
“Ya, Tuhan,” ucapnya seraya tersenyum.
“Terima kasih banyak Tuhan, engkau mendengarkan doaku,” ucapnya kembali.
Pria itu bangun dan duduk di tepi ranjang rumah sakit menggenggam erat tangan Alea.
Sedikitnya dia berseru lega saat melihat pegerakaan dada Alea yang naik seiring menarik oksigen dan juga suara hembusan nafas.
Pria tampan itu tak henti bersyukur, kini Alea siuman.
“Alea… apa kamu mendengarkan aku?” tanyanya.
Alea berikan anggukan pelan dengan gerakan lemah, tidak perlu di pertanyakan lagi di mana saat ini dia berada setelah dia terbangun dari tidurnya yang terasa melelahkan ini, berjumpa dengan kegelapan yang melingkupinya.
Dia merasa berada di antara keabadian. Ingatannya begitu jelas terekam bagaimana rasa sakit itu menjalar dari tenggorokan hingga ke dalam perutnya.
Rasa panas yang membakar sekujur tubuhnya seolah membuat Alea pada saat itu berpikir pendek.
Dia akan menyusul kedua orang tua nya di surga sekalipun dia tidak tahu bagaimana rupa kedua orang tua nya.
Hanya satu pada saat itu dia pikirkan, dia akan berjumpa dengan almarhum ibu angkatnya yang telah menolongnya dari maut dan juga menyayanginya seperti putrinya sendiri.
Dan kini, Alea sangat beruntung bisa bernafas dan melihat dunia lagi.
“Alea….”
Pria itu menekan tombol merah agar suster atau perawat datang ke dalam kamarnya.
Dia ingin dokter segera memeriksa Alea yang hanya diam saja.
Khawatir dan cemas hingga rasa bersalah pun menjadi satu. Sejak kejadian itu pria yang tak lain Leo amat menyesal karena membuat Alea seperti ini.
Leo mengakui kecolongan dan hampir saja dia mengantarkan nyawa tak berdosa ke alam lain demi menginginkan sebuah harapan kecil untuk saudaranya.
“Kamu baik-baik saja kan, Alea?” tanya Leo.
Alea berikan anggukan pelan. “Tunggu di sini, aku akan memanggilkan dokter,” kata Leo seraya pergi, sedari tadi dia menekan tombol merah itu, suster atau dokter tidak merespon.
Dengan terpaksa dia keluar dari dalam ruangan Alea untuk memanggil dokter memeriksa keadaan Alea.
Kedua mata Alea masih setia menutup sekalipun dia mendengarkan suara Leo.
Ingatan Alea masih berada di pesta kecil itu. bayangan Evans yang meloncat yang diiringi ekspresi yang ketakutan pada saat itu membuat jantung Alea berdetak sangat kencang.
Dia merasa ada yang aneh dengan Evans. Leo berdiri di samping dokter yang memeriksa keadaan Alea dan wanita malang itu pun membuka mata meski tatapannya kosong.
“Aku sangat bersyukur kamu kembali, Alea.
“Aku bersyukur kamu siuman setelah dokter mengatakan hal yang tak ingin aku dengar,” kata Leo ketika dokter telah usai memeriksa dan pergi dari dalam ruangannya.
Bulu mata lentik wanita itu mengerjap lambat.
“Aku akan merasa berdosa dan menyesal bila kamu tidak kunjung sadarkan diri,” kata Leo lagi.
Wanita malang berwajah pucat itu tersenyum tipis, Leo kembali mengeratkan genggamannya di satu tangan Alea yang tak terpasang selang infus.
“Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa ada yang sakit?” tanya Leo dan lagi.
Dia sangat khawatir pada wanita di depannya itu yang hanya diam saja.
Sejak tadi dia sudah bertanya kemana-mana, tetapi Alea masih diam dan merespon dengan senyuman dan juga anggukan.
“Alea kamu baik-baik saja kan?”
Entah keberapa kalinya pria itu bertanya, sejujurnya pria itu sangat mencemaskan keadaan Alea.
“Aku baik-baik saja, Leo,” ucap Alea terdengar lemah.
Leo berseru lega dan tersenyum senang.
“Maafkan aku, Alea…”
“Untuk apa?”
