
“Semoga tahun baru ini, aku bisa terlepas dari masalah besar yang sudah aku perbuat ini. Semoga Tuhan mengirimkan malaikat untuk menyelamatkanku dari neraka ini!” gumam Ala, berdoa kepada Tuhan dengan sepenuh hati.
Alea berharapan dirinya bisa keluar dari Mansion megah milik Devil berbahaya seperti Evans Colliettie.
Ia menginginkan kehidupan normal seperti dulu kala, bebas ke mana ia pergi dan tidak seperti saat ini, dirinya terkurung dan terpenjara bersama Devil, yang entah sampai kapan.
“Selamat ulang tahun Alea Ajanie!” bisik suara lirih itu terdengar jelas di telinga Alea.
Hembusan nafas hangat dari belakang telinga membuat bulu kuduk Alea merinding seketika.
"Malaikat itu tidak akan bisa datang untuk menyelamatkanmu dari Devil sepertiku!”
Tubuh Ale menegang, dengan kedua tanganya sudah bergetar.
“Apa kau setakut itu berada di dekatku hmm? Bahkan kau terlihat tegar dan kaut tetapi….”
Pria itu mendekat tubuh Alea.
“Kau hanya wanita lemah dan bodoh!” terasa helaan nafas dari belakang tubuhnya, Alea masih terdiam berdiri dengan takut di belakangnya.
“Dan selamat tahun baru. Kau akan terpenjara di mansionku untuk selama-lamanya, Alea Anjanie.”
Alea bergeming masih di tempatnya. Sedikit dirinya memberanikan diri berbalik dari posisinya.
Kedua matanya tersentak dengan kedua tangannya yang bergerak cepat sudah menutup bibirnya rapat-rapat.
Alea melihat pemilik mansion itu berada di depan matanya. Manik matanya terkunci akan sosok mata hijau keemasana yang begitu indah dengan wajah yang sialan sangat tampan.
Evans mencoba mendekati Alea dengan dekat, dengan sedikit menyondongkan wajahnya mendekat manik mata Alea yang masih menatap dirinya. Setia.
Gerakan dada Alea yang naik turun dengan debaran jantungnya yang cepat pun terasa oleh Evans yang masih menatap wajah pucat milik Alea.
Evans dengan sadar menyapu bibir merah muda Alea dengan lembut, memejamkan kedua bola matanya menghayati dan menikmati bibir ranum wanita di depanya, walau Evans tahu wanita itu tidak meresponya apa lagi membalas ciumanya itu.
Evans memperdalam ciumanya. Namun lagi-lagi Alea terdiam dengan kedua matanya masih menatap Evans yang mengeratkan ciumanya.
Tangan kecilnya yang berada di dada bidang Evans pun sedikit mendorong tubuh kekar Evans untuk menjauh dengan melepaskan panggutan Evans dengan kaki kanannya melangkah ke belakang.
“Arg…” rintih Alea, terkejut dirinya akan terjatuh dengan baju tidur yang ia kenakan sobek, memperlihatkan dada putih mulus Alea yang terekspos bra hitam yang Alea kenakan.
Evans menopang tubuh Alea agar tidak terjatuh dari mawar hitamnya yang penuh duri. Kedua manik itu bertemu kembali.
Nafasnya tersenggal dengan debaran jantung yang masih berdetak cepat, pandangan Alea seketika buram, beberapa kali Alea mencoba mengerjapkan kedua matanya menatap mata indah itu.
Namun tidak jelas dan tak lama pandanga Alea berubah menjadi gelap dan pingsan…
***
“Haahh…tidak!”
Alea berteriak dengan tubuhnya yang sudah duduk di ranjang karena terbangun dari mimpi buruknya.
Nafasnya tersenggal-senggal dan mencoba mengaturnya. Pikiran Alea terisi akan sosok Evans Colliettie, yang baru saja Devil itu masuk ke dalam mimpinya.
Ia mencoba mengingat-ingat kembali mimpi buruk itu yang terlihat nyata, dengan mengusap bibirnya dengan telunjuknya.
“Huftt…kenapa sepagi ini, aku dibuat frustasi akan mimpi yang tak mungkin nyata itu. Namun…”
Alea terdiam dengan telunjuknya yang masih menyentuh bibirnya mengingat ketika Evans menciumnya. Entah mimpi atau nyata Alea masih tidak tahu.
Tetapi itu bagaikan nyata! Alea mengacak-acak rambutnya frustasi, akan mimpi yang baru saja menghampirinya.
