
Dua minggu kemudian...
“Tuan…” Panggilan Mika membuat Evans langsung menaikan wajahnya.
Pria itu sejenak memandangi orang kepercayaan yang sengaja dia panggil untuk datang ke ruangannya.
“Apa ada yang bisa saya bantu?”
Pertanyaan Mika membuat kening Evans mengernyit bingung.
Entah wanita itu lupa atau apa, karena sudah dua minggu ini dia merasa telinganya dingin dan tenang.
“Akhir-akhir ini aku tidak mendengarkan kamu melaporkan apapun tentang wanita itu!”
Mika nampak menarik nafas pelan di mana Tuannya menatapnya begitu sengit dan penuh ancaman sekalipun orang di depannya ini adalah orang kepercayaan.
Sepulang Evans dari San Marino, pria itu menyadari kalau dirinya sendiri ada yang salah.
Setelah kembali Evans memutuskan untuk tidak pedulikan lagi akan apapun sekalipun itu Alea.
Lebih tepatnya, Evans kembali mengeraskan hatinya dan menganggap perasaan itu salah. Evans tegaskan lagi kalau Alea bukan siapa-siapanya.
“Kau sudah menemukan keberadaan Bryan, hm?”
“Sudah, Tuan. Dia berada di Libya!”
Evans menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya setelah itu menghela nafas panjang.
“Apa kau sudah mengetahui siapa yang membantu Bryan?”
“Maaf, saya belum menemukannya”
Evans membuang nafas pelan. “Saya mau memberitahukan kalau Kelly menghilang dari mansion ini dan orang kita sudah menemukan di mana wanita itu berada.”
Evans menaikan satu alisnya tanpa memutuskan pandangannya pada Mika.
“Dia bersama dengan Bryan di Libya!”
“Ck! Ternyata wanita jallang itu adalah sekutunya. Cepat sekali pelayan itu mendapatkan sekutu yang sama!” kata Evans dengan tawa kecil.
Rahangnya kembali mengetat dan terlihat Evans begitu tegas.
“Bunuh saja wanita jallang itu bila bertemu dengannya nanti. Dia sama-sama penjahat, musuh dalam selimut di mansionku!”
“Baik Tuan,” jawab Mika, cepat.
“Lalu dimana Bobby?”
“Kita belum bisa menemukan keberadaan Bobby. Pengawal muda itu menghilang sejak berada di San Marino.
"Kabarnya, Bobby tidak ikut bersama dengan Bryan!”
Evans mengernyit dalam diam dia berpikir sejenak.
“Cari tahu semua tentang Bobby secara detail. Firasatku buruk tentang pria itu!”
“Baik Tuan,” jawab Mika semangat.
Bila urusan cari mencari dan membunuh orang dialah orang yang paling utama senang mendapatkan pekerjaan ini.
“Jadi, kapan kita akan berangkat ke Libya agar kita tidak terlambat?!”
Lagi lagi pria itu mengernyit yang diiringi tatapan pada anak buah kesayangannya itu.
“Terlambat untuk apa?”
Mika menarik nafas sejenak, lalu menghembuskan perlahan sebelum menjawab.
“Terlambat bila ada yang mati terlebih dulu.”
Evans tidak tahu apa maksud perkataan Mika. Tetapi, dia pun enggan untuk bertanya lagi pada kaki tangannya itu.
Evans lebih memilih membalikan kursi tersebut lalu menatap pada hamparan mawar hitamnya.
“Tidak ada kata terlambat Mika. Biarkan saja dulu beberapa saat. Agar pria itu kebingungan karena ancamannya diabaikan olehku.”
Evans menarik nafas panjang di depan sana. “Aku yakin pria brengsek itu sangat berharap akan kedatanganku kesana dan membawa kebebasan.”
Evans tersenyum miring, dengan tatapan masih memandangi mawar hitamnya.
“Tidak semudah itu, memberikan kebebasan untuknya.”
“Tetapi sampai kapan, Tuan?” sela Mika.
“Kau tunggu saja perintahku!” desisnya.
“Baik, Tuan. Saya permisi,” ucap Mika seraya beranjak pergi.
“Oh, ya Mika.”
Mika berhenti dan kembali berbalik badan.
“Panggilkan Ruby untuk malam nanti. Aku melupakannya berminggu-minggu ini dan aku membutuhkannya mala mini!”
Pria itu masih duduk, dalam diamnya. Evans memandangi mawar hitam tersebut dengan pikiran penuh yang membuat sesuatu di dalam hatinya mendadak tak menentu.
Evans bangun dan berdiri, dia keluar melewati pintu kaca. Dia berjalan keluar mengarah pada taman miliknya.
