Mafia And Me

Mafia And Me
Aku Di Jual



Guardian Company, London.


 


Mike baru saja turun dari mobilnya berjalan masuk ke dalam kantor miliknya, berjalan dengan gagah hingga semua orang yang berada di sekitarnya pun menunduk seraya memberi hormat. Mike masuk ke dalam lift untuk menuju ruanganya.


 


Akhir-akhri ini susana hati Mike sedang baik karena wanita jalang itu sudah tak kembali bekerja dan entah ia pergi ke mana. Sudahlah ia pun tak merasa rugi jika wanita jalang itu tak bekerja kantornya.


 


“Tuan, ada wanita yang mencari anda,” ucap sekretaris baru Mike. Mike yang terfokus dengan ponselnya pun melihat kedepan.


 


“Tiara…”


 


Tiara menghampiri Mike dengan wajah yang cemas. “Ke mana Ale, kau ke sini tak bersama dengan Ale?” tanya Mike membuat Tiara semakin panik lagi.


 


“Aku pikir Ale bersamamu Mike, makanya aku datang kemari untuk mencarimu. Semalam bukanya kalian janjian untuk bertemu?”


 


“Semalam? Semalam aku di Ripon ada urusan pekerjaan dan aku baru pulang. Sial!!!” umpat Mike merasa kecolongan mungkin ketidak datangan wanita jalang ke kantornya pasti sedang merencakan sesuatu yang tak lain membawa Ale.


 


“Sial kenapa Mike?” tanya Tiara.


 


“Masuklah dulu ke ruanganku aku akan ceritakan kepadamu di dalam sana,” pinta Mike dengan menelpone orang-orangnya untuk mencari informasi tentang kekasihnya yang di bawa oleh Gina.


 


Mike masuk ke dalam setalah usai menelpone duduk di depan Tiara dan mendengarkan cerita Tiara jika semalam dirinya mengirim pesan untuk bertemu di suatu club. Mike merasa aneh karena ia pun kehilangan ponselnya dan tak pernah mengajak Ale ke tempat seperti itu.


 


Club? Bukan gaya pacaran seorang pengusaha sukses Mike Shander mengajak kekasihnya ke tempat seperti itu, karena selama bersama dengan Ale dirinya sudah tak pernah menginjakan kakinya ke club.


 


'Ini semua pasti rencana busuk Gina,' lirihnya.


 


“Jadi Ale di jebak oleh Gina? dan kau semalam berada di Ripon?” tanya Tiara tak percaya. Mike mengangguk pelan.


 


“Bagaimana ini Mike…” tanya Tiara kembali menujukan ponselnya yang mana sejak tadi Jessie menelponenya terus.


 


“Jessie sejak tadi pagi menelponeku menanyakan Ale?”


 


“Kau bilang saja dulu Ra, jika Ale bersamaku. Aku malas mendengarkan ocehana Jessie. Aku meeting dulu sebentar.” Mike keluar dari ruanganya menuju meeting bersama dengan sekretarisnya.


 


 


***


 


“Apa Gina menjual wanita? Apa itu Alea?” pekik Mike.


 


Mike dengan tatapan gusar melihat wanita yang di jual oleh Gina. Alea yah itu Ale. Ia di jual oleh Gina untuk membalas dendamnya pada Mike sekaligus menebus hutang-hutanganya pada pria tua Bangka.


 


“Pada siapa Gina menjual kekasihku?” tanya Mike pada orang kepercayaanya lewat panggilan telponenya.


 


'Berengsek!!! Gina benar-benar berengsek sudah menjual kekasihku pada Santhos si pria tua Bangka berengsek itu,' lirih Mike langsung pergi meninggalkan kantornya bergegas pergi untuk menemukan Ale di sana.


 


Dengan tangan kosong Mike Shander menghampiri kediaman pria tua Bangka. Tak ada rasa takut pada Mike Shander untuk bertemu dengan mafia yang terkenal keji itu. langkah kakinya terhenti ketika melihat wanita jalang di ambang pintu yang sedang ditarik keluar oleh orang-orang Santhos.


