Mafia And Me

Mafia And Me
You Win!



“Nona Alea….”


“Ya…” jawab Alea seraya berbalik badan. Dia pandangi pria bertubuh besar lima kali darinya.


“Saya akan mengantarkan anda ke Pabrik. Anda sudah ditunggu oleh Tuan Lucas,” kata si pria.


Alea mengernyit kening, pandangi pria tersebut. Biasanya Mika yang selalu mengantar dan mengawalnya di Pabrik. Tetapi, kenapa jadi dua pria bertubuh besar di depannya.


Meski tadi pagi ada kunjungan saudara Evans. Tetapi, Alea tetap harus bekerja di Pabrik tua tersebut.


“Kemana Mika?” tanya Alea.


Pria itu menggendikan bahu tidak tahu dan membuka pintu mobil meminta Alea segera masuk.


Alea menarik napas sejenak, lalu masuk ke dalam mobil hitam tersebut penuh dengan tanda tanya yang besar.


Setelah kepergian saudara Evans, mendadak jadi seperti ini. Mika tidak biasanya tidak mengawal dirinya ke Pabrik dan Evans…


Sudah jangan ditanya kemana pria itu pergi, Alea pun tidak tahu dimana Devil itu berada.


Tak lama mobil yang membawa Alea pun tiba di Pabrik Tua milik Evans. Alea turun dan segera masuk ke dalam kantor tersebut dimana beberapa staf lain memandangi dirinya.


“Hai, siang Alea…”


“Hai Luc. Maaf, aku datangnya siang,” kata Alea seraya duduk di kursinya.


Pria muda itu tersenyum lalu menghampiri mejanya.


“Mika sudah mengatakan hal itu kalau kamu akan datang agak siang.”


“Apa kamu tahu Mika di mana?”


Lucas mengusap dagunya seraya berpikir. Namun kemudian menjawab.


“Tidak tahu. Aku tidak tahu wanita super itu ada di mana, dia hanya menghubungiku dan mengatakan kalau kamu berangkat siang dari mansion,” ujar Lucas.


Alea menarik nafas pelan. “Sudahlah, mumpung kamu sudah ada.


“Aku mau mengajakmu ke produksi. Kamu harus tahu perkembangan produksi kita bukan?”


Alea mengangguk pelan, wanita itu pun bangun dari duduknya dan berjalan bersama dengan Lucas.


“Sebenarnya kamu ini siapa, Alea…”


Alea menoleh seraya berjalan menuruni anak tangga. “Maksudmu?”


“Tuan menghubungiku untuk mengawasimu dua puluh empat jam ke depan.


“Itu tidak mungkin bukan? Kita sampai jam tujuh malam di sini, tidak mungkin aku menjagamu sampai dua puluh empat jam.”


Alea mendengus pelan. “Lalu…”


“Ya, gitu doang sih. Sementara nggak ada Mika, tuan minta jagain kamu jangan sampai melarikan diri dan kamu tolong jangan menyusahkan aku. Kepalaku taruhannya kali ini, Alea.”


Alea kembali mendengus pelan. “Kamu tahu bukan perkataan Tuan itu tidaklah main-main.”


Alea berhenti sejenak lalu pandangi Lucas. “Terus dimana Tuanmu hmm?”


“Mana aku tahu dimana mana taunmu. Kamu kan satu rumah dengannya, kenapa bertanya padaku?”


Alea mendengus kembali. “Kamu tidak akan kabur kan Alea. Aku banyak kerjaan ini tolong jangan main-main.”


“Ya, Tuhan. Lucas. Aku bukan penjahat yang harus diwaspadai dua puluh empat jam.


“Aku juga bukan tahanan juga kok. Aku nggak akan kabur kok, sudahlah tenang saja.”


Alea menghentakan kakinya, kesal. Wanita itu kembali melanjutkan jalannya menuju pabrik.


“Sekalipun aku kabur, iblis itu akan mengejarku sampai ke kerak neraka sekalipun. Dia akan membunuhku bila aku berhasil kabur lagi.”


“Ah, lega rasanya mendengarkan perkataanmu, Alea. Aku sudah cemaskan hal ini.”


Alea mendengus jengah. Kenapa Evans begitu ditakutkan kalau dia akan melarikan diri.


 “Mau lari kemana coba? Napoli itu luas dan kemana aku melarikan diri dia akan menemukanku.


“Ini adalah Negara kekuasaan nya,” batin Alea merutuki kekesalannya sendiri…


Lucas membawa Alea mengelilingi tempat produksi, pria itu pun menjelaskan proses produksi dari awal hingga akhir.


 Alea jadi berpikir, kalau Lucas ini sebenarnya pandangi bukan bodoh seperti tuduhan Evans waktu itu.


Melihat cara Lucas yang turun tangan membetulkan mesin yang macet, Alea pun tahu kenapa Evans begitu percaya pabrik ini dipegang oleh pria muda itu.


“Luc…”


“Ya…” jawab Lucas seraya mengunyah makan siangnya.


“Apa kamu yakin kamu bisa memulihkan pabrik ini dalam tiga bulan ke depan?”


Lucas tersenyum miring pandangi Alea. “Kamu sepertinya tidak yakin padaku Alea.”


“Bukan begitu. Waktu tiga bulan itu sebentar, tidak kah banyak waktu sementara mau satu bulan saja hasilnya masih nihil.”


Pria itu menarik nafas pelan. “Setidaknya aku berusaha dulu agar pabrik ini tidak terus mengalami kerugian.


