Mafia And Me

Mafia And Me
Such A Whore



Teatro Kapita, Madrid.


 


Sebuah Club malam yang mewah yang begitu besar di kota Madrid, disewa oleh Erick Bruno untuk mengadakan party untuk dirinya sendiri bersama puluhan wanita sexy, cantik dan juga liar. Club malam yang terdiri dari empat lantai itu sudah dipadati oleh banyak orang.


 


Panggung di area tengah yang menjadi pusatnya pun itu ikut berjejer dengan beberapa wanita penghibur yang menari mengikuti lantunan music beat menghentakan untuk memikat Erick Bruno yang duduk di sofa hitam tidak jauh dari panggung di depanya. Puluhan wanita yang berada di atas sana pun mengenali Erick Bruno si Tuan party malam ini.


Alea berjalan di samping Evans yang memeluk sebelah pinggangnya saat memasuki area club yang cukup padat di depan matanya setelah mereka masuk dari pintu samping.Tidak mungkin Evans masuk dari pintu utama karena sama sekali devil itu tidak diundang di acara party tersebut.


Evanslah menyelusup masuk ke dalam club itu yang tak lain sudah diatur semua oleh orang kepercayaanya agar mereka bisa masuk dengan mudah.


 


Meskipun mereka tamu tidak diundang, yang seharusnya terlihat biasa dan tidak mencolok namun tatap saja kehadiran Evans Colliettie yang rupawan dengan mamakai coat kulit dengan bagian lehernya dihiasi bulu-bulu halus berwarna putih itu membuat siapapun yang dilewatinya langsung menoleh penuh minat.


 


Apa lagi para wanita jalang yang sejak tadi sudah menatap Evans penuh damba. “Astaga…tempat ini lebih dari di neraka,” gumam Alea yang terdengar oleh Evans di sampingnya dengan menatap Alea, heran.


 


Alea menoleh ke belakang dengan tak sengaja mendapati Mika yang sudah berada di belakangnya.


 


Sejak kapan?


 


Alea tidak tahu kapan datangnya Mika. Alea termangu melihat Mika yang mengenakan gaun selutut dilengkapi riasan hingga terlihat begitu berbeda dan cantik.


 


Mika benar-benar terlihat sangat cantik dan kenapa devil seperti Evans tidak—ahh rasanya impossible karena dari penuturan Bryan devil itu sama sekali tidak pernah jatuh cinta. Karena cinta bagi Evans adalah sebuah omong kosong belaka. Alea masih termangu di belakang sana menatap kecantiak Mika.


 


“Aku masih tetap wanita, bukan? Dan jangan menatapku seperti itu hanya karena aku memakai gaun dan riasan seperti ini,” ucap Mika di depan Alea, heran. Karena Alea sama sekali tidak mengatakan apa-apa kepada wanita cantik itu.


 


Mata Elang itu menemukan mangsa di depan sana, melihat Erick Bruno yang tengah duduk santai dengan beberapa wanita jalangnya di samping kanan dan kirinya dengan wajahanya yang angkuh.


 


“Pria itu benar-benar pecinta wanita,” gumam Evans di sampingnya terdengar oleh Alea karena tubuhnya terhempit orang-orang hingga dia harus merapat diri ke Evans yang tengah focus menatap ke depan.


 


Evans menoleh ke bawah menatap Alea yang merapatkan tubuhnya padanya.


 


“Kenapa kau seperti siput menempel seperti ini hmm?”


 


Alea terdiam melihat di sampingnya yang mana para pria di sekelilingnya menatapnya. Dan gaun sialan ini yang membuat para lelaki menetapnya penuh minat.


 


Evans melihat beberapa orang yang duduk di seberang sana menatap Alea hingga wanita bodoh itu tidak focus akan perkataanya.


 


Evans melingkarkan lengannya pada pundak Ale menatapnya dengan berbisik, “Apa aku harus mencobamu terlebih dulu, setelah itu. Aku akan lemparmu pada umpanku itu hmm? Kau memang sungguh menggoda bahkan pria di sebelah sana pun menatapmu penuh minat.”


 


Alea mendengus menatap manik mata Evans. “Aku bukan wanita jalang!”


 


“But you—Such a whore!”


