
“Pakailah kamu pasti dingin.” Massimo menyampirkan jas hitamnya pada punggung Alea.
“Angin malam tidak baik untuk kesehatan,” kata Massimo lagi.
Setelah pamit pada Leo, tak ambil waktu lama lagi. Keduanya keluar dari hotel bintang lima dan meninggalkan pesta yang masih berlangsung.
Pakaian Alea yang sedikit terbuka di bagian dada tentunya membuat wanita itu kedinginan apalagi di malam seperti ini.
“Terima kasih, Mas.”
“Ya,” jawab Massimo pendek. Pria itu membuka pintu mobilnya dan Alea pun masuk ke dalam mobil.
Tak lama mobil hitam pekat Massimo melaju membelah kota Roma di malam hari.
“Apa kamu ingin ke suatu tempat?”
“Apa Evans mengizinkannya?”
Massimo berikan senyuman, lalu menggeleng pelan.
“Tentu dia tidak akan mengizinkannya. Lebih tepatnya tidak mengizinkan kamu dibawa kemana-mana.”
Alea mendesah pelan, paham akan hal itu.
Massimo menoleh ke samping kanan dan kiri pada kaca yang memantulkan dua mobil hitam tepat di belakangnya mengikut kemana dia pergi.
Itu anak buah Evans, yang sengaja mengikut kemana Alea pergi.
“Apa kamu ingin pergi ke pantai di malam hari?”
“Mau….” Seru Alea keras.
“Oke, kita akan ke pantai sekalipun gelap dan tidak bisa melihat apa-apa.”
Alea mengangguk paham akan hal itu.
“Tapi bagaimana dengan Evans?”
“Sudahlah, tidak usah kamu pikirkan. Dia masih ada di pesta Leo bersama wanita jallang bukan? Jadi waktu dia sangatlah banyak bermain-main lebih dulu dengan wanitanya.”
“Lalu mereka?” tunjuk Alea ke belakang.
Dia tahu, kemana-mana dia akan pergi pastinya anak buah Evans akan mengikutinya.
“Biarkan saja, toh aku akan membawamu pulang lagi ke mansion.”
Alea menarik napas pelan seraya mengangguk. Dia pun ingin menenangkan hati dan pikiran yang tidak baik-baik saja saat ini.
Alea duduk di sebuah kursi kecil bersama dengan Massimo.
Pria itu begitu terniat sekali ingin mengajaknya ke pantai. Duduk di pinggiran pantai dengan dua kursi santai kecil yang pria itu bawa.
“Kelihatanya kamu suntuk sekali sih, hmm? Ada apa. Ceritalah padaku.”
Alea bukan langsung menjawab, tapi wanita itu langsung menghisap sekaleng beer yang dia pegang.
“Apa kamu memikirkan saudaraku?”
“Terus kamu kenapa sejak tadi diam saja kayak lagi banyak pikiran?”
Alea mendengus pelan seraya pandangi pria itu.
“Aku nggak kenapa-napa cuman aku lelah saja karena di pesta itu Marvio tak lepas membuatku kesal dan juga lelah.”
“Hah? Memang pangeran ngapain kamu sampai membuat kamu kelelahan?” tanya Massimo tidak paham. tidak mungkin bukan bila Alea dan Marvio berbuat hal yang tidak—
“Stop! Jangan berpikir yang tidak-tidak.”
Massimo menatap Alea tanpa berkedip, seolah wanita itu membaca apa yang tengah dipikirkannya.
“Dia mengajakku berdansa sampai kakiku pegal,” cicit Alea kembali menyesap kembali beer.
Massimo tertawa pelan, pria itu mendekatkan kaleng beernya untuk chers bersama.
“Aku pikir kamu memikirkan saudaraku yang lagi berduaan dengan wanita jallang!”
Alea menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan.
“Tidak ada gunanya aku memikirkan saudaramu itu.”
“Apa kamu mencintai saudaraku, Alea? Aku lihat cara kamu menatapnya tadi begitu juga Evans, aku tebak kalian sama-sama ada something special.”
Alea terkekeh seraya menolehkan wajahnya pada si lawan bicara. Ini memang tidak lucu, tetapi bagi Alea ini lucu karena orang-orang selalu menganggapnya dia mencintai Evans. Itu tidak sama sekali.
“Kenapa ketawa. Nggak ada yang lucu, Alea.”
“Yeah. Aku tahu itu,” jawab Alea cepat.
Pandangannya kini kembali lurus ke depan di mana hanya suara deburan ombak yang terdengar sekalipun di depannya hamparan laut gelap yang menyapanya.
Tetapi, sekali lagi. Alea merasa tenang, dia benar-benar bisa merasakan udara kebebasan sesaat ini.
“Tidak ada yang spesial, Mas. Aku tidak mencintai saudaramu.
"Bukan cinta yang ada aku selalu ketakutan berada di dekatnya karena saudaramu selalu mengancamku dengan kematian,” ungkap Alea.
Di hatinya entah ada siapa. Tidak ada sepotong nama Evans di sana sekalipun dulu hatinya milik Mike Shander.
Hah—mengingat Mike Shander, Alea jadi merindukan pria itu sekalipun pria itu.
“Apa kamu baik-baik saja disana Mike?” batin Alea bertanya pada langit gelap dan juga angin laut yang menyapanya dengan erat.
“Kadang cinta itu datang secara tiba-tiba, Alea. Kamu pasti akan merasakannya suatu hari nanti begitu juga saudaraku itu nanti.”
Alea tersenyum sinis pada pria tampan di sampingnya. Tidak, Leo, Marvio bahkan keluarga Leo sendiri berharap seperti itu. Tetapi pria itu pun sama berharap pada sesuatu hal yang mustahil.
“Aku tidak mau ada hubungan apapun di mansion saudaramu. Aku tidak mau jatuh cinta lagi pada pria lain.” Alea berikan gelengan pelan.
“Aku tidak mau terikat dengan seseorang dengan keadaanku yang masih seperti ini.”
“Aku hanya ingin hidup tenang di dalam cengkeraman mematikan saudaramu itu, Massimo.”