
Kepergian Evans dari mansion ayahnya, Alberto Colliettie tentu sudah jelas. Pria seperti Evans Colliettie sangat membenci ayah kandungnya sendiri. Ayah tega membunuh ibu kandungnya meski Evans tahu ibunya bersalah.
Memendam rasa benci bertahun-tahun mengalir begitu saja dari hingga darah menjadi daging. Tidak ingin mempunyai hutang budi kepada Alberto, Evans memilih pergi, menjauh.
Evans duduk di sebuah sofa di sebuah kamar rumah pribadi yang tepat di mana sebuah rumah pribadinya sendiri yang ia punya di Spanyol. Menjauh dari Alberto dan juga membawa Alea dari rumah sakit menuju kediamanya.
Evans mengobati wanita bodoh itu, di kediamanya dengan dokter pribadi yang ia bayar untuk mengobati wanita bodoh itu yang masih memejamkan kedua matanya belum sadarkan diri meski dirinya pun sama terluka. Mengabaikan luka di tubuhnya.
“Ck—hidup normal?” gumamnya mengingat kata-kata dari Alberto.
“Bahkan kaulah yang membuatku seperti ini! Hidup di dunia gelap dan kejam, meski semua itu aku tidak menginginkan. Kaulah yang membuatku hidup seperti di nereka!” lirih Evans dengan kedua tanganya mengepal memperlihatkan buku tanganya memutih.
Hidupnya tidak semudah apa yang Alberto katakan kepadanya. Menginginkan kehidupan normal yang ia ucapkan kepadanya dengan kenyataan dirinya tidak bisa menghindar dari dunia gelap yang selama ini selalu menemaninya, menyelimuti dirinya. Sejauh apa dirinya mengelak seingin apapun Evans menginginkan kehidupan normal, sekuat apapun Evans menginginkari.
Semuanya tetaplah sama pada kenyataanya. Dia seorang Evans Colliettie, The Black Rose dengan dunia hitam yang tidak bisa lepas begitu saja dari hidupnya. Kekejaman, kekerasan, kegelepan, kehampaan dan juga kematian. Semua itu sudah menjalar ke darah dagingnya.
Evans Colliettie, The Black Rose tidak bisa di pisahkan dari Dunia Hitam yang membelenggunya.
“Kenapa aku harus bertemu dengan pria itu kembali. Pria yang menaruh luka lama yang sudah lama aku kubur dalam-dalam sekaligus menganggap semua mati dan kini kembali seolah menghadirkannya. CK! Sungguh sial.”
Evans bangkit dari duduknya membawa satu gelas kosong dan satu buah botol vodka yang ia pegang berjalan masuk ke dalam sebuah kamar yang berpenerangan minim meski matahari sore di luar sana nampak menyengat kulit tanganya.
Ia berjalan dengan mengayunkan botol vodka yang baru saja di bukanya. Berdiri di depan sebuah ranjang, menetap sejenak dan kembali berjalan menghampiri single sofa di depanya.
Evans menyesap vodka yang ia tuangkan ke dalam gelas kosong yang ia bawa, menuangkan kembali minuman setelah gelas itu kosong sudah ia teguk dan menegaknya kembali. Menikmati minuman dalam diam dengan tatapan yang tidak terlalihkan akan seseorang yang tengah tidur sudah beberapa hari ini dengan luka yang di sekujur tubuhnya dan kepalanya.
Jika sesuai rencananya dengan yang di pikirkan sebelumnya. Seharusnya ia sudah kembali ke Napoli bukanya masih berada di Madrid dan harus bertemu seseorang yang di bencinya.
Namun, luka-luka yang di dapatkan Alea tidak bisa diabaikan. Pendarahan di kepalanya dengan luka tembak di perutnya yang harus di oprasi di rumah sakit yang Alberto bawa tidak semudah itu wanita lemah itu bisa terbangun dari sadaranya meski keadaanya saat ini dikatakan stabil.
