Mafia And Me

Mafia And Me
Penyebab



“Aku berharap suatu hari nanti aku mendengarkan kabar baik darimu.”


Kening Alea mengernyit, Jovita melepaskan genggamannya dan pergi begitu saja setelah memeluk satu persatu anak-anaknya dan tentunya Alea mendapatkan pelukan hangat dari Nyonya Jovita.


Alea menatap keempat orang di depannya, terlihat jelas kehangatan yang terpancar dari sosok wanita paruh baya tersebut.


Bolehkah Alea bertanya sekalipun mulutnya rasanya tak berani menanyakan langsung.


Apa Nyonya Julieta pun sama seperti Nyonya Jovita yang mempunyai pribadi yang hangat?


Bila benar begitu. Tentunya dulu Evans pun merasakan kehangatan keluarganya bukan?


Takdir hidup orang memang berbeda-beda jalannya. Ada yang mulus tanpa hambatan.


Ada yang harus berdarah-darah bahkan kesedihan yang menyakitkan untuk meraih bahagia.


Baik, buruk, sedih dan juga bahagianya sudah tertulis di garis kehidupan seperti kisah keluarga Evans yang harus berakhir tragis.


Mungkin bila Evans mendapatkan kasih sayang sepanjang usianya dan merasakan kehangatan yang sama seperti dirasakan oleh Leo, sekali lagi hidup Evans akan jauh lebih bahagia dari pada saat ini bukan?


“Aku pamit pulang, Alea.”


Alea berikan anggukan pelan. “Hati-hati Nyonya, saya senang bisa bertemu dengan anda,” ucap Alea.


Jovita berikan anggukan pelan lalu tak lama berbalik badan.


Leo berjalan mendekat dan menggandengan tangan wanita paruh baya yang cantik itu.


“Ayo, aku antar Mom ke bawah dan kamu tunggu di sini,” kata Leo pada Alea.


“Baik, Tuan,” jawab Alea seraya menatap punggung dua orang itu berjalan menuju pintu.


Ada sesuatu yang sejak tadi mengusik hati Alea, yang jadi pertanyaan. Apa kini dia pantas untuk bertanya sesuatu yang ingin sekali dia tahu?


“Nyonya Jovita.”


Panggilan itu membuat dua orang di depan itu berhenti, Alea sudah lebih dulu datang menghampiri kedua orang tersebut.


“Ya, Nak. Ada apa?”


“Maafkan bila aku lancang dan tidak sopan. Apa saya boleh bertanya sesuatu?”


Jovita berikan anggukan, mengizinkan Alea bertanya.


 “Silahkan Alea.”


Alea menarik nafas pelan. “Apa anda anak kembar?”


Deg!


Bola mata Jovita membulat, pandangi sang putra lalu sekian detiknya menatap Alea.


“Saya melihat anda begitu mirip dengan mendiang Nyonya Julieta.”


Bola mata Jovita basah. “Apa ini sebabnya, tuan Evans tidak mau bertemu dengan anda karena wajah anda begitu mirip dengan ibunya?” tanya Alea dengan berani.


Jovita berjalan mendekati Alea, wanita itu memeluk Alea.


 “Astaga Alea….” Decak Leo.


“Bagaimana kamu tahu itu, Alea? Apa selama ini kamu baik-baik saja Alea?” tanya Jovita terdengar panik.


Alea menatap dua orang di depannya itu dengan bingung sekalipun dia bisa melihat bagaimana kesedihan yang terpancar di wajah wanita paruh baya itu.


“Julieta kakakku. Kami tidak kembar sekalipun kamu terlihat begitu sangat mirip.


“Tapi, kenapa kamu bisa tahu dengan wajah kakakku Alea? Evans tidak menyimpan satu foto keluarganya pun di mansionnya.


“Ehm—”


Alea menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang kering.


“Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak sengaja melihat foto nyonya Julieta berada di kapel Tuan Evans.”