 


Evans tersenyum simpul dengan mengeratkan rangkulanya di bahu Alea dan berkata kepada Alea, “Aku yakin kau bukan perawan lagi Alea! Aku tahu kau bukan wanita polos dan aku ingin mencobanya denganmu, sehebat apa Mike Shander mengagahimu?" tanya Evans pensaran..


 


Alea berkacak pinggang di depan Evan setelah melepaskan rangkulanya.


 


“Sebenarnya tujuan kau mengajakku kemari untuk apa sih hah? Jika kau ingin menggagahi wanita maka pulanglah ke Napoli dan mintalah kepada wanita jalangmu itu!” decak Alea yang tak kalah galak kali ini kepada devil di depanya dengan rasa tidak takut kepada Evans.


 


Evans menahan tawa kenapa kali ini Alea lebih galak darinya. Oh sial!


 


Evan menghela napas dalam kembali ke mode awal, berdekatan dengan wanita bodoh seperti Alea membuatnya ikutan bodoh pula.


 


“Pergilah ke sana dan jerat dia dengan semua pesona yang kau miliki bagaimanapun caranya, aku tidak peduli!"


 


“Jika aku tidak bisa?”


 


“Lakukan semua yang sudah kita bahas Alea. Bila perlu kau harus menari telanjang di sana?”


 


"What?" seru Alea menautkan kedua alisnya.


 


“Astaga kau benar-benar menjadikan aku wanita jalang!” gumamnya.


 


 


Evans melepaskan Alea begitu saja di sana dan devil itu dengan santainya pergi meninggalkan Alea menuju tangga atas dan duduk di lantai satu tepat menghadap ke panggung untuk mengawasi wanita bodoh itu.


 


Alea bergerak mencoba mendekati Erick Bruno namun tubuh kecilnya tak bisa menggapai pria di depan sana karena terdorong-dorong beberapa orang di sana.


 


Ia pun mencoba mendekatinya kembali namun tidak berhasil kembali ia tidak bisa terlalu dekat karena wanita-wanita di sekitarnya seperti tidak mengizinkanya untuk mendekat pada sang empu yang memiliki party malam ini.


 


Alea hanya bisa menatap pria itu dari jauh yang nampak bosan, bahkan beberapa wanita di samping kanan dan kirinya tidak henti mengelusi dadanya dan mengusap paha pria itu.


 


Pria itu terlihat mempesona meski tidak terlalu tampan, dan devil sialan itu yang sudah meracuni otaknya karena ketampanan The Black Rose tidak bisa hilang dari otaknya.


 


Evans di seberang atas sana melihat gerak gerik Alea dengan sesekali mengusap keningnya akan wanita bodoh itu yang sudah terlihat beberapa kali gagal mendekati Erick Bruno.


 


 


 


“Baiklah aku akan bertingkah layaknya bicth agar bisa menyelesaikan semua rencana devil itu dan semoga pria itu tidak mencurigaiku,” batin Alae naik keatas panggung.


 


Alea berdiri dengan sebelah tanganya menutupi mata, karena begitu silau dan begitu hingar binger. Ia pun meraih segelas beer saat seorang wanita membawa beberapa gelas beer di atas nampanya yang tengah melewatinya, ia merebut dan menggenggamnya erat.


 


“Untuk sekali ini saja,” gumam Alea dengan menatap ke depan.


 


Alea meminum bir yang ia pegang dalam sekali teguk sembari bejalan mengarah ke depan panggun dan berdiri diam di belakang wanita-wanita yang masih berjoget setelah menghabiskan minumanya.


 


Alea tidak kuat minum, walau hanya satu gelas saja pun tubuhnya sudah sempoyongan dan mulai pusing. Tanpa sengaja gelas itu terlepas dari genggamanya terbanting dan pecah berkepin-keping ke lantai membuat semua wanita di depanya berbalik dan memperhatikanya.


 


Alea dengan refleks menunduk ke bawah memperhatikan pecahan kaca yang berserakan lalu melihat ke depan sana yang mana semua orang menatapnya heran termasuk Erick Bruno yang menaikan sebelah alisnya. Dilihat dengan jelas sebuah kalung salip yang menggantung di leher Erick Bruno.


 


Dentuman music beat yang di remix ulang menghasilkan efek menghentakan yang di mainkan oleh seorang disk jockey, lagu Such a whore dari Jvla yang menghentakan membuat malam semakin memanas begitu un juga dengan Alea.


