Mafia And Me

Mafia And Me
Dua Pilihan



Bandar Udara Napoli-Capodichino.


Wajah yang tampan rupawan dengan tubuhnya yang professional, pria itu menuruni anak tangga mengancingkan coatnya menghampiri mobil hitam pekat yang sudah menjemput kedatanganya.


Pria bermata hijau itu masuk ke dalam mobilnya dengan di belakang sana wanita cantik itu pun turun dari private jatnya, berjalan dengan anggun memasuki mobil belakang Tuannya dengan duduk di kursi penumpang bersama dengan seorang wanita yang Tuannya bawa dengan keadaan belum sadarkan diri.


Semua sudah masuk ke dalam mobil masing-masing dan kelima mobil itu pergi meninggalkan bandara dengan pengawalan pada masing-masing mobil menuju ke kediamnya.


Sinar matahari yang menyinari wajah cantiknya membuat pandangnya menjadi silau, entah di mana kini ia berada hanya gelap yang ia lihat di sepenjurunya.


'Apa aku sudah mati? Di mana aku sekarang? Surga dan neraka tak seperti ini, karena yang aku lihat semuanya gelap. Apa kini aku berada di tempat peristirahatan terakhirku?' lirihnya masih terlihat bingung.


“Alea…aku kecewa padamu,” lirih seseorang.


“Alea…”


“Alea…”


Wanita cantik berusia dua puluh empat tahun itu membuka matanya perlahan-lahan melihat ke depannya, lalu menghembuskan nafas panjang dengan melihat di sekelilingnya.


Ternyata saat ini ia berada di sebuah mobil.


Ya, sebuah mobil yang entah siapa lagi yang akan membawanya, ke mana tujuanya, baik atau buruknya ia tak tahu.


"Kau sudah bangun rupanya minumlah,” ucap wanita cantik bermata biru di sebelahnya memberikan sebotol water kepadanya.


Ia menerimanya dengan membuka botol tersebut dan langsung meminumnya.


"Terima kasih, aku berada di mana?" tanyanya.


"Kamu berada jauh dari tempat tinggalmu," ucap wanita bermata biru yang tak peduli akan dirinya


yang berada di sampingnya.


Wanita cantik itu hanya menatap ke arah jalanan menuju tempat yang saat ini menjadi tempat tinggalnya.


Wanita itu yang tidak lain Alea membetulkan posisinya yang terasa tidak enak, melihat ke samping kanannya melihat wanita di sampingnya dengan tidak sedikit pun melihatnya.


Wajah cantik yang terkesan dingin dan tidak ada ekspresi itu mengesan wanita itu telihat tidak peduli dan angkuh.


“Siapa yang membawaku?”


wanita cantik itu kini menoleh ke samping dengan wajahnya yang dingin menatapnya di depanya yang terdengar cerewet.


“Kau tak tahu siapa yang membawamu?”


Alea menggeleng pelan.


“Bukanya kau ada urusan dengan salah satu pria berbahaya?”


Alea menyandarkan punggungnya di sandaran kursi penumpangnya, mengingat kembali terkakhir kali ia bersama siapa ketika ia tak sadarkan diri.


Alea mengingat sesuatu, sosok wajahnya yang rupawan itu datang menghampirinya dan mengatakan jika hari ini adalah hari kematianya.


Apa itu nyata atau tidak, tetapi ia melihat seorang mafia berbahaya yang selama ini mengincarnya.


'Apa Evans Colliettie yang membawanya?’ lirih Alea, seakan mengelak jika ia bertemu dengan Evans saat kejadian bersama pria paru baya itu, hatinya kenapa begitu yakin jika kali ini ia dibawa oleh orang suruhan Gina.


“Kau sudah ingat siapa yang membawamu kemari, Alea?” tanya dengan tersenyum miring menatapnya.


Alea terperangah karena wanita cantik itu mengetahui namanya.


“Kau tahu namaku?” tanyanya balik.


Namun wanita itu hanya tersenyum miring dengan sedikit berdecak, mata indahnya itu terlihat memutar bola matanya terlihat tidak peduli ia tahu dari mana.


Wanita itu hanya terdiam dan mengalihkan kembali padanganya menuju arah luar jendela kaca mobilnya.


Alea kembali mengingat-ingat siapa yang sudah membawanya.


“Jika kau tak tahu sebaiknya kau diamlah dan sudah jangan banyak tanya karena sebentar lagi, kau pun akan mengetahuinya siapa yang membawamu kemari!” desisnya terlihat tidak suka.


“Apa aku boleh bertanya sekali lagi kepadamu?”