“Aku sudah mencoba menjual produksi kita ke klien lamaku barangkali saja mereka butuh bahan baku dari kita,” ujar Lucas kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


“Aku masih ingin hidup Alea. Aku masih ingin melihat kedua orang tuaku dan juga adikku.


Alea mengangguk tahu akan hal itu. Evans memang tidak pernah melanggar ucap.


“Ada dua adikku yang masih bersekolah dan aku ingin melihat mereka sukse. Makanya aku berjuang demi itu.”


Mendengar cerita Lucas, Alea teringat Ryander. Dia pun sama tulang punggung keluarga.


 “Aku akan membantumu sebisaku Lucas. Termasuk tikus yang sudah membuatmu jadi seperti ini,” kata Alea cukup dalam hati.


“Oh, ya. Apa aku boleh meminta sesuatu padamu?”


“Katakanlah.”


“Kau tahu bukan kalau aku tidak di gaji di sini.”


Lucas tertawa pelan. “Kau ingin aku gajih, hmm?”


“Bukan itu, memegang uang pun untuk apa karena aku tidak bisa membelanjakannya apa yang aku inginkan bukan?”


Lucas berikan anggukan tahu. “Lalu?”


“Aku tidak punya uang satu sen pun, sudikah kamu membelikan aku voice recorder,” pinta Alea pada Lucas.


Pria itu menyipitkan mata menatap Alea. “Untuk apa?”


Alea membuang napas pelan. “Sepertinya untuk menyalurkan bakatku yang terpendam.”


“Menjadi penyanyi? Kamu ingin memberikan rekaman itu pada orang lain?”


“Hai, ngaco kamu. Mana mungkin aku jadi penyanyi suaraku saja fals. Sudahlah aku butuh alat itu.


“Kau sudah tahu bukan kalau mansion tuan semalam heboh,” kata Alea seraya berbisik pelan.


Pria itu mengangguk tahu. Dia pun ada di sana ketika mendengarkan suara teriakan yang tidak tahunya teriakan Alea.


“Tentu aku tahu. Kamu dituduh membunuh bukan?”


Alea mandesah. “Kamu percaya aku membunuh orang?”


Lucas diam dengan wajah yang tertawa pelan.


“Huuhh. Sepertinya tidak ada orang yang percaya padaku,” keluh Alea.


“Sudahlah. Aku akan tanyakan dulu pada Mika apa kamu boleh mempunyai alat itu.”


Bola mata Alea mendelik. “Astaga. Aku ini meminta alat perekam bukan senjata api, Lucas,” omel Alea, geram sendiri pada pria muda itu.


Apa-apa harus laporan pada Mika. Apa pria itu tidak bisa menjaga rahasia kecil hanya satu pun?


Lucas meraih ponselnya di saku celana nya, ketika hendak mengenal number Mika. Alea lekas menahan pria itu. “


Ya, Tuhan Luc. Kau akan melapor pada Mika?


Wanita dingin dan super jutek itu alias Mikaela tidak akan mengizinkan aku mempunya alat itu,” gerutu Alea kesal.


Lucas menghela nafas sejenak pandangi Alea.


 “Apa kamu juga tidak tahu kalau si raider itu begitu menakutkan.


“Dia itu sudah sebelas dua belas kayak tuannya. Apa kamu ingin aku dipenggal juga, hah?” seru Lucas.


Alea bukan tersinggung dengan lentingan suara Lucas yang keras. Tetapi, wanita itu mendekat dan duduk di samping Lucas.


“Kau belikan saja, tanpa sepengetahuan Mika atau aku akan adukan pada Tuanmu itu,” kata Alea lirih namun perkataannya penuh ancaman.


“Astaga. Aku tidak percaya kalau kamu mengancamku, Alea…”


Lucas berdecak seraya geleng kepala. “Wajahmu yang polos dan lugu itu tidak cocok seperti ini.”


Alea mendekatkan wajahnya membuat punggung pria itu mundur. Ditariknya dasi yang menggantung di leher Lucas agar pria itu tidak menghindar.


Alea berbisik di telinga pria muda itu. Si lawan pun mendelik menatap tidak percaya dengan apa yang sudah dikatakan oleh Alea.


“Kamu tahu dari mana, hmm?”


“Aku melihat dengan mataku, Lucas. Bagaimana? Apa kamu mau membelikannya untukku?”


“Kamu tidak punya bukti juga kan…”


Alea tersenyum manis, kata siapa dia tidak bisa bersikap licik. “Aku rekaman cctv.”


Alea menunjukkan flashdisk yang dia bawa. “Semua adegan ranjang mu akan ku sebar ke sosial media dan terutama tuanmu. Apa kamu mau, hah?”


“Oke. You win!”


Dari pada orang itu akan menggorok lehernya bukannya lebih baik dia membelikan alat yang diminta Alea bukan, harganya pun tidak mahal juga.


“Berikan flashdisk itu nanti aku akan belikan voice recorder…”


“Barangnya dulu baru aku berikan flashdisk ini!”


“Haish, aku tidak percaya kalau kamu ternyata licik, Alea. Kamu memanfaatkanku. Dari mana kamu belajar seperti itu hah?” gerutu Lucas kesal.


“Salahkanlah tuan mu, dialah yang mengajariku begitu. Sudah dulu aku mau kembali ke mejaku, selamat menikmati makan siangnya.”


“Haish, sial sekali.”