“Ini hanya mimpi. Dan semalam itu aku memang bermimpi,” ucap Alea bercoleteh sendiri bangun dari tempat tidurnya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Ia berdiri di depan cermin melihatkan dirinya dari pantulan kaca. Membuka bagian dadanya dan mendapati jejak yang sudah memudar, tetap…
Kenapa kali ini terlihat memerah kembali seperti baru? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan semalam apa itu benar dan ia sedang tidak bermimpi jika di kebun mawar hitam itu benar-benar nyata Alea bertemu dengan Evans Colliettie di sana?
Alea menggeleng kepala pelan, ia masih belum bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata dengan bukti jejak merah di dadanya ini. Alea rasa semua di taman itu benar-benar terjadi kepadanya.
‘Hisss...pagi-pagi buta kenapa aku sudah berpikiran kotor akan peristiwa di taman mawar hitam itu, tetapi jejak ini aku yakin ini baru? Dan semalam memang aku tidak bermimpi?’ batin Alea masih memikirkan akan jejak
merah di dadanya. Tidak lama Alea bergegas merapihkan pakaianya dan berjalan menuju arah dapur.
Pekerjaan baru di awal tahu baru, di hari ulang tahunya. Alea terlihat bersemangat menjalani semua ini, dari tugas yang diberikan oleh Evans kepadanya.
Alea terlalu yakin jika suatu hari nanti Tuhan akan mengirim malaikat yang akan menolongnya di sini terlepas dari neraka ini.
Tiba di dapur yang luas. Alea segera menarik troli menyiapkan semua peralatan makan dengan menunggu Jonathan yang sedang menyiapkan sarapan untuk kelima wanitan jalang Tuanya, Evans.
Kelima peliharan Tuanya itu memang menyebalkan seperti apa yang diberitahu Mika dan orang-orang dapur yang memberitahukan sikap kelima wanita jalang itu yang sungguh bertingkah layaknya seperti nyonya Colliettie.
Alea harus banyak bersabar menghadapi mereka. Tak ingin di maki oleh kelima peliharan Tuan, Alea akhirnya membantu Jonathan menyiapkan sarapan mereka.
“Kau tidak usah membantuku Ale, aku akan cepat kok menyiapkan sarapan untuk mereka, tunggulah lima menit dan kau duduk di sana sambil kau sarapan terlebih dulu,” pinta Joe pada Alea.
“Tidak apa Joe biar cepat beres,” ujar Ale.
Belum ada semenit Alea mengucap. Tangan Alea ditarik paksa oleh seseorang untuk duduk di kursi meja makan kayu itu.
“Serapanlah terlebih dahulu karena nanti kau tidak ada waktu untuk sarapan karena para wanita jalang itu akan membuatmu terus bekerja.
"Sebaiknya kau mengisi perutmu terlebih dulu agar kau punya tenaga untuk menyelesaikan pekerjaanmu hari ini,” ucap Berta memberikan beberapa cake di meja kayu itu dan orange jus.
Alea tersenyum manis menatap Berta yang perhatian kepadanya, wanita paru baya itu mengingatkan Ale pada ibunya.
‘I miss you mom,’ batin Ale dengan kedua matanya yang basah.
“Haii…kenapa kau menangis, aku menyuruhmu makan Alea!"
Tiba-tiba Alea memeluk Berta yang berdiri di sampingnya, pelukan rindu Alea pada sang ibu.
Pelukan hangat itu membuat hati Berta merasa nyaman, gadis malang yang entah kesalahanya apa pada Tuannya karena bisa berada di mansion ini.
“Kau tidak apah?” tanya Bryan yang melihat Alea memeluk ibunya.
“Tidak, maafkan aku Berta yang sudah tidak sopan memelukmu.”
Alea duduk kembali menyantap sarapan yang diberikan Berta untuknya.
***
Tak ingin dikatakan wanita lemah. Alea mencoba membawa potongan tubuh yang hendak akan Alea berikan kepada kedua binatang kesayangan Evans.
Namun belum sempat ia membawanya hanya berada di depan matanya dengan jarak dekat sudah membuat Alea mual-mual dan berlari memuntahkan kembali isi sarapan paginya.
Romeo yang berada tak jauh dari sana, hanya bisa tertawa kecil melihat wanita itu yang sedang bersitekad untuk melawan ketakutan dengan potongan tubuh manusia walau usahanya masih dikatakan sia-sia Alea masih saja muntah.
“Sudahlah duduk saja, Ale!” pinta Romeo.
“Kau jangan memaksakan hal yang belum pernah kau lakukan, biar saya saja yang membawa itu. Karena saya tidak akan memaksamu untuk melakukan jika kamu belum terbiasa,” ujar Romeo tak ingin memaksakan sesuatu yang wanita itu takuti.
Alea duduk di kursi kayu, merasakan tubuhnya lemas.
“Maafkan saya paman. Saya jadi merepotkan!”
Romeo di depan sana terlihat menggeleng kepala, karena sama sekali dirinya tidak direpotkan oleh wanita itu.
