Mafia And Me

Mafia And Me
Pertemuan Pertama!



“Lea…” panggil Evans pelan seraya menggeliatkan tubuhnya.


Pria itu mengernyit kening ketika merasakan satu tangannya kebas. Semalam tangannya dijadikan sandaran kepala wanita itu.


Untuk pertama kalinya di pagi hari, pria itu tersenyum lebar di mana kedua matanya masih terpejam.


Satu tangan Evans menggapai samping tempat tidurnya guna mencari seseorang wanita yang menghangatkan tidurnya.


Evans harus membuka kedua matanya untuk memastikan wanita itu tidak pergi.


Sayangnya, wanita yang semalam dia kunci dalam dekapannya sudah tidak ada di atas ranjangnya.


“Lea.... Apa kamu ada di dalam kamar mandi?” seru Evans.


Pria itu bangun dari posisi terlentangnya lalu duduk yang kembali diiringi senyuman.


Senyuman yang tak pernah nampak sepanjang hidupnya apalagi di pagi hari seperti ini.


“Lea….” Panggil Evans lagi.


Lea adalah nama panggilan kesayangan untuk wanita bodoh itu.


Teringat bagaimana semalam dia melummat bibir manis itu, Evans kembali tersenyum dan bangun dari tempat tidurnya untuk segera mencari wanita bodoh itu.


“Kemana dia pergi?” batinnya yang diiringi hembusan nafas.


Semua kebutuhannya untuk mandi sudah disiapkan oleh Alea sama persis seperti biasanya.


Pria itu pun menoleh ke samping di mana pakaian kerja Evans pun sudah tertata rapi di sofa panjang.


Evans buru-buru membersihkan diri dan bersiap untuk bekerja, Lea nya pasti sudah berada di luar dengan sarapan paginya.


Sayangnya, pikiran akan wanita itu membuat Evans harus bersabar. Wanita bodoh itu sama sekali tidak ada di meja makan kecil tempat biasa dia bersarapan.


Padahal, Evans bisa saja meminta Mika untuk memanggilkan Alea ke ruangannya dan berhadapan langsung dengannya.


Tetapi, semua itu diurungkan karena dia tahu Lea nya pasti malu karena terbangung di ranjangnya.


“Tuan…”


Mika seperti biasa masuk ke dalam ruangan kerja Evans sekalipun pria itu tidak menjawabnya.


Tetapi, ketika melihat Evans yang justru melamun membuat Mika berpikir sejenak.


Evans tidak terbiasa sepagi ini melamun apa lagi sepagi ini di mana pria itu duduk di kursi kebesarannya.


“Saya ingin memberikan beberapa berkas penting untuk anda.”


Mika meletakan tiga berkas di atas meja Evans. Pria itu dengan hela nafas berat mengambil tiga berkas lalu memeriksanya sejenak sebelum membubuhkan tanda tangannya.


Pikirannya sepagi ini mendadak kacau tidak mendapati Alea di pagi hari, entah kemana perginya wanita bodoh itu yang misterius tidak seperti biasanya.


“Nanti siang di pabrik tua itu, Lucas mengadakan syukuran kecil atas keberhasilan produksi yang meningkat karena


'kini mereka banyak menarik investor untuk bekerja saja dan juga produksi mereka meningkat karena permintaan begitu banyak,” lapor Mika.


“Bagus. Tidak sia-sia aku menempatkan wanita bodoh itu di pabrik itu,” kata Evans tegas dan terasa dingin


Pria itu menarik nafas pelan, tidak mungkin bukan dia akan memanggil nama Lea di depan Mika?


“Lucas meminta padaku agar anda datang di acara syukuran kecilnya,” sambung Mika.


Dia mencoba menatap Evans dan mencari sesuatu yang membuat mood tuannya mendadak lebih dingin bahkan terlihat sangat menyeramkan dari biasanya.


“Lihat nanti,” jawab Evans pelan.


Evans menutup semua tiga berkas itu lalu memberikan pada Mika.


“Apa ada hal yang ingin kamu laporkan lagi padaku, Mika?”


“Tidak, saya permisi. Apa anda akan berangkat sekarang?” balik Mika bertanya.


Evans menggeleng pelan, Mika pun paham akan maksud tuannya.


Wanita itu pun mengayunkan langkahnya menuju pintu keluar. Namun, tiba-tiba dia berhenti sejenak ketika mengingat sesuatu hal.


“Ada apa lagi?” tanya Evans mendapati Mika yang kembali berbalik badan dan menatapnya.


“Maaf Tuan. Saya teringat sesuatu hal.”


“Katakan!”


“Ketiga peliharaan anda menanyakan kenapa anda sudah lama ini tidak memanggil mereka?” tanya Mika.


Ya, dia pun aneh pada sikap Evans yang tidak bisa ini. Setelah kematian Carla bulan lalu tepatnya dua bulan kebelakang, Evans sudah tidak pernah memanggil para peliharaanya walaupun hanya bermain.


“Mereka menduga kalau kini posisi Carla dan Juliana sudah tergantikan oleh Alea, sehingga mereka bertiga berasumsi kalau Tuan sudah tidak membutuhkannya.”


Manik mata Evans menatap nyalang pada Mika, mendadak dadanya berdesir dengan apa yang baru saja Mika katakana padanya.


Evans tidak menginginkan Alea menjadi wanita jallangnya karena dia—


“Apa mereka dan kau pikir begitu, hm?”


