
“Abaraham ini bertemu dengan Tuan.”
“Untuk apa?” tanya Evans menyelidik.
Apa pembunuh itu saat ini meminta imbalan? Pikir Evans.
“Saya tidak tahu, tetapi ada sesuatu hal yang penting yang ingin Albraham katakan kepada Tuan.”
Evans menghela napas panjang. Abraham memang selalu menolongnya meski dirinya tidak menginginkan pertolongan, kaki tangan dari Alberto, karena ia bisa mengatasi ke kacuannya sendiri tanpa bantuan pria seperti Abraham.
Namun ada hal penting apa yang ingin Abraham sampaikan kepadanya karena bertahun-tahun Evans tidak bertemu dan hanya mengetahui pria tua itu yang selalu mengatasi semua urusanya meski tidak di perintah seolah, paham.
Apa hal penting itu yang menyangkut Alberto Colliettie, ayahnya?
Evans tidak ingin mendengarkan apapun dari pria pembunuh itu.
“Baiklah suruh dia menemuiku besok,” ucapnya.
Mika membukukan tubuhnya dan hendak pergi dari ruangan itu namun Evans kembali memanggilnya kembali.
“Mika—“
“Iyah Tuan,” jawab Mika kembali berdiri tegak di depan Evans yang masih memunggunginya.
“Berikan ponsel Alea kepadaku.”
“Ponsel?”
Evans menoleh dengan tatapan tajam. “Iyah. Ponsel Alea. Sekarang!”
Tanpa buang waktu dan pertanyaan, Mika mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan menyerahkannya pada Evans yang langsung mengambilnya dan ia genggam erat dan kembali menatap Alea di depan sana.
“Siapkan semua surat-surat dan juga tiket untuk wanita bodoh itu, jika dia sudah sadar nanti. Aku harap wanita bodoh itu tersadar sebelum aku kembali ke Napoli.”
Evans menghampiri ranjang dengan berhenti tepat di depan ranjang Ale.
“Masih ada sesuatu yang di bicarakan dan yang harus aku selesaikan dengan wanita bodoh ini sebelum aku pergi.”
“Baik Tuan, lalu bagaimana dengan Bryan?”
“Biarkan dia di penjara sampai aku kembali. Aku akan putuskan nasibnya setelah aku berada di mansionku.”
“Baik saya permisi.”
Evans terdiam, setelah mendengar suara pintu tertutup Mika berlalu pergi meninggalkan dirinya di kamar itu.
Dengan perlahan Evans mulai mengangkat sebuah ponsel milik Alea di tanganya, duduk di tepi ranjang dengan tatapan lurus memperhatikan setiap inci wajah Ale lalu mendengus pelan.
“Hidupmu begitu penuh penghianatan Alea. Teman, sahabat dan juga kekasih sama-sama menghinatimu, sungguh wanita malang,” gumamanya sembari menatap wajah Alea.
Ditekanya tombol on pada layar ponsel Ale, dan layar itu hidup dengan menampilkan langsung sebuah foto di depanya.
Foto dua orang wanita yang sama cantiknya tengah tersenyum manis, tampak jelas dari foto di depan sana Alea sangat menyayangi wanita yang ia rangkul dengan hangat.
Evans membuka gallery pada ponsel milik Alea dan menampilkan beberapa foto Alea bersama dengan teman-temanya dan juga kebanyakan foto itu menampilakan kedua wanita itu lagi dan lagi lagi membuat dada Evans seolah bergemuruh, penuh amarah.
Dia abaiknya sejenak foto kedua itu dengan lekas Evans kembali membuka aplikasi medsosnya dan melihat betapa dirinya dekat dengan teman-temannya.
Entah siapa wanita dan para wanita yang berfoto dengan wanita bodoh namun Evans menyakini itu teman-teman Alea. Yang berkedok teman, sahabat, dan juga orang-orang yang menyanyangi Ale dengan semua penuh kepalsuan dan juga kebohongan.