Romeo paham dengan wanita cantik seperti Alea, mungkin kehidupanya jauh dari hal-hal berbahaya dan menakutkan seperti ini. Dan semestinya wanita cantik itu tidak berada di sini.
Romeo memperingati Ale kembali.
Karena ada rasa iba di diri Romeo kepada wanita berhati baik dan polos seperti Alea, akan semua pekerjaan dirinya yang dibilang wajar dan tak wajar.
Ada saatnya Tuannya mendapatkan target, musuh atau orang yang berhianat kepadanya.
Evans tidak pernah tanggung-tanggung untuk menghabisi hingga mati dan mayatnya selalu dibawa dan di berikan kepada para binatang kesayanganya untuk meninggalkan jejak.
Alea mengangguk pelan di depan sana, dengan rasa tidak enak hati karena di hari pertama di tahun baru ini sudah menyusahkan orang.
Rasanya Alea ingin menyerah akan tugas yang diberikan oleh Evans kepadanya.
“Iyah paman. Mungkin karena aku belum terbiasa!”
***
Sepanjang siang Alea disibukan membantu Romeo mengurusi dua peliharan Evans. Dari membersihkan kandang singa yang banyak dan memberi makan para singa itu dan para buaya yang sudah terlihat kelaparan.
Jumlah yang banyak membuat Alea harus beberapa kali membawa ember yang berisi banyak hewan ayam untuk para buaya di sana.
“Paman! Apa kau pernah digigit oleh para binatang Tuan?” tanya Alea meleparkan ayam kepada para buaya di bawah sana.
“Pernah sekali dan itu sewaktu aku ditugaskan mengurusi ketiga hewan itu.”
Ale hanya ber-Oh-ria di samping Romeo dengan mata yang melihat para buaya dengan mulut panjangnya yang terbuka lebar.
“Jika sudah selesai ini. Kau bersihkan ruangan itu Ale?” pinta Romeo.
“Baiklah.”
Alea bersemangat, dengan membawa beberapa sikat dan alat lain untuk membersihkan ruangan tersebut. Alea bukan anak manja yang tak bisa bekerja dan tak bisa hidup susah. Ia sejak kecil sudah diajarkan mandiri akan didikan dari ibunya.
Alea segera masuk untuk membersihkan tempat tersebut menggosoknya hingga semua bercak darah yang kering itu bisa hilang di ruangan itu dan bau amis yang menyengat di indra penciuman pun bisa hilang akan pembersih lantai yang Alea bawa agar ruangan itu tampak wangi.
“Ale!” panggil Romeo membantu menggosok lantai.
“Iyah paman.”
“Kenapa kau tak memilih menjadi wanita penghangat Tuan saja? Dan kenapa kau memilih menjadi pelayan di sini?”
Romeo yang bersebelah dengan Alea ikut serta menggosok lantai. Romeo sama dengan Alea yang mempunyai rasa penasaran, yang Romeo pikir Alea salah memilih?
Atau Tuannya yang aneh membiarkan wanita cantik seperti Ale itu menjadi pelayan di mansionnya?
“Rasanya aneh Tuan mengerjakanmu menjadi pelayan di rumah ini karena baru pertama kali Tuan membawa wanita cantik sepertimu untuk menjadi seorang pelayannya dan bukan menjadi wanita penghangat tidurnya?!” tanya Romeo sedikit curiga.
Apa sebenarnya rencana Tuannya itu?
Alea menghela napas dengan berdiri tegak. Tentu ia akan memilih menjadi pelayannya dari pada menjadi wanita jalangnya.
Alea tidak mau menjadi jalang Evans meski wajahnya tampan melebihi para Dewa Yunani, tetapi Alea tak mau menjadi wanita pemuas nafsu Tuannya.
“Lebih baik saya menjadi pelayan di rumah ini dari pada saya harus menjadi wanita penghangat tidurnya, saya tidak sudi paman!”
Romeo terkekeh mendengar wanita secantik Alea yang polos yang lebih baik bekerja capek dari pada bekerja menghangatkan Tuannya.
Jarang-jarang wanita di sini yang memilih seperti wanita polos itu. Tetapi bukanya Tuan Evans tidak mau dibantah jika sudah berkeinginan?
Lalu kenapa dengan wanita itu? Romeo menatap heran pada Ale akan sikap Tuannya yang tidak biasa.
“Kebanyakan wanita di sini lebih memilih menjadi wanita pemuas Tuan dibanding harus capek-capek bekerja seperti ini,” ujar Romeo.
"Ya. Mungkin wanita bodoh saja yang berpikir seperti itu, dan tidak untuk saya!”
Alea menghembuskan napas panjang mengingat kembali kebodohnya hingga bertemu dengan Evans.
“Terus apa masalahmu dengan Tuan sehingga kamu berada di sini?”