“Dokter baru saja memeriksanya. Kondisinya berangsur membaik Tuan,” ucap Mika yang berdiri di samping sofa yang Evans dudukki.
Kembali menyesap vodkanya dengan telinga mendengar laporan dari Mika. “Kita hanya harus menunggu wanita itu sadar,” ucap Mika kembali setelah dokter bayaran yang datang setiap jamnya rutin untuk memeriksa keadaan Alea.
“Berapa lama?” tanya Evans tanpa mengalihakan tatapan.
“Tidak bisa dipastikan, lamanya. Apa Tuan mau kembali lebih dulu ke Napoli?”
Evans bergeming sembari menyesap vodkanya lagi. “Atau kita akan membawa wanita itu ke Napoli?”
“Tidak! Biarkan saja dia di sini. Kita tunggu semalam lagi.” Evans meletakan gelasnya di meja dekat sofanya.
“Kalau dia belum sadar aku akan kembali terlebih dulu dan kau urus wanita itu.”
“Baik Tuan.”
Setelah beberapa menit hanya ada keheningan dengan Mika yang masih berdiri tegak di belakang sofa dengan Evans yang memunggunginya. Namun dalam diam Evans dengan posisi duduknya yang mengarah ke depan ranjang tengah memandangi wajah Alea dengan lekat.
Wajah Alea yang masih tertidur itu terlihat sangat cantik meski saat ini wajahnya terdapat beberapa luka dan memar. Di luar dugaan Evans, wanita bodoh yang ia sepelekan itu ternyata wanita pemberani di samping itu sisi lembut dan sensitive Alea yang mudah menangis. Kuat dengan aura feminim yang dimilikinya.
Evans teringat akan seseorang yang sama seperti Alea. Karena dulu dirinya memiliki seseorang dengan sifat serupa di masa lalu yang perlahan memudar dari ingatanya ini, dan Alelah berhasil kembali mengingatkannya.
“Dia menolong anda Tuan—“
Evans menghela napas panjang matanya masih menatap Ale. “Aku tahu. Setelah dia sadar, pulangkan dia ke negeranya,” sela Evans.
Mika diam di posisinya dengan pikiran yang aneh menyelimuti kepalanya, namun saat ini Mika urungkan untuk bertanya kepada Tuannya.
“Aku sangat yakin, itulah kompensasi yang dia inginkan.”
“Apa anda yakin?”
Evans menghabiskan minumanya yang ia letakan di meja dekat sofa dalam sekali teguk, “Memangnya apa lagi? Itu kompensasi yang dia inginkan terbebas dariku. Lagipula, aku sudah tidak membutuhkannya lagi karena kalungku sudah kembali.”
“Baik Tuan.”
Evans menoleh ke belakang tepat Mika masih berdiri dengan setia di belakangnya.
"Ryander??!!"
“Siapa laki-laki itu dan apa motifnya mengambil keuntungan dari wanita bodoh seperti dia?”
“Saya sudah mencoba untuk mencari tahu. Ryander seorang pria bayaran teman dari Tiara dan Jessie mereka kenal dan dekat dengan Alea. Ryander berasli warga Singapore-Inggris yang menetap di London sejak kecil.
"Mempunyai seorang adik yang sedang membutuhkan donor jantung dan ibunya yang berada di balik jeruji penjara karena tuduhan pencurian. Pekerjaan Ryander seorang bartender di sebuah club malam.” Evans dalam diam mendengarkan apa yang Mika sampaikan kepadanya.
“Apa hubunganya dengan Mike Shander?!” tanya Evans penasaran.
“Yang saya ketahui untuk membalas dendam dan entah apa yang sudah dilakukan Mike Shander pada Ryander sehingga pria itu secara tidak langsung Ryander saat ini menjadikan Alea untuk aksinya membalas dendam kepada Mike Shander.”
“Dendam apa??"
"Saya masih mencari kejelasan akan dendam apa yang Ryander balaskan menjadikan Alea umpan."