 


'Sebenarnya ada apa lagi? Kenapa dengan wanita jalang itu yang kini menangis,' lirih Mike memperhatikan tingkah Gina yang terlihat kesal.


 


“Sial!!! William Brug aku akan membunuhmu yang mana kau tega menghinatiku dasar berengsek,” teriak Gina.


 


“Apa William membawa Ale? Jadi kekasih cadanganya itu membawa Ale dari tangan Santhos,” batin Mike tersenyum lega setidaknya Ale masih aman jika di tangan William bukan di tangan Santhos yang mana akan menjadikan kekasinya itu mainanya.


 


***


 


Malam itu…


 


Entah alasan apa yang kini berada di benak William. Memberanikan dirinya untuk mengindap-indap di lantai dua yang mana tidak ada penjaga Will berencana akan membawa Ale dari tangan Santhos.


 


Pintu berwarna gold di ujung ruangan itu menjadi target William yang mana dirinya yakin jika Ale berada di sana, sebuah ruangan pribadi Santhos untuk bersama dengan para wanita penghiburnya.


 


Tentu bukan perkara mudah baginya mengambil Ale dari tangan Santhos karena ia tahu konsekuensinya, mati di tangan pria tua Bangka itu.


 


'Maafkan aku Gina, aku harus mengambil wanita cantik ini tak aku biarkan kau menjual Ale ke tangan pria tua Bangka,' lirih William pergi dari lantai dua dengan langkah cepat.


 


Pria tua itu berjalan menuju kamar pribadinya yang mana ia amat sangat senang malam ini karena mempunyai mainan baru, wanita cantik dengan masih perawan itu adalah salah satu mainan paling mahal dari Santhos.


 


Santhos terperangah melihat ruangan yang kosong tak ada wanita cantik itu di dalamnya dan tak mungkin wanita itu kabur karena Gina mengatakan wanita itu tak sadarkan diri karena obat tidur. Apa Gina menipunya?


 


“Pengawaaall” Pekik Santhos.


 


“Iya Tuan.”


 


 


 


***


 


Sebuah bangunan tua Ale di sekap di sana dengan di jaga oleh sepuluh anak buah William yang tersisa. Ia kini akan memanfaatkan Ale agar kekasihnya Mike Shander mau memberikan uang tebusan untuk kekasih tercintanya yang ia sekap.


 


Namun entah apa yang merasuki pikiran William sejak tadi menatap wanita itu dengan lekat dan tergiur akan tubuh Ale yang selalu memakai pakain tertutup, sehingga ia ingin sekali mencicipi tubuh wanita cantik itu sebelum orang lain dan sebelum Mike Shander yang menyentuhnya.


 


Seperti apa yang di katakan Gina tentang wanita cantik di depanya ini, jika Mike Shander tak pernah menyentuh Ale sedikitpun.


 


William berada di samping tubuh Ale, mencium bibir merah mudanya dengan penuh gairah kedua tanganya yang sudah menjelajah pun membuat William sangat menginginkan wanita di sampingnya ini.


 


Tangan satu Will membuka kancing kemaja Ale satu demi satu, namun tanganya terhenti saat membuka kancing ketiga. Ia melihat seseorang yang berada di samping Ale yang entah siapa orang itu yang sedang memungguinya.


 


Dua hari sudah Ale di sekap di dalam sana, namun entah obat tidur jenis apa yang di berikan Gina kepada Ale, kenapa wanita itu masih saja tertidur seperti mayat tak bergerak sama sekali, beberapa kali William cek namun ia masih bernafas namun kenapa wanita ini tak kunjung bangun pula.


 


Gina murka pada William karna dia sudah menghiantainya membawa kabur Ale dari tangan pria tua Bangka itu sehingga menyuruh anak buahnya untuk menyeret dirinya menuju kediaman Santhos.


 


 


***


 


Ale membuka kedua matanya perlahan melihat di sekelingnya, entah di mana namun rasa ia sudah di jebak oleh Gina. Apa Gina akan membalas dendam kepadanya?


