
Hari Hari telah berlalu, dan sangat tidak terasa hari ini adalah hari dimana genap lah sembilan bulan usia kandungan Ria. Perut nya sudah sangat membuncit seakan gunung hendak meletus.
Bumil yang satu ini tampak jengah karena baru berjalan jalan santai keliling taman belakang, ia menyeka keringat nya dengan kasar kemudian terduduk lelah di di bangku panjang yang di sediakan Edo sewaktu waktu Ria hendak bersantai.
" Huf... jalan sebentar saja sudah membuatku lelah." Gumam Ria.
" Hallo anak Mama, sehat kan di dalam sana." Ucap Ria seraya menyentuh perut buncit nya.
" Anak Mama, jika nanti kamu telah lahir.. Mama harap kelak kamu menjadi anak yang berbakti ya pada Ayah. Dan jadilah kebanggaan Ayah, jangan pernah menyusahkan Ayah mu. Tapi berikan lah ia kebahagiaan karena kemampuan yang kamu miliki. Mama akan melihat kamu dari jarak jauh, dan tetaplah jadi anak Mama meski pun nanti Ayah mu akan memilih wanita lain untuk menjadi Mama barumu. Mama ikhlas asalkan kamu bahagia maka itu juga adalah kebahagiaan Mama. Mama hanya bisa berkata sekarang ini kepadamu, karena Mama tidak punya banyak waktu untuk menghabiskan hari hari lagi dengan dirimu sayang." Ujar Ria dengan menitikkan air mata nya.
Erdo datang menghampiri Ria yang sedang termenung dengan air mata yang terus mengalir.
" Ri...." Erdo duduk di samping Ria.
Sejenak Ria menatap Erdo dengan mata nya yang sudah merah karena menangis.
" Er... selama enam bulan terakhir ini aku sudah memberikan semua hal yang terbaik untukmu, aku selalu berupaya agar terlihat kuat dan bahagia di hadapan mu. Tapi maaf, kali ini aku ingkar janji karena aku telah terlihat lemah tak berdaya di depan matamu. Tapi percaya lah Er, ini adalah air mata terakhir ku sebelum nanti tiba waktu nya aku akan menutup mata untuk selamanya. Dan saat waktunya itu tiba, maka aku berjanji akan memberikan kenangan terindah yang tak kan pernah kau dapat kan lagi, yaitu senyum ku yang nantinya akan sedikit mengembang di saat aku menutup mataku kelak. Dan itu akan selalu terngiang di dalam benak dan pikiran mu, dan juga anak kita nanti nya yang akan terlahir akan menjadi sebuah kebahagiaan. Dan ia akan mengantikan diriku yaitu sebagai seseorang yang akan ada disisimu. Jaga lah dia, rawat lah dia dengan baik meskipun ia pasti akan berbuat kesalahan maka jangan pernah berbuat hal kasar padanya. Jika nanti ia bertanya dimana sosok Mama, maka jawablah ia dengan kata, Mama sudah bahagia di alam sana dan ia selalu melihat kita dari jarak jauh. Itu lah katakan pada nya kelak ia bisa berbicara suatu saat nanti. Dan jika kamu tidak mampu untuk mendidiknya sendiri maka aku ikhlas jika kamu mencari wanita lain untuk menjadi teman hidup mu di masa depan selanjutnya, asalkan kamu bahagia aku juga ikut bahagia Er ... ingatlah kata kata ku." Ucap Ria panjang lebar.
" Tidak! aku tidak akan pernah menikah lagi Sampai seumur hidupku, hanya kamu lah yang terakhir bagiku. Tidak akan ada yang mampu mengantikan posisi mu sebagai Ibu dari anak kita kelak." Balas Er yang kini ikut menangis.
" Ku mohon Ri.. jangan membuat ku menjadi tak ikhlas untuk menerima semua ini." Erdo mendekap tubuh Ria dengan erat.
" Kamu pasti bisa, aku sudah ikhlas Er... hari hari ku di dunia ini hanya tergantung dimana waktu nya hari lahir nya anak kita."
" Stop..... aku ingin terus memeluk mu seperti ini! berhentilah berbicara." Titah Erdo dengan suara tangisnya yang terus ia tahan.
' Aku sangat mencintai mu Er.... sangat mencintai mu... tapi aku tidak biaa berbuat apa apa.'
*******
HALLO REDERS 😘AUTHOR GK TAU KENAPA BISA JADI SEDIH GINI TULIS BAB YANG SATU INI. AKAN KAH ADA KEMUNGKINAN KEAJAIBAN YANG TERJADI? ENTAHLAH KITA SIMAK SAJA TERUS KISAHNYA YA BYEEE BYEEEE SAYANG KU
LIKE KOMEN DAN VOTE
SALAM ^^