“Untuk semuanya, karena aku kamu jadi seperti ini.”
Alea tertawa lemah menatap pria tampan yang memang terlihat sangat mencemaskan dirinya.
“Leo…”
Leo mengangkat panttanya untuk lebih dekat lagi duduk di samping Alea.
“Ya, Alea.”
“Aku baik-baik saja,” ucap Alea lemah dan kembali meyakinkan pria itu kalau dia memang baik-baik saja.
Leo sudah mendengar itu, sekalipun ya Alea mengucapkan dia baik-baik saja. Sejujurnya hatinya tak pernah tenang.
“Aku senang kamu merespon dan berkata baik-baik saja padaku, Alea. Sekalipun hatiku tidak tenang.
“Apa kamu tahu betapa kami semua mencemaskan keberadaanmu yang tidak kunjung bangun?”
“Kami?” tanya Alea dengan kernyitan bingung.
“Ya, Kami. Keluargaku, terutama ibuku ikut cemas ketika mendengarkan kabar kalau kamu muntah darah dan dilarikan ke rumah sakit?”
“Beliau sangat mencemaskanmu sampai beberapa hari ini tak henti mendatangi rumah sakit,” sambung Leo.
Alea tersenyum lemah. “Tolong kabarkan keadaanku yang baik-baik saja pada Nyonya Jovita.
“Jangan mencemaskan aku karena aku sudah merasa baikan,” pinta Alea.
“Pasti aku akan mengatakannya pada, Mommy. Apa kamu butuh sesuatu, Alea?” tanya Leo.
Alea bukan lekas menjawab, tetapi dia malah memandangi Leo.
Kebaikan Leo yang begitu tulus padanya mengingatkan Alea pada sosok pria yang kini tengah dirindukan.
Alea rindu kakak angkatnya, wajah Leo yang tampan dan kebaikannya yang tulus membuatnya rindu pada Jeon Park.
“Hai, kok malah melamun, hmm?”
Alea berikan senyuman tipis. “Bila tidak keberataan. Bolehkan aku meminta segelas air? Aku haus,” pinta Alea.
“Oh astaga, sama sekali aku tidak keberatan, Alea. Tunggulah, aku akan mengambilkan kamu air minum.”
Leo lebih dulu membantu Alea untuk bangun dan duduk bersandar di headboard, seketika telah duduk Alea memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.
“Kamu tidak apa-apa?” Diberikannya gelas tersebut pada Alea.
“Tidak. Aku hanya sedikit pusing saja.”
“Astaga, apa kamu benar baik-baik saja? Aku akan memanggilkan dokter lagi dan meminta untuk ct scan kepala kamu?”
Alea menghela nafas panjang lalu menghembuskan perlahan ketika segelas air putih itu sudah tandas.
“Anda tidak usah berlebihan. Saya baik-baik saja hanya sedikit pusing saja.
“Mungkin ini efek aku tertidur dan tidak sadarkan diri. Oh ya, ngomong-ngomong aku sudah berapa lama di sini?”
Leo kembali duduk di tepi ranjang rumah sakit. “Cukup lama. Satu minggu lebih.”
“Oh astaga, itu lama sekali. Bagaimana aku bisa membayar tagihan rumah sakit selama itu?”
“Kenapa kamu berpikir ke sana, Alea?” sela Leo cepat seraya menyentil pelan kening Alea gemas.
Bisa-bisanya orang masih panik dengan keadaan, ini wanita malah memikirkan biaya rumah sakit.
“Aku tidak di gaji menjadi pelayan pribadi saudaramu, tentunya aku bingung harus membayarnya bagaimana.”
“Nggak usah kamu pikirkan hal itu, Alea. Yang kamu pikirkan sekarang ini kamu harus sehat lagi, itulah harapanku sekarang ini.”
Alea hela nafas pelan seraya mengusap dahinya.
“Kenapa aku bisa sampai tidak sadarkan diri berlama-lama, Leo?” tanya Alea menatap bingung pada pria di depannya.
“Minuman yang aku minum itu bukan wine. Aku masih ingat itu hanya oranges jus.”
Leo diam seraya mengambil gelas yang Alea pegang.
“Apa minuman itu ada racunnya sampai aku batuk darah?”