“Apa kau pikir aku menginginkan wanita bodoh itu menjadi wanita jallangku—menggantikan kedua peliharaanku yang sudah mati mengenaskan itu?”


Mika bungkam. “Ck!” decak Evans seraya bangun dari duduknya.


Pria itu berjalan menuju jendela kaca lalu menatap hamparan mawar hitam yang rusak.


“Akhir-akhir ini aku tidak berselera.”


Satu alis Mika terangkat ke atas, lalu mengangguk pelan. Dua bulan ini dia tahu kalau suasana hati tuannya sedang tidak baik-baik saja.


Sekalipun begitu, tetapi saja bagi Mika sikap Evans memang aneh.


Mau mood Evans bagus dan buruk, pria itu selalu melampiaskan pada peliharaanya dan kali ini—


Evans tidak berselera bukannya itu aneh?


Bagi Mika, tuannya kali ini penuh tanda tanya besar. Perubahan Evans benar-benar begitu cepat membuat sudut hati Mika yakin kalau pria yang tak takut kegelapan itu ada sesuatu hal yang terjadi.


“Saya pamit undur diri, Tuan,” ucap Mika seraya memberi hormat.


“Tunggu Mika—”


Mika langsung berhenti dan kembali membalikan badannya lalu menatap tuannya.


“Kemana perginya wanita bodoh itu?”


“Alea sudah pergi dijemput Lucas tadi pagi. Apa ada lagi yang ingin anda tanyakan Tuan?”


Evans menggeleng pelan, Mika pun kembali mengayunkan langkahnya dan berlalu pergi.


Kini hanya Evans sendiri di ruangan kerjanya. Dalam hembusan nafas yang panjang dan kedua mata yang tak lepas pandangi hamparan tamanannya itu. Sejenak, pria itu kembali untuk duduk dan melanjutkan pekerjaanya.


Anak mata Evans menangkap sebuah map berwarna coklat di atas tumpukan paling atas beberapa document. Dia pun mengambil lalu membuka nya.


Sebuah kamera dan juga voice recorder dan beberapa lembaran kertas lain berada di dalam map coklat tersebut.


Sayangnya, Evans tidak tertarik dan memilih buku tebal yang selalu dia simpan di atas sisi ruang mejanya yang kosong.


Buku jurnal pribadi Alea.


Evans membuka buku itu kembali, dia mengusap lembar demi lembar coretan dari goresan pensil yang menunjukan sebuah gambar.


Dada Evans berdesir dan hatinya memuji akan setiap coretan yang dihasilkan oleh tangan kidal wanita itu.


Ya, Evans tahu karena dia pernah melihat Alea diam-diam menggambar dengan tangan kirinya.


“Dia ternyata punya banyak bakat,” gumamnya dalam hati.


“Semua gambar di buku ini seolah hidup dan kamu sangat pandai, Lea,” sambung Evans dalam hati.


Bola mata Evans melotot tajam ketika dia melihat sosok seorang pria yang entah siapa wanita itu gambar di bukunya ini.


Evans mulai mengamati setiap gambar selalu terdapat tulisan dalam huruf hangul tulisan korea yang sama sekali dia tidak tahu apa arti yang diungkapkan wanita itu di setiap gambar yang dibuatnya.


‘Apa ini sosok Mike Shander? Kekasih Alea yang bodoh dan brengsek itu?’ gumam Evans dengan rahang yang mengetat.


Tak terima, dia mengambil lalu menyobek gambar pria tersebut lalu meremas kertas itu hingga menjadi bulatan kecil di dalam genggaman tangannya.


‘Aku akan mengejarmu, Mike Shander,’ batin Evans.


Evans membuang napas panjang dengan serentak, moodnya kembali buruk kali ini. Dibantingnya keras buka jurnal tersebut dengan nafas yang memburu.


Namun, sekian detiknya dia menoleh ketika buku itu terbuka dengan lebar dan menampakan sosok pria berhoodie di sebuah pelabuhan.


Deretan container yang dia yakin kalau pria berhoodie dengan coat panjang dan topi itu adalah dirinya.


“Pertemuan pertama,” batin Evans.


Dia kembali mengangkat buku itu lagi dan kini Evans duduk di sofa panjang dengan santai sembari kembali melihat-lihat apa yang ada di dalam buku itu sampai lembar terakhir.


“Sebenarnya wanita itu menulis apa? Di setiap gambarnya? Kenapa juga harus menggunakan tulisan aneh kayak gini?”


Kesal, karena dirinya merasa ingin tahu akan apa yang ditulis Alea sebenarnya pada setiap gambar itu. yang bisa Evans lakukan saat ini hanya mendengus kesal.


Di saat Evans kembali membuka lembar berikutnya, pria itu kembali dibuat tercengang.


Alea menggambar setiap kejadian di mana wanita itu berada, dari kejadian pertama kali dibawa ke Napoli dengan keadaan tidak sadar hingga hamparan taman mawar hitam dan patung wanita bersayap pun ada di dalam buku jurnalnya.


Satu lagi yang Evans dibuat terkejut.


Gambar dia dan Alea di taman mawar itu berciuman di bawah patung wanita bersayap.


“Apa bibir ini dulu pernah menciumku juga? Di bawah patung wanita bersayap di taman mawar hitammu, Ev? Sungguh, bayangan itu masih terekam jelas seolah aku bermimpi?”