Wanita di sampingnya terlihat menghela napas, ia tak suka akan seseorang yang banyak bicara apa lagi mengobrol karena sepanjang hidupnya ia tak mempunyai teman atau keluarga yang bisa diajak berbagi cerita atau obrolan sejak remaja hingga saat ini, hidupnya hanya setiap mengabdi dan mengikut Tuannya hingga sekarang ini.


Tetapi wanita ini begitu amat menyebalkan sekali, rasa ingin tahunya begitu besar.


“Apaa?”


“Kau siapa? Maksudku, namamu siapa?” tanya Alea memberanikan diri.


“Apa itu penting untukmu?” jawabnya seraya menyilangkan kedua lenganya di dadanya menatap bengis pada wanita sok tahu itu.


“Apa kau tak punya nama? Apa aku harus manggilmu hai atau kau?”


“Cih—baru kali ini ada seorang wanita menanyakan namaku. Terserah kau akan panggil aku apa karena aku tak peduli itu semua. Sebaiknya kau diam saja karena aku tak ingin melayani ocehanmu yang tidak berguna itu.


"Seharusnya kau meratapi kehidupanmu yang sebentar lagi akan berubah, entah kau bisa bertahan atau mati di sana?” desisnya benar-benar tidak suka dengan wanita cerewet di sampingnya.


“Maksudmu?”


“Tanyakan sendiri saja pada orang yang membawamu itu!”


Sepanjang perjalanan yang jauh. Keduanya terdiam dengan Alea yang tak banyak bertanya karena wanita di sampingnya itu lebih suka berdiam diri. Wajahnya yang cantik, dingin dan ia yakin hatinya pun baik pula.


Entah kenapa dirinya saat ini terlalu yakin kepada wanita di sampingnya ini yang baru saja ia temui dan ia kenal.


***


Mansion mewah, Napoli.


Kelima mobil itu kini tiba di sebuah mansion besar terlihat elegan, klasik, dan mewah rumah dengan konsep desain Mediterania yang kental akan budaya Eropa.


Alea memandangi keberadaanya saat ini di mana, namun pikiranya saat ini yakin jika dirinya kini berada di dalam masalah yang besar.


“Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini dan sebenarnya siapa pria yang membawaku ke sini? Apa aku akan dijadikan wanita jalang di mansion yang megah ini atau…” gumamnya menatap sepenjuru rumah di depanya.


“Ayo turun dan lekas masuklah,” pinta wanita cantik yang sudah berdiri di depanya.


Seseorang wanita paru baya menghampir wanita cantik bermata biru yang dingin itu dan menghentikan langkah kakinya.


“Tuan meminta wanita itu untuk dibawa ke ruangan kerja Tuan sekarang juga,” ucap salah satu wanita paru baya.


Alea terdiam tak menjawab hanya menoleh ke belakang melihat wanita itu yang masih berdiri tepat di belakangnya.


Ia melanjutkan kembali menuju ruang kerja yang mungkin di maksud wanita paru baya tadi dengan kedua matanya yang menangkap pemandangan di samping kanannya akan sebuah paviliun dengan bangunan yang terlihat kuno namun seni ciri khas eropanya terlihat yang terdapat di sebelah timur dari ruangan yang ia berada saat ini.


Alae terhenti ketika wanita di depanya pun terhenti, melihat di depan matanya sebuah pintu besar berwarna hitam pekat.


"Masuklah Tuan sudah menunggumu di dalam," kata wanita itu.


"Apa kamu tidak ikut masuk juga?" tanyanya.


"Tidak, Tuan hanya ingin berbicara denganmu!"


Alea melihat sejenak wanita cantik itu yang berdiri di samping pintu dengan ia mendorong pintu hitam itu dan masuk ke dalam ruangan yang jauh berbeda dari ruangan yang depan sana.


Sebuah ruangan yang terlihat seperti ruangan kerja yang terlihat luas dan rapih dengan interior yang terkesan mewah dan elegan yang di pandu dengan cat black and gold.


Di depan sana sudah terdapat pria yang mengenaikan coat berwarna coklat berdiri membelakanginya.


“Akhirnya aku menemukanmu juga,” ucap pria tersebut yang berada di depan sana membelakanginya.


Rasa-rasanya Alea merasa familiar akan suara baritone itu, dengan kedua matanya yang menatap punggung kekar pria di depanya dan kembali mengingat-ingat akan siapa pria itu.


“Maaf anda siapa? Dan untuk apa anda membawaku kemari?” tanyanya.


“Ck…kau tak ingat denganku? Bahkan aku yang sudah menyelamatkanmu dari pria tua bangka itu? Apa kau masih tak ingat jika urusan kita belum selesai?” tanyanya balik.


Alea di depan sana merasa bingung otaknya tiba-tiba menjadi lambat mencerna apa yang diucapakan oleh pria itu.


“Kau menyelamatkanku?”