Ketika sampai di sebuah kursi kayu di mana depan kursi tersebut berdiri air mancur wanita bersayap.
Ya, lebih tepatnya lagi malaikat bersayap.
Tanpa tersadar, pikiranya membawanya pada malam itu. Malam di mana ia mencium bibir Alea.
Tanpa sadar ingatan itu membuat tubuhnya kembali bergejolak, di mana manisnya bibir itu ketika dia menciumnya.
Evans menyentuh bibirnya dengan telunjuk. Ciuman manis dari bibir itu begitu saja terasa.
Akal sehatnya kembali, diapun menggeram sambil mengacak rambutnya.
Ketika Evans menoleh ke samping, bola matanya langsung membulat di mana dia melihat bunga mawar hitam miliknya terlihat tumbuh tepat di depan matanya.
Padahal dia sudah menyuruh Mika bahkan dia melihatnya sendiri orangnya sudah meratakan mawar hitam kesayangannya itu. Tetapi, kali ini….
Evans mengedarkan kedua matanya, beruntung dia menemukan tukang kebun yang selalu bertugas untuk merawat tamannya.
“Ma-maaf Tuan, saya tidak tahu anda di sini.”
Pria tua itu menunduk hormat, lalu tak berani dia menatap Evans lebih lama lagi. Setelah menunduk pria tua itu pun berlalu pergi dari hadapan Evans.
“Tunggu—”
Pria tua itu berbalik badan dan menghadap Evans.
“Apa kau yang menanam mawarku kembali? Bunga mawar hitam di depan sana?”
Evans menunjukkan batang mawar hitam dibalik patung wanita bersayap.
Dilihat dari kejauhan, sepertinya mawar itu seperti baru ditanam lagi.
“Ma-aaf kan sa-saya, Tu-an!”
Pria itu terbata, dengan kepala yang menuduk dalam-dalam.
“Kau tidak menanamnya, hm?”
Pria tua itu menggeleng pelan.
“Lalu siapa?”
Pria tua itu terdiam sesaat.
“Alea, Tuan.”
Evans tercengang dengan bibir yang mengatup. Tanpa, memberikan pertanyaan lagi pada pria tua itu.
Evans sudah lebih dulu pergi dari taman mawar hitamnya dengan pikiran yang berkecamuk.
Pria paruh baya itu terdiam sesaat sebelum menjawab dengan suara yang terdengar pelan, namun Evans mendengarnya.
“Alea, Tuan.”
Evans memejamkan kedua matanya. Otaknya tak henti terus berpikir dimana tubuhnya begitu saja disentuh oleh wanita jallangnya.
Duduk di sofa panjang, tak lepas pikirannya penuh. Sejak tadi pikirannya tidak menentu.
Namun, tidak dengan wanita peliharaan yang nampak senang. Akhirnya dari sekian lama tidak disentuh akhirnya kini Evans memanggilnya meminta untuk ditemani.
Wanita itu bangun menyesap curuk leher dan juga bidang dada Evans dengan senssual dan penuh gairah.
Namun, ketika menyentuh bibir seksi sang mafia. Pria itu langsung memiringkan wajahnya tanpa repot membuka matanya.
Selama ini menjadi wanita peliharaan seorang The Black Rose, Evans tidak pernah mengizinkan siapapun wanita yang menyentuh bibirnya. Ruby paham itu.
Jubah mandi hitam itu masih menempel di tubuh kekar itu perlahan dibuka tanpa melepaskannya.
Tetap, saja Evans diam sama sekali menunjukkan ketidaktertarikan padanya seolah pria itu tidak berggairah.
Lantas, kenapa Evans memanggilnya bila tidak berggairah?
Evans menarik nafas pelan, entah kenapa setelah kejadian di Madrid dan bermain dengan Carla sekalipun hanya untuk menyiksanya. Evans sama sekali sudah tidak tertarik pada wanita peliharaanya.
Sekalipun wanita yang biasa membuat dirinya tenang dan berggairah pun sama sekali tidak membuatnya berggairah.
Sudah hampir tiga bulan lebih dia tidak menyentuh lagi wanita jallang di depannya ini dan itu lagi lagi pikiran Evans tidak bisa menghilangkan sosok orang yang selalu mengusiknya.
“Tuan.”
Panggilan lembut Ruby membuat Evans tersadar sekalipun pria itu tidak membuka kedua matanya.
Dia mencoba merubah moodnya dengan pemikiran yang ingin menikmati permainan Ruby hingga akhir.
Sialnya, selalu gagal. Satu hal itu kembali membuatnya berbeda dan sangat mengusik pikirannya.
“Apa aku boleh memulainya?”