Pria itu berikan anggukan pelan.
“Hm.”
Sejenak, Leo menarik nafas sebanyak-banyak.
“Minuman yang kamu minum sudah dicampur dengan racun.”
Dia merasa bersalah dan tak berani menatap Alea.
Leo menoleh ke samping dan memandangi jendela kaca dan berkali kali pria itu menarik nafasnya lagi.
“Hanya racun berdosis kecil, tetapi berefek lumayan serius, Al.
“Kamu dilarikan ke IGD dan harus menjalani beberapa kali pemeriksaan.”
Ingatan semua orang panik di sore itu membuat rasa bersalah Leo mencuat kembali.
Alea hanya diam seraya mengeratkan genggaman tangan Leo. Alea tahu Leo terlihat begitu menyesal.
“Dokter beberapa kali mengatakan kondisimu tidak memungkin untuk hidup.
“Bahkan kondisimu tiga hari terus memburuk, Al. Tapi—”
Leo mengalihkan kembali pandangannya untuk menatap Alea.
“Aku sangat bersyukur kamu kembali pada kami. Maafkan aku, Al. Aku tidak bisa menjagamu,” ucap Leo, tulus.
“Apa itu bagian dari—”
Leo mengangkat pandangannya dan kembali menatap Alea dengan tatapan tajam.
“Apa maksudmu bagian dari rencanaku untuk melihat bagaimana harapan itu ada?”
“Melihat perhatian Evans, apa itu yang kamu pikirkan, Al?”
Alea diam, ah—mulutnya selalu saja cepat mengatakan ketika baru saja terbesit kejadian ini adalah sebagai permainan Leo. Tetapi…
“Bahkan pria itu sama sekali tidak terlihat menyesal kamu dalam keadaan sekarat dan hampir mati tidak hanya itu saja,
“bahkan pria itu sudah menuduhku atas kejadian kamu menghilang dan kejadian ini pun dia masih saja menyalahkan aku kalau kejadian ini adalah permainanku selanjutnya,” gerutu Leo pelan, seraya pria itu mengungkapkan apa yang ada di pikirannya dan juga di hatinya atas semua tuduhan Evans.
“Aku tidak pernah bermain-main dengan nyawa orang, Alea. Hanya saja, aku—”
“Kecolongan!”
“Dan kau begitu bodoh tidak memperketat pengawasan pada semua tamu undangan dan juga disekitarnya.
“Aku yakin ada orang yang memanfaatkan hal ini,” sela sesorang masuk ke dalam ruangan rawat Alea.
“Massimo….”
Pria bermata coklat itu berjalan menghampiri Alea dan duduk di sisi ranjang kanan. Ia mengusap kepala Alea dan memberikan kecupan sayang layaknya seorang kakak pada adiknya di puncak kepalanya.
“Aku senang kamu kembali siuman, Alea. Aku panik melihat kejadian waktu sore itu.”
“Apa itu salah satu musuh Evans untuk membalas dendam?” Leo bertanya pada saudaranya yang duduk di sisi kanan ranjang Alea.
Massimo mendengus pelan seraya menoleh dan menghunuskan matanya.
“Kalau kau mau mengadakan pesta itu, harusnya kamu waspada dampaknya.”
“Evans punya banyak musuh dan mungkin itu salah satunya.
“ Yang bisa aku tebak dari kejadian ini, ada seseorang yang mencoba hal yang sama seperti waktu itu di pesta acara pertunanganmu.”
Massimo mencoba mengingat kejadian malam itu dan disamakan dengan kejadian sore itu.
“Aku melihat ada beberapa pelayan yang mendekati Alea dan menawarkan minuman….”
Alea ikut mengingat ketika ada di acara pesta mewah Leo.
“Dan pada saat di pesta kecil itu pun sama. Aku melihat pria itu terlihat mencari kesempatan.
“Aku pernah melihat bagaimana ekspresi pelayan itu yang terlihat kesal ketika percobaan pertamanya gagal karena aku mengambil gelas wine.
“Mungkin dugaanku orang yang sama inilah yang sudah mengincar Alea seolah dari kejadian ini sebagai isyarat peringatan untuk Evans Colliettie.”
Leo memijit pelipisnya dengan dahi yang berkerut.
“Maksudnya?”