di telunjuk Ale? Aku yakin pasti dialah yang merusak taman mawar hitam mu!”


Evans menghampiri dengan tatapan gusar.


"Jadi kau yang sudah merusak mawar hitamku hm?" tanya Evans dengan sebelah tanganya mencengkram leher Alea.


“Bu-bukan A-ku…”


Tatapan tajam membunuh itu terus menatap manik mata hitam Alea. Cengkraman itu sangat kuat dan hampir Alea mati jika Evans tidak Evans menghempaskan cengkramanya hingga tubuh Alea tersungkur ke rumput dengan terbatuk-batuk.


Mata Berta berkaca-kaca, memajukan tubuhnya untuk bertindak setidaknya biar Berta yang mengakui perbuatan yang tidak ia perbuat, meski mati menjadi taruhanya.


Namun tangan kekar berotot itu menghalang tubuh Berta agar istrinya tidak ikut campur akan urusan Tuannya, Antony belum siap kehilangan istrinya itu.


"Terus bagiaman dengan jarimu yang terluka itu hmm?” Evans berjongkok mencengkram dagu Alea.


“Aku hanya memetik satu tangkai tidak merusak hingga seperti itu Tu-Tuan.”


“Hanya satu hmm?”


Alea mengangguk dengan kedua mata basah. Evans menghempaskan kembali tubuh kurus itu ke rumput hingga Alea setengah bangkit.


Wajah memerah seperti kobaran api yang menyala dengan sigap mendaratkan sebuah kaki yang beralas sebuah sepatu pantofel mendarat di tubuh wanita malang itu, perlahan menekan dan berat terasa.


“Bagiaman itu bukan kamu, jika bukti mengarah kepadamu?” tanya Evans dengan smirik devil di bawah sana, menekan dengan keras kaki yang berada di dada Alea, melupakan dirinya adalah perempuan.


Alea menggeleng pilu dengan tatapan sendunya.


“Dia berdusta Tuan, dan itu salah satu buktinya tangan ia terkena duri tajam akibat mawar hitam itu?” decak Carla agar Tuannya percaya kepada ucapanya.


“Dia akan terus mengelak karena dialah pelakunya!”


Dor!!!


Evans melepaskan satu pelurunya ke atas menatap tajam pada wanita jalangnya yang sejak tadi terus berbicara.


“Sekali lagi kau berbicara. Aku akan menembak kepalamu!” decak Evans.


Clara terbelalak kaget akan suara tembakan itu dan kini menutup bibirnya dan tidak akan berkata kembali.


“Kau tidak akan mengakuinya, hah?” tanya Evans kembali.


“Tidak Tuan! Tidak mungkin aku merusak mawar hitam itu, aku hanya memetik satu tangkai saja Tuan.”


"Siapa lagi kalo bukan dia pelakunya Tuan?!" pekik Carla yang langsung menutup bibirnya rapat-rapat setelah Evans langsung memantap tajam dengan mengacungkan senjatanya.


Meski begitu, Clara merasa senang dengan kedua bola matanya yang menyepit melihah ke arah Alea yang tersungkur di bawah sana apa lagi melihat Tuannya yang menginjak tubuh Alae terlihat kuat seperti itu.


Sudah di pastikan oleh Carla jika wanita berbulu domba itu tengah kesakitan di bawah sana.


"Aku bersumpah Tuan. Aku tidak merusaknya seperti itu!” derai air mata Alae yang sudah membasahi pipinya, namun mana mungkin Devil seperti Evans tersentuh akan tangisannya apa lagi membuat Devil itu luluh.


“Kau adalah kesalahan, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Kau sudah merusak mawar hitam kesayanganku dan kau pantas mati!” ucap Evans, menarik kuncian senjatanya meletakan senjata kesayangan itu tepat di kepala Alea.


“Aku tidak bersalah Tuan…”


“Tidak ada ampun bagi orang yang sudah merusak tanaman kesayangku, mawar hitam itu lebih berharga dari nyawamu!”


“Pergilah ke neraka menyusul kekasihmu dan selingkuhanya!”


Dorr!!!


Bersambung...