“Kamu ketahuan oleh Evans?” wajah Leo semakin panik.


Alea terdiam sejenak, bayangan malam itu kembali terpintas di hadapannya.


“Apa yang Evans lakukan padamu setelah memergoki?”


“Dia hanya mengancam saya dan memperingat saya dengan keras.”


Satu alis Leo terangkat. “Hanya itu?”


Alea berikan anggukan lagi, dia tidak bisa menceritakan selebihnya akan apa yang sudah Evans lakukan padanya pada malam itu.


Alea terkesiap kaget. Nyonya Jovita kembali memeluknya dengan erat.


Entah ada sebenarnya, Alea dibuat bingung sekaligus memandangi orang-orang disekitarnya.


Apa lagi senyuman hangat mereka membuat Alea jadi tanda tanya.


‘Sebenarnya ada apa ini?’


“I done,” ucap Olive ketika make up artis yang didatangkan telah selesai mendandani wajah Alea.


Tidak hanya wajah, namun penampilan Alea mala mini begitu cantik dengan gaun merah yang menutupi tubuh kecilnya dengan sempurna. Model gaun merah dengan bahu yang sedikit terbuka dan tatanan rambut panjang yang dihiasi kecil, membuat kesan anggun dan juga berkelas.


“Ka, lihatlah,” ucap Olivia berseru keras pada dua orang yang sejak tadi tak sabar menunggu.


Cassandra menatap Alea dengan senyuman sementara Leo dengan bola mata yang terbuka lebar dan juga mulut yang menganga.


 “Oh God. Kamu cantik sekali, Alea,” puji Leo.


“Kamu benar honey, dia melebihi ratu pesta malam ini,” ungkap Candra menatap senang dengan penampilan Alea mala mini.


“Wanita sosialita itu pastinya kalah bukan, Ka?”


Leo berikan anggukan pelan dan memberikan satu jempolnya pada Olivia.


 “Aku akan keluar sebentar,” ucap Olivia keluar.


Leo dan Cassandra berikan anggukan. “Kamu mengalahkan wanita gila itu malam ini, Alea.”


Alea mendengus pelan. “Anda ini selalu berlebihan padaku dan terima kasih atas pujiannya,” ucap Alea diiringi senyuman.


“Gaun merah itu sangat cocok di tubuhmu. Pangeran seperti dia saja sampai tak berhenti menatapmu,” ujar Cassandra.


Alea tersenyum malu, Tidak adiknya yang sejak di dalam ruang rias terus memuji dirinya dan kini dua orang itu pun sama.


“Bukannya benar begitu, Mar?”


“Ya. Kamu sangat sempurna Alea,” ucap pria bernama Marvio Robertus.


Pria bangsawan di negaranya Italia, pria yang tak lain pasangan Alea malam ini sahabat baik Leo.


“Sayangnya, aku kalah cepat dari saudaramu, Leo.


“Coba saja dari dulu aku menemukanmu. Mungkin kamu akan menjadi milikku selamanya, Alea.”


Cassandra tertawa pelan. “Kalau saat ini aku merebutmu dari tangan pria dingin itu, sudah pasti sangat merepotkan bukan?” tanya Marvio pada Leo seraya bertopang dagu menatap lurus tanpa berkedip melihat wanita cantik di hadapannya.


“Aw, sakit Leo.”


Pangeran tampan itu mengaduh kesakitan, Leo memukul punggung temannya.


“Apa kau sudah bosan hidup? Ingin mati mengenaskan di tangan saudaraku, hah?”


Marvio tertawa pelan. “Cukup malam ini saja kamu bisa menganggap Alea milikmu.


“Selanjutnya jangan harap yang lebih. Bagus kalau kamu besok masih hidup, kalau besok sudah tidak bernafas bagaimana, hah?”


Cassandra tertawa pelan sementara Alea diam dan paham maksud apa yang dikatakan Leo.


“Bersiap-siaplah. Dia sudah datang….”