
“Alea…”
Panggilan dari seseorang di depan pun membuat Alea menatap bingung.
Lebih tepatnya Alea syok menatap wajah seseorang di depannya itu dengan mata yang terbelalak.
Alea tidak asing dengan sosok di depannya. Seseorang itu tersenyum.
“Hai, kemarilah Alea,” pinta seseorang di depannya.
Jantung Alea berdebar, sama sekali dia tidak tahu siapa orang di depannya itu yang lebih dulu tau dengan namanya.
Leo pandangi Alea dengan ekspresi tersenyum, mungkin diantara ketiga orang di dalamnya ini.
Leo lah yang terlihat sangat senang bisa membawa Alea tepat pada seseorang yang selama ini merengek bahkan memaksanya untuk mempertemukannya.
“Kamu pasti bingung bukan dengan apa yang kamu lihat dan dengar?”
Alea berikan anggukan, pasti. “Hm,” jawab Alea pendek cukup dengan gumaman.
Tak merubah tatapan Alea pada seseorang yang mengulum senyuman.
“Kenapa mereka tahu namaku?”
“Tentu dariku. Aku bercerita banyak tentangmu pada mereka selepas aku pulang dari mansion saudaraku.
“Aku bercerita kalau aku bertemu dengan pelayan pribadi Evans.”
Alea hanya diam seraya menarik napas. Rasanya dia ingin sekali tahu siapa orang yang tak lepas menatapnya.
Leo membawa Alea pada dua orang yang duduk dengan anggun.
“Perkenalkan Alea, beliau adalah Jovita, ibuku.”
Leo mengecup punggung tangan sang ibu penuh sayang dan tak lama pria itu menghampiri wanita cantik yang duduk tidak jauh dari Jovita.
“Kalau wanita satu ini.”
Leo berikan senyuman lembut yang diiringi tatapan cinta.
“Dia calon istriku, Casandra,” kata Leo turut mengenalkan tunangannya.
“Sebenarnya pesta ini hanya ingin mengeratkan tali silaturahmi untuk saudara-saudaraku,
“keluarga besarku dan juga teman-teman bisnisku agar lebih dekat lagi sekalipun pertunangan kita sudah dilaksanakan satu bulan lalu di Jerman.
“Berhubung keluarga kita banyak jadi aku memutuskan untuk mengadakannya secara besar-besaran di Roma. Keluarga Colliettie banyak stay di Italia.”
Alea mengulas senyuman lembut, ia pun membungkukkan tubuhnya seraya memberikan hormat pada dua wanita di depannya.
“Senang bertemu dengan anda Nyonya Jovita dan juga Nona Cassandra.”
“Saya turut berbahagia dengan pesta pertunangan anda, semoga pestanya dan rencana anda lancar sampai hari pernikahan tiba.”
“Amin, terima kasih Alea,” jawab Cassandra, tulus.
Seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut pun ikut terbelalak saat mendengarkan nama Alea di panggil.
Wanita cantik itu berjalan cepat. “Astaga. Apa dia Alea?” seru wanita cantik itu ikut terkejut.
Tentunya cerita Leo yang bertemu dengan wanita bernama Alea membuat semua keluarganya menjadi penasaran dengan sosoknya.
Ketika melihat wanita yang menjadi trending topic di keluarganya tentunya ia terkejut.
“Ya Tuhan dia cantik,” ucap si wanita seraya mendekat.
“Aku, Olivia,” ucapnya memperkenalkan diri.
“Alea.”
Alea menerima jabat tangan wanita cantik di depannya sekalipun ya pandangan Alea bingung pada tiga wanita yang seolah mengenali dirinya sementara dia—tidak sama sekali.
“Dia adik perempuanku, Alea.”
Alea melepaskan jabat, Olivia masih menatap dirinya seolah menilai.
“Apa Ka Alea yang Kakak maksud wanita yang harus di make over?”
Leo berikan anggukan pelan, sekali lagi Olivia pandangi Alea sejenak dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Gaun yang Kakak pilih perfect. Pas di tubuhnya.”
Leo berikan satu jempol pada adiknya. “Ah, aku sudah tahu harus merubah Alea seperti apa.”
“Oke. Aku percayakan semuanya padamu, Olive.
Jovita bangun dari duduknya dan meraih tangan Alea. Wanita paruh baya itu membawa Alea pada sofa di depan ruangan luas tersebut.
Alea berikan senyuman lebar lalu duduk di single sofa.
