Mafia And Me

Mafia And Me
Diam-diam Peduli!



“Tapi, boleh juga gerakan mu yang cepat menolong wanitaku,” sambung Marvio.


“Ck!” decak Evans seraya mengayunkan kakinya untuk pergi.


“Hone…”


Panggilan itu membuat Evans yang baru saja akan pergi dari hadapan dua orang itu pun ikut terhenti. Veronica berjalan menghampiri Evans tapi sayang, Evans berlalu saja pergi meninggalkan wanita itu dengan tatapan tidak suka.


Evans tidak peduli dengan wanita mana pun, sekalipun pada Veronica dimana pria itu sengaja melemparkan dirinya dan meminta wanita itu untuk jadi pasangan di pesta saudaranya.


Veronica mendengus sebal karena Evans lagi lagi mengabaikannya di mana di menyusulnya.


“Maafkan aku sekali lagi, Alea.”


“Sudahlah, Mar. Aku juga tidak apa-apa, kok,” kata Alea seraya mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap pria dingin itu.


Tetapi, itu tidak pernah berhasil. Entah kenapa matanya begitu berkhianat dan ingin selalu melirik pria itu.


“Ya, sudah kalau begitu. Sebaiknya kita mencicipi hidang. Kamu pasti lapar bukan?”


Alea ingin sekali marah, kenapa pangeran seperti Marvio sama sekali tidak punya sopan santun.


Bila benar Marvio seorang pangeran dan bangsawan tentunya pria itu punya tata krama, tidak seenak dengkulnya menarik dia kemana-mana tanpa aba-aba.


Alea seperti anak domba yang harus mengikut sang induk pergi kemana-mana.


“Bisakah kamu tidak menarikku seperti anak kambing?”


Marvio hanya berikan tawa pelan. Lagi, lagi Alea dibuat geram sang pangeran kodok membawanya dimana Evans berada.


“Kau sepertinya sengaja melakukan hal ini padaku, hmm? Apa kau sudah bosan hidup di dunia ini?” desis Evans.


Pria itu berdiri dengan santai dengan gelas tinggi di pegangnya.


Lelaki itu berbicara pada saudaranya yang tak lain Leo, pria itu sudah berani membuatnya geram.


 “Astaga. Apa kau amnesia, Dude? Aku sudah mengatakan padamu kalau aku mengundang Alea ke pestaku bagaimana pun caranya?” balas Leo, tanpa sedikit pun takut dengan bentuk ancaman Evans.


“Ck!” decak pria itu lagi.


“Kau jelas sudah menentangku, Leo! Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak membawa dia keluar dari mansionku!”


Dua orang yang tak jauh dari Evans dan Leo pun mendengarkan perdebatan tersebut.


Si tersangka yang menjadi inti dari masalah ini pun cukup hanya bisa menyesap orang jus yang dipegang lalu menghela napas panjang.


“Dia kekasihmu sampai kamu tidak mengizinkannya untuk keluar sedikit pun dari mansionmu, hah”


Evans menatap nyalang, wajahnya sudah menatap murka pada saudaranya itu.


Sumpah demi apapun pria itu ingin membunuhnya detik ini juga bila ia tidak mengingat kalau pria yang berdiri itu adalah sepupu dari sang ibu.


“Come on, Evans. Dia hanya datang untuk bersenang-senang sejenak di sini dan tidak akan pernah pergi dari Roma dan cengkeramanmu.


“Kamu boleh, membawa Alea pulang bila pestaku selesai.”


Manik mat Evans yang nyalang pandangi sekitar ruangan besar ini dengan mata yang awas.


“Seharusnya wanita bodoh itu tidak ada di sini, Leo!” seru Evans dengan suara tinggi.


Tidak hanya suara, namun manik matanya tak lepas seolah melihat sesuatu yang tak beres.


Jangan lupakan bagaimana rahangnya yang mengetat. Evans terlihat marah besar.


“Kamu kenapa sih, Dude. Tolong jangan berlebihan pada dia, kasihan. Dia bukan tahanmu bukan?


“Sepantasnya dia pun bisa merasakan hingar bingar pesta yang sesungguhnya ini. Tidak monoton terus menjadi pelayan pribadi,” ucap Leo kembali.


Dia tidak setuju dengan bentuk kekejaman Evans pada Alea. Evans menarik nafas dengan satu tarikan dengan mata penuh awas.


“Dan kau sengaja membohongiku! Gaun itu?”


Evans menunjuk dengan dagunya pada Alea yang jelas wanita itu mendengarkan pembicaraan.


“Kau merengek padaku untuk membelikan gaun untuk Olivia. Tapi nyatanya—”


“Kau menjebakku dan wanita bodoh itulah yang memakainya!”


Leo menarik bibirnya membentuk senyuman.


“Alea cantik bukan? Gaun pilihanmu itu begitu sempurna di pakai untuk Alea,” jawab Leo dengan cengiran.


“Kau—”


“Ev,” sela Alea seraya berbalik badan.


Wanita bergaun merah itu selangkah maju.


Mendengarkan nama dia terus diperdebatkan di sini membuat Alea lama-lama pun jengah.


Sang empu langsung berikan pelototan tajam. “Apa perlu aku melepaskan gaun ini dan memberikan padamu? Sungguh aku tidak tahu kalau gaun ini untuk Olivia.”