Apa lagi Evans tersenyum mengejek ketika mendapati sebuah foto Alea, Mike Shander dan juga Gina. Wanita ****** yang sudah menjual Alea pada seorang mafia yang ia bunuh.
Sebuah video tiga puluh detik otomatis terputar dan menampakan sebuah perayaan ulang tahun Alea yang mana terlihat Ale merayakan berdua dengan Mike Shander, kekasih dan juga pembawa bencana dalam hidup Alea.
Senyum manisnya dengan ketawa rianganya terlihat Ale bahagia di dalam video yang berdurasi tiga puluh detik itu.
“Mungkin kau akan bahagia kembali setelah aku melepaskanmu dari nerakaku,” gumam Evans.
Ketika hendak menutup akun medsosnya Evans tidak sengaja menemukan sebuah foto yang membuatnya tertegun ketika melihat sebuah foto Alea memakai sayap putih seperti seorang malaikat cantik yang diunggah oleh seseorang bernama Jeon Park.
Sebuah akun milik seorang pria yang Evans lihat dan membuka akun tersebut di mana banyak menampilkan foto Alea bersama juga dirinya dan juga seorang wanita yang menghiasi penuh di dalam galeri Alea.
'Aku percaya adanya malaikat bersayap putih ketika aku melihat sosokmu. Iblis sekalipun akan terganggu dengan kebaikan hatimu, Alea Anjanie.' Jeon Park.
Evans menjatuhkan ponsel Alea begitu saja hingga membentur lantai dengan terdengar bunyi keras, berdiri dengan gerakan kaku dengan kedua matanya memandang nanar wajah Alea seraya berusaha keras sejak tadi menahan sengatan emosi di dalam dadanya.
Kedua tanganya yang mengepal erat, napasnya terlihat memburu dengan dadanya terasa sesak, tanpa bisa dicegah ia seakan terlempar ke masa lalu yang selama ini ia tutup rapat-rapat.
"Ibu, kau adalah malaikatku. Malaikat bersayap yang selalu membuatku bahagia.”
Julieta tersenyum lembut, mengusap bahu Evans kecil.
“Malaikat," gumamnya.
"Ketika kau kecil seperti ini Ibu adalah malaikatmu. Malaikat yang selalu membuatmu bahagia. Tetapi nanti kau tidak hanya memiliki satu malaikat bersayap sepertiku.”
“Apa nanti aku akan punya banyak malaikat?”
"Kau anak kesayangaku Evans Colliettie, kau malaikat kecilku,” ucap Julieta mencium pipi, kening dan juga hidung mancung anak kesayangnya.
Evans memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Semua kenangan itu seketika muncul begitu saja masuk ke dalam kepalanya hingga semua bayang-bayang wanita yan ia cintai muncul dan memutar kenangan indah sewaktu dirinya kecil bersama dengan ibunya, Julieta Colliettie.
Semua itu dari Alea.
Alea yang sudah membuat kenangan itu datang mengingatkanya. Wanita yang sama cantiknya, yang selalu Alea peluk dan cium itu yang tidak lain adalah ibu Alea, yang mengusik kehidupan Evans Colliettie di masa lalu.
Ya, Evans kecil dulu sempat merasakan kebahagian bersama dengan ibu tercintanya.
Ibu yang Evans lambangkan sebagai malaikat bersayap yang selalu membuat dirinya bahagia dan selalu melindungi dirinya yang tiba-tiba sirna dan pergi untuk selamanya di tangan ayah kandungnya, Alberto Colliettie.
Shiittt!!! Umpat Evans seraya memegani kepalanya pergi meninggalkan kamar di mana Alea berada di sana. Dengan emosinya yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi, ia membutukan perlampiasan.
“Kenapa kau mengingatkan semua kenangan itu! kengan buruk hidupku!”
Bersambung...