 


 


You such a fuckin' hoe, I love it.


(Alunan music)


 


Bait pertama lagu itu masuk ke dalam telinga Alea, ia terdiam sesaat memejamkan matanya menikmati alun music remix itu seraya mulai menghipotis dirinya dan mulai menggerakan tubuhnya dengan gemulai.


 


 


I know you like it more, I love it.


(Alunan music)


 


 


Alea bergerak ke depan dengan heelnya menginjak pecahan gelas yang berserakan dan menari erotis di depan sana dengan para wanita jalang lainya.


 


Di dalam kepalanya ia melakukan tarian erotis itu bukan dari rencananya bersama dengan devil yang berada di atas selalu memperhatikan dirinya.


 


Apa lagi untuk memikat seorang pria pembunuh bayaran seperti Erick Bruno yang di minta Oleh Devil dari Italia itu. Tidak sama sekali!


 


Alea hanya ingin menikmati alunan music remix tersebut, seolah mengingatkan Alea yang selalu melakukan hal-hal gila bersama dengan seseorang yang selalu mengajarkan dirinya tarian erotis seperti ini.


 


Ya, tepatnya Alea teringat dengan sahabat tercintanya, Jessie yang selalu mengajarkan gerakan tarian erotis kepadanya.


 


Latar belakang Jessie yang seorang wanita jalang yang terbiasa di club-club malam pun, keduanya selalu menari dengan polosnya berdua menikmati kegilaannya saat dulu.


 


Menurut Jessie, Alea cukup berbakat melakukan gerakan yang sering  Jessie ajarkan kepadanya meski Alea wanita alim yang tidak pernah mau mencoba menarinya di depan panggung, di depan pria manapun  dan kali ini Alea menujukan yang ia bisa di depan semua orang.


 


Hingga banyak pasang mata kini menatap Alea penuh minta.


 


I **** it when I'm on, I love it.


(Alunan music)


 


 


Alea membuka mata, kedua mata indahnya itu mengarah pada sepasang mata yang berada di depan sana. Namun sayangnya itu bukan Erick Bruno, melanikan Evans Colliettie yang duduk santai di tempatnya ikut menikmati tarianya.


 


Meski ekpresinya terlihat begitu datar, tenang dan santai. Devil itu hanya menghisap cerutunya dan menghembuskan asapnya ketas. Matanya setajam elang sekelias meliriknya sesaat seraya menatap penuh makna. Menginginkan wanita bodoh yang begitu liar malam ini.


 


Alea tersenyum miring dan kembali bergerak gemulai. Cukup menikmati hingga lagu ini akan habis dan tidak memikirkan akan rencanya tersebut.


 


 


I'm grinding she's a whore.


(Alunan music)


 


Alea tesentak akan seorang pria menarik lenganya membawanya merapat ke tubuh pria tersebut dan mendaratkan kecupan di sekitar wajahnya membuat Alea tersentak dari lamunanya.


 


Alea tersenyum cantik, kedua lengannya begitu saja mengalungkan di leheri si pria dengan kini keduanya bersitatap, saling mengulum senyum manis. Pria itu tidak lain pria penikmat wanita Erick Bruno yang saat ini mendekat dan menatapnya penuh minat.


 


Di dalam lubuk hatinya jelas ia tercengang, ketika pria incaran Evans Colliettie tersebut terjerat olehnya, bahkan Alea berpikir tidak sedikitpun dirinya menggoda pria seperti Erick Bruno, karena ia tidak tahu bagaimana menggoda dan menjerat pria.


Alea terdiam sesaat, dengan tubuh Erick yang sangat rapat. Di pandanginya Evans yang di atas sana terlihat berdiri dari duduknya dan mengabaikan Alea.


 


Alea mengusap lembut rahang mulus Erick dan mendaratkan bibirnya untuk mencium Erick dengan agresif meski ia sama sekali tidak menginginkan ciuman sialan ini.


 


Namun demi perannya saat ini,  ia harus melakukan agar terlihat meyakinkan bahwa dia memang wanita jalang yang penuh dambi pada sosok Erick Bruno.


Erick meremas pinggang Alea dengan erangan yang terlihat tertahan. Alea kembali mencuri padang pada pria di seberang sana di sela ciumanya dengan Erick.


 


 


Inikah yang diinginkan olehnya?


 


Bersambung...