“Hmm…”


Pria tersebut membalikan tubuhnya berhadapan langsung dengan wanita yang sudah lama ia cari yang saat ini berada di depannya dengan wanita itu terbelalak, kaget akan siapa yang sudah membawa


dirinya.


“A-apa pria itu yang menyelamatkan?” lirih Alea, masih terbelalak menatap pria di depannya yang terlihat nyata namun Alea merasa ia masih di alam mimpinya.


“Pria itu?”


"Kau?"


“Hmm—Ya. Aku, Evans Colliettie The Black Rose dan kau saat ini berurusan denganku,” ucapnya tersenyum misterius.


“E—Evans Colliettie?” ucap kembali mengulang nama pria di depanya dengan menelan salivanya dalam-dalam.


“D-dan k-kau membawaku untuk apa, urusan apa?” ucapnya terbata-bata dengan tubuhnya bergetar takut bertemu dengan pria yang hampir membunuhnya, Devil yang berwujud Angel.


Wajahnya yang sangat tampan, terbilang sempura seperti seorang Angel dengan senyuman misterisunya yang mampu membius wanita akan wajah tampannya.


“Kau lupa masalah kita belum selesai?” tanyanya, bergerak menghampiri Alea yang mematung di tempatnya.


“Ma—masalah apa? Aku bahkan tak mengatakan pada siapapun kau membunuh banyak orang pada oranga lain, lalu apa?” tanyanya heran.


“Cih...hanya itu saja yang kau ingat? Bahkan aku sudah mengingatkan akan konsekunsinya apa yang


harus kau tanggung? Belum masalah ini selesai kau sudah menambah masalah kepadaku?”


Evans menghampirinya langkah kakinya yang terlihat santai namun kini sudah berada di dekatnya.


“Serahkan kalungku yang kau temukan itu!” pintanya.


“Ka-kalung?” tanya Alea terperangah mendengar kata kalung yang jelas-jelas liontin itu milik pria berhoddie yang tak lain milik The Black Rose.


“Yah kalungku. Kau menemukanya dan membawanya bukan?” tanya menatap wanita di depanya dengan wajah yang kebingungan.


‘Bagaimana Evans tahu ia mengambil kalungnya dan sialnya kalung itu kini tidak di tanganya?’


“Ka-kalung—aku titipkan pada temanku yang sudah aku memintanya untuk menyerahkan kepadamu?”


ucapnya terdengar bodoh dan polos.


“Ck—Kau tak tahu nyawamu saat ini menjadi taruhan hmm? Sebelum kalung itu kembali ke tanganku?” ucapnya mendekat lebih dekat bahkan kedua mata mereka bersitatap dengan hembusan nafas yang terasa hangat di keduanya.


Aroma bibirnya yang tercium aroma mint dengan aroma tubuh The Black Rose seperti mantra yang memikat yang tak bisa terelakan, Alea hampir terperosok jatuh pada devil seperti Evan Colliettie.


'Astaga Ale, jangan kau melihat wajahnya yang tampan karena sosok devil seperti dia kadang menyerupai Angel yang mematikan untukmu,' lirih Ale mencoba mengalihkan padanganya akan pikiran yang tersadar.


Tangannya dengan cekat mencengkram leher Alea kembali.


“Te-man-ku pasti a-kan mem-berika-nya ke-padamu!” ucapnya dengan mencoba melepaskan cengkraman The Black Rose yang kuat.


Ale menatap kembali mata abu-abunya yang indah dengan wajahnya yang tampan namun kejam.


'Ale sadarlah kau tak mungkin jatuh cinta kepada pria iblis sepertinya yang kini hampir kedua kalianya akan membunuhmu,' batin Alea.


“Jika kalungku itu tak kembali bagaimana hmm?”


Evans menghempaskan cengkramanya dengan tubuh Ale yang tersungkur di lantai granitnya yang dingin.


“Aku tak percaya dengan temanmu itu? Bersyukurlah karena hari ini aku sedang berbaik hati tidak akan membunuhmu saat ini, tetapi jika temanmu itu belum juga mengembalikan liontinku aku tidak bisa menjamin nyawamu lagi,” geramnya menatap Alea seraya tubuh atletisnya itu berjongkok mencengkram dagunya dengan tatapan tajam.


Evans kembali berdiri membelakangi Ale yang masih berada di lantai.


“Kau akan berada di sini, di mansionku. Dan kau harus memilih, menjadi budakku atau wanita jalangku, hmm?”


Alea tercengan, kedua matanya terbelalak akan sebuah pilihan itu.


“Jawablah, kau ingin menjadi budakku atau wanita jalangku? Yang mana kau akan hidup senang dan mewah di mansionku ini, bagaimana?”


“A-aku…”


Bersambung...