"Ck! Tidak di sangka, Alea memiliki teman yang pandai menusuk dari belakang, memanfaatkan wanita bodoh sepertinya untuk balas dendam dan tidak langsung mejerumuskan wanita lemah itu dengan dunia kejam seperti mereka.”
“Saya pun berpikir seperti itu Tuan. Bahkan hubungan mereka sebelumnya baik-baik saja. Ketika Ryander belum mempunya niat tersebut.
"Ketika Ryander mendapatkan informasi seseorang ia mulai mencari informasi akan keberadaan Ale dengan mendatangi pria bernama William yang mengetahui wanita hamil itu datang ke mansion anda untuk mengambil Alea, dari situ Ryander menyusun rencana dengan mengelabui pembunuh bersaudara yang memiliki motif memburu karna murni untuk membalaskan dendam akan kematian Santhos.”
Evans menaikan sebelah alisnya, paham dengan rencana Ryander. “Dia pikir bisa menggunakan pembunuh bersaudara itu untuk membunuhku supaya dia tidak perlu turun tangan langsung dan mendapatkan kompensasi jika berhasil? Puluhan millyar dollar itu?” decaknya.
“Benar Tuan.”
Evans tersenyum miring. “Sungguh licik. Siapa yang akan membayarnya? dan siapa yang sudah membuat kabar heboh itu?"
“Saya masih mencari tahu hal itu, Tuan.”
“Apa kau sudah mencari tahu Siapa Mike Shander sebenarnya?”
Mika menghembuskan nafas dalam. “Maafkan saya Tuan, saya belum mendapatkan informasi siapa sebenarnya Mike Shander. Seperti ada seseorang yang menutupi identitas dari Mike Shander.”
“Cari tahu semuanya.”
“Baik Tuan, saya akan mencari tahu lebih dalam lagi siapa Mike Shander dan sepertinya Ale tidak tahu dengan hal itu siapa Mike Shander sebenarnya dan siapa Ryander sebenarnya. Namun saya masih heran apa alasan Alea menembak Ryander. Karena yang saya tahu dia sangat mengharapkan pertolongan pria itu,” ungkap Mika yang mengetahui ketika berada di ruangan itu sebagai umpan.
Evans terdiam sesaat, bangkit dari duduknya dengan menghampiri Alea dengan dekat. “Aku tidak suka dengan kenyataan ini, jika aku berhutang nyawa pada wanita bodoh dan lemah sepertinya,” desis Evans.
“Maafkan saya Tuan, saya datang terlambat dan Abraham mengetahui ini semua.”
Evans menghela, pria tua itu selalu tahu dengan apa yang ia kerjaakan, kaki tangan Alberto sama sekali tidak pernah ketinggalan akan sedikit informasi yang ia kerjakan hingga akhirnya kali ini ia bernasib sial.
“Bagaimana dengan situasinya di luar saat ini.”
“Abraham sudah membereskanya semuanya. Kita aman pergi dari sini, meski di luar sana keadaanya kurang kondusif.”
Evans mendengus selalu meremehkan pria tua itu, meski pria tua itu begitu mengabdi kepada Alberto! Tetapi setidaknya Abrahamlah orang yang selalu menghilangkan jejak kekacauan yang di mana ia selalu terlibata di dalamnya.
“Abaraham ini bertemu dengan Tuan.”
“Untuk apa?” tanya Evans menyelidik. Apa pembunuh itu saat ini meminta imbalan?
“Saya tidak tahu, tetapi ada sesuatu hal yang penting yang ingin Albraham katakan kepada Tuan.”
Evans menghela napas panjang. Abraham memang selalu menolongnya meski dirinya bisa mengatasi kekacuannya sendiri tanpa bantuan pria seperti Abraham. Tetapi ada apakah pria itu ingin bertemu denganya. Apa benar ada sesuatu hal penting yang mana bukan menyangkut Alberto Colliettie.
“Baiklah suruh dia menemuiku besok pagi.”
Bersambung...