Evans semakin melotot tajam. “Aku mohon, jangan berdebat lagi.


“Aku berjanji tidak akan merepotkanmu, tidak akan lari darimu dan aku tidak akan mempermalukanmu dan juga Tuan Leo di pesta ini. Aku mohon untuk sekali ini saja.”


Alea seolah tidak tahu diri kali ini.


Evans diam tak membalas, hanya sorot mata yang tajam tak lepas menatap Alea.


“Sebaiknya kita pergi, Evans. Bukannya kau akan menyambut kedatangan Richard?” bujuk Veronica mengapit lengan Evans dan mengajaknya untuk keluar dari tiga orang di depannya.


Sayang, pria itu melepaskan tangan pasangannya dan berlalu pergi begitu saja tanpa repot harus menjawab perkataan dari wanita bodoh itu.


Veronica yang sebel dengan sikap Evans yang dingin pun mendengus pelan, setelah beberapa detik memandangi Evans yang pergi. Wanita itu pun selangkah maju dan mendekati Alea.


“Ya Tuhan, maafkan aku.”


Veronica menumpahkan cairan hitam di gelas tingginya tepat pada gaun yang Alea pakai. Gaun yang dibicarakan Evans dengan saudaranya.


“Aku sengaja menumpahkannya karena aku tidak suka melihatmu, jallang!”


Alea sudah tahu itu, ia pun tidak ingin berkomentar apapun pada Veronica yang bisa Alea lakukan hanya mengusap gaun yang basah tumpahan wine di mana sesekali matanya melirik pada punggung tegap Evans yang menjauh.


“Pakailah ini.” Marvio mengulurkan sapu tangannya.


“Kamu tidak apa kan?”


Alea membuang napas. “Tidak. Apa, kamu nggak usah khawatir dan maafkan aku Tuan Leo mengotori gaun cantik ini,” kata Alea turut menyesal.


Dia teledor tidak lekas menghindar dari Veronica, dari tatapan matanya yang penuh benci padanya harusnya Alea waspada bukan bila kejadian ini akan terjadi?


“Dingin dan angkuh! Sok pura-pura marah karena kamu datang ke sini. Sok pura-pura nggak menganggapmu nggak ada.


“Tapi diam-diam dia peduli dengan kedatanganmu di pesta ini. Ck! Sungguh menyebalkan,” gerutu Marvio kesal.


Tetapi, tidak dengan Leo. Pria itu menarik sudut bibirnya, dia semakin yakin kalau saudaranya ada sepotong hati yang tak terasa itu milik wanita cantik di sampingnya.


“Sepertinya ini permainan menarik bukan, Mar?”


“Ya, sih!”


Alea mendengus pelan. “Jangan punya pemikiran yang berlebihan dan tidak-tidak, karena saudara anda itu berkata seperti itu karena aku ini adalah pelayannya,” sahut Alea pada dua lelaki yang terlalu berharap lebih.


“Mari kita buktikan lagi, Leo. Aku pun masih penasaran.”


Baru saja mulut Alea hendak membuka dan menjawab perkataan dua pria yang menyebalkan, Marvio sudah menyerupai Leo.


Dua pria itu sepertinya berambisi ingin membuktikan dengan peraduganya dengan menarik kembali tangan Alea dan membawanya mendekat di mana Evans kini berada.


Dengan gaya coolnya, sang pangeran itu pun menyapa pria paruh baya yang tengah berbicara dengan Evans.


Pria itu tengah berbicara hangat dengan seorang bangsawan Italia, Richard Burg.


“Selamat malam Mr Burg, senang bertemu anda di pesta ini,” sapa Marvio ramah dimana pria itu melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Alea.


“Malam Marvio, kemana ayahmu?”


“Beliau ada perjalanan bisnis di Belanda.”


Pria senja itu tersenyum hangat pada wanita yang dibawa oleh Marvio putra dari sahabatnya.


“Apa wanita cantik ini kekasih barumu, Mar?”


Marvio berikan senyuman hangat, wajahnya menoleh ke samping menatap Ale sejenak.


“Bagaimana Mr Burg, cantik bukan?”


Bukan langsung menjawab, Marvio memberikan pertanyaan diiringi lirikan sinis pada Evans yang berdiri dan diam.


“Sure. Dia sangat cantik.”


Richard mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan wanita cantik yang dibawa oleh Marvio.


“Aku Richard Burg, siapa namamu Nak?”


Alea dengan ragu dan dada berdebar pun menerima uluran tangan pria senja di depannya itu.


Dia tidak akan menyangka kalau akan bertemu dengan orang-orang berkelas di pesta ini.


“Alea, sir.”


“Well, beautiful.”


Alea menjawab seulas senyuman lembut. “Aku yakin ayahmu pasti akan setuju.”


Pria senja itu tak lepas pandangi sepasang kekasih muda di depannya, pria itu pun tersenyum lebar.


“Ah—anak muda jaman sekarang itu begitu posesifnya pada pacarnya.


“Dari cara kamu mendekapnya erat seolah kamu ini takut kalau Nona cantik ini pergi.”


Marvio tertawa pelan. “Lebih tepatnya lagi aku takut diambil orang, Mr.


“Lengah sedikit nanti keburu disambar pria lain!”


  comentnya dong, jangan lupa like dan hadiahnya yah, terima kasih