“Si sulung bercerita padaku dengan wajah bahagia dan itu untuk pertama kalinya di sepanjang tahun.”
Jovita menarik nafas pelan. “Dan itu ketika putraku pulang dari kunjungannya dari mansion Napoli beberapa hari lalu.
“Dia bercerita banyak tentang kamu dan juga tentang keponakanku yang terlihat berbeda.”
“Tak lupa dia tersenyum bahagianya menunjukkan buah tangan dari mansion keponakanku.”
“Brownies?”
Jovita berikan anggukan pelan. “Maafkan saya Nyonya. Tuan Leo memaksa untuk membawa kue yang tidak pantas unt—”
“Jangan begitu, Alea. Aku mencicipi kue buatanmu. Enak kok.
“Aku suka malah aku ingin kamu membuatkannya lagi untukku,” kata Olivia yang dianggukan oleh Jovita.
Jovita mengusap punggung tangan Alea. “Sebenarnya akulah yang sudah memaksa putraku untuk meminta kamu datang ke sini sekalipun Evans tidak memberikanmu izin.
“Aku ingin bertemu denganmu, Alea,” ungkap Jovita, dan inilah kenapa Leo begitu keras memintanya untuk datang.
Alea diam menatap bingung. “Ceritakanlah pada kami Nak, kenapa kamu berada di mansion dia
“Aku ingin mendengar ceritamu. Kenapa kamu bisa berada di mansion Evans?
“Apa yang terjadi?” tanya Jovita penasaran begitu juga dua wanita di sampingnya.
Alea semakin bingung pandangi tiga wanita dan juga satu pria yang duduk bersama dengan tunangannya.
Jovita tersenyum hangat. “Ya, sudah. Tidak apa, aku tahu ini privasimu.
“Kami pun tidak akan memaksamu untuk bercerita kenapa kamu bisa terdampar di mansion keponakanku.
“Hanya saja, aku begitu penasaran dengan hubungan kalian ber—”
“Hubungan?” sahut Alea pandangi keempat orang yang mengangguk membenarkan.
Alea semakin bingung. “Saya dan Evans tidak punya hubungan apapun, Nyonya.
“Saya hanya seorang pelayan di mansion nya saja dan itu tidak lebih majikan dan pelayan,” kata Alea.
Sekarang dia semakin paham kenapa Leo dengan kekeh ingin membawanya, tidak jauh karena dia akan di introgasi hal-hal yang seperti saat inilah.
Jovita kembali berikan senyuman pada Alea.
“Apa menurutmu begitu?”
Alea mengangguk mantap, sama sekali dia dan Evans tidak ada hubungan apapun.
“Mungkin saat ini memang kelihatannya seperti itu, tetapi kita tidak tahu bukan bagaimana kedepannya nanti?”
“Aku sangat senang bertemu denganmu, sama sekali aku tidak bisa menduga kalau pada akhirnya Tuhan mengabulkan doaku,” ucap Jovita.
Jovita berdiri dari duduknya begitu pun Alea. Tangan wanita paruh baya itu masih menggenggam erat tangan Alea.
“Nikmatilah pesta malam ini Alea. Maafkan aku tidak bisa gabung dengan kalian karena aku harus pulang ke Jerman.”
“Loh kok pulang ke Jerman? Bukannya ini pesta Tuan, Leo?”
Meksi raut wajah Alea menatap bingung, tetapi wanita paruh baya itu selalu berikan senyuman hangat, bahkan Jovita tertawa dengan anggun seperti Alea tengah berada di dalam film-film bangsawan.
Semua yang ditunjukkan keempat pria itu begitu mempunya gestur berkelas.
“Iya ini pesta putraku. Tetapi, aku tidak mungkin berada di pesta itu, Alea.”
Jovita berikan senyuman seraya mengusap puncak kepala Alea.
“Keberadaanku tentunya akan membuat pesta itu berantakan.
“Sebelum aku mengacaukan pesta putraku alangkah baiknya aku tidak ada di sana bukan?”
Alea diam memandangi wajah cantik wanita paruh baya yang begitu lembut dan baik.
Sekalipun usianya sudah tidak muda lagi, ketahuilah Jovita terlihat muda.
Genggaman tangan Jovita begitu hangat dan membuat Alea merasa nyaman walau ini adalah pertemuan pertama nya.
“Alea—”
Jovita mengusap punggung tangan Alea, senyuman itu kembali terbit dengan tatapan penuh harapan.
“Aku berharap suatu hari nanti aku mendengarkan kabar baik darimu.”