 


Ia menggerakan tubuhnya yang terasa sakit namun amat sulit untuk ia menggerakan tubuhnya karena tali yang mengikat tangan dan kakinya dengan posisi dirinya yang duduk membuatnya kesusahan.


 


"Help me…” teriaknya.


 


“Akhirnya kau sadar juga, aku sudah bosan menunggu mayat seperti mu yang tak kunjung bangun," ucap pria yang sedang memainkan kartu di sudut pintu.


 


“Haahh…maksudnya?" tanya Ale terbingung sendiri mendengarkan ucapan pria di depanya itu.


 


“Sayang kau cantik namun tuli, kau sudah tidur di kursi itu selama dua hari. Aku pikir kamu sudah mati.”


 


"Tolong lepaskan aku, tubuhku sangat sakit,” pinta Ale mencoba melepaskan ikatanya namun ia merasa sulit.


 


Pria itu tersenyum berjalan menghampiri Ale yang mana wanita itu melihat kedatanganya. "Haaii akhirnya kau terbangun juga, kau tidur terlalu lama Ale.”


 


"Wiilliam. Kau? Tolong lepaskan aku Will kenapa kau menyekapku seperti ini. Apa maksudmu apa kau dan Gina sengaja menjebakku di club itu?” tanya Ale menatap William.


 


“Sttt...dengarkan aku cantik. Aku tak menjebakmu kau seharunya berterima kasih kepadaku karena aku sudah menyelamatkanmu dari pria tua Bangka yang mana Gina sudah menjualmu untuk melunasi hutang-hutangnya yang amat banyak kepada mafia itu sekaligus balas dendam Gina akan perbuatan kekasihmu itu, Mike Shander."


 


Ale terbelalak mendengar perkataan William, “Apa aku di jual? Untuk membayar hutang Gina dan membalas dendam Mike?” Ale terkesiap menghela napas panjang.


 


“Apa kau tak tahu jika Gina kini sedang hamil anak Mike? Kau pasti terkejut bukan?"


 


Ale terdiam menatap tak percaya jadi benar hasil usg itu benar milik Gina dan kini Gina mengandung anak Mike. Ale menggeleng pilu ia masih belum percaya jika Mike setega ini menghianatinya.


 


“Kau terkejut bukan kekasihmu sudah menghamili sahabatnya sendiri sekaligus sekretarisnya sendiri. Seharunya kau berterima kasih kepadaku Ale, karena aku sudah menceritakan semua kebusukan kekasihmu...ahh ini semua belum seberapa Ale.


 


"Dan kau pun harus berterima kasih kepadaku karena jika bukan aku yang menyelamatkanmu, kau mungkin kini sudah berada di mansionya menjadi penghangat ranjang pria tua Bangka dan menjadikanmu salah satu koleksi Santhos wanita paling mahal di rumah bordirnya.”


 


Ale terperangah dengan kedua matanya menatap lekat pada pria di depannya, ia masih belum percaya perkataan William yang ia sendiri megetahui jika William pun mengambil untung dari membawa dirinya.


 


“Kau membohongiku?”


 


William menghampiri Ale duduk saling berdepanan. “Kau pikir sendiri apa aku membohongimu? Tak mungkin bukan jika seorang Mike Shander mengajakmu bertemu di sebuah club? Aku rasa itu bukan gaya seorang Mike Shander pengusaha kaya raya, bukan begitu?”


 


“Lepaskan aku Will, aku mohon.”


 


“Tenang saja Ale, aku tak seperti Gina yang akan menjualmu pada pria tua Bangka di luaran sana. Namun aku akan menukarmu dengan uang sebentar lagi, jadi bersabarlah sampai kekasihmu itu menebusmu,” kata William tersenyum miring.


 


“Kau samanya dengan Gina William memanfaatku,” teriaknya.


 


Namun William tak mempedulikanya teriakan Ale. Ia hanya tersenyum manis karena sebantar lagi Mike Shander akan membawa uang yang mana akan ia pergunakan untuk melarikan diri.


 


 


Bersambung...