Alea terlihat menghela. Sebenarnya Alea malas untuk menceritakan masalah yang sebenarnya. Kenapa ia bisa berurusan dengan Evans Colliettie itu.
Namun Alea memilih diam tidak menjawab pertanyaan Romeo dan mengerjakan kembali pekerjaanya.
‘Hanya ke tidak sengajaan saya yang menemukan liontin milik Tuan yang terjatuh dan menghilangkannya,’ lirih Alea tak menoleh pada Romeo di samping sana.
Pria paru baya itu diam melihatnya, menunggu jawaban dari Ale yang masih bungkam.
"Apa Tuan hidup sendiri, tidak mempunyai keluarga?” tanya Alea menggosok lantai bekas darah yang sudah lama mengering dengan keras.
"Tuan masih punya ayah, Tuan Alberto dan ibunya sudah lama meninggal. Tuan anak satu-satunya yang mewarisi sifat ayahnya yang kejam,” ucap Romeo menceritakan sebagian yang ia tahu dari kehidupan devil itu.
Alea berpikir dengan kedua tangan dan kakinya masih membersihkan lantai tersebut. Alea merasa ingin tahu bagaimana kehidupan Devil itu di masa lalunya.
Dan ternyata Evans yang kejam sudah mewarisi darah akan sifat ayahnya, Tuan Alberto.
“Lalu ke mana Tuan Alberto?” tanya Alea penasaran.
Romeo menghela napas dengan duduk di kursi sana, dengan sebelah tanganya yang memegang pingganya yang sakit.
“Tuan Alberto Colliettie pergi dari Napoli sehari setelah kematian istrinya.”
“Haah Pergi, ke mana? Dan kenapa Tuan Evans tidak dibawa bersama Tuan Alberto?”
Alea lagi lagi dibuat penasaran dengan kehidupan Devil itu, dan boleh ditebak mungkin semasa kecilnya Evans tidak begitu menyenangkan.
“Tuan Evan tidak mau meninggalkan rumah ini, karena rumah ini banyak menyimpan kenangan Tuan bersama dengan ibunya!”
Kasian pantas Evans berubah menjadi menyeramkan dan kejam, walau Alea sendiri tak tahu permasalahan yang sebenarnya tetapi pria tampan itu berubah dingin dan kejam karena tidak ada yang mempedulikanya.
Ditinggal oleh ibu tercinta memang sangat menyakitkan, batin Alea.
“Terus kenapa paman bisa berada di sini?" tanya Alea dengan tingat ketinggian yang kepo pada urusan orang lain.
Tetapi pria paru baya itu pun dengan baik hati mau berbagi cerita dengan Alea tentang dirinya yang sudah terjebak lama berada di mansion megah ini karena kesalahan kedua orang tuanya sewaktu Romeo masih remaja.
“Apa kau akan bernasib sama sepertiku Ale? Aku sudah lebih dari dua puluh tahun berada di mansion ini?”
Alea menggeleng pelan. Jujur dalam hati Alea, Ia tidak mau. Tetapi jika takdir berkata lain ia harus menahun di mansion ini bagaimana?
Selama itukah ia akan terpenjara di mansion megah ini tampa melihat dunia luar? Dan hanya bisa melihat sepenjuru rumah ini saja, pikir Alea dalam diam.
“Sudah banyak orang yang tidak kuat tinggal di sini, bahkan banyak orang yang ingin kabur dari sini tetapi hasilnya nihil, mereka tidak selamat entah ditembak oleh para penjaga Tuan Evans entah mereka di makan oleh para binatang Tuan yang banyak itu. Semuanya mati sia-sia.”
Alea membayangkan dengan dirinya menatap kandang buaya itu. Bagaimana orang-orang yang ingin kabur dari mansion ini. Seraya berbisik di kepalanya.
“Melarikan diri dari mansion megah ini dengan banyak jebakan yang seolah-olah itulah jalan keluar dari mansion, yang akhirnya semua mati konyol.
"Melewati para buaya yang berjumlah puluhan di dalam sana dengan anaconda yang besar di ruang bawah tanah sana. Bukannya itu terdengar impossible? Dan endingnya akan mati juga?”
Romeo mengangguk setuju apa yang Ale katakan itu benar. Tidak ada satu orang pun yang bisa berhasil kabur hidup-hidup dari neraka yang Evans ciptkan ini.
"Kau sungguh pintar rupanya! Semua itu jalan menuju hutan bisa saja kau kabur dari pagar sana. Itu laut, Berenanglah sejauh mungkin karna di sana tidak ada tempat untuk beristirahat,” ujar Romeo diiringin tawa kecil pada wanita yang teramat serius menanggapinya.
"Sama saja paman karena endingnya mati juga!”
Bersambung...